NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Dansa pertama

Begitu pintu pondok kayu itu tertutup rapat, sunyi langsung menyergap. Alin meletakkan tasnya di atas sofa kulit, lalu berjalan menuju jendela besar untuk melihat apakah mobil pengawal sudah mulai terlihat di jalur pendakian bawah. Namun, yang ia dapati hanyalah hamparan salju putih yang tak berujung.

"Rei..." Alin berbalik. "Di mana mobil Yuchen? Kenapa tidak ada lampu pengawal di belakang kita?"

Rei sedang melepas mantelnya, menyampirkannya di lengan kursi dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menoleh perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Mereka tidak akan datang, Alin. Aku memerintahkan Yuchen untuk tetap di hotel dan menjaga protokol seolah-olah aku masih ada di kamarku."

"Apa?!" Alin hampir menjatuhkan ponselnya. "Kau meninggalkan mereka? Kau pangeran dari negara ini, Rei! Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika—"

"Bagaimana jika aku hanya ingin menjadi manusia biasa selama semalam?" potong Rei. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Langkah kakinya berat namun mantap, memancarkan wibawa yang tidak bisa dibantah. "Aku sudah katakan aku ingin mencari ketenangan. Jadi seharusnya kau paham ketenangan seperti apa yang kumaksud.”

Alin masih tampak tegang, namun Rei tidak membiarkan kecanggungan itu bertahan lama. Ia tahu cara menaklukkan wanita secerdas Alin bukanlah dengan paksaan, melainkan dengan pesona yang tak terduga.

Rei berjalan ke arah pemutar piringan hitam tua di sudut ruangan. Tak lama kemudian, instrumen piano yang lembut memenuhi udara. Ia lalu berjongkok di depan perapian, menyulut api hingga cahaya jingga mulai menari-nari di wajahnya yang tegas.

"Jangan menatapku seolah-olah aku akan menculikmu ke dalam hutan," ucap Rei tanpa menoleh, suaranya kini lebih rendah dan hangat. "Duduklah. Aku sudah menyiapkan cokelat panas, bukan wine. Aku pastikan kau akan tetap tersadar tanpa pengaruh alkohol.”

Alin tertegun. Pangeran yang biasanya dilayani ini sekarang sedang sibuk menyiapkan minuman untuknya. Ia perlahan duduk di karpet bulu dekat perapian, merasakan kehangatan mulai menjalar di jemarinya.

Rei mendekat, memberikan cangkir keramik itu pada Alin. Alih-alih duduk di sofa, ia justru duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa di samping Alin—posisi yang membuatnya terlihat lebih membumi namun tetap sangat tampan.

"Kau tahu, Alin..." Rei menatap api yang berkobar. "Di istana, setiap kata yang kuucapkan harus memiliki makna politik. Tapi di sini, dengan hanya ada kau dan aku... aku bahkan tidak keberatan jika kau ingin memakiku seperti kau memaki Profesor Alan tadi."

Alin tertawa kecil, sebuah tawa spontan yang akhirnya memecahkan kekakuan di antara mereka. "Kau sungguh berisiko, Rei. Reputasimu bisa hancur jika orang tahu kau kabur hanya untuk menyeduh cokelat di pondok tua dan menerima makian dari ku.”

Rei menoleh, matanya mengunci pandangan Alin dengan binar yang intens namun lembut. "Reputasiku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu jam ketenangan bersamamu. Jadi, apa aku dimaafkan?”

Alin tak menjawab, ia hanya tersenyum menyesal coklat panasnya. Rei menyandarkan punggungnya pada kaki sofa, tepat di sebelah Alin yang masih memeluk cangkir cokelat panasnya. Suara kayu bakar yang meletup sesekali menjadi satu-satunya musik alami di antara mereka.

"Kau tahu, Alin..." Rei memulai, suaranya berat dan tenang, menggema lembut di ruangan yang sunyi. "Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku tidak mendengar suara intercom pengawal atau dering telepon diplomatik. Rasanya seperti... aku baru saja mencuri waktu dari takdirku sendiri."

Alin menoleh, menatap profil samping wajah Rei yang terkena cahaya jingga perapian. "Apa menjadi pangeran seberat itu? Kau punya segalanya, Rei."

Rei terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sedikit miris. "Aku punya segalanya, kecuali hak untuk menjadi diriku sendiri. Di istana, aku adalah simbol. Di perbatasan, aku adalah tameng. Tapi di sini..." Rei menoleh, menatap tepat ke mata Alin, "...aku hanya pria yang sedang gugup karena duduk di dekat wanita yang disukainya. Dan percayalah, memimpin pasukan jauh lebih mudah daripada mencoba tidak terlihat bodoh di depanmu."

Alin tersenyum, kali ini tulus tanpa ada nada sinis. "Seorang Pangeran Yan bisa merasa bodoh juga? Itu bisa menjadi berita beswr yang viral, Yang Mulia."

"Jangan mulai lagi dengan 'Yang Mulia'," sahut Rei sambil berpura-pura kesal, namun matanya berbinar jenaka. "Di sini, aku hanya Rei. Dan kau bukan dokter pribadiku. Kau adalah Alin, wanita yang berani mengancam akan menghabisiku hanya karena urusan profesor."

Alin tertawa kecil, bahunya bersentuhan dengan bahu Rei. Keheningan yang menyusul setelahnya tidak lagi terasa canggung. Ada kenyamanan yang mulai mengakar.

“Jadi, saat ini hanya kau dan aku. Kita menjadi orang biasa tanpa gelar dan kedudukan?” Tanya Alin dalam senyuman.

Rei tak menjawab, sorot matanya lekat menatap Alin dalam-dalam. Seakan itu semua cukup menjawab pertanyaan Alin.

“Mau berdansa?” Tawar Rei tiba-tiba menjulurkan tangannya.

“Apa? Sekarang? Disini?” Tanya Alin terperanjat.

“Tidak ada musik.” Lanjut Alin saat Rei semakin mengulurkan tangannya.

Rei tidak melepaskan pandangannya. Dengan tangan kirinya, ia merengkuh ponsel di atas meja, lalu menyambungkan koneksinya pada speaker ruangan tersebut. Seketika, instrumen musik yang lembut dan melankolis mulai mengalun, mengisi setiap sudut pondok yang sunyi dengan harmoni yang menghanyutkan.

"Sekarang ada," bisik Rei rendah.

Alin tersenyum menahan tawanya, akhirnya meletakkan telapak tangannya di atas tangan Rei. Rei menariknya lembut, membawa tubuh Alin mendekat hingga ia bisa mencium aroma samar parfum wanita itu yang bercampur dengan wangi kayu manis.

Di bawah temaram cahaya jingga dari perapian, Rei melingkarkan satu tangannya di pinggang Alin dengan sangat protektif namun tetap menjaga jarak yang sopan—sebuah sisa dari adab kerajaannya yang mendarah daging. Mereka mulai bergerak pelan, mengikuti irama musik yang seolah sengaja diciptakan untuk mengunci waktu bagi mereka berdua saja.

Mereka mulai bergerak mengikuti irama yang lambat, menyeret langkah di atas karpet bulu yang tebal. Rei meletakkan tangan kanannya di punggung bawah Alin, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Alin dengan erat namun tetap lembut. Jarak di antara mereka terkikis perlahan, hingga napas mereka saling bersahutan di tengah kesunyian pondok.

“Kau pernah berdansa dengan pria lain?” Selidik Rei menjatuhkan tatapannya pada Alin dihadapannya.

“Ya.”

Mendengar itu, cengkeraman tangan Rei di pinggang Alin seketika mengerat. Gerakan dansa mereka yang semula lembut kini terasa sedikit lebih kaku dan intens. Rei menarik tubuh Alin lebih dekat hingga nyaris tak ada celah, seolah ingin menegaskan dominasinya dan menghapus bayangan pria mana pun yang pernah menyentuh tangan wanita itu sebelumnya.

"Siapa dia?" tanya Rei dingin. Ada kilat cemburu yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya di balik topeng wibawanya.

Alin merasakan perubahan atmosfer itu. Ia mendongak, menatap Rei dengan senyum tenang yang seolah sengaja ingin menggoda rasa penasaran sang Pangeran. Ia perlahan mengusap bahu Rei, sebuah gerakan lembut yang perlahan melenturkan ketegangan pada cengkraman pria itu.

"Entahlah. Hanya teman satu angkatanku," jawab Alin ringan. "Saat aku sekolah dulu, ada pelajaran dansa wajib. Itu sudah lama sekali, Rei."

Rei tidak langsung membalas. Ia hanya mengembuskan napas panjang, merilekskan kembali jemarinya di pinggang Alin meski tatapannya masih menunjukkan sisa-sisa rasa tidak suka.

“Bagaimana dengan mu?” Tanya Alin

“Aku tidak mengenal namanya. Hanya saat acara kerajaan yang mengharuskan ku untuk melakukannya.”

Alin tertawa kecil, kepalanya sedikit mendongak. Tubuhnya mengikuti tuntunan langkah Rei yang stabil dan mendominasi. "Dan kau… apa kau berdansa selalu seperti ini seolah seluruh dunia sedang menontonmu, Rei. Terlalu sempurna. Terlalu beradab. Kau tahu hanya ada kita berdua disini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!