NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 hangat di balik badai

Gema badai di ballroom mewah itu perlahan surut, digantikan oleh kesunyian yang tebal di dalam kabin Rolls-Royce yang melaju menembus pekatnya malam menuju mansion Adhitama. Lampu-lampu kota yang berkejaran di luar kaca jendela tampak seperti kilasan abstrak, merefleksikan wajah Alana yang diliputi kelelahan luar biasa.

Alana menyandarkan kepalanya pada pilar jendela mobil yang dingin. Matanya terpejam, namun benaknya terus berputar menayangkan adegan pembantaian karakter yang dilakukan Devano terhadap Julian Mahendra beberapa jam lalu. Pria di sebelahnya ini benar-benar mengerikan. Devano tidak hanya menghancurkan bisnis Julian, tetapi juga menguliti harga diri pria itu di depan seluruh sirkulasi elite internasional tanpa mengedipkan mata.

Alana menoleh sedikit, melirik sosok yang duduk diam di kursi roda elektriknya. Devano telah kembali mengenakan topeng pangeran lumpuh yang dingin. Jas hitamnya terlipat rapi di samping jok, menyisakan kemeja hitam yang melekat erat pada dada bidangnya. Wajahnya yang tegas tampak relaks, seolah badai besar yang baru saja ia ciptakan di luar sana hanyalah permainan anak kecil yang membosankan.

"Kau terus menatapku sejak kita meninggalkan hotel, Alana," suara Devano memecah keheningan kabin mobil. Ia tidak menoleh, namun sepasang netra obsidiannya berkilat tajam memantulkan cahaya lampu jalanan.

Alana terkesiap, buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. "Saya... saya hanya tidak menyangka Anda sudah menyiapkan semuanya dengan begitu matang, Tuan Devano. Anda membuat Tuan Julian tidak memiliki celah untuk membela diri."

Devano terkekeh rendah, sebuah ketukan suara yang terdengar seksi sekaligus mengintimidasi. "Di duniaku, jika kau membiarkan musuhmu mengambil napas, itu sama saja kau sedang menaruh pisau di lehermu sendiri. Julian mengira dia bisa memanfaatkanmu untuk memancing amarahku, padahal dia hanya menuntun Mahendra Group menuju jurang kepunahan."

Mobil perlahan melambat dan akhirnya berhenti sempurna di depan lobi utama mansion. Para pelayan dengan sigap membuka pintu. Devano bergerak keluar lebih dulu dengan kursi rodanya, meninggalkan Alana yang melangkah turun dengan kelelahan yang menggelayuti setiap persendian tubuhnya.

Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama yang luas dan bernuansa gelap, Alana langsung mengembuskan napas panjang. Ia berjalan menuju meja rias, bersiap untuk melepaskan kalung safir biru darah yang melingkar berat di leher jenjangnya. Namun, jemarinya yang dingin dan gemetar mendadak kesulitan membuka pengait kecil di balik tengkuknya.

Klek.

Suara pintu yang ditutup dan dikunci dari dalam membuat jantung Alana berdebar dua kali lebih cepat. Melalui pantulan cermin besar di depannya, ia melihat Devano sudah bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya. Postur tubuhnya yang tinggi besar dan tegap melangkah dengan pasti, memotong jarak di antara mereka tanpa suara.

Sebelum Alana sempat berbalik, sepasang tangan besar yang hangat sudah menyentuh pundak telanjangnya yang dibalut beludru hitam. Alana tersentak kecil, tubuhnya meremang hebat saat merasakan dada bidang Devano menempel rapat pada punggungnya, mengurung dirinya di antara meja rias dan tubuh kekar sang penguasa.

"Biarkan aku yang melakukannya," bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah tepat di dekat telinga Alana.

Jemari panjang Devano bergerak pelan di balik tengkuk Alana, melepaskan pengait kalung safir itu dengan kelembutan yang tak terduga. Kulit jemarinya yang kasar sengaja mengusap permukaan kulit leher Alana, mengirimkan gelombang getaran aneh yang membakar seluruh sisa kewarasan wanita itu. Kalung mewah itu dilepaskan dan diletakkan di atas meja rias dengan bunyi dentingan halus.

Devano tidak langsung menjauh. Lengan kekarnya justru bergerak turun, melingkar erat di pinggang ramping Alana, menarik tubuh wanita itu hingga semakin tenggelam dalam dekapan posesifnya. Wajah tampannya terbenam di perpotongan leher Alana, menghirup aroma manis murni yang menguar dari tubuh istrinya.

"T-Tuan Devano... ini sudah malam... Anda harus beristirahat," cicit Alana dengan napas yang mulai memburu panik. Kedua tangannya mencengkeram lengan kemeja Devano yang terasa hangat, mencoba mencari pegangan karena lututnya mendadak lemas tak berdaya di bawah dominasi pria ini.

"Aku sedang beristirahat, Alana," kata Devano, suaranya terdengar sangat seksi dan sarat akan kilat obsesi yang gelap ekstrem. Pria itu membalikkan tubuh Alana dengan satu gerakan perlahan, memaksa wanita itu menghadapnya sepenuhnya.

Sepasang mata elang Devano menatap lekat-lekat pada bibir mungil Alana yang memerah bengkak akibat sisa kecupan tadi malam. "Julian Mahendra sudah tamat. Tapi utangmu padaku karena telah menggunakan nama keluarga Adhitama untuk membersihkan nama baik ayahmu... belum lunas."

"Apa lagi yang Anda inginkan dari saya, Tuan?" tanya Alana pasrah, sepasang matanya yang bulat mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang menyesakkan dada.

Devano menyeringai tipis, sebuah ekspresi kejam yang justru membuat ketampanannya terlihat begitu mematikan. Ia membungkukkan tubuhnya, menangkup rahang Alana dengan satu tangan yang kuat, memaksa wajah cantik itu mendongak mutlak menatapnya.

"Aku menginginkan kepatuhanmu yang tanpa batas, Alana. Di ranjang ini, di kantor, atau di mana pun aku berada, kau hanya boleh menatapku. Setiap embusan napasmu adalah milikku," bisik Devano tepat di depan bibir Alana, sebelum akhirnya membungkam bibir mungil itu dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan dipenuhi kehangatan yang intim, menuntun mereka berdua hanyut dalam ketegangan manis sebelum malam tenggelam dalam keheningan fade to black.

Sementara itu, di sayap barat mansion yang terpisah, atmosfer di dalam kamar Nyonya Besar Sandra tidak kalah mencekam. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat balkon dengan gelas kristal berisi minuman keras yang digenggamnya erat hingga jemarinya memutih. Wajahnya dipenuhi gurat amarah dan dendam yang mendalam setelah menyaksikan bagaimana Devano secara terang-terangan mengancamnya dan membela Alana di depan publik.

"Kurang ajar! Devano benar-benar sudah dibutakan oleh jalang kecil itu!" kata Sandra, melemparkan gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

Seorang wanita muda dengan pakaian pelayan senior yang merupakan orang kepercayaan Sandra buru-buru melangkah mendekat, menundukkan kepalanya ketakutan. "Nyonya Besar, tenanglah. Jika Tuan Muda melihat Anda seperti ini—"

"Tutup mulutmu!" bentak Sandra dengan mata berkilat kejam. "Aku tidak akan membiarkan anak luar nikah dari keluarga Wijaya itu menguasai putraku dan aset Adhitama Group! Devano mungkin bisa menghancurkan Julian Mahendra, tapi dia tidak akan bisa menghentikan apa yang sudah kusiapkan."

Sandra melangkah menuju meja riasnya, mengambil sebuah kartu undangan eksklusif berlapis emas untuk acara Charity Gala (Pasar Amal Tahunan) yang akan diadakan oleh perkumpulan wanita elite ibu kota tiga hari lagi. Sebuah senyuman licik dan manipulatif mengembang sempurna di wajah keriputnya yang dipoles riasan tebal.

"Pesta amal lusa nanti adalah panggung yang sempurna," bisik Sandra dengan nada suara yang sangat rendah dan penuh intrik melodrama yang kejam. "Aku akan menjebak Alana dalam skandal pencurian permata kuno milik yayasan. Di depan seluruh wanita paling berpengaruh di negara ini, aku akan membuat dia merangkak seperti tikus kotor. Kita lihat, apakah Devano masih sudi mempertahankan barang cacat yang memalukan itu di sisinya!"

Sandra tertawa rendah di tengah kegelapan kamarnya, menyusun jebakan sabotase baru yang siap menggulung Alana ke dalam neraka kesalahpahaman yang jauh lebih menguras emosi. Badai baru telah dipersiapkan, dan sang mempelai pengganti sama sekali tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai nyawanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!