"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
"¿Por qué me mandan allí? ¡No me gusta! (Kenapa mengirimku kesana? Aku tidak suka!)" Elle membanting berkas di meja kerja ayahnya dengan perasaan kesal luar biasa. Dia menentang keputusan sang ayah.
Ben menghela nafas berat, seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. Usianya sudah tidak muda lagi, namun ia harus menghadapi putri bungsunya yang selalu membangkang dan melanggar aturan.
"Keputusan Daddy sudah bulat! Kau ingin menentang? Silahkan! Mau nangis darah sekalipun keputusan Daddy tidak akan berubah!" tegas Ben, menatap tajam putrinya.
Elle mengepalkan kedua tangan, dan menggertakkan gigi dengan kuat sampai rahangnya berdenyut menandakan emosinya memuncak.
"Ini sudah kesekian kalinya kau pulang dalam keadaan mabuk berat. Sebagai orang tua, Daddy gagal mendidikmu."
Elle memejamkan mata sesaat seraya menghembuskan nafas kasar. Emosinya yang tadinya memuncak kini menguar begitu saja saat mendengar alasan ayahnya memindahkannya ke Italia.
"Dad, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Suaranya merendah, tidak lagi membentak ayahnya. Ya, meskipun dalam hati masih sangat kesal dengan ayahnya yang selalu membatasi ruang geraknya. Padahal dirinya ini sudah berusia 21 tahun, sudah dewasa, tapi ayahnya ini sangat keterlaluan. Ia dilarang minum, keluar malam, dan berpacaran. Karena hal itulah, Elle menjadi gadis pembangkang.
"Kau juga sudah mengatakan hal itu sebelumnya. Daddy sudah bosan mendengarnya. Karena kau selalu tidak menepati janji, dan selalu melanggar aturan!" Ben menegakkan posisi duduknya, menatap putrinya lekat-lekat. "Segera bersiap! Gracia, akan menjemputmu!"
*
"Botak, apa yang sedang kau lakukan?" Nero menatap Botak yang sejak tadi mondar-mandir di dalam salah satu kamar yang sudah lama tidak di tempati.
"Sedang membersihkan kamar ini." Botak tersenyum lebar.
"Untuk?" Kedua alis Nero bertaut.
"Ah! Aku lupa memberi tahu Anda, jika besok Nona Elle akan tinggal di sini," jawaban Botak membuat Nero terkejut, tapi berusaha bersikap biasa.
"Anda pasti terkejut 'kan?" goda Botak sembari menunjuk wajah Nero.
"Tidak!" jawab Nero dingin dan datar, lalu segera berlalu dari sana.
Botak menggaruk kepalanya yang plontos. "Selalu saja sok dingin, padahal di dalam hati berbunga-bunga," gerutunya sembari melanjutkan pekerjaannya. "Ternyata setelah 6 tahun berlalu, dia masih sama, menutupi perasaannya. Ck, tapi Tuan Nero lupa kalau aku adalah cenayang, ha ha ha." Botak menertawakan diri sendiri.
*
"Nick, aku akan pindah ke Italia." Hari itu sebelum berangkat ke Bandara, ia mencuri kesempatan menemui Nickholas.
"Kenapa mendadak? Kau membuat masalah?" Nick yang saat itu sedang masak, segera melepaskan apron yang melekat pada tubuhnya. Sudah 3 tahun dia berpacaran dengan Elle, namun hubungan mereka ditentang keluarga Elle, karena dirinya lelaki miskin, tidak setara dengan keluarga Elle.
"Tidak. Emh ... Aku pasti sangat merindukanmu." Elle segera menghambur memeluk pemuda itu dengan erat.
"Elle..."
CUP!
Ucapan Nick terhenti saat gadis itu menciumnya.
"Dengar, meski kita berjauhan, kita tetap pacaran," ucap Elle dengan nafas terengah saat ciuman terlepas.
Nick mengangguk, "keluargamu ingin menjauhkan kita. Kau tenang saja, aku akan mencari pekerjaan di Italia agar kita selalu bersama." Nick berkata penuh kesungguhan seraya menangkup wajah cantik kekasihnya.
Elle tersenyum dan mengangguk. Ia merasa sangat dicintai dan berati bagi Nick, karena pria ini selalu berusaha dan berjuang membahagiakannya.
"Terima kasih, aku mencintaimu." Elle kembali memeluk Nick dengan perasaan tak karuan.
"Aku juga." Nick mengecup pucuk kepala gadis itu.
*
Jangan lupa subscribe, like dan komentarnya.
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜