Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Tabligh Akbar
Nandini mundur selangkah. "Silakan Ning, kakak ipar tertuaaa..." desis istri Santaka itu. Sarah melengos.
Keluarga Al Fatih mulai memasuki panggung. Riuh suara jamaah langsung bergema. Ponsel yang menjadi kamera, terangkat. Mereka ingin mengabadikan gambar keluarga terpandang itu.
Mansur dan trio gus duduk di sisi kanan panggung. Di depan jamaah laki-laki. Lastri dan duo ning plus satu montir nyasar, di sisi kiri panggung. Berhadapan dengan jamaah perempuan. Kedua jamaah dipisahkan oleh kain tinggi.
Acara dibuka dengan pembacaan kitab suci oleh Santaka. Nandini tak bisa menahan senyumnya. Lantunan yang biasa ia dengar di kamar itu mengalun merdu. Sensasi suara menggunakan sound system lengkap memang berbeda.
Setelah Santaka selesai mengaji, mereka saling beradu pandang. Nandini buru-buru menundukkan pandangan. Takut Abyasa melihat.
Wajah kakak ipar Nandini itu dari tadi angker. Mungkin gugup mau ceramah, jadi mulas, muka pun jadi tak bersahabat. Siapa yang tahu?
Tausiyah pertama dari Abyasa. Ternyata wajahnya saja yang angker. Penyampaian ceramahnya cukup menghibur. Harus begitu, jika tidak, akar rumput tak akan mau menerima dakwahnya.
“Ibu-ibu, siapa di sini yang suka menolak melayani suaminya?”
Nandini yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Abyasa. Ia terbatuk. Husna menepuk punggungnya perlahan.
Santaka tersenyum simpul melihat istrinya. Nandini mendelik tipis.
“Jangan ya Bu. Kalau bukan karena alasan syar’i. Kalau suaminya ndak ridho, malaikat akan melaknat sampai nanti suaminya ridho lagi.”
Santaka semakin melebarkan senyumnya. Nandini mencibir. Mata mereka tak putus saling memandang.
“Pak, jadi suami juga jangan dikit-dikit ndak ridho. Dilihat dulu kenapa istrinya nolak. Apa sakit? Apa capek?
Sakit itu termasuk alasan syar’i. Bisa juga sedang ibadah wajib, sedang haid atau nifas, gangguan jiwa atau suami minta hubungan yang haram. Maksudnya haram, lewat dubur.”
Jamaah mulai riuh. Pembahasan yang tidak-tidak memang menarik bagi segala kalangan.
“Apa capek termasuk alasan syar’i? Sayangnya ndak, Ibu-ibu. Eit, Bapak-bapak jangan senang dulu. Inget kewajiban kita untuk ndak zolim sama istri.
Kita ngobrol sama istri. Belajar cara berhubungan yang bikin istri nyaman. Jangan maen hajar. Pijit-pijit dulu istri. Saya jamin, langsung dikasih, Pak!”
Suara tawa bergema di dalam Masjid Syeikh Zayed. Ibu-ibu bertepuk tangan merasa dibela oleh Abyasa.
Santaka dan Nandini kembali saling berpandangan. Keduanya mengulum senyum. Nandini yang pertama memutus tatapan.
Tausiyah puncak oleh Mansur. Aura yang terasa sama hangatnya dengan Abyasa. Ditambah dengan ketenangan yang melingkupi hati jamaah. Kyai besar memang berbeda.
Pesan Mansyur, jangan berpikir rumit tentang hubungan bernilai surga dalam rumah tangga. Tak perlu menunggu sempurna. “Bapak Ibu, mau masuk surga ndak? Mau?”
Jamaah serentak menjawab, “Mauuu...”
“Kalau masuk surga, dosanya harus banyak yang gugur. Salah satu cara gugurkan dosa yang gampang itu, pegangan tangan. Dosa kita gugur lewat sela-sela jari, maasya Allah...
Terus aja pegang istrinya, Pak. Ke kamar mandi juga pegang, ajak. Paling abis itu jadinya ke kamar tidur.”
Gelak tawa kembali berderai. Keluarga Al Fatih memang ahli dakwah yang tepat sasaran ke kalangan awam.
Santaka kembali mengulum senyum ketika saling memandang dengan Nandini. Ia berkata tanpa suara, “tuh, pegangan.”
Nandini menjulurkan lidahnya. Santaka menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Setelah tausiyah selesai, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Tahap berikutnya adalah ramah tamah. Segmen yang ditakuti oleh Nandini sejak semalam.
“Bapak Ibu, yang dirahmati Allah. Seperti yang kita tau, kurang lebih sebulan lalu, putra bungsu Yai Mansur nikah. Semua tau yaa, Gus Taka. Yang punya toko kue di Blulukan. Enak tenan ya?”
Santaka mengangggukkan kepala ke arah jamaah. Jamaah menyahut untuk merespons sang MC. Rupa-rupa sahutan.
“Enak...”
“Enak tapi suka ngantri.”
“Minta diskon, Gus.”
“Enakan liat Gus...”
Tawa kembali berderai. Ada saja tingkah polah jamaah.
“Sekarang kita kenalan sama istrinya Gus Taka ya. Namanya Mbak Dini. Nama lengkapnya Mbak Nandini Basundari. Monggo Mbak Dini.”
Nandini menoleh ke arah Lastri, yang tersenyum kepada menantunya. Nandini mengangguk kepada Mansur yang juga mengangguk.
Terakhir, Nandini menatap Santaka. Senyum manis Santaka hadiahkan kepada sang istri.
Dengan kaku, Nandini berdiri di tengah panggung. Perutnya mulas. Keringat dingin mengucur deras di punggung.
Telapak tangan Nandini basah. Mulutnya kaku. Matanya menatap nanar lautan manusia di hadapannya.
Jamaah memberikan atensi penuh pada istri Santaka itu. Mereka penasaran dengan sosok Cinderella versi lokal-religius yang viral belakangan ini.
Banyak ponsel jamaah yang terangkat. Kamera dari media lokal dan platform online ikut menyorot sang montir mendadak ukhti.
Blitz dari kamera dan ponsel jamaah menyadarkan Nandini. Ada jamaah yang berteriak.
“Ayu sekali...”
“Cocok tenan sama Gus Taka!”
“Ya ampun, ini tho namanya Mbak Dini. Cantik!”
“Mbak Dini, saya langganan di bengkel Mbak Dini. Apik tenan bengkelnya.”
Mendengar perkataan terakhir jamaah sontak membuat Nandini tersenyum. Ia seperti mendapatkan suntikan adrenalin. Tangannya akhirnya melambai pada jamaah.
Bukan sembarang melambai. Nandini menegakkan lengan di depan wajahnya dan memutar-mutar tangannya itu. Layaknya Miss Universe.
Jemaah kontan tertawa. Pujian kembali berdatangan. Yang memfoto Nandini dengan ponsel semakin banyak. Jamaah tambah penasaran dengan sosok nyentrik di Al Fatih itu.
Santaka menggelengkan kepala melihat polah istrinya. Ia terkekeh. Mansur dan Lastri tersenyum kecil.
Danendra dan Husna juga tersenyum. Yang agak lain, Abyasa dan Sarah. Muka mereka mengeras, membatu.
“Wah, Mbak Dini ini luar biasa ya... Monggo sepatah dua patah katanya Mbak.” Sang MC yang sempat tercengang melihat Nandini cosplay menjadi ratu kecantikan itu kembali bersuara.
Nandini menarik napas. “Assalammu’alaikum. Jama’ah oh jama’ah, eh, salah ya... itu ustadz yang lain.” Tawa jamaah pecah.
“Perkenalkan... saya Dini, istri Gus Taka. Istri pertama dan satu-satunya. Iya tho Gus, malu ini kalau salah?” Nandini menatap Santaka yang tergelak. Jamaah ikut terbahak. Mansur dan Lastri saling bertatapan penuh arti.
“Saya... jadi istri Gus Taka jalur duniawi. Saya pelanggan rotinya Gus Taka, Gus Taka pelanggan bengkel saya. Jatuh cinta karena Allah, nikah deh.
Dhuh, saya tegang ini Bapak Ibu.” Nandini meringis. Jamaah tersenyum. Mereka terpesona pada sosok Nandini yang apa adanya.
“Pesan saya, solatlah engkau sebelum engkau disolati, hehehe... Ndak berbobot ya? Hhmm... Oh saya kasih tips saja ya.
Bapak Ibu, motornya sering mogok kalau habis hujan atau habis dicuci, ndak?
Itu bukan karna mesinnya jelek, tapi karna lubang pembuangan air di tangki mampet. Kalau mampet, air masuk ke bensin.
Cukup ditusuk pakai kawat atau lidi, motor ndak bakal mogok lagi. Modal gratis, tapi banyak yang ndak tahu.
Kalau masih mogok, dibawa saja ke bengkel Mulyo Jaya, bengkel Bapak saya, di daerah Tohudan. Dijamin joss.
Bapak saya duda, ganteng, boleh kalau Ibu-ibu yang single, minat. Yang single ya, istri orang ndak boleh.
Bapak-bapak liatin istrinya, jangan-jangan habis pengajian ke bengkel Bapak saya, hehehe... Wassalammu’alaikum.”
Jamaah kembali terhibur. Tawa itu pecah belah.
“Lagi Mbak Dini...”
“Lucu tenan...”
"Keren banget, Mbak. Aku ngefans..."
“Matur nuwun tips motornya, Mbak Dini...”
Tepuk tangan jamaah membahana. Mereka merangsek ke depan panggung untuk memfoto Nandini. Terutama para ibu dan jamaah perempuan.
Nandini mengembuskan napas lega. Ia tak menyangka, bisa juga ia berbicara di depan khalayak umum seperti tadi.
Lastri dan Husna mengelus lengan Nandini. Sarah hanya tersenyum kaku.
Mansur dan Danendra tersenyum simpul. Wajah Abyasa keruh namun ia sembunyikan dalam senyum.
Santaka dan Nandini saling berpandangan. Senyum bangga Santaka berikan pada sang istri. Nandini tersipu.
Santaka merasa perlu memberikan topping bagi sang istri. Ia kedipkan sebelah matanya dan tiupkan ciuman jarak jauh ke arah Nandini, sesuai janjinya sebelum Subuh tadi. Nandini tergelak.
Nandini mengoreksi definisi tampan Santaka. Tampan teduh, namun genit. Genit yang hanya untuknya.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj