Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Gerbang yang tidak ramah
Kereta kerajaan berhenti perlahan.
Namun tidak hanya satu.
Di depan gerbang besar Akademi Kerajaan Averion, dua kereta berhenti dalam waktu hampir bersamaan.
Yang pertama
kereta hitam keemasan dengan ukiran lambang kerajaan, ditarik oleh kuda putih bersih dengan hiasan emas di pelana.
Yang kedua
kereta kayu gelap yang jauh lebih sederhana, tanpa hiasan mewah, hanya lambang kecil kerajaan di sisi pintunya.
Perbedaan itu langsung terlihat bahkan sebelum pintu terbuka.
👑 Kereta Claudia
Pintu kereta pertama terbuka lebih dulu.
Seorang pelayan berseragam istana menunduk dalam.
“Putri Mahkota, silakan.”
Claudia turun dengan tenang.
Gaunnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, dan setiap langkahnya seolah sudah diperhitungkan sejak awal.
Begitu kakinya menyentuh tanah—
suasana langsung berubah.
“Putri Mahkota…”
“Itu Claudia…”
“Dia benar-benar datang ke Akademi Kerajaan Averion…”
Para peserta langsung memberi jalan.
Bahkan tanpa diminta.
Claudia tidak tersenyum.
Ia hanya berjalan lurus.
Seolah dunia memang sudah mengatur tempatnya.
🌑 Kereta Sakura
Di sisi lain—
pintu kereta kedua terbuka lebih lambat.
Tidak ada pelayan istana utama yang menunggu.
Hanya seorang penjaga kecil dari pengiring Akademi.
“Silakan turun,” ucapnya datar.
Sakura turun pelan.
Keretanya lebih sederhana.
Bahkan roda kayunya masih terdengar berderit halus.
Tidak ada sambutan.
Tidak ada bisikan kagum.
Hanya beberapa tatapan asing.
“Dia juga peserta kerajaan?”
“Kenapa keretanya berbeda?”
“Dia siapa?”
Bisik-bisik itu tidak keras…
tapi cukup untuk didengar.
Sakura tidak bereaksi.
Ia hanya menatap gerbang Akademi Kerajaan Averion di kejauhan.
Tinggi.
Dingin.
Seperti menilai siapa yang pantas masuk dan siapa yang tidak.
Claudia melirik sekilas ke arah Sakura.
Tatapannya langsung menangkap perbedaan itu.
Kereta.
Pakaian.
Bahkan cara orang memandang mereka.
“Jangan tersesat di tempat seperti ini,” ucap Claudia pelan.
Sakura menjawab tanpa menoleh.
“Aku tidak tersesat.”
“Aku datang dengan jalanku sendiri.”
Claudia berhenti sejenak.
Lalu berjalan lagi.
“Kalau begitu,” ucapnya dingin,
“jangan mengganggu jalanku.”
🏰 Gerbang Akademi
Di depan gerbang utama
seorang pria berjubah hitam berdiri.
Aura tekanan samar menyebar di sekitarnya.
“Semua peserta, berkumpul!”
Suaranya tajam.
Para peserta segera berbaris.
Claudia langsung berdiri di barisan paling depan.
Bukan karena disuruh.
Tapi karena semua orang secara otomatis memberinya ruang.
Sakura berdiri di barisan tengah belakang.
Tidak menonjol.
Tapi juga tidak bisa diabaikan.
🔹 Tes Pertama — Inti Sihir
Kristal besar berdiri di tengah aula.
“Sentuh kristal. Tunjukkan inti kekuatan kalian.”
Satu per satu peserta maju.
Berbagai warna muncul.
semua berhasil.
👑 Claudia
“Putri Mahkota Claudia.”
Claudia maju.
Tangannya menyentuh kristal.
BOOM—
Cahaya emas meledak terang.
Seluruh ruangan menyilaukan.
“Inti sihir tingkat tinggi…”
“Elemen dominan: cahaya dan penguatan.”
“Lulus tanpa syarat.”
Claudia menarik tangannya.
Tanpa ekspresi berlebihan.
Seolah itu hal biasa.
Ia tidak langsung pergi.
Hanya melirik ke arah Sakura.
“Jangan terlalu lama di sini,” ucapnya pelan.
Lalu kembali ke sisi pengamat.
🌑 Sakura
“Selanjutnya… Sakura.”
Bisik-bisik langsung muncul.
“Itu yang dari kereta biasa?”
“Dia bahkan tidak terasa punya sihir…”
Sakura maju.
Tangannya menyentuh kristal.
Hening.
Detik pertama.
Tidak ada reaksi.
Detik kedua.
Masih kosong.
Detik ketiga.
“Tidak terdeteksi inti sihir.”
Suara pengawas datar.
Beberapa peserta tertawa kecil.
“Sudah jelas gagal.”
Namun
pengawas utama mengangkat tangan.
“Dia lanjut.”
Suasana langsung gaduh.
“Kenapa?”
“Dia gagal!”
Pengawas tidak menjawab.
“Seleksi belum selesai.”
🔹 Tes Kedua — Kecerdasan
Ruang ujian.
Meja panjang.
Soal strategi dan logika.
“Waktu: satu jam.”
Semua mulai panik.
Sakura tidak.
Ia membaca cepat.
Menganalisis pola.
Menghitung tanpa ragu.
Di luar, beberapa peserta bahkan belum selesai satu halaman.
Sakura menutup lembar jawabannya lebih awal.
Waktu habis.
Pengawas membaca hasil.
“Nilai tertinggi: Sakura.”
Sunyi.
Bahkan suara napas terasa terdengar.
“Yang tidak punya sihir…”
“Menang di bagian ini?”
🔹 Tes Ketiga — Alkimia
Ruang penuh botol dan bahan.
“Tugas: buat penawar.”
“Mulai.”
Peserta panik.
Sakura diam.
Mengamati.
Mencium bahan.
“Ini racun ringan…”
“Ini penetral…”
“Ini memperkuat efek jika salah campur…”
Matanya sedikit menyipit.
Ia mulai bekerja.
Tenang.
Presisi.
Beberapa peserta gagal.
Ramuan mereka gagal total.
Sakura selesai terakhir.
Namun hasilnya bening sempurna.
Dengan kilau tipis seperti air hidup.
Pengawas utama mendekat.
Terdiam.
“Ini… penawar tingkat menengah ke atas…”
Bisikan pecah.
“Dia tidak punya sihir tapi bisa ini?”
Sakura ditatap.
“Dari mana kau belajar?” tanya pengawas.
Sakura menjawab pelan.
“Dari tidak mati.”
⚔️ Claudia vs Sakura
Di luar aula
Claudia sudah menunggu.
Bersandar di dinding batu.
Senyumnya tipis.
“Kau naik satu tingkat dari kereta itu,” ucapnya.
Sakura menatapnya.
“Aku tidak peduli dari kereta mana aku datang.”
Claudia melangkah sedikit.
“Tapi di Akademi ini, asalmu menentukan bagaimana orang melihatmu.”
Sakura menjawab tenang.
“Kalau begitu mereka akan melihat lebih lama.”
Claudia terdiam sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Kau menarik…”
“Tapi jangan salah paham.”
“Kereta mewah atau tidak… hasil akhirnya tetap sama.”
Ia berbalik.
“Yang kuat akan berdiri di atas.”
Sakura membalas pelan.
“Kalau begitu aku akan berdiri dengan caraku sendiri.”
Claudia berhenti.
Untuk sesaat.
Lalu pergi tanpa menoleh.
Namun senyumnya sedikit berubah.
Lebih tajam.
Lebih tertarik.
Sakura berdiri di depan gerbang Akademi Kerajaan Averion.
Angin melewati rambutnya.
Di satu sisi
kereta Claudia sudah tidak terlihat.
Di sisi lain
kereta sederhananya menunggu di kejauhan.
Namun untuk pertama kalinya
Sakura tidak merasa berada di bawah siapa pun.
“Aku tidak datang untuk menjadi sama…”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku datang untuk bertahan.”
Dan mungkin…
lebih dari itu.