NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 35

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Reynanda pergi.

Carisa kembali ke kamarnya dalam keadaan basah. Ia menutup pintu kamarnya dengan punggung.

Bajunya basah dan dingin menempel di kulit. Rambutnya menetes ke lantai. Ia mendengus pelan melepas bajunya, melemparnya sembarangan, lalu masuk ke kamar mandi.

Air hangat mengalir di punggungnya. Ia tidak menikmatinya, hanya berdiri, membiarkan dingin hujan tadi luruh, membiarkan beberapa menit itu menjadi satu-satunya waktu di mana ia tidak perlu menjadi siapapun selain perempuan yang lelah.

Ia keluar. Mengikat handuk di badannya. Mendorong pintu kamar mandi dan...

"ASTAGA!" Carisa memegang dadanya. "Kamu mengagetkan aku."

Yuda duduk di tepi ranjang. Kemejanya sedikit basah di bahunya. Matanya langsung menemukan Carisa begitu pintu terbuka dan ia melihat ada sesuatu yang tidak biasa. Bukan datar yang selalu ia kenal. Bukan dingin yang sudah jadi bahasa sehari-hari mereka, seperti itulah kira-kira pemikiran pria yang tengah di bungkus api cemburu.

"Kamu sepertinya bahagia aku meninggalkan rumah." Suaranya rendah.

Carisa menarik napas. Berjalan ke meja rias, mengambil hair dryer, membelakangi Yuda. "Kalau kamu datang hanya untuk bertengkar sebaiknya pulang. Aku tidak punya tenaga malam ini."

Yuda bangkit, berjalan mendekat.

"Kenapa?" Suara Yuda semakin dekat. "Kamu kelelahan setelah bermain hujan dengan bajingan itu?"

Deg.

Dada Carisa mencelos. Ia menatap cermin dan di sana, Yuda sudah berdiri tepat di belakangnya. Terlalu dekat untuk jarak yang biasanya selalu mereka jaga.

"Darimana kamu tahu?" suara Carisa pelan.

Yuda tidak menjawab. Tangannya bergerak menarik lengan Carisa, membalikkan tubuhnya hingga menghadapnya, lalu dalam satu gerakan yang tidak Carisa sangka datang dari lelaki itu, ia menariknya masuk ke dalam pelukannya.

Erat. Tiba-tiba. Tanpa permisi.

Carisa membeku. Tangannya refleks mengencang pada handuk yang melilit tubuhnya, seolah takut terlepas.

"Dia memelukmu seperti ini?" Suara Yuda rendah tepat di telinganya. "Bagaimana rasanya?" Tangannya tidak melepaskan. "Apa hatimu berdebar?"

"Yuda..."

"Apa kalian juga berciuman?" Ibu jarinya naik, menekan pelan di bibir Carisa, dan berhenti di sana.

Carisa menarik wajahnya. "Yuda, hentikan!"

Tapi Yuda tidak melepaskan. Tangannya bergerak menyentuh pipi Carisa, lalu turun ke lehernya, pelan tapi membuat Carisa semakin tidak nyaman. Bulu kuduk nya meremang saat kulit ny bersentuhan denga kulit Yuda.

"Apa karena aku jarang menyentuhmu?" Suaranya pelan. "Sampai kamu senang ketika ada yang menyentuhmu, apalagi dia?" Jarinya turun pelan dari pipi ke leher, menyentuh dengan pelang, tapi terasa di setiap milimeternya. "Padahal aku tidak menyentuhmu bukan karena tidak mau, Carisa."

Carisa tidak bergerak. Ia berusaha menahan dirinya.

"Aku tidak menyentuhmu karena aku takut kamu tidak menginginkannya." Suaranya semakin rendah dan di dalam kerendahan itu ada sesuatu yang tidak pernah Carisa dengar sebelumnya dari Yuda. Sesuatu yang rapuh. "Karena sejak hari pertama kita menikah, kamu selalu menjaga jarak. Dan aku menghormati itu." Napasnya tidak stabil. "Tapi ternyata..."

Ia berhenti. Tangannya berhenti di sisi leher Carisa.

"Ternyata dia yang beberapa kali menyentuh apa yang tidak pernah aku izinkan diriku sendiri untuk sentuh."

Ruangan itu sunyi kecuali napas mereka berdua.

Carisa menatap Yuda dari jarak yang sangat dekat. Selama dua tahun, wajah suaminya selalu terlihat tenang. Datar. Seolah semua emosi disimpan rapi dan tidak pernah benar-benar ditunjukkan. Tapi malam ini berbeda. Tidak ada lagi sikap tenang itu.

Yang ada hanya Yuda yang terlihat cemburu dengan cara yang kasar, tidak rapi, dan tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Justru karena itu, Carisa bisa melihatnya dengan lebih jelas. Lebih nyata dibanding semua percakapan panjang yang pernah mereka lakukan.

Carisa tidak menjauh. Justru ia menikmati untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Yuda yang selama ini tidak pernah ia lihat.

"Yuda." Suaranya keluar pelan. Tidak mendorong. Tidak menghindar.

"Hm."

"Aku tidak berciuman dengannya malam ini."

Tangan di lehernya tidak bergerak.

"Dan aku tidak berdebar ketika dia memelukku." Carisa melanjutkan dengan mata yang tidak menghindar dari mata suaminya. "Aku berdebar ketika membuka pintu dan berharap itu kamu."

Sesuatu di wajah Yuda bergerak. Tangannya turun dari leher Carisa perlahan, tapi tidak sepenuhnya pergi. Berhenti di bahunya. Menggenggam pelan di sana, seperti seseorang yang tidak tahu apakah boleh memegang lebih erat atau harus melepaskan.

"Kamu tidak harus menjaga jarak dariku." Suara Carisa hampir tidak terdengar. "Aku tidak pernah memintamu untuk itu."

"Kamu tidak pernah menunjukkan sebaliknya."

"Kamu juga tidak pernah mendekat."

Mereka berdiri di sana di antara handuk yang masih melekat di tubuh Carisa dan cermin yang memantulkan dua orang yang sudah dua tahun tidur di ranjang yang sama tanpa pernah benar-benar saling menyentuh dengan jarak yang sekarang hanya selebar napas.

Yuda menatapnya lama. Tangannya masih di bahu Carisa tapi genggamannya berubah. Tidak lagi menekan. Tidak lagi mempertanyakan. Lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa yang selama ini ia takut kehilangan masih ada di sini, dalam jangkauannya, dan ia tidak tahu harus melakukan apa selain menahan.

Ia menarik Carisa sedikit lebih dekat. Lalu ia menunduk dan mencium Carisa dengan gerakan yang tiba-tiba.

Bukan ciuman yang rapi. Bukan yang direncanakan. Di dalamnya bercampur semua yang selama ini ia simpan amarah yang tidak sempat keluar, cemburu yang terlalu lama ditahan, dan ketakutan yang tidak pernah ia akui. Takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia miliki.

Carisa terdiam sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tubuhnya bereaksi lebih dulu, sebelum pikirannya sempat menyusul, sebelum ia sempat memutuskan ini benar atau tidak.

Dan Carisa membalas ciuman itu. Pelan di awal. Masih ragu, seperti melangkah ke sesuatu yang selama ini ia hindari. Tapi kemudian tangannya bergerak naik, mencengkeram baju Yuda, seolah butuh pegangan di tengah semua yang terasa goyah.

Napas mereka saling bertabrakan, ciuman itu perlahan berubah tidak lagi sekadar sentuhan singkat, tapi semakin dalam, semakin hangat, seolah semua yang tertahan sejak lama akhirnya menemukan jalannya.

Yuda menuntun Carisa mundur perlahan sampai ke tepi ranjang. Gerakannya tidak cepat, tapi juga tidak memberi ruang untuk mundur..

Di tengah langkah itu, handuk yang melilit tubuh Carisa terlepas dan jatuh ke lantai. Carisa sempat menahan napas.

Tangan Yuda menyentuh Carisa pelan, membuat napas Carisa berubah. Tidak lagi teratur. Tidak lagi tenang.

Carisa tidak mundur. Justru tangannya bergerak, memegang Yuda seolah butuh sesuatu untuk bertahan di tengah semua perasaan yang datang bersamaan.

Yuda membuka kancing kemejanya satu per satu, gerakannya pelan tapi pasti. Sementara itu, bibirnya tidak lepas dari bibir Carisa, terus menekan, melumat, seolah tidak ingin memberi jeda sedikit pun.

Setelah kancing terakhir terbuka, Yuda melepas kemejanya dan melemparkannya begitu saja. Tanpa banyak jeda, ia menarik Carisa, membawanya naik ke atas tempat tidur dengan gerakan yang tegas, seolah sudah tahu ke mana semuanya akan berakhir.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!