Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian di balik kata Ketus
Pagi harinya, Cantika bangun lebih awal. Matanya bengkak, tapi ia berusaha tersenyum pada cermin. Ia memasak sarapan sederhana: nasi goreng dengan telur mata sapi, sesuai selera yang pernah ia dengar dari pembantu rumah tangga. Meski Arka bilang jangan keluar, perutnya tetap butuh makan. Dan Cantika tidak mau dianggap tidak berguna.
"Semoga Mas Arka suka ." gumam Cantika setelah ia selesai memasak dan menyajikannya diatas meja makan.
Arka keluar dari kamar saat aroma masakan menyeruak. Ia melihat meja makan sudah tersaji rapi. Cantika berdiri di dapur, membelakanginya, tangannya sibuk mencuci piring.
"Siapa suruh masak?" tanya Arka, suaranya masih datar, tapi nada pedasnya berkurang sedikit.
Cantika menoleh pelan. "Maaf, Mas. Saya pikir kita perlu sarapan sebelum Mas berangkat kerja. Saya ... tidak keluar semalam seperti perintah."
Arka duduk di kursi. Ia menatap nasi goreng di depannya. Biasanya ia makan di restoran mewah, tapi entah kenapa, masakan sederhana ini terlihat menggugah selera. Saat ia menyendok pertama, rasanya ... hangat. Bukan hanya makanan, tapi ada sentuhan perhatian di dalamnya.
Di dalam hati Arka, ada desir aneh. ("Dia tetap melakukannya meski aku kasar semalam. Gadis ini ... lebih kuat dari yang kukira.")
"Mas," kata Cantika pelan sambil meletakkan segelas air putih. "Kalau saya boleh tahu, apakah ada yang bisa saya kerjakan hari ini? Saya tidak ingin hanya diam di sini seperti beban."
Arka mengunyah pelan. Ia ingin menjawab dengan kata-kata dingin lagi, tapi lidahnya terasa berat. Stresnya masih ada rapat dewan direksi pukul sepuluh nanti bisa menentukan nasib perusahaannya. Tapi melihat Cantika yang berusaha tegar, ada bagian kecil di hatinya yang ingin melindungi.
"Kamu nggak usah melakukan Apa -apa istirahat saja," jawabnya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya, meski masih berusaha terdengar tegas. "Jangan memasak lagi kalau tidak mau. Pembantu akan datang siang nanti."
Cantika mengangguk. "Baik, Mas."
Tanpa membantah Cantika menurutinya,dia tidak mau kalau sampai Arka marah padanya .
Arka hanya melirik kearah Cantika sambil menyuapkan nasi goreng kemulutnya.
"Kamu jangan pernah keluar dari apartemen ini bila tanpa izin atau keluar denganku ."
"Iya,Mas aku tidak akan kemana mana ."
jawab Cantika lirih ,didalam hatinya dia sendiri ingin tertawa,bagaimana dia akan keluar sedangkan dia tidak paham daerah itu ,yang ada kalau dia nekat keluar dari apartemen itu ,itu sama saja dia bunuh diri,karena di luar tentu sangat berbahaya untuknya,
"Kalau kamu bosan kamu bisa nonton Tv,tapi jangan pernah ganggu aku ." Cantika hanya menggukan kepalanya
****
Sepanjang pagi, Arka bersiap untuk rapat. Saat ia mengenakan jas hitamnya di depan cermin, ia melirik pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Cantika sedang merapikan tempat tidur. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu siapa pun.
Hati Arka berdesir lagi. ("Dia bukan tameng semata. Dia manusia yang punya perasaan. Dan aku ... aku terlalu sibuk dengan statusku sendiri sampai lupa bahwa kata-kataku bisa melukainya.")
Arka berjalan masuk kekamarnya,dan tidak lama ia keluar dengan paperbag kecil di tangannya .
"Ini untuk kamu,bila kamu ingin menghubungi keluarga kamu aku sudah memasukkan nomor adikmu,dan disitu juga sudah ada nomorku,Bila ada apa-apa kamu bisa menghubungi ."Arka menyodorkan paperbag itu pada Cantika,Cantika menerima dengan mata berkaca-kaca ,walapun Arka terkesan galak dan ketua padanya,tapi Arka sangat baik dan perhatian padanya .
"Terimakasih,Mas ."
"Jangan G R .itu cuma bekas,dari pada aku buang Tong sampah ." sahut Arka ketus,Cantika tersenyum ia tahu kalau hp yang di berikan adalah hp baru,dan itu merupakan hp mahal yang tidak mungkin Cantika membelinya seumur hidupnya .
****
Di mobil menuju kantor, Arka menatap ponselnya. Ia hampir mengetik pesan untuk Cantika sesuatu seperti “Maaf semalam” tapi ia hapus lagi. Stresnya belum hilang sepenuhnya. Viona mengirim pesan: “Malam ini kita dinner ya, Baby ? Bahas perhiasan lagi.” Arka mendesah. Semua ini terasa seperti teater yang tak berujung.
Sore harinya, saat Arka pulang, apartemen sudah rapi. Cantika duduk di sofa ruang tamu, membaca buku lama yang ia bawa dari desa. Ia langsung berdiri saat melihat Arka.
"Apakah rapatnya lancar, Mas?" tanya Cantika hati-hati.
Arka melepaskan jasnya dan melemparnya ke sofa. "Lumayan. Tapi masih banyak masalah."
Ia duduk di seberang Cantika. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung pergi ke kamar. "Cantika ... tentang semalam."
Cantika menegang. "Saya sudah paham. Tidak perlu diulang."
"Bukan itu," potong Arka. Suaranya masih tegas, tapi ada nada lelah di dalamnya. "Aku ... bicara kasar karena stres. Status ini, pernikahan ini, semuanya seperti beban berat di pundakku. Ayahku menuntut pewaris, perusahaan butuh citra stabil, dan viona ... dia calon istri yang sudah disiapkan untukku. Tapi itu bukan alasan untuk menyakitimu."
Cantika menatapnya dengan mata lebar. Ini pertama kalinya Arka berbicara lebih dari sekadar perintah dingin.
"Di dalam hatiku, aku tidak sekejam mulutku," lanjut Arka pelan, hampir seperti mengaku pada dirinya sendiri. "Aku melihat kamu berusaha kuat meski situasinya sulit. Itu ... membuatku merasa bersalah. Kamu bukan beban, Cantika. Kamu hanya terjebak, sama sepertiku."
Air mata Cantika menggenang lagi, tapi kali ini bukan karena sedih semata. Ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh.
"Terima kasih, Mas," bisiknya. "Saya akan berusaha tidak merepotkan."
Arka mengangguk. Ia berdiri, tapi sebelum pergi ke kamar, ia berhenti sejenak. "Makan malam nanti ... masak apa saja yang kamu suka. Kita makan bersama."
Cantika tersenyum tipis, senyum pertama sejak ia tiba di apartemen ini. Arka melihat senyum itu, dan di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah pelan. Stres statusnya masih ada, mulutnya mungkin masih akan pedas di hari-hari mendatang, tapi malam ini, ia membiarkan hatinya sedikit terbuka.
***
Malam itu, meja makan dipenuhi masakan sederhana: sayur asem, ikan goreng, dan sambal yang pedas sesuai lidah Arka. Mereka makan dalam diam, tapi keheningan itu tidak lagi mencekam. Arka sesekali melirik Cantika, dan di balik kata-kata pedas yang mungkin masih akan keluar besok, hatinya mulai melihat gadis itu bukan sebagai tameng, melainkan sebagai manusia yang layak mendapatkan kelembutan.
Pernikahan palsu ini masih panjang.viona masih akan datang dengan katalog perhiasannya, ayah Arka masih akan menekan, dan stres status Arka belum hilang sepenuhnya. Tapi di apartemen mewah yang dulu sepi itu, perlahan mulai ada ruang untuk sesuatu yang lebih dalam sesuatu yang lahir dari hati, bukan dari mulut yang pedas.
Cantika mencuci piring setelah makan, sementara Arka duduk di sofa dengan secangkir kopi. Ia menatap punggung gadis itu dan berpikir: ("Mungkin suatu hari, aku bisa bilang terima kasih dengan lebih baik. Tanpa pedas. Tanpa dingin.")
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan di balai desa itu, Arka merasa beban di dadanya sedikit lebih ringan.