Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARI PUNCAK KEJAYAAN MENUJU KEGELAPAN
Suara sorak-sorai membahana.
Nathan Hayes berdiri di tengah panggung, trofi emas di tangannya berkilau di bawah sorotan lampu. Di ruangan megah itu, para tamu undangan, chef terkenal, kritikus kuliner, selebritas, hingga sosialita New York berdiri memberi tepuk tangan meriah.
"Dan pemenangnya adalah... Nathan Hayes!"
Gemuruh tepuk tangan semakin menguat. Kilatan kamera menyambar ke segala arah, menangkap sosok pria yang tengah berdiri dengan penuh percaya diri. Dia tersenyum, senyum khasnya yang arogan tapi memikat. Dia bukan hanya chef. Dia adalah legenda hidup.
Di sudut ruangan, beberapa wanita berbisik, mata mereka penuh kekaguman.
"Dia benar-benar sempurna."
"Tampan, berbakat, kaya... Astaga, aku rela jadi makanannya."
Nathan mendengar itu dan dia menikmatinya.
Saat pidato kemenangan, dia mengangkat trofi, matanya menyapu seluruh ruangan.
“Tiga tahun berturut-turut, dan aku masih di sini. Kenapa? Karena aku yang terbaik.”
Tawa dan tepuk tangan kembali pecah. Dia tak perlu merendah, karena itu adalah fakta.
Pesta usai. Musik masih mengalun, gelas-gelas sampanye berdenting, tetapi Nathan merasa kosong. Ini seharusnya puncak kejayaan, tapi mengapa dia merasa... bosan?
Di teras gedung pencakar langit, dia menyesap minumannya, memandangi hiruk-pikuk New York di bawah sana.
Lalu, ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari seorang teman:
"Arena sudah disiapkan. Kau yakin mau mencoba stunt baru malam ini?"
Nathan tersenyum miring. Tentu saja.
Trofi bisa menunggu. Pujian bisa menunggu. Tapi rasa lapar akan tantangan? Itu tak bisa menunggu.
Di bawah langit malam yang dingin, Nathan menaiki motornya di arena motocross pribadinya, di luar kota. Cahaya lampu sorot menerangi trek tanah yang kasar, sementara suara mesin motor meraung di kejauhan.
Beberapa temannya berdiri di tepi trek, raut wajah mereka penuh kekhawatiran.
"Nathan, ini gila. Lompatan itu terlalu tinggi, bahkan untukmu."
Nathan tertawa sinis. "Aku bukan orang biasa."
Dia menurunkan visor helmnya. Tangannya memelintir gas. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena ekspektasi. Dia ingin merasakan sensasi yang lebih besar daripada sekadar menang penghargaan.
Suara mesin meraung. Ban motor menghantam tanah, lalu melesat ke udara.
Semuanya berjalan sempurna.
Angin terasa lebih tajam. Waktu terasa melambat.
Dan lalu
Hantaman keras.
Bunyinya memekakkan telinga. Logam bertemu tanah. Tubuhnya terpelanting, menghantam keras ke tanah berbatu.
Ada suara jeritan di kejauhan.
Tapi Nathan tak bisa bergerak.
Dia mencoba menarik napas, tapi dada terasa berat. Kepalanya berdenyut. Pandangannya kabur.
Lalu dia menyadari sesuatu.
Kakinya tidak terasa.
Suara temannya memudar, lampu-lampu di sekelilingnya mulai menghilang, dan sebelum semuanya menjadi gelap, hanya ada satu pikiran yang menggema di kepalanya.
Tidak. Ini tidak mungkin terjadi padaku.
Lalu semuanya lenyap.
___
Hening.
Lalu suara. Jauh, teredam, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
Bip. Bip. Bip.
Detak ritmis itu perlahan menyeretnya kembali ke permukaan. Ada sesuatu yang berat di dadanya. Bau antiseptik menyengat di hidung. Kelopak matanya terasa seperti ditindih batu.
Di mana aku?
Lalu, ingatan itu datang menghantam seperti ombak besar yang menelan kesadarannya.
Arena. Lompatan. Angin. Hantaman keras. Rasa sakit.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya seharusnya bereaksi tetapi tidak ada yang terjadi.
Dengan usaha besar, kelopak matanya terbuka sedikit. Cahaya putih menusuk pupilnya, membuat pandangannya kabur. Bentuk-bentuk samar mulai terlihat. Langit-langit putih. Tabung oksigen. Kabel-kabel medis.
Sebuah suara gemetar terdengar. "Nathan...?"
Dia mengenali suara itu sebelum melihat pemiliknya.
"Mom?"
Air mata menetes di pipi wanita berambut pirang itu. Charlotte, ibu Nathan, wanita elegan yang selalu tampil sempurna, kini tampak seperti seseorang yang tak tidur selama berminggu-minggu.
"Oh Tuhan, Nathan... kau sadar..." Suaranya pecah, tangannya menggenggam erat jemari Nathan.
Pintu kamar terbuka, dan seorang dokter bersama dua perawat masuk. "Mr. Hayes, senang melihat Anda sadar. Bagaimana perasaan Anda?"
Nathan mencoba bicara, tetapi tenggorokannya terasa kering. Seorang perawat buru-buru menuangkan air ke gelas dan membantu menempelkan sedotan ke bibirnya. Dia meneguk perlahan, lalu mengumpulkan kekuatan untuk bertanya.
"Apa... yang terjadi?"
Dokter bertukar pandang dengan ibunya. Charlotte mengangguk pelan, matanya kembali memerah.
"Nathan..." Dokter mengambil napas dalam. "Anda mengalami kecelakaan serius. Anda kehilangan kesadaran selama tiga minggu. Kami telah melakukan segala yang bisa kami lakukan, tetapi... ada sesuatu yang harus Anda ketahui."
Jantung Nathan berdegup lebih kencang. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Berhasil. Tapi ketika ia mencoba menggerakkan kakinya tidak ada yang terjadi.
Napasnya memburu. Ia mencoba lebih keras. Jari-jari kakinya. Lututnya. Apa pun.
Tetap tidak ada.
Matanya membelalak. "Kenapa aku tidak bisa...?"
Dokter mencondongkan tubuhnya. "Cedera tulang belakang yang Anda alami cukup parah. Kami sudah melakukan operasi, tetapi... ada kemungkinan kelumpuhan permanen dari pinggang ke bawah."
Kepalanya berdengung. Kata-kata itu menggema di otaknya.
Kemungkinan kelumpuhan permanen.
Tidak. Tidak mungkin.
Dia, Nathan Hayes, seorang legenda. Chef terbaik di New York. Atlet ekstrem. Pria yang selalu melampaui batas.
Sekarang lumpuh?
Tidak.
"Tidak," bisiknya, suaranya bergetar.
"Nathan..." Charlotte menggenggam tangannya lebih erat, matanya memohon.
"TIDAK!"
Dengan gerakan tiba-tiba, Nathan meraih selang infus dan menariknya dengan kasar. Monitor jantung berbunyi nyaring, perawat menjerit, dan dokter buru-buru menahannya.
"Nathan, tenang!"
"Jangan sentuh aku!" raungnya.
Kemarahan, keputusasaan, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Dia ingin bangun. Berlari. Meninggalkan tempat ini. Tapi tubuhnya mengkhianatinya.
Suaranya pecah saat ia berteriak. "INI TIDAK MUNGKIN!"
Tapi semua orang di ruangan itu tahu ini nyata.
Nathan Hayes tidak akan pernah menjadi pria yang sama lagi.
___
Nathan akhirnya meninggalkan rumah sakit setelah berminggu-minggu menjalani perawatan. Tapi bagi Nathan, kepulangannya bukanlah kelegaan itu adalah hukuman.
Dulu, apartemen penthousenya di jantung Manhattan adalah simbol kejayaan. Sekarang, itu terasa seperti penjara.
Begitu ia tiba, ia langsung menyuruh semua orang pergi. Ibunya, sahabatnya, bahkan staf pribadinya. "Aku tidak butuh siapa pun!" bentaknya.
Setiap orang yang mencoba masuk akan diusir. Ia tak ingin melihat ekspresi kasihan mereka. Tak ingin mendengar kata-kata penghiburan yang kosong.
Ia menjadi bayangan dari dirinya yang dulu. Tak peduli lagi pada kebersihan apartemen, makanan, atau pekerjaannya sebagai chef terkenal. Semua trofi dan penghargaan yang dulu ia banggakan kini hanya menjadi benda tak berarti di rak.
Hari-harinya dihabiskan dalam kegelapan. Minuman keras menggantikan makanan. Pintu tetap terkunci.
Nathan Hayes telah menghilang dari dunia. Dan bagi dirinya sendiri, ia lebih baik mati.
___
Charlotte Hayes berdiri di depan pintu apartemen putranya dengan wajah penuh kecemasan. Sudah lima hari sejak terakhir kali Nathan tidak menghubungi siapa pun. Telepon tidak dijawab. Pesan tidak dibaca. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Ia menoleh ke pria di sampingnya Erick Carter, sahabat sekaligus manajer Nathan. Wajah Erick tegang. "Kita buka pintunya sekarang," katanya dengan suara mantap.
Seorang teknisi keamanan memasukkan kode, tetapi sistem pengaman tetap tidak merespons. Akhirnya, dengan paksaan, pintu berhasil dibuka.
Begitu pintu terbuka, bau menyengat langsung menyergap mereka.
Charlotte menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. Ruangan itu seperti medan perang. Botol-botol minuman berserakan di lantai, pecahan kaca berkilauan di bawah cahaya temaram. Tirai tertutup rapat, membuat apartemen terasa lebih menyeramkan daripada tempat tinggal seorang pria yang dulu dikenal sebagai legenda kuliner New York.
Erick masuk lebih dulu. "Nathan!" serunya.
Tidak ada jawaban.
Matanya menyapu ruangan... dan kemudian ia melihatnya.
Di sudut ruangan, Nathan tergeletak di lantai, tubuhnya lunglai, wajahnya pucat, dan napasnya lemah. Sebuah botol wiski kosong terguling di dekat tangannya.
"NATHAN!" Charlotte berlari dan berlutut di samping putranya, tangannya gemetar saat menyentuh pipinya. "Oh Tuhan, dia tidak sadarkan diri!"
"Telepon ambulans! CEPAT!" Erick berteriak.
Beberapa menit kemudian, suara sirene menggema di luar gedung. Paramedis bergegas masuk, dengan cekatan memeriksa tanda-tanda vital Nathan.
"Napasnya lemah. Kita harus segera membawanya!"
Charlotte hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca saat mereka mengangkat Nathan ke atas tandu.
Dalam hati, ia tahu... putranya yang dulu begitu kuat, kini benar-benar jatuh.
Nathan kembali dirawat di rumah sakit, tetapi kali ini situasinya berbeda. Ia tidak hanya pasien dengan kondisi fisik yang parah, ia juga dalam kondisi mental yang berbahaya.
Dokter menempatkannya di ruang perawatan dengan pengawasan lebih ketat. Tidak ada lagi botol alkohol, tidak ada benda tajam, dan staf medis harus selalu waspada. Mereka melihatnya sebagai seseorang yang bisa melakukan hal nekat kapan saja.
Charlotte, yang selalu mencoba kuat, kini benar-benar khawatir. "Tolong lakukan apa pun yang perlu dilakukan," pintanya kepada dokter. "Saya tidak peduli berapa lama. Saya hanya ingin Nathan... kembali."
Seorang psikolog mulai menangani Nathan, tetapi responsnya dingin. Ia menolak berbicara, menolak menerima bantuan, dan tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tapi satu hal jelas ia tidak bisa dibiarkan sendirian terlalu lama.
Dokter dan psikolog akhirnya berbicara dengan keluarga Nathan. "Dia butuh lingkungan yang lebih tenang," ujar psikolognya. "Tinggal di tengah hiruk-pikuk New York hanya akan memperburuk kondisinya. Dia butuh tempat yang jauh dari tekanan, jauh dari kehidupan lamanya yang sekarang hanya menjadi bayangan menyakitkan."
Charlotte mengangguk pelan, meski hatinya berat. "Jadi... dimana tempat terbaik untuknya?"
Psikolog berpikir sejenak. "Sebuah rumah di luar kota, dekat dengan alam, dengan akses mudah ke terapi fisik dan mental. Itu akan jauh lebih baik daripada penthouse di tengah kota."
Erick, yang ikut dalam diskusi, menyela, "Aku bisa mengatur semuanya. Aku tahu tempat yang cocok."
Dan dengan keputusan itu, Nathan meski tidak dengan kemauannya sendiri akan segera meninggalkan New York.
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??