Langit di atas Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhlas seolah selalu meredup setiap kali tanggal sepuluh tiba. Bagi santri lain, tanggal sepuluh mungkin hanya penanda waktu menuju pertengahan bulan, namun bagi Fajar, itu adalah hari penghakiman. Hari di mana martabatnya akan dikuliti, lembar demi lembar, di depan teman-teman sekelasnya.
Pagi itu, aroma kapur tulis bercampur dengan debu dari kursi kayu yang sudah mulai lapuk. Fajar duduk di barisan paling depan, mencoba fokus pada kitab Imrithi yang sedang dipelajari. Namun, suara ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai semen terdengar mendekat. Detak jantung Fajar seolah ikut berpacu dengan irama langkah kaki itu.
Pintu kelas terbuka kasar. Ibu Rahma, sang Bendahara sekolah sekaligus guru matematika, masuk dengan buku besar bersampul hitam di tangannya. Wajahnya yang selalu dipoles make-up tebal itu tampak masam. Matanya yang tajam langsung menyisir ruangan, dan berhenti tepat di wajah Fajar.
"Fajar Sidik. Berdiri!" suaranya melengking, menghantam keheningan kelas.
Fajar berdiri dengan kaki gemetar. Kepalanya menunduk dalam, menatap lubang di ujung sepatu karetnya yang sudah menipis.
"SPP-mu nunggak tujuh bulan. Mau sampai kapan kamu jadi parasit di sekolah ini?" tanya Bu Rahma, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke kelas sebelah. "Apa orang tuamu tidak malu? Makan saja bisa, masa bayar sekolah tidak bisa? Kalau memang miskin, jangan sekolah di sini! Pergi sana ke kolong jembatan!"
Beberapa siswa di barisan belakang cekikikan. Fajar meremas ujung bajunya yang sudah pudar warnanya. "Bapak sedang sakit, Bu... Ibu saya hanya buruh cuci. Saya janji akan—"
"Janji! Janji! Kamu pintar bicara karena otakmu encer, tapi otak encer tidak bisa dipakai bayar listrik sekolah!" potong Bu Rahma pedas. "Lihat nilai ujianmu kemarin. Matematika kamu dapat 100, kan? Tapi di buku nilaiku, aku kasih kamu 40. Kenapa? Karena ilmu itu butuh berkah, dan tidak ada berkah buat murid yang berutang pada gurunya!"
Fajar tersentak. Jadi itu alasannya. Selama tiga tahun di MTS, Fajar selalu menjadi murid yang paling cepat menangkap materi. Ia menguasai rumus fisika, ia hafal bait-bait nahwu, namun nilainya di raport selalu pas-pasan, bahkan sering di bawah rata-rata. Ia pikir ia bodoh, ternyata nilainya sengaja dimatikan oleh kebencian seorang bendahara.
"Keluar dari kelas saya! Jangan kembali sebelum bawa uang minimal dua bulan!" Bu Rahma menunjuk pintu dengan penggaris kayunya.
Fajar berjalan keluar kelas dengan bahu yang merosot. Di lorong, ia mendengar suara tawa teman-temannya yang dipimpin oleh ledekan Bu Rahma. "Kasihan ya, jenius tapi gembel," suara itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Tiga tahun Fajar menjalani neraka itu. Tiga tahun dihina sebagai "Gelandangan Akademik". Baginya, sekolah bukan tempat menuntut ilmu, tapi tempat belajar menahan malu. Ia bertahan hanya karena pesan ayahnya sebelum meninggal di tahun kedua Fajar sekolah: "Jadilah orang besar, biar kemiskinan ini berhenti di bapak saja."
Hari kelulusan tiba. Fajar tidak ikut merayakannya. Ia tidak punya uang untuk membeli seragam baru atau ikut konvoi. Saat teman-temannya mencoret-coret baju, Fajar sedang berada di pasar, memanggul karung-karung beras yang beratnya dua kali lipat berat tubuhnya yang kerempeng.
"Fajar, ini gajimu minggu ini. Dan ini ada tambahan sedikit dari saya," ucap Pak Haji, pemilik toko grosir.
Fajar menghitung uangnya. Matanya berkaca-kaca. Uang itu pas untuk melunasi utang SPP-nya selama tiga tahun. Ia berlari menuju MTS, menuju kantor bendahara yang selama ini menjadi tempat paling menakutkan baginya.
Namun, suasana sekolah tampak berbeda. Tidak ada keramaian. Di depan kantor, terpasang garis polisi. Fajar melihat beberapa guru menangis.
"Ada apa, Pak?" tanya Fajar pada Pak Satpam.
"Bu Rahma, Jar... Bu Rahma ditangkap. Ternyata selama ini dia korupsi dana BOS dan dana pembangunan lab. Sekolah kita hampir bangkrut karena dia," bisik Pak Satpam.
Fajar tertegun. Uang yang sering ditagih dengan hinaan kepadanya, ternyata dikumpulkan untuk mengisi kantong pribadi sang guru. Namun, berita itu belum selesai.
"Dan... anak tunggalnya, si Zaky... kecelakaan tadi siang saat mau menjemput ibunya di kantor polisi. Meninggal di tempat, Jar."
Tubuh Fajar lemas. Ia terduduk di emperan sekolah. Uang pelunasan SPP itu masih tergenggam erat di tangannya. Rasa sakit hati yang ia pendam selama tiga tahun—hinaan tentang ibunya, ledekan tentang kemiskinannya, nilai-nilainya yang dirusak—seketika menguap, berganti dengan rasa iba yang luar biasa.
Sepuluh tahun berlalu.
Fajar kini tidak lagi mengenakan baju kumal. Ia adalah seorang manajer sukses di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka. Ia telah berhasil mengangkat derajat keluarganya, membelikan ibunya rumah yang layak, dan menyekolahkan adik-adiknya. Namun, ada satu agenda yang tidak pernah ia lewatkan setiap tahunnya.
Ia mendatangi sebuah rumah kecil yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan rumah Bu Rahma yang dulu pernah ia lihat. Di sana, seorang wanita tua duduk di kursi roda, menatap kosong ke arah jendela. Wanita itu adalah Bu Rahma. Setelah keluar dari penjara, hidupnya hancur. Hartanya disita, suaminya pergi, dan anak yang ia bangga-banggakan telah tiada.
"Ibu... ini Fajar," ucap Fajar lembut sambil meletakkan sekeranjang buah.
Wanita tua itu menoleh perlahan. Matanya yang dulu tajam kini kusam dan berair. "Fajar... Fajar yang mana?"
"Fajar yang dulu SPP-nya sering menunggak, Bu. Yang dulu Ibu suruh keluar kelas," Fajar tersenyum tulus, tanpa ada nada dendam.
Bu Rahma tiba-tiba menangis sesenggukan. Tubuhnya yang renta bergetar. "Maafkan Ibu, Jar... Maafkan Ibu. Ibu sombong karena merasa punya segalanya, padahal Ibu mencuri hak kalian. Tuhan mengambil anak Ibu sebagai teguran karena Ibu sering menyakiti anak orang lain..."
Fajar berlutut di samping kursi roda itu. Ia memegang tangan wanita yang dulu pernah menghancurkan mentalnya selama tiga tahun di MTS.
"Sudah saya maafkan sejak lama, Bu. Luka itu memang ada, tapi luka itu juga yang membuat saya bekerja lebih keras dari siapa pun. Kalau bukan karena hinaan Ibu, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang," bisik Fajar.
Fajar kemudian mengeluarkan sebuah amplop. Bukan berisi tagihan, tapi berisi kuitansi pelunasan panti jompo terbaik dan biaya pengobatan Bu Rahma hingga akhir hayatnya.
"Uang SPP saya yang dulu Ibu tagih, sudah saya lunasi di sekolah. Dan ini... adalah tanda terima kasih saya karena Ibu sudah menjadi bagian dari guru saya, meskipun pelajaran yang Ibu berikan adalah pelajaran tentang kesabaran yang pahit."
Fajar pamit, berjalan keluar meninggalkan rumah itu. Ia berhenti sebentar di sebuah pemakaman umum, tepat di depan nisan bertuliskan nama anak Bu Rahma. Ia menaruh bunga di sana dan berdoa dengan khusyuk.
Hatinya benar-benar lega. SPP-nya kini benar-benar lunas. Bukan hanya dengan uang, tapi dengan keikhlasan yang tulus. Ia menyadari bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan adalah cara paling mulia untuk menutup luka masa lalu. Fajar berjalan pulang, di bawah langit sore yang kini tampak sangat cerah, secerah masa depannya yang kini tak lagi terbebani oleh bayang-bayang hinaan masa lalu.
Catatan:
Kisah ini mengajarkan kita bahwa lisan seorang guru bisa menjadi doa, namun juga bisa menjadi bumerang. Dan bagi mereka yang dizalimi, kesuksesan dan pemaafan adalah balas dendam yang paling berkelas dan elegan.