Tibalah Ranty di ruangan meeting, saat menyerahkan berkas yang di minta Panji, Ranty pun berbisik ditelinga Panji, tentu hal itu membuat Panji terkejut.
"Pak, tadi ada orang di ruangan Bapak, sudah saya suruh tunggu diluar, tapi nggak mau" Bisik Ranty.
"Kamu jangan ngomong yang tidak tidak ya sama dia, itu istri saya!" Kata Panji pelan.
Ranty yang tidak menghiraukan perkataan Panji, langsung kembali duduk di kursinya, dan mulai menyimak lagi apa yang di katakan Pimpinan saat meeting.
Hah istri? Bapak kira saya percaya? haha
Ranty sama sekali tidak percaya dengan ucapan Panji, dia menganggap Panji hanya berbohong.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.20, meeting pun ditunda karena Adzan maghrib berkumandang, semua peserta meeting bubar, dan akan melanjutkannya lagi setelah maghrib. Ya begitulah pekerjaan Panji, terkadang sering ada meeting dadakan, tugas dadakan, bahkan sesekali pernah lembur hingga pagi dini hari.
Panji mempercepat langkahnya untuk kembali keruangannya, niatnya adalah mengajak Rizka sholat di mesjid. namun setibanya diruangan, dia tidak mendapati Rizka disana.
Loh kemana? kan aku bilang tunggu disini aja jangan kemana-mana
Panji yang kecarian Rizka pun mengambil ponselnya untuk menelpon Rizka, namun tak ada jawaban.
Panji langsung berpikir pasti Rizka sudah duluan ke mesjid, lalu bergegas menyusulnya kesana. Ternyata benar, saat setengah jalan Panji melihat sosok Rizka dari belakang yang sedang berjalan menuju mesjid, Panji tersenyum dan tanpa ragu langsung merangkul tubuh Rizka yang tingginya kurang lebih hanya sepundak Panji. Panji yang berbadan tegap dan tinggi sementara Rizka bertubuh mungil dan sedikit montok, tinggi badan nya hanya sekitar 155cm.
"Eh kirain siapa, hampir aja aku hajar," Kata Rizka manyun.
"Jangan disini kalau mau hajar aku, ntar aja dirumah" sambil agak menunduk, Panji mendekatkan mulutnya ke telinga Rizka, dan berbisik menggoda Rizka.
"Apa sih Bang!" sambil menepis tangan Panji yang ada di bahunya, dan mempercepat langkahnya. Panji hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu.
Rizka yang masih kesal karena kejadian sore tadi, mood nya berantakan, feelingnya benar pasti bakalan tidak nyaman berada disana, di tambah lagi ternyata Panji memiliki asisten secantik itu, membuat otak Rizka berpikir kemana-mana.
Setelah selesai sholat Magrib, semua peserta meeting kembali keruangan meeting, tidak lama meeting pun berakhir, hanya sekitar 15 menit, karena pimpinan hanya membacakan kesimpulan dan menutupnya.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Roby yang duduk tepat di sebelah Panji.
"Mau kemana bro, buru buru amat, ngopi dulu yuk?" Ajak Roby, sambil mengejar langkah Panji yang begitu cepat.
"Nggak bisa bro, sorry." Jawab Panji singkat.
Tibalah, Panji diruangan nya dan diikuti Ranty dari belakang.
"Pak, boleh kah saya menebeng lagi hari ini?" Tanya Ranty.
"Maaf Ranty, nggak bisa. kamu tau kan istri saya sedang menunggu?" Tegas Panji.
Panji membereskan barang-barangnya diatas meja kerjanya, dan langsung meninggalkan Ranty tanpa berkata apapun lagi. Panji tahu Rizka sudah menunggunya di lobi karena seusai magrib tadi Rizka mengirimkan pesan kepadanya.
"Ayoo, Rizka." Kata Panji menghampiri Rizka yang sedang duduk di lobi. Rizka pun langsung bangkit dan tidak berkata apa apa.
Saat di perjalanan pulang, Rizka hanya diam, Panji berpikir mungkin Rizka lelah karena harus ikut dengannya sampai malam begini.
"Maafin aku ya, kamu pasti capek karena harus ikut aku ke kantor." Sambil mengelus kepala Rizka, namun Rizka segera menepisnya. Mood nya benar benar rusak saat ini. Bahkan rasa kesalnya mampu menutupi rasa laparnya.
"Iya Bang, lain kali aku gak mau deh ikut ikut ke kantor kamu lagi, mending aku dirumah aja udah biasa," Jawabnya ketus.
Semarah itukah dia? tapi kenapa? gak biasanya dia begini
Panji masih tak paham betul penyebab kekesalan Rizka.
"Iya, maafin aku ya, kamu mau makan apa?" Tanya Panji.
"Gak usah, aku lagi nggak selera Bang." Katanya sambil menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.
"Jangan gitu dong. yaudah aku mampir kesini sebentar ya, kamu di sini aja." Panji singgah membeli 2 bungkus nasi goreng, di tempat langganannya, sebelum masuk ke komplek perumahan.
Sesampainya dirumah, Rizka langsung membuka pintu rumah, membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Begitu pun dengan Panji.
Saat Rizka hendak menuju kamarnya, Panji menahannya dan menarik lengannya.
"Semarah itu kamu sama aku Ka?" Panji ingin mencari tahu apakah ada penyebab lain di balik marahnya Rizka.
"Kamu nggak tau kan bang? tadi aku diusir sama asisten cantik kamu yang sinis itu." kini Rizka mulai membuka suara.
"Oh.. jadi gara-gara ini kamu marah banget sama aku? pantesan." Panji.
memang kurang ajar si Ranty, ngapain coba dia nyuruh Rizka keluar ruangan.
"Jadi menurut kamu, aku marah karena apa? karena capek nungguin kamu? itu nggak masalah Bang buat aku." Jelas Rizka
"Iya, maaf ya. besok aku akan bicara sama Ranty karena udah memperlakukan kamu sembarangan, emang kamu nggak bilang kalau lagi nunggu aku?" Panji.
"Udah, tapi dia malah tambah sinis ke aku. Kamu pasti bakalan betah banget ya di kantor kalau punya asisten secantik itu?" Rizka menahan air matanya, seharusnya ia tidak perlu menanyakan hal seperti itu.
"Terus kamu nggak bilang kamu siapa? di mata aku, masih cantik kamu di banding dia," Panji memegang pundak Rizka.
Pujian Panji untuknya barusan membuat Rizka tersipu malu, namun ia tak mau membahasnya lebih lanjut. "Maksudnya Bang?"
"Ya kamu kan bisa ngasih tau ke dia, kalau kamu itu istri aku," Panji.
"Pengennya gitu bang, ingin ku menjawab aku ini istrinya? terus kamu mau apa? tapi aku urungkan niat ku, aku gak mau buat keributan di kantor kamu, nanti kamu yang malu." Jelas Rizka panjang lebar, benar saja ingin sekali dia mengatakan itu tapi rasanya belum pantas saja, meski ia benar-benar berstatus istri Panji.
"Ya sudah sini, sekali lagi maafin aku ya." Panji pun mengarahkan tubuhnya lebih dekat pada Rizka dan memeluknya lagi.
"Nggak usah peluk peluk Bang, aku keringat belum mandi." Rizka menolak Panji.
"Ya udah mandi dulu sana nanti kita peluk peluk lagi ya?" godanya sambil tersenyum.
Rizka yang tak bisa menahan senyum dengan apa yang diucapkan Panji, akhirnya membalas senyum Panji. Moodnya kembali baik, meski belum sepenuhnya.
"Nah gitu kan manis," Kata Panji sambil mencubit pipi Rizka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Dwi Handayani
si panji lagi, bukannya robby dah tau ya kalau dia dah nikah, kenapa gak dijawab aja gitu, "ada istri yang nungguin",
2022-08-22
0
Dwi Handayani
nah kan cewek gatel. ihh paling geli saya mah ama cewek yg tingkat kepedeannya tinggi, apalagi kalo ama cowok, gateul. rasanya kaya dia tuh nginjek nginjek hrga diri perempuan banget.
2022-08-22
0
Neulis Saja
dasar perempuan baru digituan aja langsung melehoy
2022-08-16
0