Triingg tringggg ....
Dering ponsel Panji.
“Mama.” Ucapnya.
Tumben pagi pagi. Gumamnya.
“Halo Ma, Assalamualaikum.” Panji.
“Waalaikumsalam Nak, kamu hari ini jadi berangkat kan?” terdengar suara Bu Mira dari seberang sana.
“Jadi Ma, sebentar lagi aku jalan, ini lagi sarapan, ada apa Ma?” Panji penasaran, tak pernah mamanya menelpon sepagi ini.
“Ini...Nak Tisya dirawat di Rumah Sakit, dia drop mungkin kelelahan karena memang kerjaan nya di Perusahaan lagi padat padatnya.” Kata Bu Mira.
“Hah? Pantesan aja dari semalam tak ada kabar, oke Ma Panji berangkat sekarang,” Panji panik, dan bergegas bangun dari kursinya. Segera Pamit pada Rizka dan mertuanya.
“Maaf yah semuanya aku harus berangkat sekarang, soalnya ada keluarga yang sakit." Panji tidak jujur kepada Rizka dan keluarganya karena ia tidak ingin merusak semuanya, ia mulai nyaman dengan Rizka dan keluarganya yang hangat dan penuh kasih sayang.
Sementara Rizka juga ikut bangkit dari tempat duduknya menyusul Panji yang panik dan berjalan keluar menuju mobil.
“Bang...” panggil Rizka sambil menyodorkan tagannya untuk menyalami Panji, Panji pun menyambut tangan Rizka. Ini adalah kali kedua setelah akad mereka bersalaman dan Rizka mencium tangan Panji.
“Nanti aku hubungi kamu ya.”
Tiiinn..
Suara kalkson mobil, perlahan mobil Panji pun menghilang dari pandangan Rizka.
Siapa yang sakit? Apa papa mertua? Tapi kenapa Bang Panji nggak langsung bilang Papa gitu. Ya sudah lah aku tunggu saja kabar darinya.
Panji sudah tiba di kota M, ia melihat ke arah Jam tangan yang ia kenakan. Pukul 10.32.
Aku harus segera sampai ke Rumah Sakit. Kangen banget dan khawatir banget sama kamu Sya, semoga kamu ngga kenapa kenapa. Panji merasa resah dan khawarir.
Tujuan Panji yang harusnya ke Universitas, tapi malah berubah ke Rumah Sakit. Ia sama sekali tak menghiraukan lagi jadwal kuliahnya satu jam kedepan. Yang ada dipikirannya adalah bertemu Tisya dan menggenggam tangannya.
Tiba dirumah sakit.
Diruang Anggrek.
“Tante.” panggil Panji kepada Mamanya Tisya.
“Iya Panji kamu datang? Kok kamu tau Tisya disini?”
Bu Sinta, mamanya Tisya heran kenapa Pacar anaknya itu bisa tau kalau anaknya sakit dan dirawat disini, padahal ia sama sekali tidak berniat memberitahu Panji, mengingat Panji sudah menikah dan punya istri sah. Bu Sinta tidak mau lagi mengganggu kehidupan Panji.
“Mama yang kabari aku tante.. mana Tisya aku mau ketemu dia.”
Oh iyaa aku lupa kan aku kan sudah memberitahu ke Bu Mira kalau Tisya dirawat di Rumah Sakit. Ucap Bu Sinta dalam hati.
“Dia sedang istirahat, sebaiknya kamu jangan temui Tisya dulu ya.” seperti ada yang disembunyikan sama Bu Sinta mengenai anaknya, dan membuat Panji semakin penasaran.
“Tante maaf ya, kenapa sih tante? Aku kan Cuma mau lihat dia gapapa walaupun sedang tidur. Aku kangen dan khawatir banget tante please.” Panji setengah memohon mohon kepada Bu Sinta.
“Sini Panji, sini Tante kasih tau” sambil menarik lengan Panji dan mengajaknya duduk di kursi depan ruangan dimana Tisya dirawat.
“Panji... Tisya nggak apa-apa kok, dia Cuma kelelahan karena beberapa hari ini dia lembur terus kerjanya. Banyak kerjaan di perusahaan nya” Jelas Bu Sinta meyakinkan Panji .
“Iya Tante, tapi tetap aja aku mau ketemu dia” Sambil membuka kacamatanya dan membasuh wajahnya dengan tangannya. Mata Panji memerah dan berkaca. Rasanya hatinya setengah hancur karena tidak dapat langsung bertemu dengan kekasih tercintanya itu.
“Panji.. ada yang mau Tante omongin sama kamu. Sebelumnya Tante minta maaf ya karena harus mengatakan ini, tapi Tante mohon sama kamu, segera jauhi Tisya. Kamu paham kan maksud Tante?” Bu Sinta berkata tegas, namun sambil tersenyum ke Pada Panji yang perasaannya tengah campur aduk mendengar ucapan Bu Sinta barusan.
“Maksud Tante apa?” Panji tidak terima.
“Panji, kamu sudah menikah, kamu sudah berstatus suami orang. Kamu punya istri yang berhak atas cinta dan kasih sayangmu, ingat itu!” Bu Sinta mengatakan dengan sangat sangat tegas. Dengan raut wajahnya yang sedikit emosi untuk mengatakan ini.
“Iya Tante, tapi Tante tau kan? Ini semua karena kesalahan, aku cinta nya Cuma sama Tisya Tante, tolong ngerti." nada suara Panji agak keras.
“Benar. Tante tau akan kesalahpahaman itu, tapi bagaimanapun kalian itu sudah menikah! Jadi intinya yang ingin Tante katakan adalah Tante tidak mau kalau sampai Tisya di cap sebagai perebut suami orang, perusak rumah tangga orang lain. Membayangkannya saja sudah membuat Tante merinding! Tolong kamu paham Panji.” Kali ini Bu Sinta benar benar berapi api. Dia sangat menyayangi Putri semata wayangnya itu, dia ingin kebahagiaan didalam kehidupan Putrinya. Tapi tidak mau dengan cara yang salah.
“Tante, Pernikahan Panji ini hanya sementara, nanti jika sudah saatnya Panji akan mengurus semuanya, dan segera menikahi Tisya Tante”. Mata Panji tak lagi berkaca kaca tapi dia benar benar sudah menangis, menahan emosi dan rasa rindunya pada Tisya.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu! Nggak boleh ada perceraian, meski pernikahan kamu itu adalah kesalahan, tapi itulah takdir dan jodoh yang ditentukan oleh Tuhan, kamu tidak bisa mengelak. Kamu belajar agama kan? Lagian Tante sudah berniat menjodohkan Tisya dengan anak teman Tante, supaya dia tidak berharap lagi sama kamu”. Jelas Bu Sinta dengan suara pelan, namun tetap tegas dan dia mau perkataannya tidak di bantah.
Perkataan Bu Sinta seolah memberi tamparan keras pada Panji yang berniat menceraikan Rizka, namun niatnya itu seakan menghilang perlahan, hatinya benar benar kacau sekarang, dia masih sangat mencintai Tisya, namun dia juga bingun dengan perasaannya pada Rizka. Sekedar kasihan, atau sudah tumbuh rasa sayang?
“Tante, aku mohon. Jangan." lirih Panji.
“Tante, aku mohon izinkan aku ketemu Tisya kali ini saja. Aku akan memikirkan apa yang tante katakan tadi.” Panji tetap memohon sambil mengintip Tisya dari balik kaca pintu ruang rawatnya.
“Ya sudah masuklah.” Bu Sinta mempersilahkan Panji masuk untuk melihat Tisya.
“Tante tunggu di luar ya.” Bu Sinta.
“Iya Tante”
Panji terdiam sejenak melihat Tisya yang terbaring lemah di tempat tidur dengan infus yang terpasang di tangan kanan nya. Panji mengenggam tangan Tisya dengan kuat berharap Tisya segera bangun.
“Bangun sayang.. aku datang.” ucap Panji sambil mencium kening Tisya. Panji terus memandangi wajah Tisya yang cantik, namun tak dapat dipungkiri dibalik wajah cantiknya itu terlihat wajah yang sangat lelah.
Sambil tetap menggenggam tangan Tisya Panji mengeluarkan ponselnya. Dan mengambil foto tangan nya yang menggenggam tangan Tisya dengan infus yang terpasang.
Satu jam sudah Panji menunggu Tisya bangun namun ia tetap terpejam.
selelah itukah kamu? gumam Panji dihatinya.
Ceklekkk
Bu Sinta masuk dan memanggil Panji lagi untuk berbicara diluar.
“Kamu lihat kan dia lelah banget Panji, biarkan dia istirahat ya." Ucap Bu Sinta.
“Iya Tante, apa benar dia Cuma kelelahan?” Panji yang masih tidak percaya.
“iya, Panji.. sebenarnya Tante sayang sama kamu, sebelum kamu menikah, Tante memang berharap kamu bisa menjadi menantu Tante, menjaga dan melindungi Putri kesayangan Tante, tapi ternyata kalian tidak berjodoh, jadi Tante mohon sekali lagi yaa, bantu Tisya buat ngelupain kamu ya. Kamu harus fokus dengan pernikahanmu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan istrimu Panji!" Panji yang sejak tadi hanya menunduk sambil memegang keningnya, belum membalas perkataan Bu Sinta.
Terkadang ia juga memikirkan Rizka, namun di dalam hatinya dia masih sangat mencintai Tisya.
“Baiklah Tante, akan aku coba.” Panji.
“Kamu harus berusaha, pasti bisa, asal kamu mencoba mencintai istrimu, pasti kamu bisa melupakan Tisya.” Bu Sinta kembali meyakinkan Panji.
“Aku pamit pulang ya tante.” Panji.
"Iya nak, hati hati.”
Bu Sinta masuk ke dalam ruangan putri nya dirawat, ia melihat Tisya sedang menangis. Sebenarnya saat Panji bersamanya tadi ia tidaklah tidur, bahkan ia mendengar semua pembicaraan antara Mamanya dan Panji.
Sungguh menyesakkan. Padahal Tisya pun sangat ingin bertemu dengan Panji. Namun Tisya harus berpura pura tidur. Alasan nya adalah Tisya ingin menuruti perkataan mamanya jika Mamanya tidak ingin ia menjadi perusak rumah tangga orang.
“Maafkan Mama ya nak, Mama lakukan ini demi kebaikan kamu. Lupakan Panji dan buka hati untuk orang lain ya sayang.” Bu Sinta memeluk Tisya juga sambil menangis.
“Iya Ma, Tisya mengerti semua karena mama sayang Tisya, tapi maa... huuu...huuu Tisya sayang banget sama Panji, hancur sudah semua harapan harapan Tisya bersama Panji.” Tisya menangis terisak isak dipelukan mamanya.
“Mama paham, tapi perlahan percayalah semua akan membaik, kamu nggak boleh menyalahi takdir dan jodoh, walau jalan nya yang kalian anggap salah, berarti Panji tetap bukan jodohmu Nak. Nanti setelah kamu membaik mama akan memperkenalkan kamu dengan Yogi, anak teman Mama, orangnya baik sopan, dan nggak kalah ganteng!” hibur Bu Sinta sambil mencubit pipi anaknya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Tisya tidak menjawab hanya mengangguk tersenyum dan menghapus air matanya.
***
Tibalah Panji didepan pintu gerbang sebuah rumah mewah, bertingkat 2. Dengan halaman yang luas dipenuhi dengan taman. Ia memasuki halaman rumah orang tuanya dan memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil mewah bermerk Toyota Alpahard yang tidak lain adalah mobil Papanya.
Sekilas tentang Panji, sebenarnya Panji adalah anak orang kaya, hidupnya serba berkecukupan, orang tuanya memiliki beberapa usaha di beberapa bidang yaitu Pertanian, properti, bahkan kuliner di kota M.
Orang tua Panji menginginkan Panji untuk mengelola salah satu usaha mereka, namun Panji memilih mengejar cita citanya sejak masa kuliah yaitu menjadi seorang Jaksa. Namun saat ini Panji juga mengelola sebuah cafee di kota M. Cafe yang ia bangun dengan usaha dan modalnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Maka jika kembali ke kotanya, banyak yang ia lakukan selain untuk bertemu kedua orang tuanya.
“Assalamualaikum Ma...Ma...”
Panji masuk celingak celinguk mencari Mamanya.
“Ehh Nak Panji sudah sampai.” Panji disambut oleh Bi Nur yang merupakan pengasuhnya sejak kecil hingga sekarang sudah puluhan tahun Bi Nur bekerja dirumah keluarga Panji. Panji pun menyalami Bi Nur.
“Apa kabar Bi, Mama mana?” Sambil menaiki anak tangga hendak menuju ke kamarnya.
“Sehat Nak, Nak Panji sendiri gimana? Istri kamu nggak ikut kesini? Oh iya Bu Mira sedang pergi arisan komplek.” Bi Nur.
“Hatiku yang sedang nggak sehat Bi, oh Rizka ga ikut nanti ada saatnya dia kesini kok. Aku ke Kamar ya Bi.”
Panji langsung menuju kamarnya, membuka pintu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menadahkan tangannya di kening. Memejamkan mata sejenak. Hatiku lelah, pikiranku juga. Aku harus melupakan Tisya, tapi mulai dari mana ?
Kemudian dia mengambil ponselnya, membuka galeri dan melihat foto yang ia take tadi di Rumah Sakit, foto tangannya menggenggam tangan Tisya, Panji pun memposting sebuah status di Whatssap nya dengan caption ‘get well soon ❤’
Semoga Tisya cepat membaik
katanya dalam hati.
Sementara dirumah Rizka, jam menunjukkan pukul 3 sore. Entah sudah berapa kali Rizka mengecek ponselnya berharap ada chat atau panggilan dari Panji, namun nihil. Rizka pun menghela nafas panjang perasaannya campur aduk antara khawatir dan kesal karen Panji tidak juga menghubunginya.
Kemudian Rizka mengecek status Whatssap dan disana dia melihat postingan Panji 15 menit yang lalu. Deg! Jantungnya berdegup dan Rizka berasa di hempas dari dari atas tempat tidur kelantai, tentu sakit rasanya.
Apa aku punya hak untuk cemburu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
ristiana maharani
lanjut thoor, aku suka alur ceritanya, kya kisah nyata, gk di buat"
2023-09-03
0
Massunamiyatha
suka dwh sm pemikiran mamaknya tasya, hrsnya begitu jd ortu hrs bijak dlm menyikapi masalah anak2nya apalagi masalah rt anaknya
2023-02-28
0
Wahidah Iyda
wow Tisya Anak yg baik dan Soleha Kamu pasti mendapatkan yg terbaik😘😘❤️
2023-02-13
2