Jangan Jadi Pelakor

Triingg tringggg ....

Dering ponsel Panji.

“Mama.” Ucapnya.

Tumben pagi pagi. Gumamnya.

“Halo Ma, Assalamualaikum.” Panji.

“Waalaikumsalam Nak, kamu hari ini jadi berangkat kan?” terdengar suara Bu Mira dari seberang sana.

“Jadi Ma, sebentar lagi aku jalan, ini lagi sarapan, ada apa Ma?” Panji penasaran, tak pernah mamanya menelpon sepagi ini.

“Ini...Nak Tisya dirawat di Rumah Sakit, dia drop mungkin kelelahan karena memang kerjaan nya di Perusahaan lagi padat padatnya.” Kata Bu Mira.

“Hah? Pantesan aja dari semalam tak ada kabar, oke Ma Panji berangkat sekarang,” Panji panik, dan bergegas bangun dari kursinya. Segera Pamit pada Rizka dan mertuanya.

“Maaf yah semuanya aku harus berangkat sekarang, soalnya ada keluarga yang sakit." Panji tidak jujur kepada Rizka dan keluarganya karena ia tidak ingin merusak semuanya, ia mulai nyaman dengan Rizka dan keluarganya yang hangat dan penuh kasih sayang.

Sementara Rizka juga ikut bangkit dari tempat duduknya menyusul Panji yang panik dan berjalan keluar menuju mobil.

“Bang...” panggil Rizka sambil menyodorkan tagannya untuk menyalami Panji, Panji pun menyambut tangan Rizka. Ini adalah kali kedua setelah akad mereka bersalaman dan Rizka mencium tangan Panji.

“Nanti aku hubungi kamu ya.”

Tiiinn..

Suara kalkson mobil, perlahan mobil Panji pun menghilang dari pandangan Rizka.

Siapa yang sakit? Apa papa mertua? Tapi kenapa Bang Panji nggak langsung bilang Papa gitu. Ya sudah lah aku tunggu saja kabar darinya.

Panji sudah tiba di kota M, ia melihat ke arah Jam tangan yang ia kenakan. Pukul 10.32.

Aku harus segera sampai ke Rumah Sakit. Kangen banget dan khawatir banget sama kamu Sya, semoga kamu ngga kenapa kenapa. Panji merasa resah dan khawarir.

Tujuan Panji yang harusnya ke Universitas, tapi malah berubah ke Rumah Sakit. Ia sama sekali tak menghiraukan lagi jadwal kuliahnya satu jam kedepan. Yang ada dipikirannya adalah bertemu Tisya dan menggenggam tangannya.

Tiba dirumah sakit.

Diruang Anggrek.

“Tante.” panggil Panji kepada Mamanya Tisya.

“Iya Panji kamu datang? Kok kamu tau Tisya disini?”

Bu Sinta, mamanya Tisya heran kenapa Pacar anaknya itu bisa tau kalau anaknya sakit dan dirawat disini, padahal ia sama sekali tidak berniat memberitahu Panji, mengingat Panji sudah menikah dan punya istri sah. Bu Sinta tidak mau lagi mengganggu kehidupan Panji.

“Mama yang kabari aku tante.. mana Tisya aku mau ketemu dia.”

Oh iyaa aku lupa kan aku kan sudah memberitahu ke Bu Mira kalau Tisya dirawat di Rumah Sakit. Ucap Bu Sinta dalam hati.

“Dia sedang istirahat, sebaiknya kamu jangan temui Tisya dulu ya.” seperti ada yang disembunyikan sama Bu Sinta mengenai anaknya, dan membuat Panji semakin penasaran.

“Tante maaf ya, kenapa sih tante? Aku kan Cuma mau lihat dia gapapa walaupun sedang tidur. Aku kangen dan khawatir banget tante please.” Panji setengah memohon mohon kepada Bu Sinta.

“Sini Panji, sini Tante kasih tau” sambil menarik lengan Panji dan mengajaknya duduk di kursi depan ruangan dimana Tisya dirawat.

“Panji... Tisya nggak apa-apa kok, dia Cuma kelelahan karena beberapa hari ini dia lembur terus kerjanya. Banyak kerjaan di perusahaan nya” Jelas Bu Sinta meyakinkan Panji .

“Iya Tante, tapi tetap aja aku mau ketemu dia” Sambil membuka kacamatanya dan membasuh wajahnya dengan tangannya. Mata Panji memerah dan berkaca. Rasanya hatinya setengah hancur karena tidak dapat langsung bertemu dengan kekasih tercintanya itu.

“Panji.. ada yang mau Tante omongin sama kamu. Sebelumnya Tante minta maaf ya karena harus mengatakan ini, tapi Tante mohon sama kamu, segera jauhi Tisya. Kamu paham kan maksud Tante?” Bu Sinta berkata tegas, namun sambil tersenyum ke Pada Panji yang perasaannya tengah campur aduk mendengar ucapan Bu Sinta barusan.

“Maksud Tante apa?” Panji tidak terima.

“Panji, kamu sudah menikah, kamu sudah berstatus suami orang. Kamu punya istri yang berhak atas cinta dan kasih sayangmu, ingat itu!” Bu Sinta mengatakan dengan sangat sangat tegas. Dengan raut wajahnya yang sedikit emosi untuk mengatakan ini.

“Iya Tante, tapi Tante tau kan? Ini semua karena kesalahan, aku cinta nya Cuma sama Tisya Tante, tolong ngerti." nada suara Panji agak keras.

“Benar. Tante tau akan kesalahpahaman itu, tapi bagaimanapun kalian itu sudah menikah! Jadi intinya yang ingin Tante katakan adalah Tante tidak mau kalau sampai Tisya di cap sebagai perebut suami orang, perusak rumah tangga orang lain. Membayangkannya saja sudah membuat Tante merinding! Tolong kamu paham Panji.” Kali ini Bu Sinta benar benar berapi api. Dia sangat menyayangi Putri semata wayangnya itu, dia ingin kebahagiaan didalam kehidupan Putrinya. Tapi tidak mau dengan cara yang salah.

“Tante, Pernikahan Panji ini hanya sementara, nanti jika sudah saatnya Panji akan mengurus semuanya, dan segera menikahi Tisya Tante”. Mata Panji tak lagi berkaca kaca tapi dia benar benar sudah menangis, menahan emosi dan rasa rindunya pada Tisya.

“Kamu nggak boleh ngomong gitu! Nggak boleh ada perceraian, meski pernikahan kamu itu adalah kesalahan, tapi itulah takdir dan jodoh yang ditentukan oleh Tuhan, kamu tidak bisa mengelak. Kamu belajar agama kan? Lagian Tante sudah berniat menjodohkan Tisya dengan anak teman Tante, supaya dia tidak berharap lagi sama kamu”. Jelas Bu Sinta dengan suara pelan, namun tetap tegas dan dia mau perkataannya tidak di bantah.

Perkataan Bu Sinta seolah memberi tamparan keras pada Panji yang berniat menceraikan Rizka, namun niatnya itu seakan menghilang perlahan, hatinya benar benar kacau sekarang, dia masih sangat mencintai Tisya, namun dia juga bingun dengan perasaannya pada Rizka. Sekedar kasihan, atau sudah tumbuh rasa sayang?

“Tante, aku mohon. Jangan." lirih Panji.

“Tante, aku mohon izinkan aku ketemu Tisya kali ini saja. Aku akan memikirkan apa yang tante katakan tadi.” Panji tetap memohon sambil mengintip Tisya dari balik kaca pintu ruang rawatnya.

“Ya sudah masuklah.” Bu Sinta mempersilahkan Panji masuk untuk melihat Tisya.

“Tante tunggu di luar ya.” Bu Sinta.

“Iya Tante”

Panji terdiam sejenak melihat Tisya yang terbaring lemah di tempat tidur dengan infus yang terpasang di tangan kanan nya. Panji mengenggam tangan Tisya dengan kuat berharap Tisya segera bangun.

“Bangun sayang.. aku datang.” ucap Panji sambil mencium kening Tisya. Panji terus memandangi wajah Tisya yang cantik, namun tak dapat dipungkiri dibalik wajah cantiknya itu terlihat wajah yang sangat lelah.

Sambil tetap menggenggam tangan Tisya Panji mengeluarkan ponselnya. Dan mengambil foto tangan nya yang menggenggam tangan Tisya dengan infus yang terpasang.

Satu jam sudah Panji menunggu Tisya bangun namun ia tetap terpejam.

selelah itukah kamu? gumam Panji dihatinya.

Ceklekkk

Bu Sinta masuk dan memanggil Panji lagi untuk berbicara diluar.

“Kamu lihat kan dia lelah banget Panji, biarkan dia istirahat ya." Ucap Bu Sinta.

“Iya Tante, apa benar dia Cuma kelelahan?” Panji yang masih tidak percaya.

“iya, Panji.. sebenarnya Tante sayang sama kamu, sebelum kamu menikah, Tante memang berharap kamu bisa menjadi menantu Tante, menjaga dan melindungi Putri kesayangan Tante, tapi ternyata kalian tidak berjodoh, jadi Tante mohon sekali lagi yaa, bantu Tisya buat ngelupain kamu ya. Kamu harus fokus dengan pernikahanmu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan istrimu Panji!" Panji yang sejak tadi hanya menunduk sambil memegang keningnya, belum membalas perkataan Bu Sinta.

Terkadang ia juga memikirkan Rizka, namun di dalam hatinya dia masih sangat mencintai Tisya.

“Baiklah Tante, akan aku coba.” Panji.

“Kamu harus berusaha, pasti bisa, asal kamu mencoba mencintai istrimu, pasti kamu bisa melupakan Tisya.” Bu Sinta kembali meyakinkan Panji.

“Aku pamit pulang ya tante.” Panji.

"Iya nak, hati hati.”

Bu Sinta masuk ke dalam ruangan putri nya dirawat, ia melihat Tisya sedang menangis. Sebenarnya saat Panji bersamanya tadi ia tidaklah tidur, bahkan ia mendengar semua pembicaraan antara Mamanya dan Panji.

Sungguh menyesakkan. Padahal Tisya pun sangat ingin bertemu dengan Panji. Namun Tisya harus berpura pura tidur. Alasan nya adalah Tisya ingin menuruti perkataan mamanya jika Mamanya tidak ingin ia menjadi perusak rumah tangga orang.

“Maafkan Mama ya nak, Mama lakukan ini demi kebaikan kamu. Lupakan Panji dan buka hati untuk orang lain ya sayang.” Bu Sinta memeluk Tisya juga sambil menangis.

“Iya Ma, Tisya mengerti semua karena mama sayang Tisya, tapi maa... huuu...huuu Tisya sayang banget sama Panji, hancur sudah semua harapan harapan Tisya bersama Panji.” Tisya menangis terisak isak dipelukan mamanya.

“Mama paham, tapi perlahan percayalah semua akan membaik, kamu nggak boleh menyalahi takdir dan jodoh, walau jalan nya yang kalian anggap salah, berarti Panji tetap bukan jodohmu Nak. Nanti setelah kamu membaik mama akan memperkenalkan kamu dengan Yogi, anak teman Mama, orangnya baik sopan, dan nggak kalah ganteng!” hibur Bu Sinta sambil mencubit pipi anaknya dan merapikan rambutnya yang berantakan.

Tisya tidak menjawab hanya mengangguk tersenyum dan menghapus air matanya.

***

Tibalah Panji didepan pintu gerbang sebuah rumah mewah, bertingkat 2. Dengan halaman yang luas dipenuhi dengan taman. Ia memasuki halaman rumah orang tuanya dan memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil mewah bermerk Toyota Alpahard yang tidak lain adalah mobil Papanya.

Sekilas tentang Panji, sebenarnya Panji adalah anak orang kaya, hidupnya serba berkecukupan, orang tuanya memiliki beberapa usaha di beberapa bidang yaitu Pertanian, properti, bahkan kuliner di kota M.

Orang tua Panji menginginkan Panji untuk mengelola salah satu usaha mereka, namun Panji memilih mengejar cita citanya sejak masa kuliah yaitu menjadi seorang Jaksa. Namun saat ini Panji juga mengelola sebuah cafee di kota M. Cafe yang ia bangun dengan usaha dan modalnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Maka jika kembali ke kotanya, banyak yang ia lakukan selain untuk bertemu kedua orang tuanya.

“Assalamualaikum Ma...Ma...”

Panji masuk celingak celinguk mencari Mamanya.

“Ehh Nak Panji sudah sampai.” Panji disambut oleh Bi Nur yang merupakan pengasuhnya sejak kecil hingga sekarang sudah puluhan tahun Bi Nur bekerja dirumah keluarga Panji. Panji pun menyalami Bi Nur.

“Apa kabar Bi, Mama mana?” Sambil menaiki anak tangga hendak menuju ke kamarnya.

“Sehat Nak, Nak Panji sendiri gimana? Istri kamu nggak ikut kesini? Oh iya Bu Mira sedang pergi arisan komplek.” Bi Nur.

“Hatiku yang sedang nggak sehat Bi, oh Rizka ga ikut nanti ada saatnya dia kesini kok. Aku ke Kamar ya Bi.”

Panji langsung menuju kamarnya, membuka pintu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menadahkan tangannya di kening. Memejamkan mata sejenak. Hatiku lelah, pikiranku juga. Aku harus melupakan Tisya, tapi mulai dari mana ?

Kemudian dia mengambil ponselnya, membuka galeri dan melihat foto yang ia take tadi di Rumah Sakit, foto tangannya menggenggam tangan Tisya, Panji pun memposting sebuah status di Whatssap nya dengan caption ‘get well soon ❤’

Semoga Tisya cepat membaik

katanya dalam hati.

Sementara dirumah Rizka, jam menunjukkan pukul 3 sore. Entah sudah berapa kali Rizka mengecek ponselnya berharap ada chat atau panggilan dari Panji, namun nihil. Rizka pun menghela nafas panjang perasaannya campur aduk antara khawatir dan kesal karen Panji tidak juga menghubunginya.

Kemudian Rizka mengecek status Whatssap dan disana dia melihat postingan Panji 15 menit yang lalu. Deg! Jantungnya berdegup dan Rizka berasa di hempas dari dari atas tempat tidur kelantai, tentu sakit rasanya.

Apa aku punya hak untuk cemburu?

Terpopuler

Comments

ristiana maharani

ristiana maharani

lanjut thoor, aku suka alur ceritanya, kya kisah nyata, gk di buat"

2023-09-03

0

Massunamiyatha

Massunamiyatha

suka dwh sm pemikiran mamaknya tasya, hrsnya begitu jd ortu hrs bijak dlm menyikapi masalah anak2nya apalagi masalah rt anaknya

2023-02-28

0

Wahidah Iyda

Wahidah Iyda

wow Tisya Anak yg baik dan Soleha Kamu pasti mendapatkan yg terbaik😘😘❤️

2023-02-13

2

lihat semua
Episodes
1 Akad yang Tak di Inginkan
2 Ternyata Perhatian Juga?
3 Hamil?
4 Rahasia Rizka Terbongkar
5 Jangan Jadi Pelakor
6 CEMBURU
7 Omelette Cinta
8 Kencan Pertama
9 Mandi Keramas
10 Goodbye Tisya!
11 Anak Magang Cantik
12 Memantaskan Diri
13 Peluk
14 Morning Kiss
15 Kasmaran
16 Emosi Rizka
17 Emosi Rizka (2)
18 Perjodohan Tisya
19 Akhirnya Se-Ranjang
20 Salah Paham
21 Berharap Seperti Malam Kemarin
22 Aku Sayang Kamu
23 Kumpul Keluarga
24 Wanita Sinis
25 Mama Ingin Cucu
26 Sayangku
27 Kado
28 Ketemu Mantan
29 Curiga
30 Permintaan Maaf
31 Butuh Banyak Tenaga
32 Hilangnya Mahkota
33 Lipstik
34 Galau
35 Panji Cemburu
36 Bulan Madu Dadakan
37 Hujan Menjadi Saksi
38 Malam yang Romantis
39 Kesabaran yang Berbuah Manis
40 Kembali
41 Talak
42 Rumah Mertua
43 Jalan Bersama Mertua
44 Ragu
45 Kesal
46 Takut Kehilangan
47 Tak Menyangka
48 Selesai
49 Cinta Setelah Pernikahan
50 Baju Sexy
51 Sakit
52 Harus Istirahat
53 Kedatangan Ibu
54 Rutinitas Baru
55 Mimpi
56 Mantan
57 Membahas Masa Lalu
58 Dilarang Mandi
59 Melamar
60 Terciduk
61 Posesif
62 Ke Dokter Kandungan
63 Maafkan Aku
64 Surprise untuk Mama
65 Bersahabat?
66 Seperti Anak Kecil
67 Nggak Mood
68 Jangan Menggoda
69 Sejak Kapan?
70 Ngidam Sesuatu
71 Cemburu Belum Usai
72 Roti Bakar
73 Pengorbanan
74 Ada Apa dengan Panji?
75 Oh..Ternyata
76 Sangat Penting
77 Keputusan yang Berat
78 Resmi Resign
79 Berpamitan
80 Tambah Cantik
81 Manja
82 Kejutan
83 Masak Bersama
84 Awal Pertemuan
85 Resah
86 Rahasia
87 Dibawa Pergi
88 Berangkat
89 Selembar Surat
90 Rumit
91 Ribet
92 Kondangan
93 Ibu-Ibu Arisan
94 Berdamai
95 Senang atau sedih?
96 Siapa Yuri?
97 Terharu
98 Jangan Sentuh Aku
99 Mulai Nakal
100 Melepas Kerinduan
101 Tidur Lagi?
102 Buka Kemeja
103 Ke Cafe
104 Pilih dia atau aku?
105 Heels Tujuh Senti
106 Ketahuan
107 Menjadi Tersangka
108 Emosi Panji
109 Rumah Sakit
110 Penuh Harap
111 Gagal Memberi Vitamin
112 Semakin Besar
113 Ungkapan Isi Hati
114 Cokelat Di Bibir
115 Nyari Kesempatan
116 Janda Tapi Perawan
117 Jangan Jatuh Cinta
118 Wanita Peneduh Hati
119 Tidak Bisa Fokus
120 Pindah
121 Syukuran
122 Mandi di Malam Hari
123 Hari Pertama
124 Satu Tahun Pernikahan
125 Anugerah Terindah
126 Olahraga Pagi
127 Selingkuh?
128 Siapa itu?
129 Tak Rela
130 Abaikan Saja
131 Wanitaku
132 Bertemu Lagi
133 Setia
134 Selamat Datang, Sayang!
135 Terimakasih, Sayang.
136 Bonus Chapter 1
137 Bonus Chapter 2
138 Bonus Chapter 3
139 Bukan Update
140 Bonus Chapter 4
141 Bonus Chapter 5
142 Bonus Chapter 6
143 Bonus Chapter 7
144 Bonus Chapter 8
145 Bonus Chapter 9
146 Bonus Chapter 10 (END)
147 INFO
148 Season 2 - Nggak Suka Lagi?
149 Season 2 - Saatnya Kita Pacaran
150 Season 2 - Pertengkaran Kecil
151 Season 2 - Monster Ganteng
152 Season 2 - Selamat Ulang Tahun, Cantik.
153 Season 2 - Lima Puluh Juta
154 Season 2 - Bukan Orang Ketiga
155 Season 2 - Jangan Dipendam Sendiri
156 PENGUMUMAN GRUP CHAT RIZKITA
157 Season 2 - Tidak Mau Ada Pengganggu
158 Season 2 - Pergi Menjauh, untuk Melupa
159 Season 2 - Jelek Ya?
160 Season 2 - Dia Lebih Memilih Kamu
161 Season 2 - Suami Idaman
162 Season 2 - Jangan Minta Berhenti
163 Season 2 - Haduh Gawat
164 Season 2 - Tiba-Tiba Kenyang
165 Season 2 - Istighfar
166 Season 2 - Istri Pintar
167 Season 2 - Ceritakan Semuanya!
168 Season 2 - Sakit Pinggang
169 Season 2 - Adiknya Papa
170 Season 2 - Main Sayang-sayangan
171 Season 2 - Jangan Nakal
172 Season 2 - Mayones
173 Season 2 - Dag Dig Dug
174 Season 2 - Calon Pelakor
175 Season 2 - Ganteng Ganteng Galak
176 Season 2 - Anak Kemarin Sore
177 Season 2 - Takut Kehilangan
178 Season 2 - Abang Salah Apa?
179 Season 2 - Tangisan di Malam Hari
180 Season 2 - Tugas Kita Belum Selesai (Tamat)
181 Ekstra Part
182 Ucapan Terimakasih dan Info Terbaru
183 BOSS IDAMAN HATI
184 Promo Karya Baru
185 Hai... Apa Kabar?
186 Promo Novel Baru di NT
187 Stuck With You
188 Cerita Baru
Episodes

Updated 188 Episodes

1
Akad yang Tak di Inginkan
2
Ternyata Perhatian Juga?
3
Hamil?
4
Rahasia Rizka Terbongkar
5
Jangan Jadi Pelakor
6
CEMBURU
7
Omelette Cinta
8
Kencan Pertama
9
Mandi Keramas
10
Goodbye Tisya!
11
Anak Magang Cantik
12
Memantaskan Diri
13
Peluk
14
Morning Kiss
15
Kasmaran
16
Emosi Rizka
17
Emosi Rizka (2)
18
Perjodohan Tisya
19
Akhirnya Se-Ranjang
20
Salah Paham
21
Berharap Seperti Malam Kemarin
22
Aku Sayang Kamu
23
Kumpul Keluarga
24
Wanita Sinis
25
Mama Ingin Cucu
26
Sayangku
27
Kado
28
Ketemu Mantan
29
Curiga
30
Permintaan Maaf
31
Butuh Banyak Tenaga
32
Hilangnya Mahkota
33
Lipstik
34
Galau
35
Panji Cemburu
36
Bulan Madu Dadakan
37
Hujan Menjadi Saksi
38
Malam yang Romantis
39
Kesabaran yang Berbuah Manis
40
Kembali
41
Talak
42
Rumah Mertua
43
Jalan Bersama Mertua
44
Ragu
45
Kesal
46
Takut Kehilangan
47
Tak Menyangka
48
Selesai
49
Cinta Setelah Pernikahan
50
Baju Sexy
51
Sakit
52
Harus Istirahat
53
Kedatangan Ibu
54
Rutinitas Baru
55
Mimpi
56
Mantan
57
Membahas Masa Lalu
58
Dilarang Mandi
59
Melamar
60
Terciduk
61
Posesif
62
Ke Dokter Kandungan
63
Maafkan Aku
64
Surprise untuk Mama
65
Bersahabat?
66
Seperti Anak Kecil
67
Nggak Mood
68
Jangan Menggoda
69
Sejak Kapan?
70
Ngidam Sesuatu
71
Cemburu Belum Usai
72
Roti Bakar
73
Pengorbanan
74
Ada Apa dengan Panji?
75
Oh..Ternyata
76
Sangat Penting
77
Keputusan yang Berat
78
Resmi Resign
79
Berpamitan
80
Tambah Cantik
81
Manja
82
Kejutan
83
Masak Bersama
84
Awal Pertemuan
85
Resah
86
Rahasia
87
Dibawa Pergi
88
Berangkat
89
Selembar Surat
90
Rumit
91
Ribet
92
Kondangan
93
Ibu-Ibu Arisan
94
Berdamai
95
Senang atau sedih?
96
Siapa Yuri?
97
Terharu
98
Jangan Sentuh Aku
99
Mulai Nakal
100
Melepas Kerinduan
101
Tidur Lagi?
102
Buka Kemeja
103
Ke Cafe
104
Pilih dia atau aku?
105
Heels Tujuh Senti
106
Ketahuan
107
Menjadi Tersangka
108
Emosi Panji
109
Rumah Sakit
110
Penuh Harap
111
Gagal Memberi Vitamin
112
Semakin Besar
113
Ungkapan Isi Hati
114
Cokelat Di Bibir
115
Nyari Kesempatan
116
Janda Tapi Perawan
117
Jangan Jatuh Cinta
118
Wanita Peneduh Hati
119
Tidak Bisa Fokus
120
Pindah
121
Syukuran
122
Mandi di Malam Hari
123
Hari Pertama
124
Satu Tahun Pernikahan
125
Anugerah Terindah
126
Olahraga Pagi
127
Selingkuh?
128
Siapa itu?
129
Tak Rela
130
Abaikan Saja
131
Wanitaku
132
Bertemu Lagi
133
Setia
134
Selamat Datang, Sayang!
135
Terimakasih, Sayang.
136
Bonus Chapter 1
137
Bonus Chapter 2
138
Bonus Chapter 3
139
Bukan Update
140
Bonus Chapter 4
141
Bonus Chapter 5
142
Bonus Chapter 6
143
Bonus Chapter 7
144
Bonus Chapter 8
145
Bonus Chapter 9
146
Bonus Chapter 10 (END)
147
INFO
148
Season 2 - Nggak Suka Lagi?
149
Season 2 - Saatnya Kita Pacaran
150
Season 2 - Pertengkaran Kecil
151
Season 2 - Monster Ganteng
152
Season 2 - Selamat Ulang Tahun, Cantik.
153
Season 2 - Lima Puluh Juta
154
Season 2 - Bukan Orang Ketiga
155
Season 2 - Jangan Dipendam Sendiri
156
PENGUMUMAN GRUP CHAT RIZKITA
157
Season 2 - Tidak Mau Ada Pengganggu
158
Season 2 - Pergi Menjauh, untuk Melupa
159
Season 2 - Jelek Ya?
160
Season 2 - Dia Lebih Memilih Kamu
161
Season 2 - Suami Idaman
162
Season 2 - Jangan Minta Berhenti
163
Season 2 - Haduh Gawat
164
Season 2 - Tiba-Tiba Kenyang
165
Season 2 - Istighfar
166
Season 2 - Istri Pintar
167
Season 2 - Ceritakan Semuanya!
168
Season 2 - Sakit Pinggang
169
Season 2 - Adiknya Papa
170
Season 2 - Main Sayang-sayangan
171
Season 2 - Jangan Nakal
172
Season 2 - Mayones
173
Season 2 - Dag Dig Dug
174
Season 2 - Calon Pelakor
175
Season 2 - Ganteng Ganteng Galak
176
Season 2 - Anak Kemarin Sore
177
Season 2 - Takut Kehilangan
178
Season 2 - Abang Salah Apa?
179
Season 2 - Tangisan di Malam Hari
180
Season 2 - Tugas Kita Belum Selesai (Tamat)
181
Ekstra Part
182
Ucapan Terimakasih dan Info Terbaru
183
BOSS IDAMAN HATI
184
Promo Karya Baru
185
Hai... Apa Kabar?
186
Promo Novel Baru di NT
187
Stuck With You
188
Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!