Hai , buat yang baru gabung di novel ini, selamat membaca ya semoga terhibur. dan betah lanjut membaca, jangan lupa tinggalkam komentar kalian ❤
***
Setelah selesai semuanya Rizka pun sudah mengenakan pakaian Dinas rapi. Jam menunjukkan pukul 6.30 tapi Panji juga belum keluar dari kamarnya.
Apa dia belum bangun? ya ngapain aku pikirin mungkin dia lelah, lelah bekerja atau berbincang dengan pacarnya itu.
Tiba tiba...
Cklekk
Suara pintu kamar Panji terbuka dan dia sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat ke kantor tidak lupa membawa Laptop dan berkas berkasnya.
“Aku duluan ya,” kata Panji.
“Nggak sarapan dulu bang?” tanya Rizka agak mengencangkan suaranya karena Panji sudah berada di pintu utama.
“Nggak sempat lagi, aku buru buru.” Jawabnya sambil berlalu.
Rizka terdiam, apakah ini memang kebiasaanya setiap pagi tak pernah sarapan atau karena malas melihat dah menghadapi dirinya.
Terserahlah, jalani saja, ikuti saja alurnya gimana maunya dia.
Dikantor Rizka
Semua orang yang melihat keberadaan Rizka dikantor terkejut
“Hah? Kok dia masuk kerja?” kata Neni rekan kantornya Rizka.
“Kenapa sih kalian kok pada kaget gitu?” tanya Rizka heran.
“Ya iya lah Ka, kok kamu nggak cuti sih kan ada jatah cuti menikah, malah masuk kantor.” Jawab mbak Yanti yang juga rekan kerjanya.
“Iya habis gimana lagi ngapain aku cuti tapi dirumah aja?” kata Rizka kesal.
“Lah emang pengantin baru ngga honeymoon kemana gitu?” Tanya Neni dengan keponya.
“Enggak, dia sibuk. Ada beberapa sidang dalam minggu ini.” jawab Rizka.
“Ya udah jangan kesal gitu dong nanti pasti ada waktu yang pas kok,” jawab Mbak Yanti menyemangati Rizka.
Rizka hanya tersenyum, sambil menghidupkan PC nya dan merapikan beberapa file pekerjaannya yang masih berantakan.
Dirumah.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Panji baru pulang, sebenarnya bukan lembur. Waktu pulang kantor tepat jam 5 sore tapi kebiasaan Panji adalah duduk nongkrong dan ngopi bersama rekan rekan kerjanya.
Namun tak biasanya Panji pulang jam segini, biasanya lebih lama lagi. Ia khawatir dengan Rizka yang sendirian dirumah, walau dia tidak atau belum mencintai istrinya itu tapi rasa peduli dan khawatir masih ada dibenak nya mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Panji melihat ke garasi terdapat sepeda motor milik Rizka terparkir disana pertanda ia ada dirumah.
Panji membuka pintu dengan kunci yang ia bawa pintu Tak terkunci dari dalam karena sebelumya Panji dan Rizka sudah membicarakannya dan mereka telah memegang kunci pintu masing masing. Agar tidak saling mengganggu nantinya apabila salah satu dari mereka terlambat pulang.
Sepi amat, udah tidur kali ya?
Panji masuk ke kamarnya merebahkan dirinya diranjang melepaskan lelah, tak terasa ia tertidur selama 30 menit dan tebangun lalu bergegas mandi membersihkan diri. Setelah itu ia keluar dari kamarnya melihat keruangan dengan heran, beneran sepi banget kaya ngga ada orang, udah tidur atau dia keluar rumah. Tanya nya dalam hati dan tanpa ragu.
Tok tok tok
“Ka, kamu di dalam?” tanya Panji sambil mengetuk kamar Rizka.
Tak ada jawaban.
Panji mengeluarkan ponsel dari saku celana nya dan mulai chat Rizka.
Dddrrrt drrttt
Jaksa Panji, SH.
Begitulah nama Panji tertera di ponsel Rizka
Kamu dimana Ka?
Rizka yang tidak menyangka akan di chat oleh Panji langsung duduk dari rebahan. Ternyata ia berada di kamar, rebahan, dengerin musik sambil pake handsfree dengan volume kencang. Tentu saja ia tak mendengar Panji mengetuk pintu kamarnya, dan ia pun kemudian membalas chat Panji.
Aku dirumah bang, kenapa? Kamu dimana?
Balas Rizka sambil bergumam
Perhatian juga dia. Kirain sama sekali nggak peduli.
Depan pintu kamarmu. balas Panji.
Segera Rizka bangun dan buru buru mengenakan kerudungnya, Dan membuka pintu kamarnya.
“Udah pulang ya bang, maaf ga kedengaran, pake handsfree soalnya, ada apa bang?” tanya Rizka sambil mengeluarkan kepalanya di pintu, namun tidak membuka pintu sepenuhnya.
“Gak apa-apa kirain kamu diluar rumah, ohya udah makan?” tanya Panji.
“Udah bang tadi sore aku pulang kerja langsung beli makanan. Kamu sendiri?” Jawab Rizka yang sedikit bahagia karena Panji perhatian padanya.
“Udah tadi waktu di cafee bareng teman teman.” jawabnya lagi.
“Ka ini uang untuk belanja, satu bulan ya” sambil memberikan Rizka uang sebesar tiga juta rupiah.
“Oke, kamu sukanya makanan apa bang?” tanya Rizka lagi.
“Ehhmm bentar, apa nggak bisa kita ngbrol diluar kamar kok harus ngintip ngintip gini sih, tenang aja aku nggak akan macam macam kok sama kamu, jangan takut!”
Jawab Panji memalingkan wajahnya tanpa mau menatap Rizka.
“Iya Bang maaf, maaf.” sambil keluar kamar dan kemudian duduk di sofa ruang TV.
“Pertanyaan tadi jadi aku jawab nggak?” sambung Panji.
“Ya iya lah kan aku butuh jawabanya, jadi tau mau dibeliin bahan makanan apa.” jawab Rizka sambil membuka handsfree dari telinganya.
“Seafood, ayam, boleh. Kalau sayur aku nggak terlalu suka. Terserah kamu aja” jelas Panji.
“Oke baiklah besok pulang kerja aku belanja” jawab Rizka Tegas.
“Bisa sendiri kan? Naik motor?” tanya Panji.
“Bisa Bang, oh ya Bang mengenai tagihan listrik, air dan internet gimana? Aku akan ikutan bayar juga kok. Kan aku ikutan pakai” jelas Rizka panjang lebar.
“Apaan sih kamu ini, biar aku aja yang tanggung toh sebelum ada kamu juga aku bayar semuanya senidiri kan. Hahaha, aneh kamu” jawab Panji sambil tertawa lepas.
“Bukan gitu, aku kan ikutan pake semuanya Bang, jadi nggak enak kalo nggak ikutan bayar.” Rizka.
Panji tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
Emangnya dia pikir dia ngekos disini apa, mau ikutan bayar tagihan, ada ada saja. Lucu banget sih. Pikirnya dalam hati.
Keesokan harinya,
Dipagi hari hujan deras, Rizka bangun kesiangan tidak sempat menyiapkan sarapan, hanya sempat berbenah diri persiapan ke kantor saja. Waktu menunjukkan pukul 7 tapi hujan tak kunjung reda.
"Haduh gimana ni mau ke kantor derasnya ga mungkin juga aku pake mantel pasti tetap basah, mau pesan taksi online juga pasti lama karena hujan macet, ya Allah.” Rizka berbicara sendiri dan Panji yang baru keluar dari pintu kamarnya tak sengaja mendengar ucapan Rizka tadi.
“Bareng aku aja yuk, aku anterin. Ntar kamu telat lagi. Yuk cepetan kita kan searah.” ajak Panji pada Rizka sambil masuk ke mobilnya.
Tanpa menjawab, Rizka langsung masuk ke Mobil. Mobil Panji pun melaju kearah tujuan mereka.
“Ntar sore pulang jam berapa?” tanya Panji.
“Biasa Bang, jam lima.” Jawab Rizka santai.
“Ya udah, tunggu di kantor aja ntar aku jemput kamu, sekalian kita ke supermarket.” ajak Panji.
Rizka tidak menjawab tapi malah bergumam dalam hati
nggak salah nih dia mau ngantarin aku belanja apa dia mulai peduli padaku? huh jangan ngarep Rizka. batinnya.
“Kok diem” Tanya Panji saat Rizka tak merespon tawarannya.
“Eh iya Bang, oke deh siap”
Memang tak ada kemesraan diantara sepasang suami istri itu karena memang pada dasarnya mereka hanyalah rekan kerja. Bicara pun kadang terlalu formal jika sudah menyangkut pekerjaan.
Waktu menunjukkan pukul 17.20 sore.
Panji belum juga menjemput Rizka, Rizka yang mulai bertanya tanya jadi jemput ngga sih. Kemudian mengeluarkan ponselnya hendak menelpon Panji namun tiba tiba ponselnya bergetar tanda chat masuk..
Aku sedang dalam perjalanan ke kantor kamu
Rizka melihat ponselnya dan ternyata ada chat dari Panji.
Oke bang hati hati
Balas Rizka singkat.
Setengah jam kemudian, tibalah mobil Panji tepat di depan Kantor Rizka. dan Panji melihat Rizka sudah menunggu di pintu utama. sambil tersenyum Panji membuka pintu mobil.
“Ayo.” katanya.
Rizka pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
"Kita belanja di Supermarket Jalan Mawar aja ya Bang, soalnya aku mau beli burger di daerah itu. pengen udah lama banget.” ajak Rizka. dan Panji pun mengangguk tanda mengiyakan. arah tersebut adalah arah kerumah orang tua Rizka yang setiap hari ia lalui pergi dan pulang kerja.
10 menit kemudian, mereka hampir sampai di Supermarket.
"Padahal baru seminggu nggak lewat sini, tapi berasa udah lama banget." Kata Rizka sambil menoleh ke kiri ke kanan.
"Kamu rindu rumah ya?" tanya Panji yang seakan paham isi hati Rizka.
"Ya begitulah Bang, terutama rindu Ibu. kami kan nggak pernah terpisah jauh dan lama. kecuali waktu aku kuliah dulu.” Jawab Rizka.
"Ya udah kapan kapan kalau kamu mau pulang kerumah Ibu, silahkan.” sahut Panji sambil memarkirkan mobilnya.
"Beneran? tapi kamu ikut nggak?" Rizka setengah kegirangan. Wajahnya menghadap ke Panji yang masih fokus memarkirkan mobilnya.
Tapi Panji tidak menjawab dan sedang berpikir...
Gimana kalo aku ikut kan pasti jadinya sekamar sama Rizka. Itu nggak mungkin, bahaya.
Itulah yang ada didalam benak Panji.
“Oh iya kamu udah tau kan, kalo aku setiap sabtu pasti berangkat ke kota M, untuk kuliah?” Panji mengelak ajakan Rizka dan ini adalah alasan yang paling tepat untuk menolak agar Rizka tidak berkecil hati.
Memang benar Panji sedang melanjutkan studinya ke tingkat Pascasarjana di kota M tempat ia berasal. Dan kelasnya dihari Sabtu dan Minggu.
“Hehehe iya Bang aku lupa, yaudah kebetulan banget daripada aku sendiri dirumah mending aku kerumah ibu. Yeeyyy” .
Kali ini Rizka benar benar senang seakan bisa melepaskan dirinya dari kesepian karna di rumahnya Rizka bisa lebih bebas melakukan apapun, bisa bercanda tawa dengan Ibu, Ayah dan adiknya. Karena sebenarnya Rizka bukanlah tipe cewek yang pendiam melainkan ceplas ceplos, supel dan agak keras kepala. Tapi jika dihadapan Panji dia berubah 80 derajat.
Sesampai dirumah.
Sekitar pukul 6.15 sore mendekati Adzan Magrib, Rizka pun bergegas turun dari mobil dengan membawa sebagian belanjaan mereka dan dibantu oleh Panji, masuk kedalam rumah dan meletakkanya didapur. Lalu membersihkan diri untuk mengejar sholat magrib. Begitu juga dengan Panji.
Setelah sholat Magrib, Rizka keluar kamar menuju dapur dan mulai membereskan dan menyusun semua bahan bahan belanjaan tadi ke dalam kulkas.
Sekalian masak makan malam ah.
Pikirnya.
Cekleek
Tak lama kemudian Panji pun keluar dari kamarnya, menuju dapur untuk minum. Ia melihat Rizka yang sedang sibuk memilah milah bahan makanan. Rizka tidak menyadari bahwa Panji yang sejak tadi berada dibelakangnya sambil meemperhatikannya. Dan saat ia berbalik....
***
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Dewa Rana
180 derajat Thor
2024-11-06
1
Diana Subar
gregetan ih suami istri koq gak 1 kamar...
2024-05-29
0
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
padahal baru awal baca tapi udah masuk ke hati aj ni cerita author
2023-01-27
2