Sementara di sebuah ruangan yang di penuhi dengan lemari berisi buku buku tentang Hukum, dan aturan aturan lainnya. Dan juga beberapa lemari yang dipenuhi berkas berkas dan box file.
Panji duduk di kursinya, membuka laptopnya. namun pikirannya tidak fokus pada pekerjaannya.
kenapa harus kabur begitu sih, lucu banget. Panji tersenyum mengingat tingkah Rizka tadi saat keluar dari mobilnya.
Perlahan tapi pasti. gumamnya dalam hati. Panji sudah mulai membuka hatinya untuk Rizka.
Roby yang melintasi ruangan Panji hendak menuju keruangannya, melihat Panji senyum senyum sendiri dari luar dinding kaca. Tentu saja hal itu membuatnya penasaran, apa yang membuat rekan sekaligus sahabatnya itu senyum senyum sendiri.
"sstt..ssst...." Roby memanggil Panji dengan suitan, mengintip dari balik pintu, memastikan apakah ada orang lain diruangan itu selain Panji.
"ngapain lo ngintip ngintip, biasanya langsung nyelonong masuk" Ucap Panji.
"kenapa lo senyum senyum sendiri?" Roby.
"hahaha, biasalah lagi kasmaran, jomblo mana paham" Ejek Panji pada Roby.
"what? kasmaran? jangan jangan lo naksir ya sama Ranty, dengar dengar lo kemarin ngantar dia pulang?"
Roby penasaran dan terus menyodorkan pertanyaan pada Panji.
Belum sempat Panji menjawab, tiba tiba ada suara wanita di tengah tengah obrolan mereka.
"siapa yang lagi kasmaran?" saking asyiknya mereka ngobrol, mereka tidak menyadari akan kehadiran Ranty.
"ini nih.. si Panji yang lagi kasmaran" Panji yang melotot ke arah Roby karena kesal dengannya yang tak bisa menjaga ucapannya.
"oh..begitu" ucap Ranty sambil mengibaskan rambutnya dan duduk di kursinya.
'hmm.. tuh kan baru sekali aja Pak Panji ngantar aku pulang, dia udah mulai kasmaran karena aku, hahaha' dengan rasa percaya diri yang di ambang batas, Ranty mengira bahwa Panji mulai naksir dengannya. Bagaimana rasa percaya dirinya tidak tinggi, dengan penampilannya yang seperti itu, bak model internasional di tambah lagi suaranya yang halus dan lembut, lelaki mana yang tak akan naksir dengannya, itulah yang ada dalam pemikirannya. Tapi sayang sekali, Panji yang ia anggap telah jatuh cinta dengannya, padahal sama sekali tidak pernah meliriknya.
drrtt.. drtt...drtt...
Ponsel Panji bergetar, memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"Halo Pak?" Ucap Panji
"...."
"Baik Pak, siap" Panji mengakhiri panggilannya.
"kenapa Ji? Roby.
"Pak Iwan manggil kita ke ruangannya, segera" Jawab Panji sambil mengambil beberapa berkas diatas mejanya, dan berjalan keluar pintu menuju ruang atasannya itu. Roby pun mengikutinya dari belakang dan menyamakan langkahnya dengan langkah Panji.
"bahas kasus yang kemarin lagi ya bro?" tanya Roby.
"sepertinya iya, soalnya Pak Iwan nyuruh gue bawa berkasnya," Ucap Panji sambil mempercepat langkahnya.
"pusing gue, gak kelar kelar tuh kasus," Kata Roby sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
setelah satu jam mereka di dalam ruangan Pak Iwan membahas kasus, mereka pun kembali keruangan masing-masing.
saat membuka pintu ruangan, Panji mendapati Ranty yang sedang duduk di sofa ruangannya, sambil merapikan kuku-kukunya menggunakan alat medicure yang selalu ia bawa kemana mana.
'kenapa gak jadi model aja sih dia? yang diurus cuma soal penampilan, kayaknya dia gak pantas magang disini, dengan penampilannya yang seperti itu' Panji menggerutu dalam hati, kesal melihat tingkah Ranty yang menurutnya kurang inisiatif dalam bekerja.
Panji langsung duduk di kursi kerjanya, kembali membuka laptopnya. tak ada pembicaraan diantara mereka. hanya suara ketikan keyboard Panji lah yang memecahkan keheningan diruangannya.
Ranty yang melihat Panji begitu sibuk dengan laptop dan berkas berkasnya, tiba-tiba..
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Ucap Ranty.
"Ini, tolong kamu rapikan berkas berkas ini sesuai dengan nama filenya ya." Perintah Panji pada Ranty, tanpa melihat sedikitpun ke Ranty.
"Baik Pak." Ucap Ranty segera mengerjakan apa yang diperintahkan Panji.
andai bisa memilih, rasanya Panji ingin sekali pindah keruangan Roby, atau bertukar posisi dengannya, agar Roby saja yang berduaan dengan Ranty seperti ini. biar si jones (jomblo ngenes) itu bisa merasakan sedikit kebahagiaan, berada di dekat wanita cantik.
mungkin bagi pria lain, bisa satu ruangan dengan Ranty adalah suatu rejeki, atau anugerah, tapi bagi Panji ini adalah petaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Isnaya faniati
Ranti calon besan ya nanti anak Panji sama anak Ranti
2023-10-21
0
Nur Janah
Ranty ganjen banget jadi orang😤😤
2023-03-12
0
Massunamiyatha
baru jd anak magang udah byk gaya mcm ni utg ndak magang dikantor t4 aku kerja udh hbs diplonco byk gaya
2023-02-28
0