Akhirnya hari yang di tunggu tunggu Rizka pun datang, weekend telah tiba, itu artinya dia segera pulang kerumah ibunya sesuai dengan apa yang dibicarakan dengan Panji beberapa hari lalu.
Sehabis subuh di hari sabtu
Tokk tokkk
"Rizka, kamu udah bangun kan?"
Tidak ada jawaban.
Mungkin dia belum bangun, kan sholat nya lagi libur, tapi bentar lagi aku mau berangkat, masa nggak pamit dulu sih. Ucap Panji dalam hati
Tak lama kemudian,
Ceklek
"Ada apa Bang?" Rizka.
"Hemm kirain kamu belum bangun, bentar lagi aku mau berangkat yah, kamu jam berapa mau pulang kerumah?" Panji yang juga berisap siap untuk berangkat ke kota M, kuliah dan sekaligus pulang kerumah orang tuanya. Memang saat weekend Panji rutin pulang ke kotanya, kuliah, ketemu orang tua, sekaligus ketemu Tisya, pacarnya.
"Iya Bang, habis kamu berangkat aku juga langsung berangkat pulang kerumah Ibu," kata Rizka dengan girangnya.
"Yasudah aku antar aja ya? gimana?" Panji.
"Nggak usah Bang kamu kan buru-buru. udah jam berapa nih, ntar kamu telat lagi masuk kelas. aku juga belum siap siap, belum mandi," Rizka menolak tawaran Panji dengan berbagai alasan.
"Nggak apa-apa, aku tunggu kamu. 15 menit selesai kan?" Panji tetap maksa.
"Hemm yauda deh, bentar yah,"
Rizka pun bergegas mandi dan bersiap. ia tidak bisa lagi menolak karena ia sudah tidak tahu lagi harus mencari alasan apa.
Sementara Panji menuju garasi, memanaskan mobil sambil menunggu Rizka selesai, ia pun bernyanyi
"Kau cantik hari ini.... dan aku, suka.. kau lain sekali..."
Raut wajah bahagia jelas terlihat di wajah Panji, mengapa? rasanya baru tadi malam ia melihat, menatap Rizka tanpa kerudung, dan pagi ini ia melihat lagi pemandangan itu. Indah sekali menurut Panji, apalagi dengan wajah bangun tidur Rizka yang polos tanpa makeup.
Sepertinya dia sudah mulai nyaman, baguslah kalau begitu. aku kan suami sahnya, aku berhak atas itu, bahkan lebih lebih dan lebih. Batin nya.
Tanpa sadar ia terus memikirkan Rizka sejak tadi malam, hingga pagi ini bahkan ia lupa kalau pacarnya Tisya tak kunjung menghubunginya hingga pagi ini, biasanya satu jam saja tak ada kabar dari Tisya ia langsung panik bahkan sampai menelpon teman atau mamanya Tisya.
"Bang, Bang... udah siap semua kan? ngga ada barang yang ketinggalan kan? aku mau kunci pintu nih!" Sontak Panji kaget dengan kehadiran Rizka tepat di samping kaca jendela mobil menghampiri Panji, dan jarak wajah mereka begitu dekat.
"Eh iya iya udah beres semua, ayo berangkat," sambil mengelus dadanya dan jantungnya berdegup kencang.
"Aku kenapa ya? Eh, efek belum sarapan kali," Panji mengelak atas apa yang dia pikir dan rasakan.
*Dalam perjalanan*
"Bang, kita kan belum sarapan? Maaf, aku tadi aku nggak sempat masak untuk kamu, aku nggak tahu kalau kamu akan berangkat lebih pagi dari biasanya," Ucap Rizka.
"Udah nggak apa-apa, ntar aku singgah di mini market aja beli roti makan dijalan" Jawab Panji sambil fokus menyetir.
Setengah jam kemudian mereka tiba dirumah Rizka.
Rizka langsung turun dari mobil menuju pagar rumahnya.
"Assalamualaikum...." Rizka mendapati Pak Hasan yang tidak lain adalah ayahnya yang sedang duduk di teras rumah ditemani dengan segelas kopi di atas meja.
"Walaikumsalaaam," kata Ayah Rizka sambil menyambut tangan anak perempuan satu satunya itu. dan disusul dengan Panji yang juga menyalami ayahnya.
"Apa kabar Yah? sehat kan?" Tanya Rizka sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Alhamdulillah sehat, tumben pagi pagi sekali kalian sampe disini, ada apa?" Ayah.
"Nggak apa-apa yah kangen rumah," Rizka
"Ibu... Rizka kangen banget sama Ibu." Rizka mencari cari Ibunya dan akhirnya ketemu di dapur sedang memasak untuk sarapan. Sambil setengah berlari, menyalami dan memeluk ibunya. Panji yang ada dibelakangnya pun ikut menyalami ibunya.
Ibunya hanya tersenyum dan heran sambil menatap anak dan menantunya itu secara bergantian, tapi Panji yang paham akan keheranan Ibu mertuanya itu langsung membukan pembicaraan.
"Hemmm ini Bu, Panji mau berangkat kuliah, kebetulan kelas Pasca Sarjana Panji setiap hari Sabtu dan Minggu, jadi hari ini Rizka pulang Bu, daripada sendiri dirumah, kasihan." Jelas Panji panjang lebar agar Ibu Mertuanya tak salah paham.
"Oh begitu toh, ya sudah ibu senang sekali bisa ketemu kalian hari ini, kalian udah sarapan?" Tanya bu Zahra sambil merangkul putrinya.
"Belum Bu, tadi Rizka nggak sempat masak karena Bang Panji buru-buru takut terlambat masuk kelasnya, pasti macet lagi di Jalan," Jawab Rizka sambil duduk di kursi makan.
"Pas banget ibu udah masak nih ayo kita sarapan dulu nak," ajak Bu Zahra sambil melirik ke arah Rizka dan Panji.
"Gimana Bang? ayolah sarapan dulu kasihan kamu ntar kelaparan sebentar aja kok," Rayu Rizka.
"Baiklah, mana mungkin aku nolak ajakan istri dan mertua," Panji pun langsung duduk di samping istrinya. Rizka juga inisiatif mengambil makanan untuk Panji dengan cepat, karena ia tahu kalau Panji tidak bisa singgah berlama-lama.
Kemudian disusul oleh Ayah dan adiknya Rizka yang ikut bergabung sarapan bersama. ini adalah kali pertama Panji duduk bersama keluarga Rizka. Tanpa mereka sadari Ibu nya Rizka melihat raut wajah Rizka dan Panji, terpampang wajah bahagia, itulah yang dilihat oleh Bu Zahra.
Sepertinya mereka sudah bisa menerima satu sama lain, Alhamdulillah kalau gitu. Batin Ibunya Rizka.
"Eh ada Abang ipar, apa kabar Bang?" Rian membuka pembicaraan sambil menyalami abang iparnya itu, Rian adalah adik laki laki Rizka satu satunya.
"Baik, kamu sendiri gimana?" Jawab Panji.
"Baik Bang, oiya Bang aku mau minta maaf nih kalau kakak ku ngerepotin Abang ya, dia memang gitu orangnya suka ngerepotin, padahal dia bisa kemana mana sendirian. tapi malah minta anterin aku mulu, dimaklumi ya bang kalo dia begitu," Rian membuka aib kakaknya. Rian walaupun sudah berusia 23 tahun, sudah dewasa namun terkadang sifatnya masih kekanakan tidak peduli dengan siapa ia berbicara bahkan dengan Abang iparnya yang baru ia kenal 2 minggu pun Rian suka berbicara asal.
"Sssstt apa sih kamu nggak baik ngomong begitu. Sahut Ibu.
"Hahaha enggak kok Rian, dia sama sekali nggak ngerepotin, mandiri banget semua serba bisa." kali ini Panji benar benar tertawa.
"Awas kamu ya!" ancam Rizka pada adiknya.
"Dan satu lagi Bang yang perlu Abang tau, Kak Rizka itu orangnya penakut banget, apalagi kalau sendirian dirumah, dia bisa ngurung diri aja tuh dikamarnya, karena ketakutan jadi nggak bisa kemana mana sampe sampe nahan pipis karena takut mau ke kamar mandi kalo sendirian dirumah!" tambahnya lagi, bukan malah berhenti tapi Rian malah membuka rahasia kakaknya yang lain.
"Benar begitu Ka? kok kamu nggak bilang? kalau aku tau kamu takut sendirian dirumah, aku bakal langsung pulang setelah dari kantor, nggak singgah buat nongkrong di cafe lagi." Tanya Panji sambil menatap Rizka.
"Iya bener sih, tapi nggak apa-apa aku kan harus terbiasa Bang hehehe," Rizka nyengir.
***
Terimakasih atas like nya ya readers, semoga kalian terhibur 😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Dedlik Lik
suka walaupun sudah d ulang bacanya
2023-09-21
5
yet sunarti
ngulang baca lagi, kini udah ada like nya ya,,, dulu perasaan vuma ada ❤️ aja, udah lama gak buka mangatoon
2023-05-31
0
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
alur ceritanya ngalir kayak air,enak di bacanya😁
2023-01-27
1