Ini siapa? Siapa yang sakit? Pake tanda hati lagi. Ya Allah remuk rasanya hatiku. Apa mungkin Tisya, tapi Bang Panji tadi pagi bilang keluarga yang sakit.
Sekarang hatinya ragu, ingin menghubungi Panji. Awalnya dia berniat untuk mengirim pesan duluan dan bertanya. Namun kini dia mengurungkan niatnya.
Hingga magrib pun tiba, Panji Terbangun dari tidurnya ia melihat jam menunjukkan pukul 18.30 dan tiba-tiba.
kkrruuuukkkk perutnya berbunyi pertanda lapar.
Ya ampun aku kan belum makan siang, sholat ashar juga kelewatan.
Panji pun bergegas menuju kamar mandi untuk wudhu dan segera melaksanakan sholat magrib, kemudian keluar kamarnya turun kebawah menuju ruang makan ia mendapati mamanya yang sedang membantu Bi Nur menyiapkan makan malam.
“Ma..peluk,” Panji langsung memeluk mamanya, Panji memang tergolong anak yang manja dan sangat menyayangi Mamanya.
Bu Mira pun paham jika anak bungsunya itu seperti ini pasti terjadi sesuatu. Bu Mira pun memeluk Panji dan mengelus pundaknya.
“Everything its ok, nak. Sabar ya Tisya pasti segera sembuh kok,” Kata Bu Mira yang masih belum tepat memahami apa yang membuat anaknya seperti itu.
“Bukan Cuma itu ma, ada yang lebih menyakitkan lagi!” Panji.
“Apa itu sayang?” Bu Mira heran sambil melapas pelukan anaknya dan mengerutkan dahi.
“Aku harus ngelupain Tisya ini perintah tante Sinta Ma. Sakit banget rasanya,” Panji.
“Iya Mama sudah tau, tadi pagi Tante Sinta sudah hubungi Mama, dia minta maaf kalau kami nggak bisa jadi besan. Mama paham kok, mengapa Tante Sinta seperti itu,” Bu Mira menjelaskan sambil menata makanan di meja makan, mengambilkan makanan untuk Panji.
“Nih makan dulu kamu dari siang belum makan kan?” sambil menyodorkan piring ke Panji yang sudah berisi nasi serta lauk.
“Iya Ma” Panji.
“Kamu sudah tau kan kalau Bu Sinta itu ditinggalkan suaminya karena menikah lagi. Kalau pada saat itu belum ada istilah pelakor. Nah sekarang ada, jadi maksud dan tujuan Bu Sinta menjauhkan kamu dengan anaknya adalah agar anaknya tidak jadi pelakor, dia tau bagaimana rasa sakitnya nak.”
Bu Mira terus meyakinkan anaknya, yang awalnya Bu Mira juga kecewa akan pernikahan Panji dan harus putus dengan Tisya. Namun semuanya berubah saat Bu Sinta cerita panjang lebar mengenai masa lalunya.
“Tapi Ma, Rizka kan bisa aku ceraikan nanti?”
“Tidak Nak!” Bu Mira menyanggal anaknya dengan tegas
“Apa Mama sudah mulai terima dia sebagai menantu mama?”
“Perlahan, semua butuh waktu. Tapi mama mohon jangan laukukan itu, kasian dia masih muda terus jadi janda juga nanti jadi susah dapat jodoh kembali”
“Mama jangan salah, sekarang jandalah yang semakin terdepan ma, hahaha” Panji tertawa seolah melupakan masalahnya.
“Apa kamu tidak berniat punya anak sama Rizka?” Bu Mira mengalihkan pembicaraan awal.
“Gimana mau punya anak Ma, kita aja pisah kamar, kami lebih seperti Bapak kos dan anak kos hahaha dia cuma numpang tidur makan mandi doang dirumahku. Lucu banget dia ama, masa sih dia mau ikut bayar tagihan dirumahku, padahal itu kan semua tanggung jawabku” kali ini Panji benar benar tertawa lepas.
"Kalian pisah kamar? Ya sudah tak apa, namanya kalian belum terbiasa lama lama pasti seranjang! pokoknya mama tetap berharap cucu dari kalian”
Bbbruuupppp!!
Panji yang sedang minum air langsung tersedak mendengar perkataan mamanya.
“Apaan sih Ma? Sana minta cucu sama Bang Caesar! Udah 3 tahun juga kan mereka nikah. Kenapa malah ke aku yang baru seminggu, jangan ngaco ya Ma. Hahaha.” kata Panji yang dari tadi berbicara sambil tertawa.
Caesar adalah anak pertama Bu Mira yang tidak lainadalah abangnya Panji, usia pernikahan nya sudah 3 tahun namun belum juga dikaruniai anak, sementara Bu Mira sudah sangat ingin menggendong cucu.
“Nggak boleh ngomong begitu, namanya juga belum dikasih sama Allah gimana dong. Lah apa salahnya Mama berharap sama kamu yang belum mencoba hahaha.”
Bu Mira pun ikut tertawa, canda dan tawa antara ibu dan anak itu seolah memusnahkan masalah yang sedang Panji hadapi. Selama ini memang cuma Mamanya lah yang bisa membuat Panji terhibur jika ada masalah yang ia hadapi.
“Iya Ma, nanti aku ajak Rizka mencoba hahaha.”
Di tengah canda tawa antara ibu dan anak itu, ada seorang wanita yang sedang sangat resah dan gelisah.
Apa sih yang aku pikirkan? Benar memang dia suami aku, tapi kan cuma status. Hati, jiwa dan raganya bukan aku yang punya. Tapi wanita lain!
Rizka mengalihkan pikirannya dengan cara bermain game. Game perang kesukaannya. Main bareng teman teman online nya. Rizka tergolong tomboy maka kebiasaan kebiasaan yang ia lakukan pun agak
berbeda dengan wanita wanita feminim.
Saat sedang asyik bermain, ponsel pintarnya tiba tiba macet beberapa detik kemudian masuklah panggilan video dari
Jaksa Panji, SH
“Hah? nggak salah?” Rizka heran sambil mencari kerudungnya. Karena takut kelamaan menerima panggilan Panji akhirnya dia mengenakan mukena yang tergantung dibelakang pintu kamarnya.
Dan kemudian
“Assalamualaikum Bang” Rizka menyambut panggilan video Panji namun wajahnya di palingkan ke arah lain, ia tidak mau melihat wajah Panji. Alasannya adalah malu.
“Walaikumsalam, kok pakai mukena? Siap sholat? kan lagi libur sholatnya?” Dari seberang sana Panji malah mengomel yang ia permasalahkan adalah ia ingin melihat wajah Rizka lagi namun dengan rambut terurai seperti yang tadi pagi ia lihat.
“Oh iya Bang sengaja ini aku pakai soalnya baju ku nggak berlengan nih” Jawab Rizka masih tetap tidak melihat ke arah Panji.
“Ya udah nggak apa-apa buka aja, aku kan suami kamu, hahaha” Panji tertawa.
“Nggak ah malu!” jawab Rizka tegas.
Suami apanya status doang. Gumamnya dalam hati.
“Ya udah kalau nggak mau, awas kamu ya saat aku sampai rumah nanti," Panji mengancam Rizka.
“Emang kenapa saat kamu pulang? Hah?” Rizka yang merasa dipermainkan Panji malah mengalihkan arah kamera ke tempat lain, bukan ke wajahnya.
“Ada deh, lagi ngapain kamu? Ngapain aja hari ini?” Panji kepo.
“Main game,” Jawab Rizka yang sudah membuka mukena nya namun sudah mengganti bajunya dengan baju lengan panjang.
“Nah gitu dong kan enak lihatnya” Panji tersenyum, dan Rizka pun membalas senyum nya.
“Lama banget hubunginya, siapa yang sakit?" Rizka pun tak kalah kepo.
“Iya aku sibuk banget, maaf ya. Ehmm itu sepupu” Panji berbohong.
“Bohong kamu Bang!” Rizka cemberut.
“Masa iya sepupu pake tanda love segala?” Rizka tambah cemberut.
Astaga aku lupa kalau sudah memposting sebuah status. Panji pun terdiam sejenak.
“Iya, pacar aku yang sakit tapi sekarang udah nggak lagi kok,” Jawab Panji meyakinkan Rizka.
Nggak lagi apanya? Nggak sakit lagi maksudnya? Emangnya aku peduli apa?
Rizka yang tak paham maksud Panji terus menggerutu dalam hati dan memilih mengakhiri panggilan.
“Ya udah ya Bang, aku mau lanjut perang lagi bareng cowok cowok onlineku, daah Assalamualaikum”
Rizka pun mengakhiri panggilan dengan menyentuh ikon merah di ponselnya pintarnya.
“Nggak penting banget sih,” Rizka marah, cemburu ternyata benar apa yang ia duga adalah Tisya yang sakit.
“Yah di putusin, belum selesai ngomong juga.” Panji kesal sambil memegang ponselnya. Ia pun segera menghapus postinganya. Panji paham Rizka cemburu.
Lucu juga dia kalau lagi cemburu. Tapi masa sih cemburu? Apa Rizka ada perasaan terhadapku?
Gumamnya sambil senyum senyum sendiri, dan berdiri di dekat jendela. Membuka jendela kamarnya sambil menikmati angin malam.
***
readers mohon maaf yah kalau ada kesalahan kata dalam penulisan, author masih belajar 😊
semoga kalian terhibur dengan cerita khayalan author ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Rhizna Wati Sikang
chieeee chieeee udah mulai ada rasa nhe yeee🤣🤣🤣
2022-12-10
0
Noo Naa
Bodoh amat si jd lelaki, udah namanya suami ya iyalah cemburu.
2022-12-02
0
Hany Surya
mantap 👍 Thor, lanjutkan
2022-11-30
0