Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifa berduka
Malam itu, Sifa berjalan dikoridor ruangan mawar. Sebelum pulang ia sengaja ingin menyimpan hadiah diloker tempat ia biasa menaruh barang ketika dirinya kerja.
Tapi, sebelum ia sempat menyimpan barang hadiahnya, Sifa mendapat telepon dari rumah
"Neeeeng" Suara mak Tun tiba tiba menjerit diujung sana, Sifa langsung menjauhkan telepon genggamnya tersebut biar jauh dari telinganya
"Kau lagi dimana neeeeng" Kali ini mak Tun sudah menangis histeris
"Ada apa maaak?? kenapa mak Tun menangis? " Tanyanya penasaran
"Pulanglah cepetaaaan"
"Iya, ya mak Sifa akan pulang"
Tapi Sifa masih penasaran "Mak, ada apa sebenarnya mak?? kenapa suaranya bising sekali seperti banyak orang maak"
"Kakakmu neng, kakakmu. Cepatlah pulang !!!"
"Kakak kenapa maaak !! apa yang terjadi dengan kakak maaaak" Sifa sudah ikut menangis
"Kakakmu melakukan lagi neeeeng hwaaaawaaa"
"Apa!!!??? kakaaaakkk. Kakak melakukan lagi?" Suaranya melemah mencerna omongan mak Tun
"Iya Neng, Latifah melakukannya dijendela hwaaaaaaa"
Sifa langsung berlari, Ponsel yang ia pegang entah sudah mati atau belum, Sifa berusaha mencari bantuan seseorang. Entah siapa yang ia cari
Masih dirumah sakit, Sifa melihat dokter Ilham yang akan memasuki ruangannya didepan pintu
Sifa berlari menujunya, netra Sifa sudah berderai air mata, Sifa memegang lengan dokter Ilham sambil mendongak " Pak dokter, tolong saya, kakak saya dok kakak saya hauwaaa"
"Kakak kamu kenapa?"
"Kakak saya gantung diri hwaaaaaaa"
"Apa??!!!"
"Tolong saya dok tolong saya, ini kesalahan saya yang terlalu lama meninggalkannya dirumah" Tangan Sifa masih memegang lengan dokter Ilham
"Tapi..." Dokter Ilham tak bisa bicara. Mau menolak, tapi anak ini sepertinya terpukul dan membutuhkan pertolongannya "Baiklah, baiklah ayo saya antar kamu pulang"
Sifa berlari menuju parkiran dimana motornya ia parkirkan.
"Kau mau kemana??"
"Ambil motor paaaak!!!" Sambil mengelap kasar airmatanya
Ilham langsung menarik pergelangan tangan Sifa "Ikut saya "
"Tapi bagaimana dengan motor saya pak?" Lagi lagi Sifa mengusap airmatanya yang tidak mau berhenti
"Kakimu gemetaran, airmatamu menghalangi cara pandangmu" Sejurus itu pandangan mereka beradu
Deg
Jantung Ilham berdetak cepat "Ada apa ini, kenapa dengan jantungku? apa aku sekarang mempunyai penyakit jantung??" Ilham bermonolog
Ilham berusaha tegar menghadapi penyakit yang tadi menyerangnya "Ayo cepat, urusan motormu gampang" Ilham terus menggandeng Sifa. Sifapun tak merasa risih atau apapun.
Perbuatan Ilham, ternyata ada dua pasang mata yang tak sengaja memperhatikan
"Pih, bukankah itu Ilham pih?" Wahidah menunjuk Ilham yang terlihat tergesah gesah sambil menggandeng seorang gadis belia, yang pantasnya menjadi anaknya "Gadis itu bukan Bunga kan pih?"
"Ya bukanlah"
"Aku curiga pih, ayo pih ikutin mobil Ilham"
"Pak ikutin mobil depan pak " Tunjuknya pada mobil Ilham, kebetulan Anand membawa sopir pribadi, jadi mudah tinggal suruh
Didalam mobil Ilham
"Kemana saya mengantarkanmu?"
"Rumahku pak, lurus saja lalu ada gang masuk"
"Oh itu yang ada orang banyak?" Tanyanya menunjuk orang bergerombol seperti sedang bergunjing.
Belum masuk gang, gang menuju rumah Sifa sudah ramai dipadati orang.
"Iya paaak!!! Hahahwaaaaaa" Sifa sudah tidak bisa membendung airmatanya lagi, rasa sakit, kecewa, sedih tertumpuk jadi satu.
Sifa turun dari mobil sambil membawa hadiah, ia berlari menuju rumah panggung yang sudah berjubel polisi dan orang orang
Sifa membuang hadiah entah isinya apa, ia mencari kakaknya yang sudah terbujur kaku
Latifah sudah berada diplastik mayat dan akan segera dilakukan autopsi.
Sifa langsung menghambur, dan membuka bungkus mayat kakaknya, ia melihat wajah pucat kakaknya
"Kakaaaaakkk, kenapa kau melakukannya lagi!!!, Aku dengan siapa kaaaak ? kenapa kau tega meninggalkanku sendiri hwaaaaahaha"
Sifa lari mengambil hadiah yang tadi sempat ia lempar
"Untuk apa hadiah ini, jika orang yang aku kasihi menjadi penggantinya. Aku tak butuh hadiah ini !!!" Sifa membanting hadiah satu kardus besar. Dari suaranya sepertinya alat dapur
"Aku butuh kamu kak !! aku tidak peduli badanku capek mengurusimu !! aku sangat menyayangimu !!! tapi kenapa kau justru melakukannya lagiiiii hwaaaahaha"
Semua orang mulai menghalangi Sifa, karena mayit kakaknya akan segera divisum untuk dibawa kerumah sakit
"Jangan bawa kakakku !!! Jangan bawa kakakku !!! "Sifa histeris lari lari melarang kakaknya dibawa para polisi
Ilham sudah tidak tahan melihat Sifa sampai menggila seperti itu, pikiran Ilham langsung pada Tulsi anaknya.
Ilham mulai meneteskan airmata, lalu secepatnya ia tersadar dari lamunannya.
Ia berlari mengikuti Sifa dan langsung memeluknya. Ilham memeluk Sifa seperti memeluk Tulsi. Tak ada niat ingin menggoda apalagi modus. Ilham bukan tipe pria seperti itu
Ilham mempererat pelukannya pada Sifa, Ilham rindu akan putrinya. Dan dia menemukannya pada tubuh Sifa
"Tenanglah anakku, tenanglah Bunga, papa ada disini, papa bersamamu " Airmata Ilham sudah mengucur deras, ia memeluknya sangat erat
Sifa mulai sadar, dari ucapan pria yang memeluknya.
Sifa langsung mendongak "Dokter, dokter"
Ilham baru sadar, ia langsung melepas peluk tubuh Sifa
"Maafkan aku, maafkan aku "Ilham merasa bersalah dan menyingkir diri dari Sifa.
Ilham berjalan terus mendekati mobil, tapi dia juga bingung sambil mengusap airmatanya yang sempat pecah
"Kenapa kamu cengeng Il?" Tepukan tangan dilengannya mulai menyadari sepenuhnya
"Kakak, kenapa kakak bisa ada disini?" Ucapnya sambil mengerjab ngerjab matanya agar tidak menetes lagi
Anand tidak menjawab pertanyaan Ilham "Siapa gadis itu ? kenapa kamu begitu akrab sekali ? kau tidak ingin mengenalkan dia pada kakak?"
"Kak, dia lagi berduka, kenapa kakak menganggap ini gurauan"
"Oiya, kamu kenal dimana ?" Anand memang tidak memperhatikan wajah gadis yang tadi sempat dipeluk adiknya
"Dia karyawan rumah sakit kak"
"Lalu, segitu akrabnya kamu padanya?"
"Kak!!"
"Wajahmu saja sampai sembab, dilap sana !! memalukan, calon suami kok cengeng" Ejeknya
"Kakak !! demi Tuhan, aku tidak sengaja memeluknya, aku ikut bersedih karena aku melihatnya seperti melihat Bunga, tidak lebih"
"Ya , ya, kakak hanya bercanda. Apa kau akan menginap disini?"
"Kak, becandanya kakak keterlaluan tau nggak?"
"Ya sudah sana pamit, ngapain kamu bengong?"
Ilham sudah seperti anak kecil jika sudah didepan Anand kakaknya.
"Mau kakak antar?" Ilham hanya memandang kakaknya sekilas "Ayo mih, kita ikut masuk"
Ilham masuk rumah mencari sosok Sifa tapi belum ketemu
"Tuan mencari Sifa?" Ilham menoleh pada sumber suara
"Iya bu, dimana dia?"
"Dikamar tuan" Tunjuknya pada kamar yang biasa ditempati kakaknya
Ilham sudah masuk kamar dan berdiri disamping Sifa duduk dengan secarik kertas yang ada pada genggaman Sifa
"Sifa, maafkan saya, saya tidak bisa lama lama disini"
Sifa mendongak sambil mbas mbis "Kakakku meninggalkan ini dok" Sifa menyerahkan kertas yang ada tulisan dari Latifah kakaknya
"Ternyata kakakku dulu pernah diperkosa hwaaaahaha"
Ilham kembali merengkuh tubuh Sifa. Dengan posisi Sifa terduduk, muka Sifa pas dipinggang Ilham. Ilhampun jadi membungkuk agar wajahnya bisa diposisi kepala Sifa
Kemeja putih Ilham akhirnya basah disekitar pinggang yang pas di gaspernya,
Ilham tersenyum sambil mengurai pelukan Sifa "Sudah ya, yang sabar, saya pamit dulu"
Bersambung
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx