Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
...Angel Takut, Tante...
...🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸...
"Angel" Tuan Richard bersimpuh dilantai. Angel mengalihkan pelukan pada appa nya.
"Appa, Angel takut." gue meninggalkan ayah dan anak itu, memunguti pakaian Angel yang berserakan dilantai. Hati gue kembali tersayat. Apa jadinya kalau tadi gue terlambat
Tuan Richard mengusap kepala Angel berkali - kali. Meneliti seluruh tubuh putrinya yang masih menangis.
Di sisi lain, gue liat uwak Madin sibuk ngurusin para penjahat dibantu beberapa orang polisi.
"Angel, pakai baju dulu."
Tuan Richard membiarkan gue membantu Angel memakai pakaiannya. Setelah selesai gue merapikan rambut hitam Angel.
"Lana, lu ke rumah sakit duluan sama Pak Richard. Biar disini uwak yang ngurus."
Tuan Richard menggendong Angel, gue mengikiti dari belakang. "Naik mobil saya saja."
Gue menurut. Gue menyerahkan kunci motor ke Johan, salah satu anak buah uwak Madin.
Gue duduk dibangku belakang bersama Angel. Sepanjang perjalanan gue meluk Angel. Tubuh Angel bergetar. Gue yakin Angel masih ketakutan.
"Tante." Angel mengeratkan pelukan nya saat gue bergerak.
"Tante disini sayang."
Rumah sakit terdekat berjarak sekitar dua puluh menit ini dari lokasi tadi. Tuan Richard kembali menggedong Angel. Kami berjalan cepat menuju UGD.
Tuan Richard membaringkan Angel dengan hati - hati dibangkar. "Tante... " panggil Angel lagi.
Gue mendekat. Mengenggam tangan Angel dan duduk di bangku yang ada disamping bangkar.
"Angel, tante Lana mau di obatin dulu. Angel sama appa ya?" Angel menggeleng.
"Gak papa tuan, biar saya diobatin sambil duduk aja."
Angel ketakutan saat ada dokter dan perawat yang mendekat untuk memeriksa keadaannya. Angel menarik tangan gue hingga gue terpaksa harus berbagi bangkar dengan Angel.
"Gak papa sayang, om dokter cuman mau periksa luka Angel. Ada tante disini. Kalau om dokter nakal, nanti tante yang marahin." gue berusaha menenangkan Angel
Memar ditubuh Angel diberi saleb begitu juga dengan luka dibibirnya. Ada bekas telapak tangan dipipi Angel. Gue membelai pipi putih itu.
Perawat memasang infus pada lengan kecil Angel. Setelah bicara beberapa saat dengan Tuan Richard, dokter itu beralih menghampiri gue.
"Permisi, mbak. Saya mau lihat lukanya."
Seorang perawat bersiap dengan gunting ditangannya. "Bajunya saya gunting ya mbak."
"Silahkan sus."
Gue meringis menahan sakit saat suster mengoleskan kapas basah, dari baunya gue tahu itu alkohol.
"Lukanya agak dalam, perlu dijahit. Suster tolong siapkan."
Dokter menekan memar didahi gue serta memeriksa beberapa luka di wajah gue. "Kepala terbentur?" tanya dokter laki - laki yang dari tag namanya bertuliskan Dr. Reza Ardian.
"Iya, dok?"
"Mbak nya sampe pusing, muntah atau pingsan?" tanya nya lagi sambil menyinari mata gue dengan senter kecil.
"Pusing aja tadi, dok."
"Di rontgen ya?"
"Gak usah, dok. Saya rasa saya tida..."
"Lakukan saja dok. Lakukan yang terbaik." appa nya Angel montong omongan gue.
"Baiklah. Nanti saya bikinkan pengantar nya. Sekarang kita jahit dulu luka tangannya."
Gue pikir, tangan gue cuman ke gores doang, tenyata penjahat itu pake tenaga nyabetin pisau lipatnya.
Dokter menyuntikkan sesuatu di tangan gue, gak lama setelah itu tangan gue rasanya kebas. Sebelum dokter mulai menjahit, gue liat Angel. Gue mau pastiin Angel tidur, karena tadi setelah pasang infus dokter masukin obat penenang lewat jarum infus nya. Gue gak mau Angel liat gue dijahit. Gue khawatir Angel makin takut.
"Angel sudah tidur." Rupanya appa nya Angel ngerti jalan pikiran gue.
Jarum dengan benang bening mulai menembus kulit lengan gue. Total gue dapet lima jahitan.
"Nanti suster akan anter mbak nya ke ruang radiologi. Saya siapkan administrasi untuk rawat inap adik kecil ini."
"Terima kasih." ujar Tuan Richard. "Kalau tidak ada kamu saya tidak tahu gimana nasib Angel."
Gue bisa lihat dari mata si Lee Ming Ho KW ini kalau disayang banget sama Angel. Ada kesedihan dimatanya.
"Sama - sama tuan."
"Maaf saya kasar sama kamu waktu itu."
"Gak masalah, tuan saya sudah terbiasa." gue mengusap pucuk kepala Angel yang berbaring dengan tenang disebelah gue.
"Angel setiap hari cerita tentang kamu. Tante Lana begini, tante Lana begitu. Dia suka sekali sama kamu." Terangnya. "Sampai satu hari dia juga ingin membuat tato seperti punya kamu, kalau tidak salah Angel bilang tulisan Faith."
"Disitu saya pikir kamu..." Tuan Richard tidak meneruskan kata - katanya.
"Saya paham tuan. Kadang memang yang terlihat mata tampak seperti kebenaran. Bukan hanya tuan saja yang berpikir kalau saya itu buruk untuk lingkungan sekitar." gue tersenyum. Karena memang itu yang terjadi.
"Maaf." Lirihnya. "Tapi melihat bagaimana kamu memperlakukan Angel, saya tahu kamu tulus."
"Angel anak yang sangat manis, tuan. Pertama kali saya melihat Angel, saya langsung... "
"Jatuh cinta." tuan Richard yang menyelesaikan kalimat gue.
"Dia seperti peri kecil." Tuan Richard tersenyum mendengarnya.
"Mbak, mari saya anter ke radiologi." seorang perawat datang sambil membawa kursi roda.
🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin liat favorit ya, Like dan komen. Ngasih gift seiklasnya ajah 🌼🌼🌼
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..