NovelToon NovelToon
SISTEM KULTIVASI PERJAKA TUA

SISTEM KULTIVASI PERJAKA TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kultivasi Modern / Urban
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: S. M yanie

Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.

Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.

​Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?

Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Nona Mei mendengus kecil, meski rona merah malu-malu tampak jelas di pipinya. Ia melirik Jiang Yui dengan rasa terima kasih.

 "Makasih sarannya, Yang Mulia. Kalau tidak ditegur, dia pasti bikin satu kota gempar lagi."

Tidak lama setelah keributan kecil itu reda, Bai Ling dan Tetua Lu berjalan menghampiri halaman sambil membawa setumpuk gulungan surat resmi dari berbagai penjuru perbatasan.

"Tenang saja, Yang Mulia," kata Bai Ling sambil tersenyum tipis, duduk di sebelah Jiang Yui dan menyerahkan secangkir teh baru.

"Surat-surat ini bukan ancaman perang. Mayoritas adalah undangan kehormatan dari para tetua sekte yang meminta nasihatmu tentang bagaimana cara merawat keharmonisan keluarga."

Jiang Yui menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil menatap langit biru Kota Qing yang cerah. Dulu, ia adalah seorang pangeran yang terkutuk kesepian di istana. Sekarang, ia adalah pusat dari segala harmoni dunia.

"Baiklah," ucap Jiang Yui santai, mengangkat cangkirnya ke udara. "Katakan pada mereka, kalau mau minta nasihat soal percintaan dan rumah tangga, syaratnya cuma satu: bayar dengan teh terbaik dan jangan pernah ganggu waktu santai pagiku."

Gelak tawa hangat kembali bergema di halaman istana.

Di bawah naungan damai Kota Qing, sang mantan perjaka tua menikmati pagi hari terindahnya—membuktikan bahwa cinta, dengan segala kelucuannya, adalah kekuatan terhebat yang pernah menyatukan alam semesta.

Suasana pagi yang tenang di halaman belakang Istana Kota Qing seketika berubah menjadi riuh.

Gelak tawa Liu Tian, gerutuan kecil Nona Mei, serta senyuman lembut Bai Ling berpadu dengan suara desau angin yang menyejukkan.

Bagi Jiang Yui, momen-momen sederhana seperti ini jauh lebih berharga daripada seluruh takhta atau kekuatan kosmik yang pernah ia taklukkan.

Namun, di tengah gelak tawa yang masih menggantung di udara, keheningan aneh tiba-tiba merayap.

Syuuung...

Getaran halus yang sangat familiar merambat melalui tanah, membuat air di dalam kolam koi bergetar membentuk riak-riak konsentris.

 Udara di sekitar mereka mendadak berubah dingin, bukan karena es magis milik Bai Ling, melainkan karena hawa kehadiran spiritual tingkat tinggi yang menembus batas dimensi tanpa izin.

Jiang Yui langsung meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.

Matanya menyipit tajam, menatap ke arah gerbang utama istana.

Di belakangnya, Bai Ling, Liu Tian, dan Tetua Lu langsung siaga, memasang kuda-kuda defensif dengan aura kultivasi yang langsung bergolak naik.

"Wah, wah, wah... Sambutan yang luar biasa hangat untuk seorang tamu lama," sebuah suara berat terdengar menggema di udara, memenuhi halaman istana tanpa wujud yang terlihat.

"Kukira setelah menjadi penguasa takdir kosmik, Pangeran Jiang Yui sudah lupa cara menyambut kerabat lamanya."

Seketika itu juga, ruang di hadapan meja teh mereka berderit retak. Sebuah celah spasial kecil terbuka, memunculkan sesosok pria berjubah brokat perak mewah dengan sulaman benang bintang.

Rambutnya diikat rapi menggunakan mahkota giok putih, dan di tangannya tergenggam sebuah kipas lipat bertuliskan kaligrafi kuno.

Wajah pria itu sangat tampan, namun memancarkan senyum sinis yang menyebalkan.

Ia adalah Murong Chen, sepupu jauh Jiang Yui sekaligus pewaris utama dari Dinasti Langit Utara yang dulu sempat membuang Jiang Yui ke istana terpencil karena mengira kutukan perjaka tua itu akan membuatnya mati busuk dalam kehinaan.

Jiang Yui menatap pria itu tanpa sedikit pun rasa gentar. Ia bersandar santai di kursi bambunya, lalu kembali menyeruput tehnya yang masih hangat.

"Oh, lihat siapa yang datang," ucap Jiang Yui datar.

"Murong Chen. Kukira kau sudah tenggelam di dasar jurang utara setelah keluargamu bangkrut secara politik tiga tahun lalu. Kenapa? Datang ke sini mau minta sumbangan beras, atau mau daftar jadi peserta gelombang pertama Paviliun Jodoh karena sampai sekarang masih jomblo tua?"

Wajah Murong Chen yang tadinya penuh senyum meremehkan mendadak berubah kaku. Urat-urat di pelipisnya berdenyut menahan amarah.

Dulu, ia adalah pangeran mahkota yang diagung-agung, sementara Jiang Yui adalah sampah istana yang dikasihani.

Sekarang, roda nasib berputar terbalik dengan cara yang paling memalukan baginya—Jiang Yui berdiri di puncak dunia sebagai penguasa mutlak, sementara dirinya datang sebagai pengemis kekuasaan.

"Jaga mulutmu, Jiang Yui!" bentak Murong Chen dengan suara bergetar, melupakan sopan santun.

"Jangan mentang-mentang kau beruntung dan berhasil memperdaya para dewa kosmik, kau bisa meremehkanku! Aku datang ke sini bukan untuk diejek!"

"Lalu untuk apa?" potong Jiang Yui tenang, menaikkan sebelah alisnya. "Kalau mau bertarung, silakan urusi dulu Ratu Racun atau Bai Ling di sebelahku.

Tapi kalau mau bikin keributan di halaman rumahku, kurasa lebih baik kau putar balik sebelum kusemprot pakai air teh panas ini."

Murong Chen menggertakkan giginya. Ia mengepalkan kipas lipatnya erat-erat, matanya melirik sekilas ke arah Bai Ling dan Liu Tian yang memancarkan niat membunuh yang pekat.

Sadar bahwa ia tidak akan menang dalam pertarungan fisik, Murong Chen mendengus dingin, lalu merogoh sesuatu dari dalam lengan jubahnya.

"Aku tidak datang untuk bertarung," kata Murong Chen dengan nada sinis, melempar sebuah gulungan kertas tua bersegel emas ke atas meja teh Jiang Yui.

"Aku datang untuk menyampaikan surat panggilan resmi dari Dewan Kehormatan Sembilan Langit. Wilayah kekuasaan keluargamu di Kota Qing dinilai melanggar hukum keseimbangan kuno karena memonopoli sistem takdir asmara semesta!"

1
☪︎⃟𒈔⃟🕊 putra h iatu s 🍤
udah kayak lamaran kerja ini
☪︎⃟𒈔⃟🕊 putra h iatu s 🍤
sangat bagus,cocok dibaca semua kalangan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰putrahs
astaghfirullah🤣🤣🤣
☪︎⃟𒈔⃟🕊 S.M YANIE 🇵🇸: apehall nih??
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰putrahs
alamakkk belum dapat jodohh
☪︎⃟𒈔⃟🕊 S.M YANIE 🇵🇸: km juga blum
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨Han Boshalvaya🍤
Sial, aku tertawa 🗿
☪︎⃟𒈔⃟🕊 S.M YANIE 🇵🇸: jangan di tahan,tar jadi kentut
total 2 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨Han Boshalvaya🍤
Bagus juga idenya, boleh aku tiru? 🗿
☪︎⃟𒈔⃟🕊 S.M YANIE 🇵🇸: boleh bangett masss
total 2 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
Keren banget ceritanya sangat informatif dan bermanfaat
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ: ok sip
👍
total 2 replies
𝙕𝙯𝙯
benar-benar berbeda sekali dengan kak yani yang biasanya itu.

sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧
☪︎⃟𒈔⃟🕊 S.M YANIE 🇵🇸: wkwkwk ayok aktif nulis lagi
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
mampir
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ: follow kak mau kirim ss
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!