Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Teror
Kepanikan di mansion utama perlahan mereda setelah Raya tertidur lelap akibat efek obat penenang ringan yang diberikan oleh dokter pribadi Aris.
Di dalam kamar utama lantai dua, Raya berbaring dengan napas teratur, jemarinya masih meremas selimut sutra seolah mencari perlindungan dari mimpi buruk yang baru saja menghantamnya.
Di luar kamar, lorong lantai dua terasa begitu dingin dan hening. Aris berdiri membeku di depan pintu yang tertutup rapat, seraya memperhatikan pantulan dirinya di kaca jendela koridor.
Dasi mewahnya sudah lama terlepas, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dan rambutnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan.
Kedua tangannya yang mengepal di dalam saku celana gemetar tipis, bukan hanya karena rasa bersalah, melainkan karena rasa takut yang mendalam.
Amplop cokelat itu. Potongan koran itu. Foto Ardiansyah.
Seseorang di luar sana tahu. Seseorang mengetahui kenyataan yang terjadi di persimpangan jalan lingkar malam itu. Dan yang lebih mengerikan, orang itu tahu persis di mana Aris menyembunyikan Raya.
Aris memutar tubuhnya dengan cepat, kemudian melangkah lebar menunju ruang kerja pribadinya di ujung koridor. Ia membuka pintu kayu jati tebal itu, lalu membantingnya hingga tertutup rapat.
BAM!
Di dalam ruang kerja yang remang, Hendra sudah berdiri menunggunya dengan raut wajah yang sangat tegang. Sementara di atas meja kerja marmer, tergeletak sisa-sisa amplop cokelat yang sempat disobek oleh Raya, bersama surat resi pengiriman paket kilat yang tadi pagi diterima oleh Raya.
"Hendra," suara Aris terdengar begitu parau, dingin, namun menyiratkan kepanikan yang luar biasa. "Bagaimana bisa dokumen itu sampai ke tangan Raya?! Bukankah aku sudah menyuruhmu memusnahkan semua bukti peninggalan Ardiansyah?!"
Hendra membungkukkan badannya dalam-dalam, raut penyesalan pun terpancar jelas di wajahnya. "Maafkan saya, Pak Aris. Seluruh barang bukti dari lokasi kejadian dan barang peninggalan asli milik almarhum Ardiansyah sudah saya musnahkan sepenuhnya di krematorium swasta tiga minggu lalu. Saya berani menjamin tidak ada satu pun dokumen asli yang tersisa di tangan tim kita."
"Lalu dari mana datangnya potongan koran dan foto itu?!" bentak Aris, seraya meninju permukaan meja kerjanya hingga cangkir porselen di atasnya berdenting keras. "Raya hampir mengingat semuanya, Hendra! Dia hampir hancur di depan mataku!"
Hendra mengambil amplop cokelat itu dengan sarung tangan kain tipis, lalu menunjukkannya kepada Aris. "Saya sudah memeriksa bekas bungkus paket ini, Pak. Ini bukan dokumen asli milik kepolisian atau milik korban. Ini adalah salinan cetak ulang dari arsip berita lokal dan foto cetak digital baru. Seseorang secara sengaja mengumpulkan informasi ini, mengemasnya, dan memaketkannya langsung ke alamat kediaman pribadi Anda, bukan ke kantor."
Aris memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya berputar cepat. "Alamat rumah ini sangat tertutup. Hanya sedikit orang di lingkaran dalam yang tahu aku membawa Raya ke sini. Siapa orangnya, Hendra?"
"Saya sudah menghubungi kepala kantor pos cabang kota," jawab Hendra cepat dan sigap. "Pengirim paket menggunakan kurir independen dan membayar dengan uang tunai tanpa mencantumkan identitas pengirim. Namun, CCTV di sekitar lokasi kantor pos berhasil merekam postur dan kendaraan pengirim."
Hendra mengeluarkan tablet digitalnya, lalu menggeser layar untuk memperlihatkan rekaman video berdurasi pendek. Di layar tersebut, terlihat seorang pria mengenakan jaket kulit hitam, helm berpet gelap, dan masker medis sedang menyerahkan amplop cokelat ke loket pengiriman.
"Apakah kamu mengenali orang ini?" tanya Aris, matanya menatap tajam ke layar tablet.
"Belum, Pak. Tapi pergerakannya sangat rapi," terang Hendra. "Dia tahu kapan Anda tidak ada di rumah. Dia sengaja mengirimkan paket ini pada jam di mana hanya ada Ibu Raya dan para pelayan di mansion. Niatnya jelas bukan sekadar memberikan informasi... tapi untuk mengguncang mental Ibu Raya dan memancing reaksi dari Anda."
Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa marah dan terancam membakar dadanya.
"Lacak pria ini sampai dapat, Hendra," bisik Aris dengan nada yang begitu mematikan. "Gunakan seluruh jaringan keamanan internal, periksa rekaman pelat nomor motornya, lacak sinyal seluler di sekitar lokasi kantor pos pada jam itu. Siapa pun dia... aku ingin tahu siapa yang berani bermain-main dengan nyawaku."
"Baik, Pak Aris. Saya akan kerahkan seluruh tim malam ini juga."
**
Selama empat hari berikutnya, mansion mewah milik Aris diliputi oleh atmosfer ketegangan yang tak kasat mata.
Di depan Raya, Aris tetap berusaha tampil sebagai sosok kekasih yang penyayang, hangat, dan perhatian. Ia membawakan bunga segar setiap pagi, menemani Cyla bermain di taman, dan memastikan Raya tidak pernah ditinggalkan sendirian tanpa pengawasan.
Namun di balik senyuman hangat itu, Aris hampir tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ponselnya bergetar di tengah malam, jantungnya berdegup kencang, ia takut menerima kabar bahwa kebohongannya telah terbongkar ke publik.
Di sisi lain, Raya mulai menunjukkan perubahan sikap. Meskipun penjelasan Aris tentang "pengemudi bernama Ardiansyah yang menabrak mereka" diterima oleh logikanya, naluri batinnya tetap merasa ganjil.
Ada rasa hampa yang makin dalam di dadanya setiap kali ia menatap foto Cyla atau saat ia memeluk balita itu di malam hari.
Pada hari kelima, Hendra akhirnya datang membawa perkembangan besar.
Di dalam ruang kerja Aris yang tertutup rapat, Hendra membeberkan beberapa lembar foto hasil pengintaian dan sebuah berkas biografi tebal di atas meja.
"Kami sudah menemukan orangnya, Pak Aris," ujar Hendra dengan suara rendah.
Aris langsung meraih foto-foto tersebut. Foto itu menampilkan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah tirus, rambut agak panjang yang terikat canggung, dan mata yang licik.
Di salah satu foto, pria itu tampak sedang duduk di dalam mobil tua sambil memegang kamera dengan lensa telephoto panjang.
"Siapa dia?" tanya Aris dingin.
"Namanya Surya Darma," papar Hendra cermat. "Dia mantan wartawan tabloid kriminal yang dipecat lima tahun lalu karena kasus pemerasan. Sekarang, dia bekerja secara independen sebagai 'pengumpul informasi' atau penyelidik swasta gelap di kalangan kelas atas."
Bersambung...