NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pukul tiga dini hari, Mikha masih duduk di ruang tamu villa.

Sejak tadi, perempuan itu belum beranjak dari sofa. Secangkir teh yang dibuatnya hampir satu jam lalu bahkan sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Sesekali ia melirik jam dinding, kemudian kembali menatap pintu utama.

Ia sebenarnya bisa saja berpura-pura tidur dan menunggu Pras kembali tanpa perlu mengajukan pertanyaan.

Namun, malam ini Mikha ingin melihat sendiri bagaimana suaminya menjelaskan kepergiannya.

Suara pintu akhirnya terdengar.

Pras masuk dengan langkah pelan. Lelaki itu tampak sedikit terkejut ketika mendapati istrinya masih duduk di ruang tamu.

"Darimana, Mas?"

Pras menghentikan langkahnya.

"Oh, Sayang. Dari... dari...."

Mikha menatapnya tanpa ekspresi.

"Enggak usah dijawab kalau bikin Mas bingung dan gugup."

Pras menelan ludah.

"Dari taman."

"Taman?"

"Iya. Tadi Mas keluar sebentar, jalan-jalan karena susah tidur."

Mikha mengangguk pelan.

"Begitu."

Pras mengembuskan napas lega. Ia kemudian berjalan mendekati sofa, tetapi sebelum duduk, Mikha sudah memperhatikan penampilannya.

Kaus yang dikenakan suaminya terlihat kusut. Bagian kerahnya sedikit tertarik, sementara rambutnya juga tidak serapi ketika meninggalkan villa beberapa jam lalu.

Mikha menunduk sebentar.

Ia tidak perlu bertanya lebih jauh untuk mengetahui bahwa Pras mungkin tidak hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Alena.

Ada sesuatu yang terasa menyesakkan di dadanya.

Namun, perempuan itu berusaha mempertahankan ekspresi tenang.

"Mas sampai kapan di sini? Aku kepikiran Ibu."

Pras mengusap rambut istrinya dengan lembut.

"Em... lusa kita pulang."

"Lusa?"

"Iya. Kenapa? Kamu sudah bosan?"

"Bukan begitu. Aku cuma kepikiran Ibu. Takut beliau mencari kita."

"Tenang saja. Mas sudah bilang kalau kita sedang liburan."

Mikha mengangguk.

"Mas, duduk."

"Iya."

Pras akhirnya duduk di samping istrinya.

Namun, ia terlihat tidak nyaman. Lelaki itu beberapa kali membenarkan posisi duduknya, bahkan sempat melirik ke arah kamar.

Mikha memperhatikan tingkah tersebut.

"Tegang banget sih."

Pras langsung menoleh.

"Kamu sudah bangun, Sayang?"

Mikha tersenyum kecil.

"Menurut Mas?"

"Maksudnya, sejak kapan kamu di sini?"

"Sudah cukup lama."

Pras terdiam sesaat.

"Kenapa tidak tidur?"

"Menunggu Mas."

Jawaban sederhana itu justru membuat Pras semakin salah tingkah.

"Mas kan sudah bilang cuma sebentar."

Mikha mengangguk.

"Iya. Tapi ternyata sebentarnya sampai jam tiga pagi."

Pras mengusap tengkuknya.

"Tadi Mas tidak sadar sudah selama itu."

"Memangnya taman sebagus itu sampai Mas lupa waktu?"

Pras tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.

"Ya, namanya juga lagi menikmati udara malam."

Mikha menatap wajah suaminya beberapa detik.

"Mas."

"Hm?"

"Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya apa?"

Mikha menggeser cangkir tehnya ke atas meja.

"Kalau suatu saat Mas punya kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan seseorang yang lebih menyenangkan daripada aku, Mas bakal memilih siapa?"

Pras mengernyit.

"Maksud kamu apa?"

"Enggak apa-apa. Cuma bertanya."

Pras meraih tangan Mikha.

"Tentu saja Mas memilih kamu. Kamu itu istri Mas."

Mikha tersenyum tipis.

"Karena aku istri Mas?"

"Ya, karena itu. Memangnya siapa lagi?"

Mikha menarik tangannya perlahan, lalu menyandarkan punggung ke sofa.

"Kalau begitu, Mas jangan lupa kalau punya istri."

Pras terdiam.

"Apa maksudnya, Sayang?"

"Enggak ada. Aku cuma mengingatkan."

Mikha kemudian berdiri.

"Aku mau tidur lagi. Mas juga sebaiknya istirahat. Besok kita masih mau jalan-jalan, kan?"

Pras segera mengangguk.

"Iya. Mas menyusul."

Mikha berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi.

Begitu pintu kamar tertutup, senyum yang sejak tadi dipertahankannya perlahan menghilang.

Ia duduk di tepi tempat tidur, kemudian menatap kosong ke arah lantai.

Ada aroma parfum perempuan yang samar tertinggal pada pakaian Pras ketika lelaki itu tadi mendekatinya.

Mikha mengenali aroma tersebut.

Itu bukan parfum yang biasa ia gunakan.

Ia pernah mencium aroma serupa ketika berkunjung ke rumah Alena.

Mikha memejamkan mata.

Ternyata dugaannya semakin kuat.

Sementara itu, Pras masih berada di ruang tamu. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan memeriksa beberapa pesan.

Ada pesan dari Alena.

Alena:

Mas sudah sampai di villa?

Pras membalas singkat.

Pras:

Sudah. Mikha ternyata belum tidur.

Alena:

Dia curiga?

Pras:

Entahlah. Besok jangan menghubungi Mas dulu.

Alena:

Baik, Mas. Tapi aku masih ingin bertemu sebelum kita pulang.

Pras membaca pesan itu cukup lama.

Ia kemudian memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan menuju kamar.

Ketika masuk, Mikha sudah berbaring membelakanginya.

Pras mendekat, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.

"Sayang, kamu marah?"

Mikha menggeleng pelan.

"Enggak."

"Terus kenapa diam saja?"

"Ngantuk."

Pras tersenyum, kemudian mengecup keningnya.

"Besok kita jalan-jalan lagi, ya. Mas mau mengajak kamu ke tempat yang bagus."

Mikha hanya mengangguk.

"Mas, lampunya dimatikan."

"Iya."

Pras mematikan lampu, lalu berbaring di samping istrinya.

Beberapa menit kemudian, napas lelaki itu mulai teratur.

Namun, Mikha masih terjaga.

Ia menatap cincin pernikahannya yang kini tersimpan di dalam laci nakas.

Besok, ia akan kembali tersenyum. Ia akan menikmati liburan ini seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Bukan karena dirinya sudah memaafkan Pras.

Melainkan karena ia tidak ingin suaminya mengetahui bahwa keputusannya untuk berpisah semakin kuat.

Mikha ingin pulang dengan tenang.

Setelah itu, ia akan menemui Rara dan membicarakan langkah selanjutnya.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan Pras mengendalikan jalan hidupnya lagi.

***

Pagi harinya, Mikha terbangun lebih awal daripada Pras.

Setelah memastikan suaminya masih tertidur, ia perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Udara pagi terasa sejuk, tetapi pikirannya justru semakin dipenuhi berbagai hal.

Ia mengambil ponsel, kemudian membuka percakapan dengan Rara.

Mikha:

Ra, aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih serius.

Rara:

Tentang Pras?

Mikha:

Iya. Aku ingin memastikan semua harta yang dia miliki selama pernikahan kami tidak ada yang terlewat.

Rara:

Memangnya ada aset lain yang belum pernah kamu ceritakan?

Mikha:

Ada beberapa tanah yang pernah dia beli. Selain itu, ada kontrakan di lokasi strategis yang selama ini disewakan. Aku ingin semuanya diperiksa.

Rara:

Baik. Kamu punya informasi mengenai lokasi dan kapan aset-aset itu dibeli?

Mikha:

Sebagian aku tahu. Dulu Pras sering bercerita tentang pembelian tanah dan rencana pengembangan propertinya. Ada juga kontrakan yang dibangun ketika kami sudah menikah.

Rara:

Kalau begitu, kumpulkan semua informasi yang kamu punya. Kita perlu memastikan kapan aset itu diperoleh, dari mana sumber dananya, serta bagaimana status kepemilikannya.

Mikha membaca pesan tersebut dengan saksama.

Ia kemudian mengetik kembali.

Mikha:

Aku tidak ingin hanya mendapatkan bagian dari rumah dan kendaraan. Aku juga ingin mendapatkan hakku atas aset-aset yang selama ini mungkin tidak pernah dianggap sebagai milikku.

Rara:

Aku mengerti. Tapi kita harus bergerak berdasarkan bukti dan ketentuan hukum. Kalau aset itu termasuk harta bersama, kita bisa memperjuangkan bagianmu.

Mikha:

Aku akan mencari semua informasinya.

Setelah mengirim pesan, Mikha membuka aplikasi galeri di ponselnya.

Ia mencari beberapa foto lama ketika Pras pernah mengajaknya mengunjungi lokasi tanah yang baru dibeli. Ada pula foto bangunan kontrakan yang pernah mereka datangi bersama.

Mikha memperbesar salah satu foto.

Bangunan itu terdiri dari beberapa pintu kontrakan dengan lokasi yang cukup strategis, tidak jauh dari jalan utama dan kawasan pertokoan.

Dulu, Pras pernah mengatakan bahwa properti tersebut akan menjadi sumber penghasilan mereka ketika sudah tua.

Mikha tersenyum hambar.

Ternyata, rencana masa depan yang pernah mereka bicarakan kini harus ia perjuangkan sendirian.

Ia mengambil buku catatan kecil dari dalam tas, kemudian mulai menuliskan beberapa aset yang masih diingatnya.

Tanah pertama.

Tanah kedua.

Bangunan kontrakan.

Rumah yang mereka tempati.

Kendaraan.

Tabungan dan investasi.

Mikha tidak tahu berapa nilai keseluruhan kekayaan Pras. Namun, ia yakin jumlahnya jauh lebih besar daripada yang selama ini diketahui orang-orang di sekitarnya.

Suara pintu balkon terbuka membuatnya segera mengunci layar ponsel.

Pras muncul dengan rambut sedikit berantakan.

"Sayang, sudah bangun?"

Mikha menoleh dan tersenyum.

"Iya. Aku menikmati udara pagi."

Pras menghampirinya, kemudian memeluk pinggang istrinya dari belakang.

"Kamu kenapa bangun pagi sekali?"

"Enggak bisa tidur lagi."

"Masih memikirkan Ibu?"

Mikha mengangguk kecil.

"Iya. Aku ingin segera pulang."

Pras mengecup pipinya.

"Tenang. Lusa kita pulang."

Mikha berbalik menghadap suaminya.

"Mas."

"Hm?"

"Nanti kalau kita sudah pulang, aku ingin lebih sering menghabiskan waktu bersama Ibu."

Pras tersenyum.

"Boleh. Memangnya selama ini Mas melarang?"

"Enggak. Aku cuma ingin lebih banyak bersama keluarga."

Pras mengangguk tanpa mencurigai apa pun.

Sementara itu, Mikha kembali tersenyum.

Dalam pikirannya, ia sudah memiliki tujuan yang jelas.

Ia tidak akan meminta-minta kepada Pras ketika perceraian terjadi. Ia akan memperjuangkan haknya melalui jalur hukum.

Termasuk tanah dan kontrakan yang selama ini menjadi sumber penghasilan suaminya.

Mikha tidak berniat mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Namun, ia juga tidak akan membiarkan haknya sebagai istri dihilangkan hanya karena Pras merasa seluruh kekayaan itu miliknya sendiri.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!