NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan Yang Tak Terlihat

Pagi itu, Devan berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Setelah menghadiri perayaan ulang tahun Mahendra Group, beberapa urusan perusahaan masih harus diselesaikannya, termasuk persiapan menjelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sementara itu, Aira berada di penthouse. Setelah menyelesaikan sarapannya, ia memeriksa ponsel dan mendapati pesan dari Ratih yang menanyakan kabarnya.

Aira membalas pesan itu, lalu menanyakan kondisi ibu mereka. Tak lama kemudian, Ratih mengirimkan balasan bahwa kondisi ibu masih stabil.

Aira mengembuskan napas lega. Setidaknya, untuk saat ini, ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan ibunya.

Ia meletakkan ponsel di atas meja, kemudian merapikan beberapa barang di kamarnya. Sejak tinggal di penthouse, hari-harinya terasa berbeda. Ia tidak lagi sibuk membantu di sanggar seperti dahulu, tetapi bukan berarti pikirannya benar-benar tenang.

Pernikahannya dengan Devan telah membawanya ke lingkungan yang sama sekali asing. Ia harus belajar menyesuaikan diri, meskipun terkadang ia sendiri tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan berlangsung.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Di Mahendra Group, Devan baru saja menyelesaikan rapat bersama beberapa petinggi perusahaan ketika Arga mengetuk pintu ruang kerja.

"Maaf, Tuan. Ada beberapa pemegang saham yang ingin bertemu dengan Anda."

Devan mengalihkan pandangan dari dokumen di hadapannya.

"Untuk urusan apa?"

"Mereka ingin membicarakan persiapan menjelang RUPS dan beberapa hal yang berkaitan dengan kepemimpinan perusahaan."

Devan terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Atur jadwalnya. Aku akan menemui mereka setelah makan siang."

"Baik, Tuan."

Setelah sekretarisnya keluar, Devan kembali memeriksa dokumen. Namun, ia sudah bisa menebak bahwa pertemuan itu tidak hanya akan membahas urusan perusahaan.

Pernikahannya dengan Aira telah menjadi bahan pembicaraan sejak malam perayaan. Meski tidak ada yang secara terbuka menuduhnya mengambil keputusan yang keliru, ia tahu sebagian orang mulai mempertanyakan pilihannya.

Bagi Devan, persoalannya bukan pada siapa yang menjadi istrinya. Ia tidak pernah menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang perlu dibicarakan oleh orang-orang di luar keluarganya. Namun, menjelang penentuan posisi penuh CEO Mahendra Group, ia tidak bisa mengabaikan pengaruh pandangan para pemegang saham.

Ia harus memastikan bahwa persoalan tersebut tidak mengalihkan perhatian dari kemampuannya memimpin perusahaan.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Di tempat lain, Hadi sedang duduk di ruang kerjanya ketika asistennya menyampaikan perkembangan terbaru setelah perayaan perusahaan.

"Beberapa pemegang saham mulai membicarakan pernikahan Pak Devan," lapor asistennya. "Namun, sejauh ini belum ada yang menyampaikan keberatan secara langsung."

Hadi menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Itu sudah cukup untuk sekarang."

"Apakah Bapak ingin kami melakukan sesuatu lebih lanjut?"

Hadi menggeleng pelan.

"Jangan terburu-buru. Kalau kita terlalu jelas menunjukkan arah pembicaraan, mereka justru akan curiga."

Ia mengambil berkas yang terletak di atas meja, lalu membukanya sekilas.

"Biarkan mereka menilai sendiri. Kita hanya perlu memastikan mereka mulai mempertanyakan apakah Devan benar-benar siap memegang tanggung jawab yang lebih besar."

Asistennya mengangguk.

"Baik, Pak."

Setelah asistennya pergi, Hadi menutup berkas tersebut. Ia belum mendapatkan hasil yang diinginkannya, tetapi setidaknya pembicaraan tentang pernikahan Devan sudah mulai meluas.

Kini, ia hanya perlu menunggu kesempatan yang tepat untuk melangkah lebih jauh.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Menjelang siang, Aira sedang duduk di ruang tengah ketika Arga datang membawa sebuah map.

"Nona Aira, apakah ada keperluan yang perlu saya bantu?"

Aira menggeleng.

"Tidak, Pak Arga. Saya hanya sedang tidak ada kegiatan."

Arga mengangguk sopan.

"Baik. Jika Nona membutuhkan sesuatu, silakan hubungi saya."

"Terima kasih."

Setelah Arga pergi, Aira kembali melihat ponselnya. Ia sempat berpikir untuk menghubungi Devan, tetapi mengurungkan niatnya. Ia tidak memiliki urusan mendesak, sementara Devan pasti sedang sibuk di kantor.

Aira tidak ingin mengganggunya hanya karena dirinya merasa bosan.

Ia akhirnya kembali ke kamar dan menghabiskan waktu dengan membaca beberapa pesan dari Ratih. Percakapan singkat dengan adiknya sedikit mengurangi rasa sepi yang belakangan sering ia rasakan.

...___🍀🍀🍀🍀____...

Sore harinya, Devan kembali ke ruang kerja setelah pertemuan dengan beberapa pemegang saham selesai.

Seperti yang diduganya, pembicaraan mereka tidak sepenuhnya berfokus pada persiapan RUPS.

Salah seorang pemegang saham sempat menyinggung perubahan dalam kehidupan pribadinya dan mempertanyakan apakah hal tersebut akan memengaruhi konsentrasinya terhadap perusahaan.

Devan menjawab dengan tegas bahwa tanggung jawabnya terhadap Mahendra Group tidak berubah. Ia juga memastikan bahwa setiap keputusan bisnis akan tetap didasarkan pada kepentingan perusahaan.

Meski pertemuan berakhir tanpa perdebatan, Devan memahami bahwa jawaban saja tidak akan langsung menghilangkan keraguan mereka.

Ia harus membuktikan kemampuannya melalui pekerjaan.

Setelah memeriksa beberapa dokumen, Devan melirik jam di pergelangan tangannya. Ia masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pulang, tetapi pikirannya sempat beralih pada Aira.

Malam sebelumnya, perempuan itu menghadapi pertanyaan Hadi tanpa membuat keadaan semakin rumit. Aira tidak berusaha membela diri secara berlebihan, juga tidak memperlihatkan sikap yang dapat digunakan untuk menyerangnya.

Devan mengakui bahwa Aira mampu menghadapi situasi tersebut dengan baik.

Namun, ia juga menyadari bahwa pernikahan mereka telah menempatkan Aira di tengah persaingan yang tidak pernah dimintanya.

Pikiran itu membuatnya terdiam sesaat sebelum kembali menatap dokumen di hadapannya.

Ia tidak bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi. Akan tetapi, setidaknya ia tidak ingin Aira menjadi sasaran hanya karena keputusan yang diambilnya.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Malam harinya, Devan tiba di penthouse ketika Aira sedang berada di ruang tengah.

Aira menoleh saat mendengar pintu terbuka.

"Mas Devan sudah pulang?"

Devan mengangguk sambil meletakkan tas kerjanya.

"Sudah."

Ia melirik meja di hadapan Aira sebelum bertanya, "Kamu sudah makan malam?"

"Sudah. Tadi aku makan lebih dulu."

Devan mengangguk singkat, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Namun, sebelum masuk, ia berhenti sejenak.

"Kalau ada yang menghubungimu atau menanyakan sesuatu tentang keluarga Mahendra, beri tahu aku."

Aira menatapnya dengan sedikit heran.

"Memangnya ada masalah?"

"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan sekarang." Devan terdiam sesaat. "Aku hanya tidak ingin kamu menghadapi sesuatu yang tidak kamu ketahui sendiri."

Aira memperhatikan wajahnya, berusaha memahami maksud ucapan itu.

"Baik, Mas Devan."

Devan kemudian masuk ke ruang kerja tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Aira kembali duduk di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di perusahaan, tetapi ucapan Devan membuatnya menyadari bahwa persoalan pada malam perayaan belum sepenuhnya berakhir.

Sementara itu, di balik pintu ruang kerja, Devan kembali memeriksa berkas-berkas yang harus diselesaikannya. Persaingan menuju posisi penuh CEO Mahendra Group semakin dekat, dan ia tidak bisa membiarkan Hadi menentukan arah permainan.

Di sisi lain, Hadi juga belum berniat berhenti.

Baginya, pernikahan Devan hanyalah celah awal. Ia masih mencari cara untuk menjadikannya persoalan yang lebih besar sebelum RUPS berlangsung.

Bersambung...

1
Jesselyn Runtuwene
lanjut👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
lanjut👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!