Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Dibalik Dinding
Suara roda koper yang diseret di atas lantai marmer menggema pelan di area foyer penthouse. Pagi itu, matahari baru saja muncul tipis di balik bukit beton ibu kota, melemparkan pendar keabu-abuan yang terasa begitu dingin di dalam ruangan.
"Aku harus pergi selama tiga hari ke Singapura, Aisyah," ucap Ayden seraya membenahi kancing lengan kemeja putihnya di depan cermin foyer. "Rapat akuisisi ini tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun."
Aisyah berdiri berjarak dua meter di belakangnya, menggenggam cangkir teh hangat dengan jemari yang masih terasa kaku. Wajahnya yang pucat tersamar tipis oleh keremangan pagi. Setelah malam mengerikan pasca-kedatangan Ratih, lidahnya terasa seberat timah setiap kali harus berhadapan dengan Ayden.
Ayden memutar tubuhnya, mengulas senyum lembut yang tampak sangat sempurna di wajah tampannya. Ia melangkah mendekati Aisyah, memangkas jarak di antara mereka.
"Kamu masih murung karena wanita tua kemarin?" tanya Ayden pelan, mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Aisyah.
Aisyah menahan napas, berusaha tidak tersentak saat jemari hangat Ayden menyentuh kulitnya. "Tidak," bisiknya datar. "Aku hanya... masih agak pusing."
"Istriku butuh istirahat," balas Ayden lembut, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Aisyah. Sentuhan bibirnya terasa seperti jelaga membakar bagi Aisyah. "Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh selama aku pergi. Bi Sumi sudah kupesan untuk menyiapkan semua kebutuhanmu. Jika ingin keluar, katakan pada Pak Broto agar mendampingimu."
"Iya, Ayden," sahut Aisyah singkat.
"Aku berangkat sekarang, Sayang. Jaga dirimu baik-baik," kata Ayden seraya meraih gagang kopernya.
"Hati-hati di jalan," balaskan Aisyah dengan suara yang hampir tak berjiwa.
Begitu pintu utama tertutup rapat dan denting halus elevator menandai kepergian Ayden, bahu Aisyah meluruh seketika. Cangkir teh di tangannya bergetar hebat. Tiga hari. Ayden akan berada di luar negeri selama tiga hari penuh. Ini adalah satu-satunya celah yang tuhan berikan padanya untuk membedah seluruh kebohongan yang membelenggu hidupnya.
Siang harinya, Aisyah melangkah menyusuri lorong penthouse menuju bagian dapur utama. Bi Sumi sedang sibuk memotong sayuran di meja persiapannya.
"Bi Sumi?" panggil Aisyah pelan.
Wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum hangat. "Eh, Nyonya Aisyah. Ada yang bisa Bibi bantu? Nyonya mau dibuatkan sup hangat untuk makan siang?"
"Tidak usah, Bi," jawab Aisyah seraya duduk di kursi bar dapur. Ia sengaja memilin ujung bajunya, memasang raut wajah penasaran yang wajar. "Bi Sumi... Bibi kan sudah lama ikut keluarga Mas Ayden, bahkan sejak almarhumah ibunya Mas Ayden masih ada."
Bi Sumi menghentikan sabetan pisaunya, matanya menerawang penuh kenangan. "Ah, iya Nyonya. Bibi ikut Nyonya Maya—ibunya Mas Ayden—sejak Mas Ayden masih SMP. Nyonya Maya itu wanita yang sangat lembut dan penyayang."
"Mas Ayden jarang sekali cerita tentang almarhumah Ibunya," gumam Aisyah, mencoba memancing lebih jauh. "Bahkan tanggal lahir ibunya saja aku tidak tahu. Mas Ayden selalu menghindari topik itu."
"Oh, Nyonya Maya lahir tanggal belasan Juli, Nyonya," sahut Bi Sumi tanpa rasa curiga sedikit pun. "Tanggal 14 Juli 1972, kalau Bibi tidak salah ingat. Setiap tanggal 14 Juli, Mas Ayden pasti menyepi ke pemakaman seharian penuh, tidak mau diganggu siapa pun. Cinta Mas Ayden pada ibunya luar biasa besar."
14 Juli 1972. 14-07-72.
Aisyah mengulang deretan angka itu berulang kali di dalam benaknya bagaikan mantra. "Terima kasih ya, Bi. Aku mau istirahat di dalam dulu. Kalau ada apa-apa, Bibi tidak usah mengetuk kamar kerja Mas Ayden, aku mau tenang sebentar."
"Baik, Nyonya," jawab Bi Sumi patuh.
Langkah kaki Aisyah terasa begitu berat saat ia menyelinap masuk ke dalam ruang kerja pribadi Ayden di sudut terbawah penthouse. Ruangan beraroma kayu cendana dan kulit sintetis itu terasa begitu hening dan mengintimidasi.
Aisyah menutup pintu kayu tebal itu rapat-rapat dan memutar kuncinya dari dalam.
Matanya menyapu seluruh sudut ruangan, tertuju pada sebuah lukisan cat minyak berukuran raksasa yang menggantung di dinding sebelah barat—sebuah lukisan lanskap pemandangan laut malam yang kelam. Dengan tangan gemetar, Aisyah mendekati lukisan tersebut dan mendorong bingkai kayunya yang berat ke samping.
Dugaannya tepat. Di balik kanvas raksasa itu, tertanam sebuah brankas baja hitam modern bersensor tombol angka.
Lampu indikator brankas berkedip merah memanggilnya. Aisyah menarik napas dalam-dalam, mengusap keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Jemarinya melayang di atas papan tombol angka.
1 - 4 - 0 - 7 - 7 - 2.
Bip. Bip. Bip.
Suara mekanik lembut terdengar, disusul bunyi klik keras yang bergema di dalam ruangan yang sunyi. Lampu indikator berubah hijau. Pintu baja tebal itu perlahan meluncur terbuka.
Jantung Aisyah melonjak hebat hingga rasanya hendak meledak keluar dari rongga dadanya.
Di dalam brankas kedap udara itu, tersusun rapi beberapa batangan emas, paspor rahasia, serta tumpukan map berkas berwarna cokelat tua. Aisyah meraih tumpukan map terbawah yang paling tebal.
Saat ia membuka sampul map pertama, matanya membelalak sempurna. Di sudut atas lembaran kertas bertuliskan bahasa hukum yang kaku itu, tercetak jelas logo bergambar perisai emas yang sangat ia kenal sejak kecil: Dinantara Utama Group—perusahaan manufaktur milik almarhum ayahnya sendiri.
"Ini... berkas perusahaan Papa?" bisik Aisyah, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia membuka halaman demi halaman dengan napas yang makin tersenggal-senggal. Di sana terlampir lembaran audit eksternal rahasia, surat akuisisi saham ilegal, hingga salinan transfer bank bernilai puluhan miliar rupiah.
Namun, bukan itu yang membuat darahnya membeku.
Pada lembaran analisis keuangan paling belakang, tercantum skema konspirasi pembusukan aset secara sistematis. Sebuah nama perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman tercatat sebagai pembeli tunggal seluruh utang jatuh tempo Dinantara Utama. Dan di lembar ratifikasi pemilik manfaat (beneficial owner), tertera tanda tangan tebal yang sangat familiar baginya: Ayden Al-Ghazali.
Tanggal transaksi tersebut tercatat lima tahun yang lalu—tepat beberapa bulan sebelum ayahnya terserang serangan jantung fatal akibat kebangkrutan mendadak dan keputusasaan finansial.
Tiba-tiba, suara dering nyaring dari ponsel di saku celana Aisyah memecah kesunyian ruangan dengan sangat mengejutkan.
Aisyah melompat kecil, hampir saja menjatuhkan berkas-berkas berbahaya itu ke lantai. Dengan tangan gemetar hebat, ia mengambil ponselnya dan menatap layarnya.
Mas Ayden Calling...
Napas Aisyah berhenti seketika. Lidahnya mendadak kelu. Ia menelan ludah dengan susah payah, membiarkan dering itu berbunyi tiga kali sebelum akhirnya menggeser ikon hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Ha... halo, Ayden?" bisik Aisyah, berusaha keras menahan getaran histeris di suaranya.
"Aisyah? Sayang?" suara Ayden terdengar begitu jernih dan tenang dari ujung telepon, berlatar belakang riuh suara bandara. "Aku baru saja mendarat di Changi. Bagaimana keadaanmu di rumah?"
Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat, menggenggam lembaran bukti kejahatan Ayden di tangan kirinya hingga kertas itu remuk. "Aku... aku baik-baik saja, Ayden."
"Suaramu terdengar sangat serak dan putus-putus, Aisyah," tegur Ayden, nadanya berubah penuh perhatian dan selidik. "Kamu sedang di mana sekarang? Kamu tidak sedang menangis, kan?"
"Tidak!" potong Aisyah terlalu cepat. Ia berdeham keras, mencoba menetralkan suaranya. "Tidak, Ayden. Aku hanya... baru bangun tidur siang. Napasku agak sesak karena AC kamar terlalu dingin."
Keheningan menggantung di seberang telepon selama beberapa detik yang terasa bagaikan siksaan abadi. Aisyah menahan napasnya, takut jika detak jantungnya yang bergemuruh keras bisa terdengar menembus mikrofon ponsel.
"Benarkah hanya karena AC?" tanya Ayden pelan, suaranya merendah dengan intonasi dingin yang teratur. "Jangan membuatku cemas, Aisyah. Kamu tahu betul aku tidak suka jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku."
"Aku tidak menyembunyikan apa pun, Ayden," bisik Aisyah, air mata dingin mulai menetes meniti pipinya. "Aku hanya butuh istirahat. Selamat melakukan pertemuan bisnismu."
"Baiklah. Minum obatmu dan jangan keluar rumah tanpa Pak Broto," balas Ayden halus. "Aku mencintaimu, Aisyah. Ingat itu."
"Ya..."
Sambungan telepon terputus. Aisyah mencengkeram ponselnya erat-erat lalu melemparkannya ke atas sofa.
Ia kembali menatap kertas-kertas di tangannya di bawah sorot lampu meja yang temaram. Kalimat terakhir Ayden—Aku mencintaimu, Aisyah—kini bergema di dalam kepalanya bagaikan tawa ejekan iblis yang paling menyiksa.
Aisyah membaca kembali lembar demi lembar catatan instruksi transaksi keuangan di dalam folder tersebut. Ayden bukan sekadar investor yang memanfaatkan momentum kebangkrutan ayahnya. Ayden adalah dalang utama yang merancang kebangkrutan itu dari awal hingga akhir.