NovelToon NovelToon
Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.

Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.

"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.

"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.

Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Pemandangan Balkon Dini Hari

1 Minggu Kemudian.

Di ruang rawat inap, tampak Alunar sedang melakukan pemeriksaan terhadap kepala desa yang saat ini kondisinya sudah mulai stabil. 

“Bagaimana dengan keadaan saya, dok? Apakah saya sudah boleh pulang?” 

“Semuanya sudah dalam keadaan stabil. Jika sampai esok keadaan Bapak semakin meningkat. Saya merekomendasikan untuk pulang.” 

“Terima kasih banyak dokter Alunar atas pertolongan Anda dan juga kapten Sagara. Saya bisa selamat.” 

“Keadaan luar biasa bapaklah yang membuat perjuangan kami membuahkan hasil. Permisi, bapak dan juga Jaya. Saya izin melakukan pemeriksaan pasien lain.” 

“Silahkan, dok.” 

Setelah mendengar penjelasan dari dokter Alunar. Membuat jaya berinisiatif mengucapkan terima kasih kepada Sagara. 

Setelah mencari keberadaan Sagara. Akhirnya Jaya menemukan Sagara yang tengah selesai memimpin apel. Sehingga Jaya langsung menghampiri Sagara. 

“Pak Kapten!” panggil Jaya cepat. 

“Ada apa, Jaya?” 

“Terima kasih banyak atas bantuan Kapten dan juga tim. Kepala desa kami keadaannya semakin membaik dan kemungkinan besar besok diizinkan pulang,” jawab Jaya penuh semangat. 

"Sudah menjadi tugas kami menjaga warga di perbatasan," jawab Sagara datar tanpa ekspresi.

"Kembalilah jaga ketua adatmu. Tugas kami di sini belum sepenuhnya selesai sebelum beliau benar-benar bisa pulang," perintah Sagara. 

"Siap, Pak Kapten! Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak.

Alunar yang mengawasi dari balik jendela ruangan. Menyunggingkan sedikit senyum di wajah cantiknya. 

"Kenapa dia selalu bersikap seperti itu? Benar-benar sosok laki-laki menyebalkan," gerutu Alunar sambil berlalu. 

***

Ternyata sifat menyebalkan Sagara tetap berlanjut hingga seminggu kemudian. Terakhir dirinya berinteraksi dengan Sagara saat kepulangan kepala desa. Setelah kejadian itu, Sagara benar-benar menguji kesabaran Alunar. 

"Izin, dok, kami dilarang Ndan menyentuh barang-barang logistik medis ini," bisik bisik perawat Irma tidak enak pada Alunar.

"Kenapa begitu? Ini kan obat-obatan untuk kepentingan pos juga?" tanya Alunar bingung saat itu.

"Siap, kami hanya menjalankan perintah, dok. Maaf sekali.” 

Akibat perintah kejam yang diberikan Sagara. Alunar mengerjakan hampir semua hal seorang diri. 

"Baiklah, kalau tidak ada yang mau membantu. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri," gumam Alunar sambil menegangkan otot-otot di tubuhnya.

Tidak hanya urusan pemeriksaan. Melainkan mengangkat dan memindahkan kotak obat-obatan dari gudang logistik, membersihkan peralatan medis yang kotor, hingga menjemur sprei bekas pasien di bawah terik matahari seorang diri.

Dari semua itu. Yang menyebalkan kata-kata Sagara yang terdengar sangat menyakiti. Seperti saat ini Sagara lakukan kepadanya. 

"Bagaimana laporan medis pasien dari pedalaman hari ini, dokter Alunar?" tanya Sagara dengan tatapan tajam saat berpapasan di lorong. 

"Kondisinya membaik, Kapten. Namun saya membutuhkan sedikit tambahan pasokan air bersih untuk mencuci botol sampel, mensterilkan ruangan, hingga kebutuhan lainnya," jawab Alunar berusaha bersikap profesional. Meskipun rasa kesal menyelimuti dirinya.

"Tugas Anda di sini hanya mengobati pasien. Bukan bermanja-manja membawa gaya hidup kota ke markas saya," cetus Sagara dingin dengan tatapan mata yang menusuk.

Alunar menatap tidak percaya ucapan Sagara yang terdengar aneh dan sangat menyebalkan. Kesabarannya benar-benar sudah habis menghadapi laki-laki di hadapannya itu.

"Ini bukan untuk bermanja-manja, Kapten! Ini standar kebersihan medis! Bagaimana jika sampai terjadi kontaminasi silang?" sanggah Alunar dengan volume suara tinggi. Jujur dirinya tidak terima dengan tuduhan Sagara.

"Asal dokter Alunar tahu. Jika di perbatasan ini air bersih adalah barang mewah. Gunakan apa yang ada atau silahkan angkat kaki dari pos saya kalau Anda merasa tidak sanggup dengan fasilitas disini!” bentak Sagara sambil menatap tajam lalu pergi meninggalkan Alunar yang masih berdiri kaku dengan tubuh gemetar menahan amarah. 

"Alunar, jangan berpikir berlebihan. Dia bukan pahlawan seperti yang kamu kira. Dia hanyalah laki-laki menyebalkan yang harus dihindari," batin Alunar menahan kesal. 

Perlakuan Sagara yang terlampau keterlaluan terhadap Alunar. Membuat orang-orang di Poskotis merasa tidak tega. 

"Ndan Sagara keterlaluan sekali," bisik Oka kepada Arisandhi sambil memperhatikan Alunar yang masih berdiri di tempat sama. 

"Kamu benar, Oka. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya watak komandan kita," sahut Arisandhi. 

Baik Oka dan Arisandhi sama-sama berpikir keras mencari ide agar Sagara tidak memperlakukan Alunar dengan kasar. Hingga tiba-tiba otak cemerlang Arisandhi mendapatkan ide konyol.

“Oka.”

“Siap, Ndan.” 

“Mendekatlah! Aku memiliki ide agar Ndan Sagara tidak bersikap kasar lagi ke dokter Alunar.”

Arisandhi membisikkan ide konyolnya. Sangking konyolnya hingga membuat Oka menahan senyum.

“Anda yakin?” tanya Oka memastikan. 

“Tentu saja yakin.” 

“Kapan kita eksekusi, Ndan?” 

“Besok.” 

Entah apa yang dibisikkan Arisandhi ke telinga Oka. Yang jelas hanya mereka yang tahu dan untuk kebaikan Alunar juga Sagara. 

***

Tanpa disadari Alunar, dibalik kekejaman Sagara. Ternyata laki-laki itu diam-diam mengawasi dari balkon ruang kerjanya. 

Hurfff…

Entah sudah habis berapa batang. Yang jelas Sagara berdiri di tempat yang sama selama berjam-jam. 

"Kenapa belum tidur? Sebentar lagi akan menjelang pagi,” gumam Sagara sambil terus menatap bayangan Alunar. 

“Tidurlah! Esok bukan hari yang mudah untukmu,” ucap spontan Sagara khawatir dengan keadaan Alunar. 

“Astaga, apa yang kamu lakukan Sagara? Dia putri laki-laki yang telah menghancurkan keluargamu. Jangan pernah menggunakan hati padanya.” 

Perilaku aneh Sagara sejak kedatangan Alunar. Ternyata tidak luput dari perhatian Arisandhi yang kini langkah kakinya terdengar di telinga Sagara. 

"Kenapa belum istirahat, Sandhi? Bukankah esok ada jadwal patroli fajar di sektor barat?" tanya Sagara tanpa menoleh.

"Izin, Bang. Bagaimana bisa tidur nyenyak melihat Abang setiap malam berdiri seperti orang yang sedang dihantui?" tanya Arisandhi sambil menyalakan rokoknya 

Sagara menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat ke udara, mencoba bersikap acuh tak acuh pada bawahannya yang sudah lama mengenalnya. 

"Jangan bicara sembarangan. Aku  hanya memastikan perimeter keamanan," kilah Sagara berbohong. Memalingkan wajahnya ke arah hutan. Enggan jika sampai Arisandhi tahu isi pikirannya.

"Memastikan keamanan markas atau memastikan keadaan dokter Alunar baik-baik saja, Bang?" pancing Arisandhi. 

Mendengar nama Alunar disebut secara terang-terangan. Membuat rasa kesal yang menggelayut meluap.

"JANGAN LANCANG, LETNAN!”  

"Saya tidak lancang, Bang. Bukankah Abang sudah menganggap saya adik?” tanya Arisandhi mencoba bersikap tenang. Meskipun detak  jantungnya belum kembali normal karena bentakan Sagara. 

“Bukankah antara abang dan adik lumrah berbagi masalah?" 

Sagara kembali memalingkan wajahnya. Kembali menghisap rokok sebagai upaya menenangkan pikiran. 

"Saya tahu betul bagaimana hancurnya perasaan Abang saat kehilangan ayah dan kakak karena keputusan sepihak dari Jenderal Faza di masa lalu. Tapi tolong dengarkan saya sebagai adik kali ini, Bang," tutur Arisandhi lagi. 

"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, Sandhi? Semua sudah jelas. Keluarga mereka berhutang darah pada keluargaku.” 

“Bang.” 

“Aku masih mengingat rentetan luka tembak itu.  Ayah meninggal, mama menjadi janda yang berjuang untuk dua buah hatinya. Hingga rasa sakit kembali datang saat kakak sengaja mengakhiri hidup karena tekanan media dan masyarakat atas skandal menimpa ayah," sahut Sagara. 

“APA AKU HARUS MELUPAKAN SEMUA ITU, SANDHI?” 

"Tapi dokter Alunar tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, Bang!" tegas Arisandhi dengan volume suara yang sedikit ditekan agar Sagara tersadar.

"Beliau datang ke perbatasan ini murni karena tugas sebagai seorang dokter,” jelas Arisandhi. 

“Beliau tulus ingin menyembuhkan orang-orang pedalaman. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Abang?” tanya balik Sandhi. 

“Abang memperlakukannya dengan sangat kasar, melarang kami membantu. Bahkan sengaja membuat dia menderita seperti seorang budak di markas kita sendiri.” 

Sagara yang saat ini tangannya gemetar kembali menyalakan api membakar rokok untuk kesekian kalinya. 

“Beliau masih tetap bertahan dan tanpa mengeluh. Padahal diluar sana dia sangat dihormati.” 

“Keluarlah Sandhi. Aku tidak ingin membahas tentang dia,” usir Sagara yang membuat Sandhi tersenyum sinis. 

“Mulai dari pagi hingga sore, Abang menyiksa dengan tugas dan kata-kata kasar. Tapi, apa yang Abang lakukan?” tanya Arisandhi sambil menunjuk Sagara. 

“Abang berdiri dan selalu mengawasinya setiap malam,” lanjut Arisandhi. 

“Apa yang Abang lakukan tidak akan membuat ayah dan kakak Abang tenang. Yang ada, Abang sedang menghancurkan diri sendiri. Hingga membuat seorang perempuan yang tulus mengagumi berubah menjadi benci seumur hidup," tambah Arisandhi yang ingin meluapkan rasa kesalnya. 

"Kamu tidak mengerti posisiku, Sandhi," bisik Sagara. 

"Bagian mana yang tidak saya mengerti, Bang?" tanya Arisandhi menuntut penjelasan. 

"Setiap kali aku melihat wajahnya langsung teringat wajah ayah dan kakak. Membuat saya melarang bersikap baik pada siapa pun yang berhubungan dengan Manggala.” 

Arisandhi terdiam sejenak. Untuk saat ini dirinya pun juga ikut bingung. 

"Tapi ingat, Bang. Dendam salah sasaran hanya akan melahirkan luka baru. Tolong pikirkan baik-baik, sebelum besok Abang kembali membentak atau mengangkat kain seorang diri.” tambah Arisandhi.

"Saya izin kembali ke barak, Komandan. Selamat malam," pamit Arisandhi dengan sikap formal militer. 

Tidak ada balasan atau pembelaan keluar dari mulut Sagara. Dirinya hanya diam sambil memandangi kamar Alunar yang kini sudah gelap gulita.

1
syora
bayangin dua lki" berwatak kategori kering bersatu 🤣🤣🤣🤣
pasti dkt bnyk perjuangan saga agak sm sulitnya dgn faza dulu
bedanya saga htus lbh krja keras lg mlwan ego krna dendam
ika
ayo Sagara...
biar dapet restu dari jenderal Faza
🤭😍
ika
dredeg aku....
syora
alhamdulillah alunan slamat
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
Danny Muliawati
jangan terlalu benci nanti cinta loh 😜
Danny Muliawati
pasti jodoh ini mah 😄
ika
who is?
musuh siapa ini?
ika
akhir nya update juga...
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
Cichio23: siap kakak
total 1 replies
ika
hahaha....

kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
ika
ga sabar nunggu mereka jadian 🤭🤭🤭
ika
jreng jreng jreng....

silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
syora
benci bd tipis sm cinta
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
ika
wes ta lah ...
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
syora: setujuuuuu pkai👍👍👍👍👍tar klau alunan bnr" bnci blik
habis dah saga
total 1 replies
ika
lanjut kan saja Sagara...
mpe kpn kamu seperti itu???
syora
setuju posisi blh kapten tp klau nggak bs profesional buat apa
Fatimah Zubaedah
duh Sagara...Awas nanti jatuh cinta,cinta kepada alunar
ika
ayahmu yg jahat Sagara, kamu ga tau kan cerita nya?
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
Cichio23: Masa sih, Kak? Othor loh belum tahu🤭😄
total 1 replies
syora
padahal kamu blm tahu almarhum ayah dl seperti apa
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
ika
tegang cuy....
Fatimah Zubaedah
tahan nafas thorr bacanya😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!