NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tanpa Pasal

Pukul 20.00 WIB. Penthouse lantai 56.

Sejak Mama Olivia merobek kontrak itu siang tadi dan kembali ke Singapura sore ini, suasana penthouse aneh.

Tidak ada lagi map hitam di laci. Tidak ada lagi batas bantal. Tidak ada lagi Bu Ratna yang mengintip canggung. Mama Olivia sengaja menyuruh Bu Ratna pulang kampung 2 hari. Katanya, "Kasih pengantin baru waktu berdua."

Jadi malam ini, hanya ada Rafael dan Alya.

Alya baru selesai mandi. Ia memakai piyama satin panjang berwarna cream yang dibelikan Mama Olivia - bukan dress seksi, tapi sederhana dan sopan. Rambutnya masih basah. Ia duduk di sofa ruang tamu, gelisah, memeluk bantal.

Rafael keluar dari kamar kerja. Ia juga baru mandi, hanya memakai kaos putih polos dan celana tidur hitam. Perban di tangannya sudah diganti yang baru, lebih kecil. Luka di pinggangnya sudah tidak diperban. Ini pertama kalinya Alya melihat Rafael tanpa jas.

"Belum tidur?" tanya Rafael, suaranya pelan.

Alya menggeleng. "Belum ngantuk."

Hening. Hanya suara AC.

Rafael berjalan ke dapur, membuka kulkas yang masih ditempeli gambar keluarga karya Bima. Ia mengambil dua gelas susu - kebiasaan baru sejak Bima menginap dan protes karena tidak ada susu coklat.

"Minum," katanya sambil menyodorkan satu gelas ke Alya.

Alya menerima. Jari mereka bersentuhan.

Dulu, setiap sentuhan ada pasal yang mengatur. Sekarang tidak ada. Sentuhan itu jadi terasa lebih lama, lebih panas.

"Rafael," Alya memberanikan diri bicara. "Tadi Mama bilang... kontraknya sudah tidak ada. Jadi... kita sekarang apa?"

Rafael duduk di sofa, tidak jauh tapi tidak terlalu dekat. Ia menatap lampu kota Jakarta dari jendela kaca besar itu.

"Suami istri," jawabnya singkat.

"Suami istri yang gimana? Yang beneran atau yang masih"

Rafael memotong dengan menatap Alya. Tatapannya dalam.

"Kamu mau yang gimana?"

Pertanyaan itu dibalikkan ke Alya. Alya langsung gugup, memeluk bantal lebih erat.

"Saya... saya tidak tahu. Saya takut salah jawab. Dulu ada Pasal 2."

Rafael tersenyum tipis. Senyum kelima. "Pasal 2 sudah disobek Mama. Sekarang tidak ada yang melarang kamu jawab jujur."

Alya menunduk, memainkan ujung piyamanya. "Kalau saya jawab jujur... saya nyaman di sini. Nyaman sama kamu. Walaupun kamu kadang galak, kadang dingin... tapi kamu yang selamatkan Ayah saya, kamu yang jaga Dinda dan Bima... saya... saya tidak mau 365 hari itu selesai."

Pengakuan itu keluar dengan air mata yang langsung menetes ke susu.

Rafael terdiam lama. Lalu ia meletakkan gelas susunya, bergeser mendekat, dan dengan gerakan yang sangat pelan, ia menghapus air mata Alya lagi. Sudah jadi kebiasaannya.

"Kebiasaan buruk," bisik Rafael. "Nangis terus."

"Maaf"

"Jangan minta maaf terus juga. Itu juga kebiasaan buruk."

Alya tertawa kecil di sela tangisnya.

Rafael menarik napas panjang, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk rapat triliunan. Padahal ia adalah Rafael Virel yang tidak pernah takut pada siapa pun.

"Alya," katanya pelan. "Waktu saya buat kontrak itu, saya pikir saya butuh istri untuk Mama. Untuk perusahaan. Untuk menutupi gosip saya tidak normal karena tidak pernah dekat dengan wanita."

Alya mendengarkan.

"Tapi 10 hari ini, saya sadar..." Rafael menatap mata Alya lekat-lekat. "Saya yang butuh kamu. Bukan Mama. Saya. Penthouse ini 5 tahun sepi. Saya pulang hanya untuk tidur. Sejak kamu datang, ada suara Bima, ada Dinda yang berisik, ada kamu yang ngorok—"

"Saya tidak ngorok!" protes Alya sambil memukul lengan Rafael pelan.

Rafael tertawa. Tawa pertama yang benar-benar lepas, bukan senyum miring.

"Ngoroknya kecil," lanjutnya, lalu wajahnya kembali serius. "Saya tidak mau kamu pergi setelah 365 hari. Bahkan setelah kontrak disobek, saya tetap mau kamu di sini."

Jantung Alya berdebar seperti mau loncat.

"Rafael... itu artinya..."

Rafael tidak menjawab dengan kata-kata lagi.

Ia meletakkan gelas Alya, mengambil bantal yang dipeluk Alya dan melemparkannya ke lantai. Sekarang tidak ada penghalang di antara mereka.

Dengan satu tangan, ia meraih dagu Alya dengan lembut, mengangkatnya agar menatapnya.

"Kamu tanya tadi kenapa ciuman pertama di kening?" bisiknya, napasnya hangat menyapu wajah Alya. "Karena waktu itu ada Bima. Dan karena saya takut kalau saya cium kamu di bibir waktu itu, saya tidak bisa berhenti."

Alya membeku. Wajahnya merah padam. Ia bisa melihat jelas mata Rafael, hidungnya, bibirnya yang dekat sekali.

"Dan sekarang tidak ada Bima," lanjut Rafael dengan suara berat. "Tidak ada kontrak. Tidak ada Mama. Hanya kita."

Alya memejamkan mata, bukan karena takut, tapi karena pasrah. Ia mengangguk pelan, sangat pelan.

Itu adalah izin.

Rafael tidak langsung menciumnya. Ia menempelkan keningnya ke kening Alya dulu, seperti 3 hari yang lalu, memberikan waktu bagi Alya untuk mundur kalau tidak mau. Tapi Alya tidak mundur. Tangannya yang gemetar malah memegang lengan kaos Rafael.

Baru setelah itu, Rafael menunduk sedikit dan mencium Alya.

Ciuman kedua. Bukan di kening. Di bibir.

Lembut. Sangat lembut. Tidak menuntut, tidak kasar, tidak seperti yang Alya bayangkan dari seorang mafia. Ciuman itu seperti pertanyaan: _boleh?_

Alya menjawab dengan memejamkan mata lebih erat dan membalas ciuman itu dengan malu-malu.

Dunia seolah berhenti. Lampu Jakarta di luar jendela, suara AC, gambar keluarga di kulkas, semua hilang. Yang ada hanya mereka berdua di sofa besar itu.

Ciuman itu hanya beberapa detik, tapi setelah selesai, keduanya terengah-engah, kening masih menempel.

Rafael membuka matanya dulu. "Itu... tanpa pasal."

Alya masih memejamkan mata, wajahnya merah. "Tanpa pasal," bisiknya mengulang.

Rafael tersenyum dan menarik Alya ke dalam pelukannya, memeluknya dari samping di sofa. Alya yang awalnya kaku, akhirnya bersandar di dada bidang Rafael, mendengarkan detak jantungnya yang kencang - sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

"Rafael," panggil Alya pelan dalam pelukan itu.

"Hmm?"

"Besok... kalau Mama telepon dan tanya kita gimana, kita jawab apa?"

Rafael mengelus rambut Alya yang masih basah.

"Jawab saja... kita sedang mencoba memperpanjang kontrak. Selamanya."

Alya tertawa kecil dalam pelukan itu, lalu mengangguk.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 10 bab, mereka tidur di ranjang king size yang sama, tanpa batas bantal, tanpa kontrak, tanpa jarak.

Alya tidur di dada Rafael, memeluk kaosnya. Rafael tidur sambil memeluk Alya dengan satu tangan, tangan yang masih diperban tapi sudah tidak sakit lagi.

Di kulkas, gambar keluarga karya Bima masih menempel. Keluarga yang dulu hanya gambar crayon, malam ini terasa sedikit lebih nyata.

Bersambung...

1
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!