NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Di Garis Depan

​Dua hari berlalu sejak Aria menjejakkan kaki di ruang komando teknis bawah tanah markas Argantara. Cahaya dingin dari jajaran layar monitor raksasa memantulkan bayangan tegas di sudut matanya yang lelah namun tetap fokus. Jemari Aria menari tanpa henti di atas papan ketik mekanis, menyusun algoritma pemecah enkripsi untuk jalur komunikasi internal Kasino Royale Vane.

​Suara dentum pintu besi ganda yang terdorong kasar memecah keheningan ruangan.

​Tiga orang pria berbadan tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Di barisan terdepan, berdiri Marco—kepala divisi taktis lapangan klan Argantara yang baru saja kembali dari misi luar. Pria bertubuh tinggi besar dengan luka parut di rahang kirinya itu memandang sekeliling ruangan dengan raut wajah tidak puas, sebelum tatapan matanya yang sinis terkunci pada sosok Aria.

​"Jadi ini cewek yang dibilang Tuan Devan bakal memimpin bagian siber buat operasi Black Ledger?" suara Marco terdengar berat, kasar, dan sarat akan nada meremehkan.

​Dua anak buah di belakang Marco terkekeh pelan. Salah satu dari mereka mengunyah permen karet dengan gaya acuh tak acuh.

​Aria tidak langsung berbalik. Ia menyelesaikan satu baris skrip perintah di layarnya, menekan tombol Enter, lalu perlahan memutar kursinya untuk berhadapan langsung dengan ketiga pria itu. Tatapan mata Aria dingin, tenang, dan tanpa ekspresi.

​"Bisa ketuk pintu sebelum masuk?" ujar Aria datar, menyilangkan dadanya. "Atau divisi taktis tidak diajari tata krama dasar?"

​Otot rahang Marco mengetat. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di depan meja konsol tempat Aria duduk. Postur tubuhnya yang intimidatif sengaja diproyeksikan untuk menekan Aria secara mental.

​"Dengar ya, Mbak," bisik Marco tajam, menumpukan kedua tangannya yang berkulit kasar ke tepi meja. "Aku sudah mengabdi belasan tahun di klan Argantara. Nyawaku dan darah anak buahku sudah dipertaruhkan di ratusan pertempuran lapangan. Dan sekarang, Tuan Devan mau kami mempertaruhkan nyawa di Kasino Royale Vane cuma berdasarkan petunjuk dari seorang cewek pencuri yang bahkan tidak pernah pegang senapan serbu?"

​"Aku tidak butuh senapan serbu untuk melumpuhkan target," balas Aria tenang, menatap lurus ke dalam iris mata Marco yang memerah. "Satu ketukan jariku di papan ketik ini bisa mematikan seluruh alur udara di markasmu atau membekukan rekening penampunganmu dalam hitungan detik. Senjata api cuma alat buat orang yang tidak tahu cara menggunakan otak."

​Salah satu anak buah Marco di belakang terkekeh sinis lagi. "Bicara besar juga ini cewek. Paling cuma bisa retas situs e-commerce atau curi perhiasan murah."

​Aria menyunggingkan senyum tipis—senyuman kaku yang sarat bahaya. Tanpa membuang waktu untuk berdebat kusir, jemari lentiknya bergerak secepat kilat di atas papan ketik mikro yang terhubung ke pergelangan tangannya.

​TAK-TAK-TAK.

​Dalam jeda tiga detik, layar ponsel pintar yang berada di dalam saku kemeja taktis Marco mendadak menyala terang. Bip peringatan bernada tinggi meraung-raung dari dalam sakunya.

​Marco tersentak, bergegas menarik keluar ponselnya. Matanya membelalak kaget saat melihat layarnya menampilkan data pribadi yang sangat rahasia: lokasi safehouse tersembunyi miliknya, nomor rekening rahasia keluarga, hingga riwayat transaksi pribadi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun di klan.

​"Apa-apaan ini?!" bentak Marco, wajahnya merah padam karena terkejut bercampur amarah.

​"Itu data yang kutarik dalam waktu tiga detik," pungkasi Aria datar, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya elegan. "Kalau aku mau, detik ini juga seluruh tabungan masa tuamu akan kutransfer ke rekening organisasi amal di Afrika, dan lokasi rumah amanmu akan kukirimkan langsung ke ponsel orang-orang klan Vane."

​Marco menggeram. Rasa gengsi dan harga dirinya sebagai petinggi taktis terinjak-injak di depan para bawahannya. Dengan gerakan impulsif, tangan kekarnya yang tegap melayang ke depan, bermaksud mencengkeram kerah kemeja Aria untuk memberi pelajaran.

​Namun, Aria bukanlah wanita yang mudah disentuh.

​Sebelum jemari Marco sempat menyenggol kain kemejanya, Aria memiringkan tubuhnya dengan refleks yang sangat cepat. Tangan kirinya menepis pergelangan tangan Marco, sementara tangan kanannya menyambar pena taktis berujung runcing berbahan titanium yang tergeletak di atas meja.

​SLAP!

​Dengan satu tusukan presisi, ujung tajam pena titanium itu menancap kuat di sela-sela kayu meja jati, persis satu milimeter di samping kulit jempol Marco. Jika Marco bergerak satu milimeter saja ke kiri, tulang jarinya dipastikan sudah tembus.

​Marco membeku seketika. Keringat dingin mulai menyembul di pelipisnya. Kecepatan reaksi dan ketenangan mata Aria saat melakukan gerakan mematikan itu benar-benar di luar perkiraannya.

​"Coba sentuh aku sekali lagi," bisik Aria di depan wajah Marco, suaranya jatuh begitu dingin dan pekat hingga bulu kuduk ketiga pria itu berdiri tegak. "Dan aku pastikan pena ini menembus urat lehermu sebelum anak buahmu sempat menarik picu senjata mereka."

​Suasana di dalam ruang komando mendadak mendingin ke titik beku. Dua anak buah Marco refleks menarik senjata dari pinggang mereka, mengarahkannya tepat ke kepala Aria. Namun Aria sama sekali tidak berkedip. Matanya tetap mengunci pandangan Marco dengan keberanian mutlak yang tak tergoyahkan.

​"Ada keributan apa di sini?"

​Sebuah suara berat, dingin, dan penuh dominasi bergema dari arah pintu masuk.

​Seluruh orang di ruangan itu menegang. Devan Argantara melangkah masuk dengan langkah perlahan, mengenakan kemeja hitam yang tergulung rapi hingga lengan bawah. Dua pengawal pribadinya berdiri siaga di belakang. Tatapan mata Devan yang kelam memindai pemandangan di depannya: senjata yang teracung ke arah Aria, dan pena titanium yang tertancap rapat di dekat jari Marco.

​Aura intimidasi yang dipancarkan Devan begitu pekat hingga membuat udara di ruangan itu terasa menyesakkan.

​"Marco," panggil Devan pelan, namun nadanya sanggup membuat petinggi taktis itu merinding. "Apa aku pernah memberimu izin untuk mengarahkan senjata atau menyentuh mitramu?"

​Marco segera menarik tangannya dari meja, mundur dua langkah sembari membungkukkan badan dalam-dalam. Dua bawahannya dengan gemetar menurunkan senjata mereka kembali ke sarungnya.

​"Maafkan saya, Tuan Devan," sahut Marco dengan suara yang sedikit gemetar. "Saya cuma mau memastikan apakah... apakah wanita ini cukup tangguh untuk memimpin alur teknis operasi kita."

​Devan melangkah mendekat, berdiri tepat di antara Marco dan Aria. Ia melirik pena titanium yang masih tertancap di meja, lalu menatap Marco rapat-rapt.

​"Aria sudah membuktikan kemampuannya dengan meretas jaringan internal kita dalam waktu kurang dari empat menit," ujar Devan dengan kepastian mutlak. "Jika kamu atau anak buahmu meragukannya lagi, itu artinya kalian sedang meragukan keputusanku."

​"Saya mengerti, Tuan. Saya salah," jawab Marco pasrah, tak berani menatap langsung ke dalam mata sang bos mafia.

​Devan berpaling menatap Aria. Ada kilatan rasa tertarik dan kagum yang tersirat tipis di balik mata kelamnya saat melihat ketenangan wanita itu menghadapi tiga pria bersenjata.

​"Kamu tidak apa-apa, Aria?" tanya Devan, suaranya melembut secara signifikan—sebuah perubahan sikap yang membuat Marco dan bawahannya makin terperangah.

​"Aku baik-baik saja," balas Aria santai, menarik keluar pena titaniumnya dari meja kayu lalu merapikan posisi duduknya kembali. "Cuma gangguan kecil dari orang-orang yang terlalu banyak mengandalkan otot daripada otak."

​Devan terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang dingin. Ia lalu berpaling kembali ke arah Marco. "Mulai sekarang, Marco, divisi taktis lapanganmu berada di bawah koordinasi taktis Aria untuk simulasi Kasino Royale Vane. Jika dia minta data atau pergerakan tim, kamu laksanakan tanpa bantahan. Paham?"

​"Paham, Tuan Devan," tegas Marco seraya mengangguk cepat.

​"Sekarang keluar dari ruanganku," perintah Devan singkat.

​Marco dan kedua anak buahnya bergegas melangkah keluar dari ruang komando teknis tanpa berani menoleh lagi. Pintu besi ganda tertutup rapat kembali, menyisakan Devan dan Aria berdua di tengah pendar cahaya monitor.

​Devan melangkah mendekati meja konsol, menyandarkan pinggulnya di tepi meja persis di samping Aria. Pria itu menatap Aria dengan senyum tipis yang sarat intrik.

​"Aksi pertunjukan yang mengesankan, Little Bird," puji Devan pelan. "Penumpasan yang rapi tanpa perlu menumpahkan darah."

​"Aku cuma menegaskan batasan," balas Aria datar, melirik Devan dari sudut matanya. "Bawahanmu butuh diingatkan bahwa aku bukan pajangan di tempat ini."

​Devan mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan aroma woody yang hangat dari tubuhnya kembali mengurung Aria. "Bagus. Karena di dunia mafia, rasa takut dan rasa hormat adalah dua hal yang mengunci kepatuhan. Dan malam ini... kamu baru saja mendapatkan keduanya."

​Aria tidak membalas ucapan Devan. Ia memilih memutar kembali kursinya menatap jajaran layar monitor, membiarkan jemarinya kembali menari di atas papan ketik. Namun di dalam dadanya, Aria menyadari satu hal: bentrokan ini baru awal dari ujian kekuasaan di dalam istana kegelapan milik Devan Argantara.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!