NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JUMAT DIMAJUKAN HARI INI

"Kamu tidak boleh ikut ke luar kota hari Jumat, Mas. Apa pun alasannya."

Sinta mengucapkannya tanpa basa-basi, begitu pintu toko bangunan itu tertutup di belakangnya. Aroma semen, cat, dan besi berkarat menyergap hidungnya. Di balik meja kasir yang penuh nota, Damar mendongak dengan mata merah dan kantong hitam di bawahnya. Lelaki itu jelas tidak tidur semalaman.

"Sin? Kamu... kamu ngapain ke sini? Kalau Ibu tahu..."

"Ibumu sedang di salon bersama Melia, mencoba sanggul pengantin. Tari yang mengikutinya sejak pagi." Sinta menarik kursi plastik dan duduk tanpa diundang. "Aku punya waktu satu jam. Jadi dengarkan baik-baik."

"Aku capek, Sin."

"Aku juga."

Damar menelan ludah. Pipi kirinya masih membiru bekas tamparan ibunya semalam. Ia menyandarkan punggung ke dinding, memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan tatapan kalah.

"Pak Hendra mengajakku ke Semarang hari Jumat. Katanya ada dokter spesialis terbaik di sana. Mau memeriksa ulang, cari cara supaya aku bisa punya anak." Suaranya merendah, hampir malu. "Aku... aku mau coba, Sin. Siapa tahu masih ada harapan."

"Harapan." Sinta mengulang kata itu pelan, nyaris mencicipinya. "Mas, orang yang menandatangani vonis kemandulanmu dua tahun lalu, dan menyimpannya rapat-rapat bersama ibumu, tiba-tiba sekarang punya solusi?"

"Dia dokter."

"Dia ayah dari perempuan yang akan menikah denganmu dua minggu lagi."

"Maksudmu apa?"

"Maksudku, kenapa baru sekarang?" Sinta mencondongkan badan. "Dua tahun lalu kamu butuh pengobatan. Kenapa mereka diam? Kenapa baru ribut mencari solusi setelah Melia siap dinikahkan?"

Damar membuka mulut, tapi tak ada jawaban yang keluar. Tangannya mencengkeram tepi meja kasir sampai buku-bukunya memutih.

"Aku dapat kabar dari seseorang yang tahu," lanjut Sinta, menjaga suaranya tetap rendah. "Jumat itu bukan perjalanan pemeriksaan. Ada rencana lain. Dan aku tidak yakin kamu akan pulang."

"Kabar dari siapa?"

"Itu tidak penting."

"Penting buatku!" Damar mendadak meninggikan suara, lalu buru-buru mengecilkannya setelah melirik ke kaca depan toko. "Sin, kamu bicara seolah Pak Hendra mau membunuhku. Dia dokter! Dia orang tua Melia! Kenapa dia mau mencelakakanku?"

"Karena kamu satu-satunya orang yang bisa membuktikan bahwa anak di perut Melia bukan anakmu."

Hening jatuh seperti batu.

Damar menatap Sinta, lalu perlahan wajahnya berubah, bukan terkejut, tapi lebih seperti orang yang akhirnya mendengar suara yang selama ini ia bungkam sendiri.

"Kamu tahu soal itu," bisiknya.

"Kamu juga tahu."

"Aku tidak tahu. Aku cuma..." Damar menggeleng pelan. "Aku cuma curiga. Waktu Melia datang minggu lalu, dia muntah di kamar mandi tamu pagi-pagi. Aku dengar dia menangis. Aku tanya, dia bilang masuk angin. Tapi Ibu langsung buru-buru membawanya pergi dan menyuruhku tidak usah ikut campur."

"Dan kamu diam."

"Aku diam."

"Seperti biasa."

Kali ini Damar tidak membantah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan, bahunya turun, dan untuk pertama kalinya Sinta melihat sesuatu yang jarang tampak di wajah suaminya: rasa jijik pada dirinya sendiri.

"Aku bodoh sekali, ya, Sin?"

"Bukan bodoh. Penakut." Sinta berdiri, mengitari meja, dan berhenti tepat di depannya. Wajahnya lurus, suaranya dingin, tapi tak ada kebencian di sana. Hanya kejujuran yang pahit. "Orang bodoh tidak tahu apa yang terjadi. Kamu tahu semuanya, Mas. Kamu hanya memilih nyaman."

"Terus aku harus bagaimana?"

"Berhenti menjadi anak ibumu."

"Dan setelah itu?"

"Setelah itu terserah kamu. Mau jadi laki-laki, atau terus jadi bayangan."

Damar menatapnya lama. Dadanya naik turun. Lalu, perlahan, seperti orang yang menelan sesuatu yang pahit, ia mengangguk.

"Aku akan ikut hari Jumat."

"Mas!"

"Dengar dulu." Damar meraih tangan Sinta, genggamannya dingin dan basah oleh keringat. "Kalau aku menolak, mereka curiga. Kalau mereka curiga, mereka akan lebih hati-hati dan kamu kehilangan kesempatan mencari bukti. Aku ikut. Tapi aku akan membawa ponselku, merekam semuanya, dan mengabarimu setiap jam."

Sinta menatapnya, tak percaya. "Kamu mau jadi umpan?"

"Aku sudah terlalu lama jadi beban."

Kalimat itu, sederhana dan lirih, menghantam Sinta lebih keras daripada seluruh tangisan Damar sebelumnya. Untuk sesaat, bayangan lelaki yang dulu ia nikahi melintas di kepalanya, lelaki yang membawakan bakso pinggir jalan saat ia demam, yang menggenggam tangannya di bawah hujan, yang pernah berjanji tak akan pernah membiarkannya sendirian.

Lelaki itu masih ada di suatu tempat. Terkubur dalam di bawah tiga puluh tahun ketakutan.

Tapi Sinta tidak membiarkan matanya melembut.

"Satu syarat," katanya. "Jangan percaya siapa pun, termasuk aku. Kalau ada apa-apa, kirim lokasi ke nomor ini." Ia menyodorkan kertas kecil berisi nomor Tari. "Dan jangan makan atau minum apa pun yang diberikan Pak Hendra."

"Kamu serius?"

"Aku tidak pernah lebih serius."

Damar memasukkan kertas itu ke dompet. Tangannya gemetar, tapi ia menyimpannya baik-baik. "Sin, kalau semua ini selesai... apa kita..."

"Jangan tanya itu sekarang."

"Aku hanya mau tahu apakah masih ada tempat untukku."

Sinta menatapnya lama. Di luar toko, truk pengantar semen mengerem keras, suara klakson bersahutan. Di dalam, keheningan merambat seperti lumut di antara mereka berdua.

"Mas," katanya akhirnya, "tujuh tahun aku menunggu kamu berdiri di sampingku. Kamu baru melangkah satu langkah hari ini. Jangan minta aku menghitungnya sebagai perjalanan."

"Aku mengerti."

"Bagus."

Ia berbalik hendak pergi, tapi langkahnya berhenti saat matanya menangkap bayangan mobil sedan hitam yang terparkir diam-diam di seberang jalan. Kaca depannya gelap, mesin menyala pelan. Plat nomornya ia kenal. Itu mobil Pak Hendra.

Sinta menegang. Tanpa menoleh, ia berbisik rendah. "Mas, jangan lihat ke luar. Pak Hendra di seberang jalan."

"Apa?"

"Sudah berapa lama dia di sana?"

"Aku tidak tahu. Aku tidak..."

Pintu toko berdenting. Bel kecil di atas kusen bergoyang. Seorang lelaki bertubuh besar berdiri di ambang pintu, jaket hitamnya menutupi bahu lebar, wajahnya setengah tertutup topi pet yang ditarik rendah. Bau rokok dan tanah basah menyusup ke ruangan, mengiringi langkahnya yang berat dan tenang.

"Selamat pagi, Mas Damar," sapa lelaki itu dengan suara serak, nyaris tanpa nada. Matanya bergeser sekilas ke arah Sinta dan menahan sorot yang membuat tengkuknya meremang. "Wah, ada Mbak Sinta juga rupanya. Kebetulan sekali."

Sinta mengenal suara itu. Ia belum pernah bertemu langsung, tapi suara itulah yang berbisik di balik pintu paviliun malam itu: *dobrak pelan-pelan.*

"Pak Wiryo," bisik Damar.

"Betul." Lelaki itu tersenyum tipis tanpa menunjukkan gigi. Ia melepas topinya, memperlihatkan wajah persegi dengan bekas luka memanjang dari pelipis ke rahang. "Pak Dokter sudah menunggu di mobil. Beliau minta Mas Damar ikut sekarang."

"Sekarang? Bukannya Jumat?"

"Jadwalnya dimajukan." Pak Wiryo melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangnya, lalu memutar kunci toko dari dalam tanpa terburu-buru. Bunyi *klik* itu memenuhi ruangan sempit itu seperti tanda berakhirnya semua jalan keluar. "Dan karena Mbak Sinta kebetulan ada di sini, sekalian saja ikut. Pak Dokter ingin sekali mengobrol dengan Mbak."

Sinta mundur satu langkah. Punggungnya menyentuh rak cat. Tangannya meraba saku jaket, menemukan ponsel kecil, dan menekan tombol darurat yang sudah ia atur ke nomor Tari.

"Kalau saya menolak?" tanyanya tenang.

Pak Wiryo menatapnya lama, lalu menjawab dengan nada paling ramah yang pernah ia dengar dari seorang pembunuh.

"Mbak masih ingat Mas Reza, montir di terminal lama? Tadi pagi dia menemui Mbak di warung kopi. Dan sekarang, ada dua orang saya yang sedang menunggu di depan bengkel barunya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!