NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Ssh...

Desisan angin tajam meluncur deras mengarah ke leher Arya.

Arya langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah berdebu dengan gerakan refleks cepat.

Bilah pedang tajam itu melintas lewat tepat di atas helaian rambutnya.

"Sialan, hampir saja kepalaku copot dari leher," batin Arya merinding ketakutan setengah mati.

Komandan pasukan berbadan kekar itu mendengus kaget melihat serangannya meleset.

"Bisa-bisanya kamu menghindari tebasanku, tikus got!" murka sang komandan.

Ia tidak memberikan waktu bagi Arya untuk bernapas dan langsung melayangkan tendangan keras.

Brak...

Tendangan itu mengenai tanah tepat di samping pinggang Arya.

Arya merasakan getaran kuat menjalar di lantai semen yang retak.

"Kalau aku kena tendangan itu, tulang rusukku pasti remuk berkeping-keping," pikir Arya panik.

Arya memanfaatkan momentum saat kaki komandan itu menapak di tanah.

Ia langsung merangsek maju menembus pertahanan terbuka sang komandan.

Jari tangannya menekan kuat titik saraf di bawah lutut musuh.

Krek...

Bunyi sendi bergeser terdengar bersamaan dengan erangan kesakitan sang komandan.

"Argh... kakiku lumpuh?!" pekik komandan itu kaget setengah mati.

Ia langsung kehilangan keseimbangan dan berlutut kesakitan di hadapan Arya.

"Makanya jangan suka meremehkan tukang pijit keliling," sindir Arya dengan napas terengah-engah.

Anak buah pasukan elit yang melihat komandan mereka tumbang langsung panik bukan main.

"Komandan! Ada apa dengan kaki Anda?!" teriak salah satu prajurit histeris.

Vanya yang berdiri di ambang pintu mendengus dingin melihat pemandangan tersebut.

"Gerakanmu masih terlalu lambat, Arya, butuh waktu lama untuk menjatuhkan satu orang saja," kritik Vanya tajam.

"Kalau kamu hebat, kenapa nggak dari tadi kamu yang maju sendiri?!" balas Arya sewot.

Vanya menyeringai lebar, matanya memancarkan kilat merah menyala penuh percaya diri.

"Baiklah, biar kubereskan sisa sampah-sampah pengganggu ini dalam sekejap," ucap Vanya berbahaya.

Sebelum Arya sempat mencegah, Vanya melangkah keluar dari ambang pintu kontrakan.

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan ke udara bebas.

Srrrt...

Udara di sekitar gang sempit itu mendadak berubah menjadi sangat dingin membekukan.

Embusan angin hitam pekat berputar kencang di telapak tangan sang Ratu Iblis.

Puluhan prajurit elit istana yang melihat pemandangan itu seketika gemetar ketakutan luar biasa.

"M-Monster! Wanita itu bukan manusia biasa!" teriak salah satu prajurit pucat pasi.

"Lari... cepat lari dari sini!" komando prajurit lain panik luar biasa.

Namun terlambat, gelombang energi hitam itu sudah menyebar ke seluruh penjuru gang.

Bum...

Gelombang kejut tak kasat mata menghantam seluruh prajurit secara bersamaan.

Puluhan prajurit elit itu terpental ke belakang dan jatuh pingsan tak sadarkan diri dalam hitungan detik.

Suasana di gang sempit itu mendadak senyap mencekam tanpa suara tersisa.

Arya menelan ludahnya mentah-mentah melihat kekuatan mengerikan yang dikeluarkan Vanya.

"Sudah kubilang, jangan bikin aku repot," kata Vanya santai sambil merapikan bajunya.

"Iya iya, ratu iblis memang paling benar sedunia," balas Arya lemas.

Ia menatap puluhan prajurit yang tergeletak pingsan menutupi jalan gang.

"Kalau mereka sadar dan lapor lagi, kita pasti bakal diserang pasukan yang lebih besar besok," kata Arya cemas.

Vanya menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah Arya dengan kening berkerut.

"Lalu apa rencanamu sekarang? Mau tetap bersembunyi di kandang tikus ini?" tanya Vanya menyelidik.

Arya mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin.

"Mau tidak mau kita harus segera pindah dari kontrakan ini sebelum pasukan utama datang," jawab Arya tegas.

"Pindah ke mana? Tempat busuk seperti ini kan banyak di kota manusia," cibir Vanya.

"Kita pergi ke pinggiran kota bagian barat, di sana ada daerah kumuh terpencil yang jarang dijamah prajurit istana," jelas Arya.

Vanya mendengus pelan, tanda menyetujui usulan logis dari si tukang pijit.

"Terserah padamu, asal jangan membuatku tidur di tempat yang lebih kotor dari ini," ujar Vanya ketus.

Arya segera masuk kembali ke dalam ruangan sempit untuk membereskan barang-barang miliknya.

Ia memasukkan botol minyak pijit herbal, pakaian ganti, dan sisa keping uang ke dalam tas usang.

"Semuanya sudah beres, kita berangkat sekarang sebelum ada yang curiga," ajak Arya.

Mereka berdua berjalan melangkah keluar melewati tumpukan prajurit elit yang masih pingsan.

Warga sekitar yang mengintip dari balik jendela tampak ketakutan setengah mati melihat kejadian itu.

"Jangan berani-berani melapor pada siapapun kalau masih mau selamat," ancam Arya melirik warga sekitar.

Warga langsung menutup jendela rumah mereka rapat-rapat karena ketakutan.

Arya dan Vanya berjalan berdampingan meninggalkan kawasan kontrakan lama menuju tempat persembunyian baru.

Perjalanan menuju pinggiran kota barat memakan waktu hampir satu jam penuh dengan berjalan kaki.

Suasana di daerah barat terasa jauh lebih sepi dan dipenuhi bangunan tua terbengkalai.

"Nah, kita sampai di sini, tempat ini cukup aman untuk sementara waktu," kata Arya berhenti di depan rumah reyot.

Vanya menatap bangunan tua berdebu itu dengan sebelah alis terangkat tinggi.

"Tempat ini bahkan lebih hancur dari kontrakan sebelumnya," komentar Vanya jijik.

"Sudahlah bersyukur saja masih ada tempat berteduh gratis di saat kita jadi buronan," balas Arya santai.

Arya membuka pintu kayu reyot itu dan mulai membersihkan debu tebal di dalamnya.

Vanya melangkah masuk dengan ragu-ragu sambil mengibaskan debu di udara menggunakan tangannya.

"Sialan, nasibku sebagai Ratu Iblis benar-benar jatuh ke titik terendah," keluh Vanya kesal.

"Udah terima saja nasib, siapa suruh kamu kabur dari istana sampai terluka parah di hutan," ledek Arya.

Vanya mendelik tajam ke arah Arya dengan kilatan mata merah yang kesal.

"Awas ya, kalau kekuatanku sudah pulih, orang pertama yang kuhabisi adalah kamu!" ancam Vanya geram.

"Iya silakan ancam sepuasnya, sekarang bantu aku bersihkan lantai ini," suruh Arya tanpa beban.

[Peringatan Sistem: Hubungan Host dan Target mengalami perkembangan signifikan.]

[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +10 poin sistem total menjadi 45 poin.]

Suara dengungan sistem itu kembali berputar di kepala Arya tanpa bisa dicegah.

Arya menghela napas panjang, mengabaikan suara sistem yang terus-menerus mengganggunya.

Ia mulai menyapu lantai berdebu sementara Vanya terpaksa duduk di sudut ruangan dengan wajah cemberut.

Hari mulai menjelang sore, suasana di rumah reyot baru itu terasa cukup tenang.

Namun Arya tahu betul bahwa masalah dengan istana belum benar-benar selesai sampai di sini.

Tabib istana pasti akan mengerahkan kekuatan yang jauh lebih besar untuk memburu mereka berdua.

"Kita harus bersiap menghadapi masalah yang lebih rumit ke depannya," gumam Arya serius.

Vanya melirik sekilas ke arah Arya, melihat keseriusan di wajah sang tukang pijit.

"Selama aku ada di sini, tidak ada satupun manusia istana yang bisa menyentuhmu," ucap Vanya dingin.

Arya terkejut sejenak mendengar ucapan penuh percaya diri dari sang Ratu Iblis.

"Wah, tumben banget ratu galak ini ngomong begitu, kesambut apa nih?" puji Arya menggoda.

Wajah Vanya langsung merona merah padam karena malu ketahuan berbicara jujur.

"Diam kamu! Aku berkata begitu karena tidak mau repot kalau kamu mati duluan!" elak Vanya sewot.

"Iya deh yang gengsi mau ngaku peduli," balas Arya terkekeh geli.

Suasana sore itu ditutup dengan tawa kecil dan perdebatan kecil yang menghiasi rumah reyot baru mereka.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!