Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 (KASUS 2) MAYAT TIGA LELAKI DEWASA
Lampu rotator sirine berwarna merah dan biru memancar terang, membelah kepekaan malam di kawasan industri Jakarta Timur.
Sekitar 1,5 jam perjalanan menempuh jalur lintas tol dari pedesaan Parung, mobil SUV dinas kepolisian abu-abu gelap yang dikemudikan Ipda Harumi akhirnya bergerak memperlambat lajunya.
Kendaraan taktis itu berbelok memasuki gerbang besi tinggi bertuliskan PABRIK TEKSTIL 'TIRTA BUSANA'.
Kawasan pabrik seluas 5 hektar itu tampak begitu lengang, temaram, dan mencekam.
Bangunan-bangunan gudang beratap seng gelombang menjulang kaku di bawah guyuran cahaya lampu merkuri jalanan yang redup.
Di sekeliling area pekarangan parkir utama, empat unit mobil patroli Sabhara Polsek Cakung dan tiga unit mobil ambulans Dokpol Bhayangkara telah terparkir rapi dengan lampu kilat yang terus berkedip-kedip.
Garis polisi (police line) berwarna kuning-hitam terbentang rapat mengelilingi pintu rol besi raksasa yang menjadi akses masuk utama menuju Gedung Utama Pencelupan dan Pewarnaan Tekstil.
Klek...
Ipda Harumi dan dr. Haruma melangkah keluar dari kabin SUV dinas.
Harumi mengenakan kemeja dinas cokelat taktis lengkap dengan holster pistol Glock-17 di pinggangnya, sementara dr. Haruma mengenakan jas laboratorium putih Dokpol Bhayangkara seraya menjinjing Koper Kit Otopsi Lapangan Steril di tangan kanannya.
Aroma di udara sekitar gedung pabrik tersebut terasa amat sangat mengganggu indera penciuman.
Bau tajam bahan kimia industri pencampuran warna, cairan amoniak, dan serat kain sintetis basah berbaur sengit dengan aroma bau busuk bangkai yang terbakar, uap belerang, serta keharuman minyak mistis yang teramat sangat pekat!
"Aroma bahan kimia pewarna kain ini kuat banget, Kak..." bisik Ipda Harumi seraya menaikkan masker medis hitamnya hingga menutupi hidung dan mulut. "Tapi di balik bau kimia ini... Mata Batin Rumi bisa merasakan adanya pendaran energi sihir hitam yang sama persis seperti di penthouse Jonathan Nasution!"
dr. Haruma merapikan sarung tangan latex sterilnya, menatap ke arah pintu rol besi pabrik dengan pandangan mata forensik yang amat sangat tajam.
"Iya, Dek," sahut dr. Haruma dengan suara lembut namun tegas. "Kadar keasaman udara di sekitar sini sangat tidak wajar. Ada pembusukan jaringan fisik secara paksa yang terjadi di dalam sana. Mari kita masuk, Rumi."
Baru lima langkah dua srikandi itu mengayunkan kaki menyeberangi garis polisi...
"Selamat malam, Bu Kanit Harumi! Dokter Haruma!" seru sebuah suara dari arah kerumunan petugas.
Bripka Dedi—anggota Tim Opsnal Jatanras—bersama Aiptu Teguh dan lima orang petugas Tim Inafis Polres Metro Jakarta Timur bergegas melangkah mendekat, memberikan hormat tegap dengan rasa hormat yang amat sangat tinggi.
"Selamat malam, Dedi, Teguh," balas Harumi tegas seraya membalas hormat. "Gimana situasi keamanan perimeter luar?"
"Siap, Bu Kanit!" Bripka Dedi melaporkan dengan intonasi cepat dan teratur. "Perimeter luar pabrik sudah dikunci total oleh personel Polsek Cakung. Seluruh saksi mata yang terdiri dari dua orang petugas satpam malam dan satu orang pengawas shift pabrik sudah kita amankan di pos penjagaan untuk dimintai keterangan awal."
Aiptu Teguh menyerahkan sebuah papan jalan berklip berisi lembaran formulir Laporan Awal Olah TKP kepada Harumi.
"Izin menambahkan, Bu Kanit..." pangkas Aiptu Teguh dengan nada suara rendah yang dipenuhi ketegangan. "Penemuan tiga mayat ini pertama kali dilaporkan oleh satpam pabrik bernama Pak Sukardi pada pukul 20.00 WIB saat melakukan patroli rutin. Beliau mencium aroma hangus yang sangat menyengat dari arah Gedung Pencelupan Warna. Saat diperiksa ke dalam... tiga orang pekerja pabrik ditemukan sudah meninggal dunia di dalam wadah mesin pencampur warna."
Harumi menerima papan laporan tersebut, melirik ringkasan data awal seraya menatap Aiptu Teguh lurus-lurus.
"Apakah ada tanda-tanda kerusakan paksa pada pintu masuk atau indikasi perampokan barang berharga pabrik?" tanya Harumi cermat.
Aiptu Teguh menggelengkan kepalanya mantap. "Nihil, Bu Kanit. Seluruh pintu kunci otomatis pabrik masih dalam keadaan terkunci dari dalam. Kamera CCTV utama di koridor depan juga mendadak mati (glitch) secara misterius tepat pada pukul 19.15 WIB."
dr. Haruma memajukan langkahnya, menatap pintu masuk gedung pencelupan.
"Kamera CCTV mati bersamaan dengan perkiraan waktu kematian korban..." tutur dr. Haruma dengan analisa forensik yang presisi. "Itu artinya pelaku bertindak sangat rapi dan terencana. Pak Teguh, tolong pandu kami ke titik lokasi tiga mesin pencampur warna tersebut sekarang."
"Siap, Dokter Haruma! Mari ikuti saya!" pandu Aiptu Teguh seraya menyalakan lampu senter taktis berdaya tinggi.
Srek... Kreeeeek!
Pintu rol besi raksasa terdorong terbuka selebar satu meter.
Ipda Harumi, dr. Haruma, bersama Tim Inafis dan Tim Opsnal melangkah masuk melintasi garis polisi menuju area dalam Gedung Pencelupan Tekstil.
Suasana di dalam aula pabrik seluas 2.000 meter persegi itu sungguh teramat remang-remang dan mencekam.
Lampu-lampu tabung neon di langit-langit baja tampak berkedip-kedip redup, memancarkan bunyi dengung listrik yang konstan (bzzzzzt... bzzzzzt...).
Ratusan gulungan kain bahan mentah menumpuk tinggi di sisi kiri dan kanan koridor.
Namun, di bagian tengah aula utama...
Berdiri tiga buah mesin tangki pencampur warna pakaian industri (Industrial Dyeing Mixer Tanks) berukuran raksasa.
Masing-masing mesin tangki baja berdiameter 3 meter itu memiliki tangga besi lingkar, baling-baling pengaduk baja di bagian dalam, serta pipa-pipa penyalur cairan pewarna bertekanan tinggi.
Di sekeliling tiga tangki baja tersebut, hawa dingin yang amat membekukan bertiup mengalun pelan.
Pendaran asap tipis berwarna keabu-abuan membumbung dari bibir atas ketiga mesin pencampur warna.
"Astagfirullahal'adzim..." gumam Bripka Dedi menahan napas seraya memegangi gagang senjatanya. "Tolong berhati-hati, Bu Kanit... Posisinya benar-benar mengerikan."
Ipda Harumi dan dr. Haruma menaiki anak tangga besi inspeksi menuju platform atas mesin pencampur warna nomor satu.
Lampu senter taktis di tangan Harumi menyorot lurus ke dalam mulut tangki baja berkapasitas 5.000 liter tersebut.
Sorot cahaya senter menembus kegelapan tangki...
Dan seketika itu juga...
Pemandangan mengenaskan di dalam sana terpampang secara teramat sangat nyata!
MAYAT PERTAMA (TANGKI PENCAMPUR WARNA MERAH TUA / CRIMSON DYE):
Di dalam tangki mesin nomor 1 yang berisi sisa endapan cairan pewarna tekstil berwarna merah tua pekat...
Tergeletak sesosok mayat laki-laki dewasa berusia sekitar 40 tahun.
Mayat laki-laki yang mengenakan seragam teknisi pabrik berwarna biru itu tersangkut dalam posisi tersungkur miring di antara dua bilah pisau pengaduk baja raksasa.
Namun...
ama sekali tidak ada darah yang mengalir dari tubuh korban!
dr. Haruma berlutut di platform atas, menyorotkan lampu pemeriksaan forensiknya ke arah wajah dan dada mayat pertama.
"Lihat kondisi fisik korbannya, Rumi..." tunjuk dr. Haruma dengan nada suara ilmiah yang tenang namun berbobot. "Sangat tidak wajar secara patologi forensik biasa."
Ipda Harumi membungkuk, matanya membelalak menatap mayat tersebut dari atas.
Kulit di seluruh raga mayat pertama itu tampak mengering kaku, keriput berkerut pekat, dan berwarna keabu-abuan seperti mumi kayu tua!
Seluruh cairan tubuh, lemak subkutan, dan aliran darahnya seolah-olah telah disedot habis secara paksa dari dalam.
Pipi mayat itu kempot hingga tulang rahangnya menonjol tajam, dan sepasang kelopak matanya terbelalak kering menatap kosong ke atas.
"Gila..." bisik Harumi dengan dada berdesir hebat. "Ini... ini persis banget sama kondisi fisik almarhum Jonathan Nasution di penthouse, Kak! Kulitnya mengering kaku tanpa cairan tubuh!"
dr. Haruma menggunakan pinset steril dari kit-nya untuk memeriksa area leher belakang mayat pertama. Ia menyingkap kerah seragam teknisi korban yang agak mengeras.
"Bukan cuma kulitnya yang mengering, Dek..." pangkas dr. Haruma jernih. "Coba perhatikan area pangkal leher dan dada atas korban ini."
Ipda Harumi mendekatkan lampu senternya.
Di atas permukaan kulit leher belakang mayat pertama—tepat di atas kulit keriput berwarna keabu-abuan itu—tercetak sebuah LUKA BAKAR GEOMETRIS MIKROSKOPIS BERBENTUK TIGA LINGKARAN BERSILANG DENGAN SIMBOL KEPALA IBLIS TANDUK TIGA!
Cap luka bakar itu berwarna hitam legam, mengeluarkan pendaran sisa kalium belerang yang memancarkan aroma sengat mistis!
"Cap luka bakar geometris iblis..." gumam Harumi dengan nada suara dingin dan tegas. "Ini petunjuk nomor dua! Sihir pembungkam dan penyedot usia dari Sekte THE ONE!"
dr. Haruma menekan bagian perut atas mayat pertama dengan jarinya yang terbalut sarung tangan latex.
"Atrofi organ dalam skala ekstrem..." analisa dr. Haruma presisi. "Jantung, paru-paru, dan hati korban di dalam rongga dada ini telah menciut hingga ukurannya tersisa 10% dari ukuran normal. Proses kerusakan seluler ini terjadi hanya dalam hitungan detik saat korban masih dalam keadaan bernapas!"
Harumi berpaling menatap Bripka Dedi yang berdiri di bawah tangga platform. "Dedi! Apakah identitas mayat pertama ini sudah terkonfirmasi?!"
"Siap, Bu Kanit!" sahut Bripka Dedi seraya membuka catatan resminya. "Mayat pertama teridentifikasi bernama Hendra Wijaya (42 tahun), menjabat sebagai Kepala Teknisi Mesin Pewarnaan Pabrik 'Tirta Busana'!"
Harumi dan Haruma bergerak berpindah melangkah menuju platform mesin pencampur warna nomor dua yang berjarak 4 meter di sebelah kanan.
MAYAT KEDUA (TANGKI PENCAMPUR WARNA BIRU NILA / INDIGO DYE):
Lampu senter taktis Harumi menyorot masuk ke dalam tangki baja nomor dua yang berisi genangan cairan pewarna biru nila (indigo).
Di dalam tangki nomor 2, tergeletak mayat laki-laki dewasa kedua.
Korban mengenakan kemeja batik katun yang cukup rapi.
Tubuhnya tersangkut terlentang di dasar poros tangki dengan kedua tangan terkulai kaku ke atas.
dr. Haruma turun sedikit ke tangga dalam tangki untuk memeriksa kondisi mayat kedua secara dekat.
"Korban kedua..." tutur dr. Haruma seraya mengamati lekuk wajah mayat tersebut. "Kondisi fisik dan tingkat Nekrosis selulernya 100% identik dengan korban pertama! Kulit mengering kaku, seluruh mukosa mulut hancur menciut, dan cairan darah di pembuluh utama telah mengkristal tanpa pendarahan luar."
Haruma mengarahkan senter forensiknya ke pergelangan tangan kiri mayat kedua.
Di sana, di balik kain kemeja batik yang tersingkap, tercetak cap luka bakar geometris mikroskopis Tiga Lingkaran Iblis yang sama persis, memancarkan aroma sengat belerang yang pekat!
"Dedi! Identitas korban kedua?!" panggil Harumi dari atas tangki.
Bripka Dedi memeriksa berkas foto saksi. "Siap, Bu Kanit! Korban kedua teridentifikasi bernama Bambang Santoso (48 tahun), menjabat sebagai Manajer Keuangan dan Operasional Pabrik 'Tirta Busana'!"
DEG!
Mendengar jabatan MANAJER KEUANGAN DAN OPERASIONAL pada korban kedua...
Sepasang mata Ipda Harumi seketika memicing tajam!
Saraf analisis kriminalis perwira Jatanras di dalam dada Harumi seketika menyatu cepat!
"Manajer Keuangan?!" bisik Harumi tegar pada kakaknya. "Kak Haruma... ingat kan aliran dana 50 miliar rupiah di kasus kemarin?! Jonathan Nasution kan melakukan pencucian uang 50 miliar lewat perusahaan-perusahaan cangkang tekstil!"
dr. Haruma menatap adiknya dengan pandangan mata yang sangat peka. "Maksudmu... Pabrik Tekstil 'Tirta Busana' ini adalah salah satu perusahaan cangkang penampung uang hasil tindak pidana pencucian uang milik Taipan dan Sekte THE ONE, Dek?"
"Tepat sekali, Kak!" pangkas Harumi mantap. "Bambang Santoso ini kemungkinan besar adalah 'pemegang kunci brankas' atau saksi kunci yang mengelola transaksi keuangan haram sekte tersebut di pabrik ini! Dia dibunuh dan disedot usianya untuk membungkam jejak transaksi keuangan!"
Harumi dan Haruma bergegas melangkah menuju tangki mesin pencampur warna nomor 3—tangki terbesar yang berada di sudut paling dalam gedung.
MAYAT KETIGA (TANGKI PENCAMPUR WARNA HITAM PEKAT / BLACK DYE):
Tangki mesin nomor 3 berisi endapan cairan pewarna kain berwarna hitam pekat yang baunya amat sangat menusuk hidung.
Lampu senter taktis Harumi menyorot masuk ke dalam mulut tangki.
Di dalam tangki nomor 3, mayat laki-laki dewasa ketiga tersangkut dalam posisi terduduk kaku menyender pada roda gigi poros pengaduk utama.
Korban ketiga mengenakan setelan jas hitam elegan berpenampilan mewah, lengkap dengan jam tangan emas merek ternama di pergelangan tangan kanannya.
dr. Haruma menjangkau leher mayat ketiga, melakukan pemeriksaan denyut nadi dan kondisi rigiditas kaku mayat (rigor mortis).
"Korban ketiga..." jelas dr. Haruma dengan intonasi ilmiah yang sangat tenang. "Tingkat pembusukan dan penyedotan organ dalam korban ini terjadi paling akhir, sekitar 2 jam yang lalu. Atrofi organ paru-paru dan jantungnya mencapai titik nol. Dan di atas dada kirinya..."
Haruma membuka lipatan jas hitam korban ketiga.
Di atas kain kemeja putih dan kulit dada kiri mayat ketiga, tercetak cap luka bakar geometris Iblis Tanduk Tiga yang ukurannya jauh lebih besar dibanding dua korban sebelumnya!
Harumi menatap jam tangan emas dan setelan jas mewah korban ketiga dengan rasa takjub dan penasaran yang tinggi.
"Siapa pria berjas mewah ini, Dedi?!" teriak Harumi menanyakan identitas.
Bripka Dedi menaiki tangga inspeksi seraya membawakan dompet kulit tebal yang ditemukan tim inafis di meja kantor lantai dua.
"Siap, Bu Kanit! Ini temuan paling mengejutkan!" beber Bripka Dedi dengan suara bergetar kaget. "Korban ketiga teridentifikasi bernama Ir. H. Gunawan Soetjipto (56 tahun)! Beliau adalah Direktur Utama sekaligus Pemilik Saham Mayoritas Perusahaan Tekstil 'Tirta Busana'!"
DEG! DEG! DEG!
Mendengar nama Ir. H. Gunawan Soetjipto—seorang konglomerat tekstil papan atas yang memiliki jaringan bisnis luas di Jakarta...
Ipda Harumi dan dr. Haruma seketika tersentak kaku!
"Direktur Utama Pabrik?!" gumam Harumi menahan napas. "Tiga orang yang tewas di dalam mesin pencampur warna ini bukan pekerja biasa... Mereka adalah Trio Eksekutif Pabrik! Kepala Teknisi, Manajer Keuangan, dan Direktur Utama!"
"Mereka bertiga dieksekusi secara bersamaan dalam satu ritual sihir pencuri usia di dalam gedung ini..." pangkas dr. Haruma tegar dengan pandangan mata forensik yang memancarkan kepastian.
Ipda Harumi melangkah turun dari platform tangga mesin, berdiri tegap di tengah aula pabrik yang remang-remang.
Harumi memutar pandangan matanya ke sekeliling dinding-dinding tangki baja tersebut.
"Tim Inafis!" panggil Harumi dengan suara komando berbobot.
"Siap, Bu Kanit!" sahut Kepala Tim Inafis Polres Jakarta Timur melangkah mendekat.
"Tolong lakukan pemeriksaan komprehensif pada dinding luar ketiga tangki baja ini!" perintah Harumi tegas. "Gunakan lampu ultraviolet (UV Light) dan serbuk pencari sidik jari khusus!"
"Siap laksanakan, Bu Kanit!"
Dua orang petugas Tim Inafis bergegas menyalakan Lampu Ultraviolet Sinar Ungu (UV Light), menyorotkan radiasi sinar ultraviolet itu ke sepanjang permukaan dinding baja hitam ketiga mesin pencampur warna.
Sret... BZZZZTTT!
Seketika itu juga...
Di bawah pendaran radiasi sinar ultraviolet berwarna ungu tersebut...
Sebuah temuan fakta ghaib yang teramat sangat mengerikan terkuak secara terang benderang!
Di atas permukaan dinding baja ketiga tangki pencampur warna tersebut...
Terpancar goresan-goresan garis geometris rumit berwarna hijau fosfor mengilat!
Goresan-goresan itu membentuk sebuah RUNE SIHIR GEOMETRIS RAKSASA BERBENTUK SEGITIGA TERBALIK (TRIAD RUNES) yang menghubungkan tangki nomor 1, tangki nomor 2, dan tangki nomor 3 menjadi satu kesatuan altar ritual ghaib!
Di setiap sudut segitiga ghaib tersebut, terukir deretan angka-angka transaksi keuangan dan huruf-huruf bahasa Kawi kuno yang terbakar mikroskopis!
dr. Haruma melangkah mendekati dinding tangki nomor 3, menatap ukiran simbol geometris tersebut dengan sangat teliti.
"Rumi... lihat rune geometris ini..." panggil dr. Haruma dengan nada suara bergetar tegar. "Ini adalah pola sambungan petunjuk nomor dua!"
Harumi berdiri di samping kakaknya, menyinari ukiran rune tersebut dengan senter taktisnya.
"Goresan rune segitiga ini adalah jalur konduksi sihir pencuri usia..." analisa Harumi presisi. "Tiga korban ini—Hendra, Bambang, dan Gunawan—dijadikan tumbal ritual tiga sudut (Triad Sacrifice) oleh Sekte THE ONE! Usia dan organ dalam mereka disedot secara serentak dari tiga tangki ini untuk dikirimkan secara ghaib kepada sang 'Pelindung Agung'!"
Bripka Dedi yang berdiri di sebelah mereka menelan ludah kasar dengan raut wajah pucat pasi. "Y-Ya Allah... Jadi tiga pejabat pabrik ini dibunuh lewat ritual sihir di dalam tangki pencampur warna ini, Bu?!"
"Tepat sekali, Dedi!" pangkas Harumi dingin dan tegap. "Ini adalah eksekusi pembungkaman saksi sekaligus penyedotan usia skala besar!"
Harumi berpaling menatap Kepala Tim Inafis dengan intonasi komando taktis yang amat sangat berwibawa.
"Petugas Inafis!" tegas Harumi. "Dokumentasikan seluruh goresan rune segitiga fosfor ini dari segala sudut pandang! Ambil sampel cairan pewarna di dasar ketiga tangki, sampel keriput kulit korban, serta amankan seluruh modul memori mesin dan berkas keuangan di lantai 2!"
"Siap laksanakan, Bu Kanit!" sahut Tim Inafis bergerak sigap.
Harumi lalu menoleh menatap dr. Haruma. "Kak Haruma... gimana proses evakuasi ketiga jenazah ini?"
dr. Haruma menganggukkan kepalanya, memegang Koper Kit Otopsi Sterilnya.
"Pemeriksaan awal di TKP sudah cukup lengkap, Dek," tutur dr. Haruma dengan suara lembutnya yang jernih dan penuh kepastian medis. "Seluruh gejala atrofi organ, Nekrosis seluler, dan Cap Luka Bakar Geometris sudah kita catat dan amankan sampelnya. Ketiga jenazah ini harus segera kita evakuasi menggunakan ambulans Dokpol menuju Kamar Jenazah Gedung Forensik Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan otopsi pembedahan organ dalam secara menyeluruh (Autopsy In-depth)."
Harumi menepuk bahu kakaknya hangat. "Siap, Dokter Haruma! Saya yang akan mengawal konvoi ambulans evakuasi jenazah menuju Rumah Sakit Bhayangkara!"
Harumi berpaling menatap Bripka Dedi dan Aiptu Teguh.
"Dedi! Teguh!" pangkas Harumi dengan wibawa Kanit Jatanras yang tak terhentikan. "Pasang garis polisi dua lapis di sekeliling Pabrik Tekstil 'Tirta Busana' ini! Kunci seluruh akses keluar masuk! Sita seluruh dokumen transaksi keuangan di brankas lantai 2! Dan persiapkan BAP awal untuk pemeriksaan saksi-saksi besok pagi di markas Polres!"
"SIAP LAKSANAKAN, BU KANIT HARUMI!" sahut Bripka Dedi dan Aiptu Teguh serempak seraya memberi hormat tegap.
.....
.....
Pukul 01.30 WIB dini hari.
Di bawah guyuran pendaran lampu sirine merah-biru yang membelah kegelapan malam Jakarta Timur, konvoi tiga unit mobil ambulans Dokpol Bhayangkara yang dikawal ketat oleh mobil SUV dinas Ipda Harumi melaju cepat meninggalkan area Pabrik Tekstil 'Tirta Busana'.
Olah TKP komprehensif pada Kasus Kedua di dalam gedung pencelupan kain telah berhasil dituntaskan dengan amat sangat presisi, cermat, dan profesional oleh Ipda Harumi dan dr. Haruma.
Bukti-bukti fisik awal, temuan tiga mayat eksekutif pabrik di dalam tangki pencampur warna, serta pembongkaran Petunjuk Nomor Dua / Rune Segitiga Sihir Pencuri Usia telah terkunci aman di dalam genggaman dua srikandi penegak keadilan tersebut.
Sekte THE ONE dan para Taipan pelindungnya telah meluncurkan serangan keji kedua mereka.
Namun bersama keahlian ilmu kedokteran forensik, ketangkasan hukum kepolisian, serta restu suci doa keluarga di Parung, dr. Haruma dan Ipda Harumi siap menembus ruang otopsi, mengungkap jaringan konspirasi raksasa di balik Pabrik Tekstil, dan membawa cahaya keadilan yang tak terbendung bagi Tanah Jawa!
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu