Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ciiit.
Mobil sedan mewah itu berhenti mendadak di halaman depan Mansion Mahardika.
Bahkan sebelum Bram sempat membukakan pintu, Raka sudah mendorong pintu mobilnya sendiri dan keluar dengan langkah terburu-buru.
Blam!
Pintu mobil dibanting dengan sangat keras hingga membuat beberapa pelayan yang menyambut di lobi sangat kaget.
Raka berjalan masuk ke dalam mansion dengan aura gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Pria itu langsung menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Brak!
Suara pintu kayu jati yang dibanting sangat keras menggema ke seluruh penjuru rumah megah itu.
Dewi yang baru saja keluar dari mobil sambil menggendong Elvan hanya bisa menghela nafas panjang.
Anak kecil di pelukannya itu masih tertidur pulas karena kelelahan menangis di dalam mobil tadi.
"Pak Bram, Bosmu itu kalau sedang marah seram juga ya, mirip monster banteng yang melihat kain merah," bisik Dewi pada ajudan itu.
Bram tersenyum kecut sambil mengambil tas belanjaan Dewi dari bagasi.
"Tuan Raka memang selalu seperti itu jika ada hal yang menyinggung tentang masa lalunya, Nona."
"Tolong maklumi beliau hari ini, beliau benar-benar sedang hancur di dalam sana," tambah Bram dengan nada khawatir.
Dewi mengangguk pelan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Dia berjalan menuju kamar Elvan terlebih dahulu untuk meletakkan bocah kecil itu di atas kasur.
Setelah menyelimuti Elvan dan memastikan anak itu tidur nyenyak, Dewi berjalan keluar menuju dapur.
Dapur mansion saat malam hari sudah sepi karena Chef Arnold dan koki lainnya sudah pulang.
Dewi berdiri di depan dapur dan menatap mesin pembuat kopi yang harganya pasti puluhan juta itu.
"Sistem, pria dingin itu butuh sesuatu untuk menenangkan sarafnya yang tegang."
"Apa kau punya resep minuman yang bisa meredakan amarah orang dewasa?" tanya Dewi dalam hati.
Ding!
Layar biru transparan langsung muncul di depan wajah Dewi.
[Sistem merespons permintaan Tuan Putri!]
[Mengaktifkan Skill Memasak Tingkat Dewa: Resep Kopi Susu Penenang Jiwa!]
[Bahan yang dibutuhkan: Kopi hitam pekat, susu murni hangat, sedikit ekstrak vanila, dan sejumput kayu manis!]
Dewi membaca instruksi itu dengan saksama dan mulai bergerak lincah meracik bahan-bahannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, secangkir kopi susu dengan aroma kayu manis yang luar biasa menenangkan sudah tersaji.
Asap panas mengepul dari cangkir keramik itu, membawa wangi yang bisa membuat siapa saja merasa rileks.
Dewi meletakkan cangkir itu di atas nampan kecil dan berjalan menaiki tangga menuju ruang kerja Raka.
Lorong lantai dua terasa sangat sunyi dan mencekam.
Tok. Tok. Tok.
Dewi mengetuk pintu kayu tebal itu dengan buku jarinya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam ruangan.
"Bos, ini aku Dewi. Aku bawakan kopi hangat untukmu, buka pintunya," panggil Dewi dengan suara agak keras.
Tetap tidak ada suara balasan, hening seperti kuburan.
Dewi memutar kenop pintu itu, tapi sayangnya pintu itu terkunci dari dalam.
"Bos! Jangan bertingkah seperti anak ABG yang sedang patah hati dong!" teriak Dewi mulai kehilangan kesabaran.
"Buka pintunya sekarang atau aku akan menendang pintu mahal ini sampai jebol!" ancam Dewi tanpa basa-basi.
Terdengar suara langkah kaki yang diseret dari dalam ruangan.
Klek.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Raka yang kondisinya sangat berantakan.
Jas mahalnya sudah entah dibuang ke mana, kemeja putihnya kusut, dan dasinya sudah melonggar tidak karuan.
Rambut pria yang biasanya tersisir rapi dengan gel itu kini berantakan karena terus-terusan dijambak oleh tangannya sendiri.
Ruang kerja itu gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca besar.
"Mau apa kau? Sudah kubilang tinggalkan aku sendiri," usir Raka dengan suara serak yang sangat pelan.
Dewi tidak mempedulikan usiran itu dan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.
Dia meletakkan nampan kopi itu di atas meja kerja Raka dan berjalan menuju sakelar lampu.
Klik.
Lampu gantung di ruangan itu menyala, memperlihatkan kekacauan yang luar biasa di lantai.
Prang!
Dewi baru sadar kakinya tidak sengaja menginjak pecahan gelas kaca yang berserakan di dekat meja.
"Astaga naga, kau benar-benar sedang menghancurkan rumahmu sendiri ya Bos," gumam Dewi sambil menatap sekeliling.
Dokumen berserakan di mana-mana, kursi terguling, dan beberapa pajangan meja sudah pecah di lantai.
Raka berjalan gontai dan menjatuhkan dirinya di atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.
Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, terlihat sangat menyedihkan dan tidak berdaya.
"Minum kopi ini dulu Bos. Aromanya bisa membuat otakmu sedikit lebih waras," perintah Dewi sambil menyodorkan cangkir kopi itu.
Raka menatap cangkir itu dengan pandangan kosong, tapi dia tetap mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sruput.
Raka meminum kopi susu itu dalam satu tegukan perlahan.
Rasa pahit kopi berpadu sempurna dengan manisnya vanila dan hangatnya kayu manis seketika mengalir di tenggorokannya.
Efek magis dari sistem langsung bekerja memijat saraf-saraf Raka yang sedari tadi tegang seperti kawat.
Nafas Raka yang tadinya memburu kini mulai berangsur-angsur menjadi lebih tenang dan teratur.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭