Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah senyuman
Malam berikutnya kembali tiba dengan rutinitas yang sama di restoran. Suasana bising dan hilir mudik pelayan memenuhi area depan. Namun, perhatian Bayu seketika teralihkan saat pintu kaca utama berdentang pelan.
di jam yang sama dengan malam-malam sebelumnya, wanita itu datang lagi. Langkah kakinya yang anggun dengan sepatu hak tinggi bermerek kembali membelah ruangan, langsung menuju ke meja sudut VIP yang seolah kini telah menjadi tempat favoritnya.
Kali ini, berbeda dari kemarin yang penuh keraguan, Bayu langsung menyambutnya dengan sigap begitu wanita itu mendekati meja. Dia menarikkan kursi dengan gerakan yang sangat sopan dan presisi.
"Silahkan duduk, Nona Mita," ucap Bayu dengan suara rendah yang terdengar hangat dan berwibawa.
Mendengar sapaan itu, gerakan Mita yang hendak meletakkan tasnya sempat terhenti sejenak. Dia mendongak, menatap langsung ke arah wajah pelayan mudanya dengan binar mata yang terkejut sekaligus terkesan.
Bayu tahu nama itu setelah membaca kartu putih yang diberikan kemarin malam di dalam kamar kontrakannya yang sempit. Kartu nama itu bertekstur mahal dengan tinta emas timbul, bertuliskan nama lengkap wanita di hadapannya beserta jabatan menterengnya di salah satu perusahaan besar di kota ini.
Mita pun tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang jarang dia perlihatkan kepada orang asing di dunia bisnisnya yang kaku. Dia merasa dihargai karena pelayan ini tidak membuang atau mengabaikan kartu namanya.
"Malam ini Anda mau makan apa?" tanya Bayu dengan sikap formal, kembali menyodorkan buku menu dengan kedua tangannya yang kasar.
"Ada saran?" tanya Mita balik, menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja. Pertanyaan seperti itu selalu muncul apabila wanita itu datang ke restoran ini. Dia seolah sengaja ingin menguji sejauh mana pelayan ini memahami seleranya yang tinggi.
Bayu tampak berpikir sejenak, mengingat stok bahan makanan terbaik yang baru masuk ke dapur hari ini. "Sup kepiting raja sangat bagus buat malam ini," kata Bayu menawarkan menu premium dengan penuh percaya diri.
Mita hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum kecut. Dia tahu bagaimana ukuran kepiting raja yang sangat besar dan merepotkan untuk dimakan sendirian, apalagi malam ini dia sedang malas mengotori jemarinya.
Melihat respons gelengan kepala tersebut, Bayu yang peka langsung memahami keberatan tamunya. Dengan cepat dia memutar otak dan kembali menawarkan menu elit yang lain.
"Bagaimana dengan abalon? Dagingnya lembut, disajikan dengan saus tiram premium, dan ukurannya sangat pas untuk makan malam yang elegan."
"Boleh," kata Mita sambil tersenyum puas karena Bayu bisa membaca keinginannya dengan sangat cepat. "Untuk minumnya...?" tanya Mita menggantung kalimatnya.
"Jus alpukat," tebak Bayu sebelum Mita sempat menjawab.
"Baik, Nona Mita. Tunggu sebentar," kata Bayu setelah mencatat semuanya dengan cepat di buku saku kecilnya.
Bayu pun langsung berjalan ke arah kasir dan menyerahkan pesanan itu ke bagian dapur agar segera diproses. Tentu saja, sepanjang langkah kaki Bayu dari meja VIP menuju meja kasir, pergerakannya tidak luput dari pandangan mata yang tajam. Langkah dia tak lepas dari pengawasan sang manajer yang berdiri di dekat pilar tengah. Manajer itu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah masam, terus mengintai setiap gerak-gerik Bayu, bersiap mencari celah sekecil apa pun untuk memenuhi ancaman pemecatannya kemarin malam. Namun malam ini, Bayu bergerak dengan sangat sempurna tanpa celah.