Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap
"Bagaimana, Saksi? Sah?
"SAAAH!
"Alhamdulillahirobbil Aalamin..
Sebuah doa terpanjatkan atas sepasang mempelai pengantin baru itu. Tepat pada hari ini, Seorang pria bernama Fadli Adiputra berusia tiga puluh tahun resmi menikahi seorang wanita bernama Amara Alfhatunnisa, Dua puluh empat tahun.
Semua saksi yang datang ikut meng-Aamini atas pernikahan ini. Dihadiri banyak tamu yang terhormat serta para santri yang tinggal untuk mencari ilmu disana.
Amara memejamkan matanya, Kata 'Amiin' yang terucap semoga menjadi awal yang baik untuknya.
Setelah berdoa selesai. Amara meraih tangan pria itu lalu mencium punggung tangannya. Wanita itu menunduk begitu takzim menunjukkan bahwa pria inilah yang harus dia hormati setelah Abi nya.
Tangan kiri pria itu terangkat, Memegang Ubun-ubun wanita yang telah menjadi istrinya itu, Lalu membacakan doa.
Setelahnya, Dua mempelai tersebut saling bertukar cincin. Fadli, Memakaikan cincin ke jari manis Amara. Begitupun Amara yang ikut menyematkan cincin tersebut di jari manis pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
"Alhamdulillah.. akhirnya kalian telah sah menjadi suami dan istri.." Ucap seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Abi Rafa.
Amara tersenyum, Wanita dua puluh empat tahun itu meraih tangan sang Abi lalu menciumnya.
"Abi..
"Bahagia terus ya, Sayang.. " Amara tersenyum. Ia juga beralih pada sang Umma yang berdiri bersanding dengan Abi nya.
"Umma..
"Samawa ya, Sayang.. Ingat, Sekarang Kak Fadli adalah suamimu.. Yang nurut ya, Sama suami. Jangan pernah ngebantah. Apapun yang ingin kamu lakukan semua harus atas izinnya.. " Amara mengangguk, Ia peluk Umma nya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tak hanya pada Abi dan Umma nya. Amara juga mendekati dua kakak kembarnya, Yaitu Gabriel dan Ghazi. Om Darrel, Tante Ayana. Sepupunya yang bernama Azima. Tidak lupa pula, Kakek dan neneknya serta Opa dan Omanya.
Banyak keluarga yang datang dalam pernikahan yang terbilang sangat sederhana itu. Untuk resepsi mungkin akan menyusul.
Tamu yang diundang pun hanya beberapa, Karena pernikahan ini memang tidak terlalu banyak didengar orang.
Abi Rafa pun juga memeluk Fadli Pria paruh baya itu memeluk sang putra angkat yang dia sayangi sejak kecil itu.
"Tolong jaga Amara ya, Nak.. Abi percayakan dia sama kamu.." Fadli mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Umma...
"Umma titip Amara sama kamu.. Tolong jaga dia. Dan Umma mohon jangan sakiti dia. Didik dia dengan baik.. Andai kamu sudah tidak mau, Andai kamu bosan.. Umma minta tolong sekali, Kembalikan dia secara baik-baik. Jangan sampai kamu sakiti dia, Nak..." Fadli tak menjawab, Pria itu menatap Umma Zakia. Wanita ini adalah seorang wanita yang memberikannya kasih sayang untuknya.
Seorang wanita pengganti ibu kandungnya yang telah tiada. Begitupun dengan Abi Rafa yang menggantikan sosok ayah kandungnya yang telah meninggal sejak dia usia dua tahun.
Umma terdiam usai mengatakan itu. Sebagai seorang ibu, Entah kenapa Umma Zakia merasa ada yang aneh dalam diri Fadli. Putra angkatnya itu tidak tersenyum sama sekali. Fadli seperti tidak bahagia dengan pernikahan ini..
...****************...
Fadli Adiputra. Seorang pria tiga puluh tahun yang merupakan anak angkat Abi Rafa dan Umma Zakia.
Ayan dan ibunya meninggal karena sebuah tragedi kecelakaan yang memang disengaja. Ayah dari Fadli sendiri dulu pernah menjadi santri di pesantren Al Ibrahimi.
Ayah dari Fadli sendiri pun juga seorang pengusaha kaya raya. Paman dari ayahnya tidak ingin kalau seluruh harta milik kakeknya jatuh ke tangan ayah Fadli, Pada saat itu.
Alhasil, Paman dari ayah Fadli merencanakan sebuah pembu-nah berkedok kecelakaan. Dan karena kecelakaan itu, Ayah dan ibu Fadli tewas ditempat.
Sebelum meninggal, Ayah Fadli menitipkan Fadli yang pada saat itu usia dua tahun pada Abi Rafa. Dengan sanggup Abi Rafa mengiyakan. Amanah tersebut Abi Rafa jalankan dengan sangat baik.
Abi Rafa dan Umma Zakia, Merawat Fadli dengan penuh kasih sayang layaknya memberikan kasih sayang untuk tiga buah hatinya.
Kasih sayang yang suami dan istri itu berikan pada putra angkat mereka sama. Abi Rafa dan Umma Zakia tak pernah membeda-bedakannya.
Bahkan Abi Rafa juga memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk mengelola perusahaan keluarga Fadli agar perusahaan tersebut tidak redup.
Terkadang Abi Rafa sendiri lah yang turun tangan atas perusahaan tersebut. Dan lihat, Berkat Abi Rafa, Perusahaan ayah Fadli sekarang bisa mempunyai banyak cabang.
Sementara Paman ayah Fadli atau bisa dibilang kakeknya. Pria itu meninggal dipenjara karena tidak kuat berada didalam jeruji besi terlalu lama.
Diperlakukan layaknya anak kandung, Abi Rafa memberikan beberapa persen sahamnya untuk perusahaan yang mulai Fadli kelola, Ketika pria itu mulai beranjak dewasa.
Kini Fadli telah berusia tiga puluh tahun. Fadli mampu menjalankan perusahaan peninggalan orang tuanya dengan sangat baik.
Hingga tepat pada hari ini, Fadli resmi menikah dengan Amara. Putri bungsu Abi Rafa dan Umma Zakia.
Melihat Fadli yang belum punya niat menikah diusianya yang tiga puluh tahun. Alhasil pria paruh baya itu menjodohkan Fadli dengan putri bungsunya.
Daripada Amara menikah dengan pria lain, Bukanlah lebih baik kalau menikah dengan Fadli saja. Toh keduanya sama-sama tahu karakter masing-masing. Mereka juga tahu akan kekurangan dan kelebihan dalam diri keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini, Amara menatap pantulan dirinya dicermin. Wanita cantik itu terlihat begitu bahagia sekali.
Bagaimana tidak bahagia, Akhirnya dia bisa menikah dengan pria yang menjadi idamannya selama ini.
Fadli Adiputra..
Pria itu adalah kakak angkatnya. Sejak kecil, Amara begitu dekat dengan tiga kakak laki-laki nya. Termasuk begitu dekat dengan Fadli.
Fadli selalu memanjakannya, Memberikan perhatian yang begitu mendalam untuk Amara. Dan ketika usia Amara beranjak tujuh belas tahun, Ada rasa yang tidak biasa dalam diri Amara.
Setiap Amara dekat atau melihat Fadli, Jantungnya berdegup tidak karuan. Terkadang wanita itu selalu berdoa pada Tuhan, Agar rasa ini dicabut saja.
Namun bukannya berkurang, Rasa yang mungkin adalah rasa cinta itu semakin bertambah. Amara benar-benar telah jatuh cinta pada kakak angkatnya.
Rasa sedih sempat Amara rasakan ketika Abi nya melepas Fadli. Bukan melepas untuk status anak, Melainkan melepas Fadli untuk mengurus perusahaan peninggalan keluarganya.
Fadli juga pindah rumah dan lebih memilih tinggal rumah warisan orangtuanya. Tak jarang pula Fadli datang berkunjung kerumah ini, Mungkin karena dirumah nya pria itu kesepian.
Ceklek..
Amara menoleh, Wanita itu tersenyum begitu melihat Fadli masuk ke kamarnya.
"Kak..." Pria itu hanya diam, Tatapan matanya sangat datar dan dingin.
"Ini sudah malam, Tidurlah.." Ucap pria itu, Amara terdiam sejenak lalu mengangguk. Wanita itu membereskan tempat tidurnya malam ini.
Tidak seperti malam pengantin yang pada umumnya dihias dengan indah. Dikamar milik Amara tidak ada semua itu. Kamar itu sama seperti kamar setiap harinya..
"Untuk apa kau beres-beres tempat tidur?" Pergerakan Amara terhenti. Wanita dua puluh empat tahun itu menoleh pada sang suami.
"Eum, Bukannya kata kakak tadi.. Mau tidur ya?
Fadli tak menjawab, Pria itu justru meraih bantal lalu membawanya ke atas sofa.
"Kau tidurlah diatas tempat tidur, Aku akan tidur disofa.." Ucap Fadli dengan nada bicara yang tidak biasanya.
"Jangan mengharapkan apapun malam ini.." Kata Pria itu lagi. Amara hanya diam dengan meremas gamisnya. Kenapa pria itu berkata seperti itu?
"Owh, Mungkin saja Kak Fadli sedang lelah.." Batin Amara yang mencoba untuk berpikir positif. Wanita itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya ikut tidur.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum .....
Bismillahirrohmanirohim... Hari ini Othor merilis Novel baru, Ya... Kisah ini adalah kisah Amara, Putri bungsu Abi Rafa atau adik kesayangan Gabriel dan Ghazi.
Dalam kisah ini, Ghazi belum nikah ya.. Dikisah Mutiara pun juga telah dijelaskan kalau Amara lebih dulu nikah dari Ghazi ..
Yuk, Diramaikan.. Mumpung masih hangat.. Alurnya juga tidak kalah dari Kisah Ghazi dan Mutiara...🥰
dan sekarang si pelacur murahan itu buat drama kalau Amara mendorong dia dari tangga? dan kamu percaya Fadli? kenapa kamu ga cek cctv dulu ? dasar bodoh kamu Fadli