Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Malam itu, setelah berhari-hari melakukan penyelidikan, Darren akhirnya mendapatkan informasi yang selama ini ia tunggu.
Lokasi keberadaan Gio berhasil dilacak. Pria itu diketahui bersembunyi di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota bersama adiknya, Jenika.
Sementara Jesika berada di lokasi berbeda.
Darren berdiri di depan layar monitor ruang penyelidikan sambil membaca laporan yang baru saja diterimanya.
"Nomor kendaraan yang terekam di sekitar mobil Jovan cocok dengan kendaraan yang digunakan Gio," ujar salah satu anak buahnya.
"Dan bagaimana dengan transaksi pembayarannya?" tanya Darren.
"Kami sudah mendapatkan bukti transfer dari rekening yang terhubung dengan Gio. Ada pembayaran kepada Siska, perempuan yang terekam memasukkan zat ke dalam minuman Jovan."
Darren menatap layar dengan serius. "Berarti sekarang kita punya hubungan antara Gio, Siska, dan kejadian di klub malam."
"Benar, Pak."
"Dan hasil pemeriksaan kendaraan Jovan?"
"Ahli forensik menemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman yang bukan disebabkan oleh kecelakaan. Ada indikasi kuat komponen kendaraan telah dirusak sebelum mobil digunakan."
Darren mengangguk pelan. Kini potongan-potongan teka-teki itu mulai tersusun. Zat yang dimasukkan ke minuman Jovan. Sistem pengereman yang dirusak.
Kendaraan yang mengikuti Jovan. Pembayaran kepada Siska. Dan keterlibatan Gio. Namun masih ada satu nama yang terus muncul dalam penyelidikan.
Jesika.
Darren mengambil sebuah foto dari meja. Foto seorang wanita yang pernah memiliki hubungan dengan Jovan.
"Telusuri semua komunikasi antara Jesika, Gio, dan Jenika," perintahnya.
"Sudah kami lakukan, Pak."
Anak buahnya menyerahkan sebuah berkas.
"Ini hasilnya."
Darren membukanya. Di dalamnya terdapat tangkapan layar percakapan yang menunjukkan adanya komunikasi intensif antara ketiganya menjelang malam kecelakaan. Salah satu pesan membuat tatapan Darren mengeras.
Pesan itu dikirim Jesika kepada Gio beberapa jam sebelum kecelakaan
Pastikan dia tidak bisa lagi kembali ke lintasan.
Darren mengepalkan tangannya.
"Jadi ini dalangnya."
Namun ia segera mengendalikan emosinya.
"Kita bergerak berdasarkan bukti. Jangan ada yang bertindak di luar prosedur."
"Siap, Pak."
Darren berdiri.
"Amankan Gio dan Jenika terlebih dahulu."
"Bagaimana dengan Jesika?"
Darren menatap layar.
"Setelah itu kita cari dia."
Beberapa jam kemudian.
Sebuah rumah sederhana di kawasan pinggiran kota menjadi sasaran penggerebekan polisi. Beberapa anggota kepolisian mengepung rumah tersebut. Darren berdiri di bagian depan bersama anak buahnya.
"Gio! Jenika!"
Suara Darren terdengar tegas.
"Kami dari kepolisian. Buka pintunya!"
Di dalam rumah, Gio yang sedang duduk bersama Jenika langsung tersentak. Wajah mereka berubah pucat.
"Mereka menemukan kita?" bisik Jenika.
Gio berdiri dengan panik.
"Tenang!" Ia berjalan menuju jendela dan mengintip dari balik tirai. Namun ia langsung mundur.
"Polisi."
Jenika mulai gemetar.
"Kak..."
"Kita harus keluar dari belakang."
Gio menarik tangan adiknya. Namun baru beberapa langkah mereka bergerak, suara Darren kembali terdengar.
"Jangan mencoba melarikan diri!"
Gio berhenti.
"Rumah ini sudah kami kepung."
Hening.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Gio keluar dengan kedua tangan terangkat. Jenika menyusul di belakangnya. Darren maju beberapa langkah.
"Gio?"
Pria itu menatap Darren.
"Iya."
"Anda kami amankan untuk menjalani proses hukum terkait penyelidikan kecelakaan yang melibatkan Jovan Narendra dan Riki Sanjaya."
Gio mencoba bersikap tenang.
"Saya tidak tahu apa-apa."
Darren menatapnya tajam.
"Kita buktikan nanti di pemeriksaan."
Seorang anggota polisi memasangkan borgol kepada Gio. Jenika juga diamankan. Saat hendak dibawa menuju kendaraan polisi, Gio tiba-tiba berteriak.
"Ini semua bukan ide gue!"
Jenika menatap kakaknya dengan mata membesar.
"Kak!"
Gio langsung terdiam.bDarren menangkap perubahan ekspresi keduanya.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Gio menggeleng.
"Saya tidak tahu."
Darren mendekat.
"Kami sudah memiliki bukti transfer, rekaman CCTV, kendaraan yang digunakan, dan komunikasi kalian."
Gio terdiam.
"Jadi jangan membuat keadaan semakin sulit."
Sementara itu, di lokasi lain, Jesika sedang duduk di sebuah kamar penginapan. Teleponnya berdering. Nama Gio muncul di layar. Namun tidak diangkat. Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Kak, polisi menangkap kami.
Wajah Jesika langsung berubah.
"Tidak..." Ia berdiri. "Mustahil." Tangannya gemetar. Ia membaca pesan berikutnya. Mereka sudah tahu semuanya. Jesika menjatuhkan ponselnya ke tempat tidur.
"Tidak! Tidak mungkin!" Ia mondar-mandir. "Seharusnya Jovan yang hancur!" Air matanya mulai mengalir. "Seharusnya semua orang membencinya!"
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, terdengar ketukan keras dari pintu.
"Jesika! Polisi!"
Jesika membeku. Ia menatap pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Darren berdiri di sana bersama beberapa anggota kepolisian.
"Jesika."
Wanita itu mundur beberapa langkah.
"Kau..."
"Kami perlu membawa Anda untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus kecelakaan Jovan Narendra."
"Aku tidak melakukan apa-apa!"
Darren tetap tenang.
"Itu akan dibuktikan melalui proses hukum."
Jesika menggeleng kuat. "Tidak! Aku tidak bersalah!"
"Kalau begitu, sampaikan semuanya kepada penyidik."
Jesika menangis. Namun ketika melihat polisi membawa sebuah map berisi bukti-bukti, wajahnya berubah. Darren pun berkata tegas,
"Kami menemukan komunikasi Anda dengan Gio dan Jenika. Kami juga menemukan bukti transaksi yang mengarah kepada Siska."
Jesika terdiam.
"Siska..."
Nama itu membuat ekspresinya berubah. Darren langsung menangkap reaksi tersebut.
"Jadi Anda mengenalnya."
Jesika tidak menjawab.
Darren menatapnya.
"Anda berhak mendapatkan pendampingan hukum dan menjalani proses sesuai ketentuan. Tetapi semua bukti yang ditemukan akan kami ajukan dalam penyidikan."
Jesika akhirnya menundukkan kepala. Tidak lama kemudian, Siska juga berhasil diamankan. Perempuan yang terekam CCTV memasukkan zat ke dalam minuman Jovan itu akhirnya berada di ruang pemeriksaan.
Darren berdiri di hadapannya.
"Siska."
Perempuan itu menangis.
"Saya minta maaf, Pak."
"Siapa yang meminta kamu memasukkan zat itu ke minuman Jovan?"
Siska menunduk.
"Saya..." Ia menggigit bibirnya. "Gio."
Darren menghela napas.
"Dan siapa yang membayar kamu?"
Siska terdiam cukup lama. "Jenika yang mengirim uangnya."
Darren saling bertukar pandang dengan penyidik lainnya.
"Apakah kamu tahu apa tujuan mereka?"
Siska menggeleng cepat.
"Saya cuma diminta memasukkan sesuatu ke minuman Jovan. Saya tidak tahu kalau akibatnya akan seperti itu."
"Kamu melihat Gio malam itu?"
Siska mengangguk.
"Dia ada di area parkir."
"Setelah itu?"
"Saya pergi."
Darren menutup berkas.
"Baik. Semua keteranganmu akan dicatat dan diverifikasi dengan bukti lain."
*
*
Keesokan harinya, Darren mendatangi rumah sakit tempat dimana Jovan sedang menjalani pemeriksaan.
Jovan yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh.
"Kak?"
Darren masuk dan menutup pintu.
"Ada kabar."
Jovan menatap kakaknya.
"Kabar apa?"
Darren duduk di kursi di hadapannya.
"Orang-orang yang diduga terlibat dalam kejadian malam itu sudah kami amankan."
Mata Jovan membesar.
"Serius?"
Darren mengangguk.
"Gio, Jenika, Jesika, dan Siska."
Jovan terdiam.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap kakaknya. Kemudian ia mengembuskan napas panjang.
"Jadi benar..."
Darren mengangguk.
"Ada indikasi kuat bahwa kecelakaan itu bukan sekadar kecelakaan biasa. Tapi proses hukum masih berjalan. Kita harus membuktikan peran masing-masing berdasarkan alat bukti yang sah."
Jovan menundukkan kepalanya. Air mata perlahan menggenang di matanya.
"Bukan gue yang sepenuhnya menyebabkan semuanya..."
Darren tidak langsung menjawab. Namun Jovan segera berkata,
"Tapi Riki tetap meninggal."
"Jovan..."
"Gue tahu siapa pun yang menjebak gue harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Ia mengusap wajahnya.
"Tapi itu nggak mengubah kenyataan kalau Serina kehilangan suaminya."
Darren menatap adiknya dengan serius.
"Karena itu, jangan berhenti merasa bertanggung jawab. Tapi jangan juga menghukum dirimu atas sesuatu yang memang berada di luar kendalimu."
Jovan terdiam. Kemudian ia bertanya,
"Bagaimana keadaan Serina?"
"Masih berduka."
Jovan mengangguk.
"Farel?"
"Masih sama." jawab Jovan tersenyum tipis. Ia teringat mobil mainan yang diberikannya.
"Semoga dia masih memainkan mobil itu."
Darren tersenyum kecil.
"Mungkin."
Jovan menatap keluar jendela.
"Kalau begitu..." Ia menarik napas panjang.
"Sekarang gue harus menemui Serina."
Darren mengangkat alisnya.
"Untuk apa?"
"Untuk mengatakan bahwa aku akan tetap bertanggung jawab." Jovan terdiam sesaat. "Dan kali ini, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak datang karena rasa bersalah saja."
Darren menatap adiknya beberapa detik. Kemudian ia berkata pelan, "Kalau begitu, datanglah dengan niat yang benar."
Jovan mengangguk. "Aku akan melakukannya."
Di luar ruangan, matahari pagi mulai menyinari halaman rumah sakit. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi, Jovan merasa sebuah beban besar di dalam dirinya mulai terangkat.
Kebenaran perlahan menemukan jalannya.
Namun ia sadar, terungkapnya dalang kecelakaan bukan berarti luka Serina akan sembuh dalam sekejap.
Riki tetap telah pergi. Farel tetap kehilangan ayahnya.
Dan Serina tetap harus menjalani hari-hari panjang tanpa suaminya.
Jovan memejamkan matanya sejenak. "Maafkan aku, Mas Riki." Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku akan menjaga mereka sebisaku." Dan kali ini, Jovan tidak lagi berbicara karena rasa bersalah semata.Ia benar-benar berniat menepati ucapannya.
Bersambung...
marcella aku menunggu karma buat kamu yg secara terang terangan membenci jovan, lalu rahasia apa yg kamu simpan pasti akan terbongkar juga.....
untuk serina apa kamu tidak mempunyai sahabat baik selama di sekolah bisa nanti jadi jodoh darren🤣🤣🤣🤣🤣
untuk marcella kenapa kau melihat serina seperti melihat seseorang yg hina apa dia karna miskin dan janda🤔🤔🤔🤔🤔🤔
atau kau mempunyai rahasia besar hingga banyak yg menutupi dengan mencari kesalahan orang lain🤔🤔🤔
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔