Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Warisan Pedang Penghancur Gunung
Pintu batu itu berdiri kokoh di balik jalinan akar pohon raksasa.
Wang Dahu berdiri mematung, mengamati setiap goresan ukiran yang merajut permukaannya. Semakin lama ia menatap pola-pola itu, semakin ia merasakan pusaran energi spiritual tak kasat mata yang siap mereduksi siapa saja yang lancang mendekat.
Puluhan formasi spiritual kuno tampak bertumpuk berlapis-lapis di atas pintu tersebut. Ada pola yang berputar melingkar, garis-garis jalur energi yang saling bersilangan, hingga simbol-simbol samar yang seolah-olah bernapas hidup.
“Formasi macam apa ini?” gumam Dahu pelan.
“Formasi labirin yang belum pernah kulihat sebelumnya,” jawab si iblis dari dalam batin. “Jangan sembarangan menyentuhnya. Satu kecerobohan saja cukup untuk mengubur kesadaranmu di tempat ini selamanya.”
Dahu mengangguk hati-hati. Ia mencoba memetakan susunan alur formasi itu di kepalanya, berharap bisa menemukan celah untuk membukanya secara aman.
Namun, tanpa sengaja, ujung jarinya menggores salah satu ukiran berpendar di sisi pintu.
Wuuung—!
Dalam sekejap, cahaya menyilaukan melesat keluar dan membungkus sekujur tubuhnya.
“ Dahu! Jangan—!”
Teriakan si iblis seketika terputus dan lenyap ditelan kehampaan.
Ketika Dahu membuka kembali kedua matanya, ia mendapati dirinya telah berpindah ke sebuah dimensi asing.
Di sekelilingnya terbentang labirin tanpa ujung. Dinding-dinding lorong menjulang tinggi berwarna kelabu pekat, diselimuti kabut tebal yang membatasi pandangan, sementara jalan di hadapannya terus bercabang labirin yang membingungkan.
“Di mana aku...?”
Ia mencoba memanggil si iblis, namun tak ada sahutan sama sekali. Hubungan batinnya terblokir total.
Dahu mengerahkan aliran Qi di tubuhnya, namun tak ada satu pun jalan keluar yang merespons. Ia mulai melangkah menyusuri lorong berliku itu.
Setiap kali ia memilih jalur, ia selalu berputar kembali ke titik awal. Bahkan saat ia mencoba menghancurkan dinding kelabu tersebut dengan tinjunya, tangan Dahu sekadar menembus kabut hampa.
Tak berselang lama, pemandangan di sekelilingnya bergeser drastis.
Dinding labirin kelabu perlahan menguap.
Kini, ia berdiri tepat di depan halaman sebuah rumah kayu kecil yang teramat ia kenal.
Desa Cangmu.
Rumah sederhana tempat ia tinggal bersama ayahnya, Wang Shun.
Pintu depan perlahan terbuka lebar. Tampak sosok paruh baya yang sangat dirindukannya sedang sibuk menyiapkan hidangan di dapur kecil.
“Dahu, kau sudah pulang rupanya?”
Suara berat yang menenangkan itu menghentikan seluruh detak jantung Dahu.
“Ayah...?”
Wang Shun menoleh dari balik meja dapur sambil tersenyum hangat. “Cepat basuh tanganmu, Nak. Makanan malam hampir siap.”
Dahu tahu betul bahwa apa yang ia saksikan di hadapannya hanyalah ilusi. Namun, melihat bayangan sang ayah yang hidup dan tersenyum membuat dadanya bergemuruh hebat—antara kehangatan yang meraja lela dan kepedihan yang menusuk.
Ia melangkah mendekat dengan kaki bergetar.
Di atas meja kayu terhidang dua mangkuk bubur encer sederhana. Seperti kebiasaannya di masa lalu, Wang Shun langsung mendorong mangkuk yang isinya sedikit lebih banyak ke hadapan Dahu.
“Ayah tidak makan?” tanya Dahu lirih.
“Ayah sudah kenyang. Kau habiskan saja.”
Kenangan masa kecil itu mengalir begitu tajam. Dahu sangat mengingat bagaimana sang ayah selalu rela menahan lapar dan berbohong demi memastikan anaknya bisa makan. Ia juga ingat bagaimana mereka berdua bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan desa.
Pemandangan di sekitarnya kembali berubah.
Kini, ia melihat Wang Shun duduk bersila di teras rumah, telaten menjahit pakaian tebal musim dingin yang sudah koyak. Wajah ayahnya menyuratkan kelelahan fisik yang nyata, namun senyum itu tetap merekah begitu Dahu kecil berlari mendekat.
“Kau harus menjaga kesehatanmu baik-baik di luar sana, Dahu...” pesan Wang Shun lembut.
Dahu terdiam kaku.
Seketika, atmosfer berubah dingin. Suara lain yang bernada sumbang menyusup mengoyak ilusi tersebut.
“Kenapa kau tega meninggalkan ayahmu sendirian...?”
Dahu tersentak, menoleh ke belakang.
Wang Shun berdiri beberapa langkah di hadapannya. Namun kali ini, guratan senyum di wajah sang ayah telah lenyap berganti ekspresi dingin.
“Dulu ayah selalu ada untuk melindungimu. Sekarang kau memilih pergi jauh meninggalkannya sendirian. Apakah kau sudah tidak lagi membutuhkan seorang ayah...?”
“Ayah, bukan begitu maksudku...!” Dahu merentangkan tangan, berniat menjelaskan.
“Lalu untuk apa kau pergi meninggalkan rumah?!”
Sosok Wang Shun perlahan surut ke belakang, menjauh darinya.
Dahu panik mengejar, namun setiap kali ia mempercepat langkah, jarak di antara mereka justru semakin merentang jauh.
“Ayah! Tunggu aku!”
Ia berlari menyusuri lorong-lorong ilusi yang terus berubah bentuk.
Kenangan-kenangan manis seketika terpuntir menjadi kepingan masa lalu yang menyakitkan: hari-hari saat ia dicaci maki sebagai pemuda tambun yang tak berguna, dihina warga desa, dan dipandang sebelah mata oleh dunia.
Namun di tengah badai cemoohan itu, satu-satunya sosok yang konsisten berdiri kokoh di sisinya adalah Wang Shun. Ayahnya tetap menaruh kepercayaan penuh, bahkan tatkala seluruh semesta mencapnya sebagai pecundang.
Dahu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia ingin keluar dari tempat ini. Namun labirin ilusi itu terus mencoba mengurungnya dalam rasa bersalah.
Di dunia nyata, raga Wang Dahu masih tergeletak kaku di hadapan pintu batu kuno Hutan Kabut Merah.
Kesadarannya sepenuhnya terkunci di dalam perangkap formasi spiritual tingkat tinggi.
Di dalam alam batinnya, si iblis mengamuk frustrasi mendapati koneksi batin mereka terputus total. “Wang Dahu! Sialan, sadarlah!”
Tak ada tanggapan.
“Bocah dungu! Bangun dari mimpimu!”
Suasana tetap sunyi senyap. Si iblis mencoba mendesak paksa indranya menembus labirin ilusi, namun benteng formasi kuno itu memantulkan seluruh energinya dengan kejam.
Ia bisa merasakan garis kesadaran pemuda itu kian menipis, terancam padam selamanya.
“Jangan mati di tempat terkutuk ini!” teriak si iblis murka sekaligus cemas. “Kau bahkan belum membuktikan apa pun pada dunia! Kau belum menepati janjimu untuk melindungi ayahmu!”
Di dalam dimensi labirin ilusi, Dahu yang hampir menyerah tiba-tiba mendengar gaung suara samar yang menembus kepalanya.
Ia berhenti mengejar bayangan sang ayah.
Suara itu terdengar lantang, memanggil namanya berulang-ulang di sela-sela kabut tebal.
“Bangun...!”
“Wang Dahu!”
Ia mengenali suara berat itu. Suara si iblis.
Bagaimana bisa suara itu menembus ilusi ini?
Dahu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seketika, ia teringat pesan terakhir yang diucapkan Wang Shun tatkala ia melangkah meninggalkan Desa Cangmu:
“Jangan pernah kehilangan jati dirimu, Dahu. Sejauh apa pun kakimu melangkah di dunia luar, ingatlah siapa dirimu dan dari mana asalmu.”
Dahu menarik napas panjang, menjernihkan isi kepalanya dari racun-racun ilusi.
“Ayah tidak pernah menuntutku untuk selamanya bersembunyi di balik bayangannya,” bisik Dahu tegas.
Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus bayangan Wang Shun di ujung lorong.
“Ayah ingin aku hidup lebih tangguh. Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri agar kelak akulah yang melindungi Ayah dari segala marabahaya!”
BLLLEEEARRR—!
Retakan-retakan besar mendadak membelah langit labirin ilusi.
“Aku tidak akan membiarkan kenangan palsu ini memenjarakanku!” teriak Dahu lantang.
KRAAAK—!
Seluruh struktur labirin kelabu itu runtuh berkeping-keping bagaikan kaca pecah.
Silau cahaya putih membuyarkan pandangannya.
Dahu tersentak sadar, langsung memuntahkan seteguk darah segar.
“Uhuk!”
Ia terbatuk keras sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Sekujur persendiannya terasa ngilu luar biasa, seolah ia baru saja merampungkan maraton ribuan mil tanpa jeda.
“Wang Dahu!” Suara si iblis akhirnya bergemuruh lega di dalam kepalanya.
Dahu merebahkan punggungnya di tanah, menarik napas lemah. “Kau... berisik sekali.”
Si iblis mendengus jengkel. “Dasar manusia tidak tahu diuntung! Aku tadi sudah berteriak sampai tenggorokanku hampir robek memanggilmu keluar dari sarang ilusi itu!”
Dahu tidak punya cukup cadangan tenaga untuk mendebat. Ia hanya berbaring beberapa saat memulihkan kesadarannya.
Begitu pandangannya mulai fokus, ia mendapati kenyataan mengejutkan:
Pintu batu yang tadi tertutup rapat kini telah terbuka lebar.
Pancaran cahaya lembut berwarna keemasan menyeruak keluar dari celah ruangan di baliknya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Dahu memaksakan diri bangkit berdiri dan melangkah melewati ambang pintu.
Ruangan di balik pintu itu ternyata sangat sederhana dan bersahaja.
Tak ada tumpukan batu spiritual menyilaukan, tak ada kotak harta karun berlimpah, ataupun rumput obat legendaris yang berserakan.
Di tengah ruangan itu, hanya tertancap sebuah pedang sederhana di atas sebuah altar batu cadas.
Bilah pedang itu tampak biasa saja. Tidak ada ukiran permata mewah ataupun hiasan norak di gagangnya. Namun, permukaannya memancarkan pendaran cahaya redup yang mengalir konstan menyusuri mata bilahnya bagaikan aliran air murni.
Di sisi altar, terbujur kerangka manusia berpakaian jubah panglima perang kuno yang telah menjadi abu.
Dahu mendekati altar itu dengan langkah penuh kewaspadaan.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah dinding batu di belakang altar, di mana terukir sebuah pesan pahit menggunakan goresan pedang:
“Siapa pun yang berhasil menembus labirin ujianku—apa pun niat, latar belakang, dan aliran darahmu—lanjutkanlah warisan jurus pedang yang kuciptakan hingga mengguncang dunia. Jadilah penerusku, dan jangan biarkan pusaka ini membusuk sia-sia bersama tulang-belulangku.”
Dahu membaca bait tulisan kuno itu berulang-ulang hingga meresap ke dalam sanubarinya.
“Jadi, pemilik tempat ini adalah seorang master pedang masa lampau?” gumamnya.
“Sepertinya demikian,” sahut si iblis menyetujui.
Seketika, ukiran tulisan di dinding itu berpendar terang.
Partikel cahaya melesat ke udara, membentuk proyeksi visual bayangan seorang jenderal gagah perkasa yang tengah mengayunkan pedang.
Satu ayunan dasar.
Disusul gerakan kedua yang membelah angin.
Lalu tebasan ketiga yang dahsyat.
Setiap gerakan yang diperagakan tampak begitu bersahaja, namun menyimpan kompleksitas perubahan aliran tenaga Qi dan sudut gravitasi yang luar biasa rumit.
Rangkaian bayangan itu terus berputar, memperlihatkan presisi kuda-kuda, arah mata pedang, hingga teknik menyalurkan ledakan Qi ke dalam inti bilah logam.
Dahu terpaku di tempatnya. Belum pernah seumur hidupnya ia menyaksikan seni pedang yang begitu sempurna.
Dalam hitungan detik, seluruh memori gerakan dan prinsip mekanika jurus itu terekam sempurna dan terkunci rapat di dalam ingatannya.
Nama agung jurus tersebut terukir jelas di benaknya:
Pedang Penghancur Gunung!
Dahu menelan air liurnya yang terasa kelat. Jurus ini... tingkat destruksinya benar-benar mengerikan.
Namun, saat ia mencoba mensimulasikan sirkulasi Qi di dalam dantiannya untuk membayangkan eksekusi jurus itu, keningnya langsung berkerut dalam.
Kebutuhan cadangan energi Qi untuk melepaskan jurus tersebut terlampau masif. Bahkan untuk sekadar mengayunkan jurus bentuk pertamanya saja, kapasitas Qi miliknya saat ini dipastikan akan terkuras habis dalam sekejap.
“Jangan coba-coba memaksakannya sekarang,” peringat si iblis serius. “Dengan tingkat kultivasimu yang baru menyentuh tingkat keempat Pembukaan Meridian, memaksakan diri memakai jurus itu bakal meremukkan pembuluh darahmu sendiri.”
Dahu mengangguk paham. Ia tidak berniat bunuh diri konyol.
Begitu proyeksi bayangan jurus itu meredup, sisa pendar cahaya di altar mendadak melesat menembus dada Dahu.
Deg!
Sensasi kehangatan meresap ke dalam sumsum tulangnya. Pemahaman mendalam tentang esensi Pedang Penghancur Gunung menyatu sempurna ke dalam jiwa raganya.
Pewaris Telah Lahir
Namun, sebelum Dahu sempat memeriksa pedang di altar, ruangan gua itu mendadak bergetar hebat.
Wuuuung—!
Sebuah gaya gravitasi misterius menarik tubuh Dahu secara paksa keluar dari ruang warisan.
Ketika ia membuka mata kembali, ia telah terduduk di luar, tepat di hadapan akar pohon raksasa Hutan Kabut Merah.
Pintu batu di hadapannya telah tertutup rapat kembali.
Permukaannya kembali menjadi batu mati yang dipenuhi lumut, tanpa sisa-sisa cahaya pendar spiritual sedikit pun. Dahu menyentuh permukaannya, namun tak ada lagi reaksi apa pun.
“Sepertinya warisan itu memang ditakdirkan hanya bisa diambil oleh satu orang pewaris,” gumam Dahu pelan.
Si iblis mendengus lega. “Syukurlah. Setidaknya kali ini kau pulang membawa hasil yang setimpal dengan taruhan nyawamu.”
Dahu tersenyum simpul. Ia merogoh cincin penyimpanannya, memeriksa hasil panennya: Rumput Kabut Merah, varian langka Rumput Kabut Merah Sembilan Daun, inti monster berkualitas tinggi, serta material tulang dan kulit beruang raksasa.
Ia berniat menyerahkan separuh hasil buruannya untuk memenuhi misi Balai Tugas sekte, sementara sisanya akan ia simpan untuk modal pribadi.
Dengan tumpukan material berharga sebanyak itu, ia akhirnya memiliki sumber daya finansial dan batu spiritual yang memadai untuk memulai eksperimen alkimia.
“Perjalanan kali ini benar-benar membawa keberuntungan besar,” ucap Dahu puas.
“Keberuntunganmu kepalamu!” cibir si iblis sewot. “Kau hampir tewas tersesat di alam baka gara-gara pintu sialan itu!”
Dahu tertawa renyah. “Tapi pada akhirnya aku mendapatkan warisan pedang yang luar biasa.”
Ia bangkit berdiri, menatap lurus ke arah jalur keluar hutan berkabut.
Setelah berhari-hari bertarung mempertaruhkan nyawa di alam liar, sudah saatnya ia kembali melangkahkan kaki ke dalam kawasan Sekte Awan Surgawi.
Ia ingin segera menuntaskan misi, mengantongi bayaran batu spiritual, dan meracik bahan-bahan alkimia pertamanya.
Namun, di dalam lubuk hatinya, satu nama jurus terus bergemuruh penuh antisipasi:
Pedang Penghancur Gunung.
Suatu hari kelak, saat fondasi kultivasinya telah matang sempurna, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa mengerikan kehancuran yang mampu ditimbulkan oleh tebasan pedang tersebut.
Dan hari itu, tampaknya tidak akan menunggu terlalu lama lagi.