NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cesa si bar bar

Melihat Samantha yang sudah menyerupai maskot taman air gagal total dan Cesa yang masih asyik memegang selang dengan senyum kemenangan, Devan merasa pasokan oksigen di kepalanya berkurang drastis. Cowok itu melangkah maju, merebut selang air dari tangan Cesa dengan kasar, lalu mematikan kerannya.

"Cesa! Stop! Lo bener-bener reog ya!" bentak Devan, napasnya terengah-engah menahan pening.

"Yah, penonton kecewa," cibir Cesa, melipat kedua tangannya di dada tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia membenarkan posisi kacamata hitamnya yang bertengger di atas daster macan tutulnya. "Padahal kan gue lagi berbuat kebaikan, Dev. Menyiram tanaman yang layu sekaligus memandikan lalat yang tersesat."

"Devan!!! Huhu... lihat istri gila kamu ini!" Samantha langsung menghambur ke arah Devan, berniat memeluk cowok itu untuk mencari perlindungan. Namun, dengan sigap Devan menghindar dua langkah ke samping, membuat Samantha hampir saja mencium tanah untuk kedua kalinya hari itu.

"Sam, stop. Lo basah kuyup gitu, jangan dekat-dekat gue," kata Devan ketus, wajahnya menunjukkan rasa risi yang amat sangat. "Lagian ngapain sih lo ke rumah gue? Pakai acara ribut sama si barbar ini lagi."

"Aku ke sini mau ketemu kamu, Dev! Tapi dia langsung nyerang aku pakai air! Ini tas limited edition aku rusak, Dev! Make-up aku luntur! Aku enggak mau tahu, aku mau dia minta maaf!" tuntut Samantha sambil menghentak-hentakkan kakinya. Air menetes-netes dari ujung rambut pirangnya yang kini lepek seperti mie rebus kelamaan dimasak.

Cesa mendengus remeh. "Minta maaf? Di kamus seorang Alice Sabrina Catrine, enggak ada kata maaf buat pelakor amatir yang nyasar ke pekarangan orang. Adanya kata 'sukur binti kapok'. Kalau lo enggak mau pulang, ya udah, gue siram lagi pakai air comberan mau?"

"Sudah! Cukup! Lo berdua bisa diam enggak?!" bentak Devan, suaranya menggelegar di taman belakang, membuat beberapa burung yang sedang bertengger di pohon kelapa langsung terbang menyelamatkan diri. Devan menatap Samantha dengan pandangan jengah. "Sam, lo masuk ke dalam dulu. Ganti baju atau ngeringin badan pakai handuk pelayan. Dan lo, Cesa... ikut gue ke ruang tamu. Kita selesaikan ini sekarang juga sebelum kepala gue beneran meledak.

Setengah jam kemudian, ruang tamu utama mansion yang megah itu berubah atmosfernya menjadi ruang sidang tingkat tinggi.

Samantha duduk di salah satu sofa beludru mewah dengan tubuh yang dibalut handuk putih tebal milik mansion. Riasan wajahnya yang tadi tebal kini sudah luntur sebagian, menyisakan coretan maskara hitam di bawah matanya yang membuatnya tampak seperti karakter film horor anggaran rendah. Namun, keangkuhannya belum luntur. Ia tetap melipat kaki dan menatap Cesa dengan pandangan permusuhan yang berapi-api.

Di seberangnya, Cesa duduk dengan gaya yang sangat tidak mencerminkan tempat itu. Ia menaikkan satu kakinya ke atas sofa, bersandar nyaman sambil mengunyah camilan kacang atom yang tadi sempat ia ambil dari dapur. Daster macan tutulnya tetap melekat dengan gagah berani.

Devan berdiri di tengah-tengah mereka, mondar-mandir seperti hakim yang frustrasi karena menghadapi dua terdakwa yang sama-sama tidak waras.

"Sekarang jam lima sore," Devan membuka suara, melirik jam tangan Rolex-nya. "Sam, badan lo udah kering. Sopir gue udah gue suruh siapin mobil buat anter lo pulang. Jadi, silakan angkat kaki dari rumah gue."

"Enggak mau!" seru Samantha keras kepala. "Aku enggak mau pulang sebelum cewek kampung ini minta maaf sama aku! Lagian, di luar mendung, Dev. Kalau aku pulang sekarang terus aku sakit gimana? Kamu enggak kasihan sama aku? Kita kan pernah saling mencintai!"

Uhuk! Uhuk!

Cesa langsung tersedak kacang atom mendengarkan kalimat terakhir Samantha. Ia memukul dadanya sendiri, lalu tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.

"Hahaha! Saling mencintai kepala lo peyang! Heh, denger ya Samantha si paling gagal move on. Suami kampret gue ini emang brengsek, tapi seenggaknya dia jujur kalau pacaran sama lo itu cuma karena kalah taruhan. Tar-u-han! Lo tahu artinya kan? Sama kayak lo beli kupon undian berhadiah sabun colek, enggak ada romantis-romantisnya!" cerocos Cesa barbar.

"Cesa, diam! Jangan kompor!" potong Devan tajam, meski dalam hati ia membenarkan ucapan Cesa. Devan beralih menatap Samantha. "Sam, ucapan Cesa ada benernya. Gue enggak pernah ada rasa sama lo. Hubungan kita udah selesai setahun yang lalu. Dan sekarang, suka atau enggak suka, Cesa ini istri sah gue. Papa gue yang milih dia. Jadi lo enggak ada hak buat ngatur-ngatur atau diam di sini."

Samantha langsung mengeluarkan senjata andalannya: air mata buaya. Ia mulai terisak, membuat maskaranya semakin luntur ke mana-mana. "Tapi aku tahu kamu terpaksa, Devan! Kamu pasti tertekan punya istri yang kelakuannya kayak preman pasar gini! Aku cuma mau nemenin kamu, Dev. Aku mau diam di sini sampai kamu ngerasa nyaman!"

"Wah, ngajak nginep ternyata ni anak," gumam Cesa, matanya berbinar penuh kelicikan. Cesa berdiri dari sofanya, berjalan mendekati meja kaca di tengah ruangan. "Eh, lalat ijo. Lo mau tahu kenapa Papa-nya Devan sayang banget sama gue sampai gue dijadiin menantu kesayangan?"

Samantha mendongak dengan wajah sembab. "Pasti karena lo pakai pelet!"

"Pelet mata lo katarak! Nih, lihat!" Cesa mengeluarkan ponselnya, lalu menekan sebuah tombol. Detik berikutnya, suara rekaman suara berbunyi dengan keras di ruang tamu.

“Cesa sayang... kalau si Devan macem-macem atau bawa perempuan lain ke rumah, kamu lapor Papa ya. Nanti Papa coret dia dari kartu keluarga, biar dia jadi gembel jalanan. Harta Papa semuanya buat kamu aja nanti.” Itu jelas suara Abraham, ayah Devan, dengan nada yang sangat penuh kasih sayang kepada Cesa.

Wajah Samantha langsung pucat pasi mendengarnya. Sementara Devan yang baru pertama kali mendengar rekaman itu langsung melotot.

"Cesa!!! Sejak kapan bokap gue ngomong gitu?!" teriak Devan panik.

"Dua hari sebelum pernikahan, pas gue nganterin martabak manis kesukaan Papa ke kantornya," jawab Cesa dengan senyum tanpa dosa. Ia menatap Samantha dengan pandangan penuh kemenangan. "Jadi, Samantha sayang... lo mau tetep diam di sini sampai malam? Silakan. Tapi begitu jam tujuh malam lo belum keluar dari gerbang ini, rekaman ini beserta foto lo yang lagi gelendotan pakai handuk di rumah suami orang bakal langsung mendarat di WhatsApp Papa Abraham. Taruhan yuk, dalam waktu sepuluh menit, bokapnya Devan bakal ngirim satu kompi bodyguard buat nyeret lo ke jalur hukum atas tuduhan mengganggu keharmonisan rumah tangga pewaris tunggal!"

Samantha gemetaran. Ia menatap Devan, berharap cowok itu akan membelanya atau menahan Cesa. Namun, Devan sendiri saat ini sedang sibuk memegangi kepalanya yang mendadak pening memikirkan nasib warisannya jika Cesa benar-benar melapor pada papanya.

"Sam... mending lo pulang," kata Devan akhirnya dengan nada pasrah. "Gue enggak bisa bantu lo kalau udah urusan sama Papa. Keluar sekarang."

Samantha menyadari bahwa posisinya benar-benar kalah telak hari ini. Dengan perasaan campur aduk antara malu, marah, dan sakit hati, ia berdiri, menghentakkan kakinya dengan brutal, lalu melempar handuk mansion ke lantai.

"Kalian berdua bener-bener jahat! Pasangan gila! Lihat aja nanti, aku bakal balas kalian!" teriak Samantha histeris sebelum akhirnya berlari keluar dari ruang tamu menuju pintu depan dengan langkah terseok-seok karena high heels-nya yang basah.

Melihat kepergian Samantha yang begitu dramatis, Cesa kembali duduk di sofa, mengambil kacang atomnya yang tersisa, lalu mengembuskan napas lega.

"Fiuh... akhirnya lalatnya pergi juga. Ganggu waktu estetis gue aja," ujar Cesa santai.

Devan berjalan mendekati Cesa, berdiri di depan cewek barbar itu dengan mata menyipit tajam. "Lo... bener-bener cewek paling manipulatif yang pernah gue kenal ya. Rekaman itu asli?"

Cesa menoleh, lalu menyeringai lebar. "Kagak lah! Itu suara Papa pas lagi bercanda waktu gue pijitin kakinya. Tapi kan lumayan buat nakut-nakutin mantan lo yang otaknya cuma seupil itu. Hahaha! Cerdas kan istri lo?"

Devan terdiam, menatap Cesa dengan pandangan yang sulit diartikan—antara ingin mencekik cewek ini atau ingin mengakui bahwa kecerdikan barbar Cesa malam ini cukup menyelamatkannya dari gangguan sang mantan yang melekat seperti lem sup

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!