mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.
Hari senin merupakan hari di mana para makluk hidup kembali aktif ada yang sekolah,kuliah,ngantar anak sekolah,maupun bekerja kembali ,dan berbagai aktifitas
Di kasur big size gadis berambut caramel dengan mengenakan penutup mata doraemon itu masih tertidur pulas..suara bising tetangga bahkan suara motor mobil sampai suara mesin pabrik pun seperti suara semut,tak terusik sama sekali.
ia masih pulas dengan posisi tidur kaki di bantal kepala di ujung kasur,posisi tidur nya bagai hewan liar yang tidak pernah tidur .
Suara alarm jam maupun alarm ponsel nya malah jadi nyanyian tidur,tidak terusik sedikit pun.
Brakkk
"Aduhhh badan gue"Teriak sila heboh..
Ia terdiam sejenak,kemudian netra nya melirik ke arah jam dinding
07:20
"ANJING GUE KESIANGANNNN"ia bangun dan dengan tergesa gesa berlari ke arah kamar mandi
hari ini adalah hari pertama ia bekerja,ia harus datang jam 8 pagi ..harus sudah berada di lokasi.
masalahnya adalah jarak dari kosan ke perusahaan itu lumayan jauh.
setelah bersiap siap,ia buru buru memesan taxi.
08:00
pertama kerja di tempat impian membuat Silla melangkah penuh semangat ke dalam lobi kantor baru, sebuah gedung modern yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari luar. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan sempurna antara rasa gugup dan kebahagiaan yang meluap-luap setelah perjuangan panjang melewati berbagai tahapan seleksi bahkan harus menunggu lama.
Setelah melapor di meja resepsionis, Silla diarahkan menuju ruang Human Resources (HR). Di sana, seorang staf HR menyambutnya dengan senyuman ramah dan langsung menyodorkan beberapa lembar kertas tebal. Dokumen yang sudah sangat ia nantikan: kontrak kerja resmi.
"Silakan dibaca dulu ya, Silla. Kalau sudah oke dan tidak ada pertanyaan, bisa langsung ditandatangani di bagian lembar terakhir," ucap staf HR tersebut dengan sopan.
Silla mengangguk cepat. Lembaran dokumen itu kini sudah berpindah ke tangannya. Aroma kertas baru dan logo perusahaan di pojok atas membuat dadanya kian bergemuruh. Saking bahagianya, fokusnya mendadak buyar. Alih-alih membaca kata demi kata dengan teliti, mata Silla justru bergerak tergesa-gesa melompati baris-baris kalimat.
Pikirannya sudah melompat jauh ke depan. Ia membayangkan saat ia resmi bekerja di sini, membayangkan meja kerja barunya, dan deretan tugas menantang yang siap ia taklukkan. Ia hanya menangkap kata-kata kunci secara sekilas: Posisi... Gaji... Fasilitas... Jam Kerja... Semuanya tampak sempurna di matanya. Rasa euforia yang membuncah membuat Silla tidak sabar untuk segera meresmikan statusnya.
Tanpa membuang waktu lebih lama, ia membalik halaman demi halaman dengan cepat hingga tiba di lembar paling belakang. Silla meraih pulpen hitam yang disediakan, memposisikan ujungnya di atas garis namanya, lalu menorehkan tanda tangannya dengan mantap dan cepat.
Ia menyerahkan kembali dokumen tersebut sambil tersenyum lebar. Detik itu juga, statusnya telah berubah. Silla resmi menjadi bagian dari perusahaan impiannya, siap memulai petualangan baru dalam kariernya.
Sila berdiri kaku di depan meja jati hitam yang megah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena dekorasi ruangan yang kelewat mewah, melainkan karena kursi kerja premium di balik meja itu perlahan berputar.
Saat kursi itu berhenti berputar, wajah pria yang duduk di sana terpampang jelas. Pria itu menyunggingkan senyum miring-senyum tengil nan familier yang luar biasa Sila benci.
"Gara?!" Sila memekik, matanya membelalak sempurna. Lembaran proposal di tangannya hampir saja merosot ke lantai karna kaget.
Sagara menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Sila penuh kemenangan. "Kejutan, Sayang. Ah, sori, maksudku... selamat datang, Asisten Baruku."
"Nggak, nggak mungkin! Lo CEO DERIOS Group?!" Sila mencengkeram tepi meja sagara. napasnya memburu akibat emosi yang mendadak naik ke ubun-ubun. "Gila ya! Kalau tahu CEO-nya itu curut kayak lo, gue nggak sudi masukin lamaran ke sini!"
Sagara terkekeh, sama sekali tidak terganggu dengan bentakan Sila. Ia membuka laci mejanya dengan santai, mengeluarkan sebuah map tebal berlapis kulit, lalu melemparkannya ke hadapan Sila.
"Sayangnya, kamu sudah tanda tangan kontrak tadi pagi di bagian HRD, Sila," ujar sagara. nadanya terdengar sangat menyebalkan di telinga gadis berambut caramel tersebut.
Sila menyambar map itu, membukanya dengan kasar, dan langsung membalik halaman ke lembar ketentuan khusus. Matanya menyipit membaca rentetan angka nol yang berjejer panjang di sana.
"Tunggu... ini apa?!" Sila menunjuk salah satu klausul dengan jari yang gemetar karena amarah
"Denda penalti pembatalan kontrak sepihak... seratus miliar rupiah?!"
Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan gaya paling sombong yang pernah Sila lihat. "Yup. Seratus miliar. Kamu dilarang resign selama lima tahun ke depan. Kalau nekat keluar sebelum waktunya, atau melanggar perintah CEO... silakan bayar dendanya."
"Kamu ngejebak aku, Sagara bajingan?!" Sila menggebrak meja hingga vas bunga di sudutnya bergetar. Wajahnya memerah padam. "Kamu sengaja pakai nama perusahaan samaran saat rekrutmen awal?! Ini pemerasan! Aku bisa tuntut kamu!"
"Tuntut saja kalau punya uang buat bayar pengacara handal legal-ku," tantang sagara santai dengan kedipan mata yang sengaja memancing emosi. "Lagian, siapa yang suruh kamu nggak baca kontraknya sampai teliti? Tergiur gaji besar, kan?"
"Kamu benar-benar nggak berubah ya! Tetap licik, tengil, dan brengsek!" Sila mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan diri agar tidak melayangkan bogem mentah ke wajah mantan kekasihnya itu.
"Aku nggak mau kerja sama orang psikopat kayak kamu!"ia misuh misuh
"Pilihan ada di tangan kamu sendiri cinta, Sila yang manis dan emosian," Sagara bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu berbisik tepat di samping telinga Sila yang sedang menahan ledakan amarah. "Mau bayar seratus miliar sekarang... atau jadi babu saya,Ah maksud saya jadi asisten pribadi saya selama 5 tahun"
Sila memejamkan mata, mengembuskan napas kasar demi menjaga kewarasannya yang sudah di ujung tanduk. Satu detik saja lagi... aku pasti bakal mencekik CEO tengil ini.
Sila Menghela nafas,ia melihat sagara dan memberikan senyum paksa nya
"Saya Ijin ke toilet sebentar pak."Tanpa mendengar jawaban sagara,sila langsung pergi begitu saja keluar ruangan..sagara terkekeh melihat silla pergi keluar sambil menghentakan
Kaki nya begitu kencang ke lantai.
••••••••••••••
•••••••••