NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria dengan Tatapan Elang

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamar, menerangi wajahku yang masih enggan meninggalkan bantal. Aku menarik selimut hingga menutupi kepala, berharap bisa menikmati beberapa menit tambahan sebelum dunia kembali menuntut perhatianku.

Sayangnya, harapan itu hancur ketika pintu kamarku diketuk tiga kali.

“Nona Isabella,sarapan ada sudah siap.”

Aku mengerang pelan.

“Give me five minutes, please!”

“Ayahmu memintamu untuk bergabung dengannya di lantai bawah,Nona.”

Aku membuka sebelah mata, menatap langit-langit kamar dengan pasrah.

“Of course he did.”

Dengan malas, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, aku mengenakan blus putih sederhana yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambut cokelat gelap ku, ku ikat longgar, membiarkan beberapa helai jatuh di sekitar wajah.

Aku tidak berniat tampil istimewa hari ini. Toh, tidak ada seorang pun yang perlu ku buat terkesan.

Terutama pria menyebalkan yang kutemui semalam.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Entah mengapa, nama itu terus muncul dalam pikiranku sejak aku meninggalkan pesta. Bukan karena aku terpesona, tentu saja. Aku hanya merasa terganggu oleh sikapnya yang terlalu percaya diri, seolah-olah seluruh dunia harus berputar mengikuti keinginannya.

Pria yang sombong.

Aku mengambil tas kecilku, lalu meninggalkan kamar.

“Good morning, sweetheart.”

Ayah duduk di meja makan sambil membaca beberapa dokumen perusahaan. Di hadapannya tersedia sarapan lengkap yang sebagian besar bahkan belum disentuh.

“Morning, Dad.”

Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. Seorang pelayan segera menuangkan teh hangat ke dalam cangkirku.

Ayah melipat dokumennya, kemudian menatapku dengan senyum penuh arti.

“Did you enjoy the party last night?”

Aku mengangkat bahu. “It was fine. A little boring, actually.”

“Really? I heard you met Dominic Imanuel.”

Tanganku yang sedang meraih roti langsung berhenti.

Aku menoleh perlahan.

“Wait. How do you know that?”

Ayah tertawa kecil. “Madrid is full of people who love to talk, Isabella.”

“Unbelievable.”

“Is he as intimidating as people say?”

Aku mengoleskan mentega ke rotiku sebelum menjawab, “Honestly? He's just a man with an expensive suit and an oversized ego.”

Ayah hampir tersedak kopinya karena menahan tawa.

“Careful, sweetheart. You don't know much about him.”

Aku mengernyit. “What's that supposed to mean?”

Senyum Ayah perlahan menghilang.

“Dominic is not someone you should underestimate. His business connections are complicated, and some people say he has ties to dangerous organizations.”

Aku meletakkan pisau kecilku.

“Then why are people still doing business with him?”

“Because power makes people forget their fear. And money makes them pretend they don't have any.”

Aku terdiam sejenak.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti peringatan.

Ayah kembali membuka dokumennya.

“Just stay away from him, Isabella. I don't want you involved in anything that could put you in danger.”

Aku mengangguk ringan.

“Don't worry, Dad. I have absolutely no intention of seeing that man again.”

Kalimat itu kuucapkan dengan penuh keyakinan.

Sayangnya, hidup tampaknya memiliki selera humor yang buruk.

Karena beberapa jam kemudian, aku akan mengetahui bahwa pria yang ingin kuhindari itu ternyata jauh lebih dekat daripada yang kubayangkan.

Pukul sebelas siang, aku tiba di kantor pusat Laurent Group untuk menghadiri rapat mengenai proyek hotel baru kami. Gedung perusahaan berdiri megah di kawasan bisnis Madrid, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari.

Aku baru saja keluar dari lift ketika sekretarisku, Elena, menghampiriku dengan tablet di tangan.

“Miss Laurent, your father asked me to inform you that the meeting has been moved to the main conference room.”

“Why?”

Elena tampak ragu.

“We have an unexpected guest.”

Aku mengangkat alis.

“Who?”

Sebelum Elena sempat menjawab, suara seorang pria terdengar dari dalam ruangan.

“Mr. Laurent, I believe we can make this partnership beneficial for both sides.”

Aku membeku.

Aku mengenali suara itu.

Tidak mungkin.

Aku melangkah mendekati pintu yang terbuka sedikit. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat ayahku duduk di ujung meja konferensi bersama beberapa eksekutif perusahaan.

Dan di seberangnya, mengenakan setelan hitam yang nyaris serupa dengan yang dipakainya semalam, duduk seorang pria dengan tatapan tajam dan ekspresi tenang.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Aku memejamkan mata selama dua detik.

You've got to be kidding me.

Seolah merasakan kehadiranku, Dominic mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Mata kami bertemu.

Lalu, senyum tipis yang sangat kukenal muncul di wajahnya.

“Ah,” katanya santai. “There she is.”

Semua orang di ruangan menoleh kepadaku.

Aku ingin menghilang saat itu juga.

Namun, sebagai Isabella Laurent, aku tidak akan membiarkan seorang pria arogan membuatku kehilangan harga diri.

Aku melangkah masuk dengan dagu terangkat.

“Good morning, everyone.”

Ayah tersenyum kepadaku.

“Isabella, perfect timing. Come and join us.”

Aku duduk di kursi kosong yang terletak tepat di seberang Dominic.

Pria itu menyandarkan punggungnya dengan santai.

“Good morning, Miss Laurent.”

Aku membalas tatapannya tanpa senyum.

“Mr. Imanuel.”

“Didn't expect to see me again so soon?”

“Trust me, the feeling is mutual.”

Salah satu eksekutif di sebelah ayahku berdeham, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Sementara itu, Dominic justru tampak semakin terhibur.

“You always this friendly in the morning?”

“Only when someone ruins it.”

Dominic tertawa pelan.

“Interesting.”

Aku membenci kata itu.

Sepertinya, dalam kamus Dominic Lorenzo Imanuel, semua hal yang tidak sesuai dengan keinginannya adalah menarik.

Rapat berlangsung hampir satu jam.

Dominic menjelaskan rencana kerja sama untuk pembangunan kompleks perhotelan mewah di Spanyol. Ia berbicara dengan tenang, menyampaikan angka investasi dan proyeksi keuntungan tanpa sedikit pun terlihat ragu.

Aku harus mengakui bahwa dia sangat cerdas.

Namun, kecerdasan bukan alasan untuk memercayai seseorang.

Ketika presentasi selesai, aku mengajukan beberapa pertanyaan mengenai sumber pendanaan dan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Dominic menjawab semuanya dengan lancar.

Hampir semuanya.

“Could you explain the ownership structure of your private investment company?” tanyaku sambil menatap dokumen di tanganku. “Some of the subsidiaries aren't listed in the materials you provided.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dominic menautkan kedua tangannya di atas meja.

“That's a rather specific question, Miss Laurent.”

“It's a business meeting, Mr. Imanuel. Specific questions are kind of the point.”

Seorang pria yang duduk di samping Dominic tampak tidak senang mendengar jawabanku. Namun, Dominic hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar pria itu tetap diam.

“You're right,” katanya. “I'll have my legal team prepare the additional documents.”

Aku mengangguk.

“Thank you. Transparency matters.”

Tatapannya menetap pada wajahku sedikit lebih lama.

“Indeed, it does.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku merasa bahwa percakapan kami bukan lagi sekadar tentang bisnis.

Setelah rapat selesai, para eksekutif mulai meninggalkan ruangan. Aku sedang mengumpulkan dokumen ketika menyadari bahwa Dominic belum beranjak dari kursinya.

“Your questions were good,” katanya.

Aku bahkan tidak mengangkat wajah.

“I know.”

Dia tertawa kecil.

“You really don't make things easy, do you?”

Aku menutup map di tanganku.

“I'm not here to make things easy for you.”

“Good. I don't like easy things.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Then find another hobby.”

Senyum itu muncul lagi.

Sial.

Mengapa pria ini selalu terlihat begitu puas setiap kali aku membalas ucapannya?

Dominic berdiri, merapikan ujung jasnya, kemudian berjalan mengitari meja hingga berhenti di hadapanku.

Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat sorot matanya dengan jelas. Ada ketenangan yang aneh di sana, seolah-olah dia selalu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

“Tell me something, Isabella.”

Aku mengerutkan kening.

“What?”

“Are you always this suspicious of people?”

“Only people who look like they have something to hide.”

Dia mendekat sedikit, tetapi tetap menjaga jarak yang sopan.

“And what exactly do you think I'm hiding?”

Aku menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

“That, Mr. Imanuel, is exactly what I'm trying to find out.”

Untuk sesaat, senyumnya menghilang.

Tatapannya berubah lebih tajam.

Lalu dia mengangguk pelan, seolah baru saja menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.

“Be careful, Isabella. Curiosity can be dangerous.”

Aku mengangkat dagu.

“Maybe. But ignorance is worse.”

Kami saling menatap dalam diam.

Akhirnya, Dominic mundur selangkah.

“I hope we'll have more conversations like this.”

“Don't count on it.”

Dia tertawa rendah, kemudian berjalan menuju pintu.

Namun, sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh.

“By the way, black suits you.”

Aku terdiam, tidak menyangka dia akan mengatakan hal seperti itu.

Lalu aku segera menjawab, “And arrogance suits you perfectly.”

Dominic tersenyum lebar.

“Touché, Miss Laurent.”

Setelah itu, dia pergi.

Aku berdiri diam selama beberapa detik, berusaha memahami mengapa interaksi singkat dengannya terasa seperti pertandingan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Aku tidak menyukainya.

Aku tidak memercayainya.

Dan aku benar-benar tidak ingin berurusan dengannya lagi.

Setidaknya, itulah yang terus kuulang dalam pikiranku.

Sore harinya, aku meninggalkan gedung perusahaan seorang diri. Elena sudah pulang lebih dahulu, sementara ayah masih menghadiri rapat dengan dewan direksi.

Aku berjalan menuju area parkir sambil memeriksa pesan di ponsel.

Namun, sebelum mencapai mobilku, aku menyadari sebuah sedan hitam terparkir tidak jauh dari pintu keluar.

Mobil itu tidak asing.

Aku memperlambat langkah.

Kaca jendela belakangnya turun perlahan.

Dan di baliknya, sepasang mata tajam menatapku.

Dominic.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Are you serious right now?”

Dia menurunkan kaca jendela sepenuhnya.

“Good afternoon to you too.”

“Why are you here?”

“Waiting for someone.”

Aku melirik sekeliling area parkir yang hampir kosong.

“Let me guess. Me?”

Senyum miringnya muncul.

“Smart girl.”

Aku menghela napas panjang.

“Listen, Mr. Imanuel. Whatever game you're playing, count me out.”

Dominic tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke arah jalan di belakangku.

Kemudian, ekspresinya berubah.

Senyum di wajahnya lenyap.

“Isabella,” katanya dengan suara yang jauh lebih serius. “Get in the car.”

Aku mengernyit.

“Excuse me?”

“Now.”

Aku menatapnya tajam.

“You don't get to order me around.”

“I'm not asking you as a favor.”

Nada suaranya membuatku terdiam sesaat.

Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat sebuah mobil abu-abu berhenti di seberang jalan. Kacanya gelap, mesinnya tetap menyala, dan seseorang di balik kemudi tampak sedang memperhatikanku.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Dominic membuka pintu mobil dari dalam.

“Isabella, look at me.”

Aku menoleh kepadanya.

“Get in. I'll explain everything once we're safe.”

Aku seharusnya menolak.

Aku seharusnya menelepon ayah, meminta bantuan petugas keamanan, atau setidaknya menjauh dari pria yang baru kukenal kurang dari dua puluh empat jam lalu.

Namun, ketika mobil abu-abu itu mulai bergerak mendekat, naluriku mengatakan bahwa kali ini aku tidak sedang menghadapi permainan kata-kata Dominic.

Aku membuka pintu dan masuk ke mobilnya.

Begitu pintu tertutup, kendaraan itu langsung melaju meninggalkan area parkir.

Aku menoleh kepadanya dengan napas tertahan.

“What the hell is going on?”

Dominic tidak menjawab selama beberapa detik. Dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan singkat.

“It's me. The car is following us. Find out who they are.”

Dia memutuskan panggilan, lalu menoleh kepadaku.

Tatapan matanya begitu dingin hingga aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Ketakutan.

“Isabella Laurent,” katanya perlahan, “mulai sekarang, jangan pernah berjalan sendirian tanpa pengamanan.”

Aku menelan ludah.

“Why?”

Dominic memandang jalan di depan, rahangnya mengeras.

“Because someone out there wants to use you to get to your father.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

Aku menatapnya, mencoba mencari tanda bahwa dia sedang bercanda.

Namun, tidak ada senyum di wajahnya.

Hanya tatapan tajam seorang pria yang tampaknya sudah mengetahui bahwa sesuatu yang buruk sedang dimulai.

“Who are you, Dominic?” bisikku.

Dia menoleh kepadaku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di balik tatapan elangnya yang membuatku semakin takut.

Bukan kemarahan.

Bukan kesombongan.

Melainkan sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikannya dari dunia.

“I'm the man you should be afraid of, Isabella.”

Dan saat itulah aku menyadari bahwa pertemuan kami bukanlah sebuah kebetulan.

Seseorang sedang mengincar keluargaku.

Dominic mengetahui alasannya.

Dan entah bagaimana, aku baru saja terjebak tepat di tengah-tengahnya.

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!