NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: SEKILAS MASA LALU LEBIH DULU

Kalau flashback pertama tentang himpunan mahasiswa menjelaskan kenapa Bang Tua berhenti percaya bahwa bersuara bisa mengubah keadaan, ada satu kejadian lain, jauh lebih tua, jauh lebih dalam tertanam, yang sebenarnya menjadi akar dari semuanya, sebuah kenangan yang bahkan mendahului kejadian himpunan mahasiswa itu bertahun tahun lamanya, tersimpan begitu dalam sampai sampai Bang Tua dewasa sendiri kadang lupa bahwa kenangan itu ada, sebelum akhirnya muncul lagi tanpa diundang di saat saat tertentu.

Waktu itu Sahat masih SMP kelas dua, tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah sederhana di kawasan pinggiran Medan, tidak jauh dari rumah keluarga besar dari pihak ayahnya, rumah panggung tua peninggalan kakeknya yang sampai sekarang masih berdiri kokoh meski catnya sudah banyak yang mengelupas dimakan usia. Keluarga besar itu cukup ramai, ada banyak paman, bibi, dan sepupu yang sering berkumpul saat acara adat atau hari besar, mengisi rumah panggung itu dengan suara tawa dan obrolan yang ramai, aroma masakan khas yang selalu tercium dari dapur sejak pagi hari kalau ada acara besar.

Di antara semua sanak saudara itu, ada satu paman, adik dari ayahnya sendiri, yang paling sering jadi bahan pembicaraan karena sifatnya yang licin dan pandai memutar keadaan demi keuntungannya sendiri, seorang pria yang selalu tampil ramah dan murah senyum di depan umum, tapi menyimpan kelicikan yang perlahan lahan mulai disadari anggota keluarga lain seiring bertambahnya usia mereka. Sahat kecil sendiri dulu cukup dekat dengan paman itu, sering diajak jalan jalan atau dibelikan jajanan setiap kali paman itu berkunjung, sampai sampai butuh waktu lama baginya untuk benar benar memahami sisi lain dari paman yang selama ini dia kagumi itu.

Suatu ketika, ada masalah warisan kecil dari almarhum kakek, sebidang tanah yang sebenarnya sudah jelas pembagiannya sejak lama, tertulis rapi dalam surat wasiat yang disimpan oleh nenek sebelum akhirnya diserahkan ke anak tertua begitu sang nenek juga berpulang setahun sebelumnya. Tapi paman itu, dengan berbagai cara, mencoba mengubah pembagian tersebut demi keuntungan dirinya sendiri, memanfaatkan kelengahan beberapa anggota keluarga yang tidak terlalu paham soal surat menyurat, terutama bibi bibi yang lebih fokus mengurus rumah tangga dan jarang berurusan dengan dokumen resmi semacam itu.

Ayah Sahat, yang waktu itu satu satunya yang benar benar membaca ulang surat wasiat itu dengan teliti, kebiasaan yang selalu dia lakukan untuk urusan apa pun yang menyangkut dokumen penting, menemukan kejanggalan, ada tanda tangan yang terlihat dipalsukan pada salinan dokumen yang dibawa sang paman, goresan yang meski mirip tapi terlihat sedikit berbeda kalau diperhatikan dengan seksama, terutama pada lekukan huruf tertentu yang biasa dituliskan almarhum kakek.

Ayahnya, orang yang dikenal jujur dan lurus di keluarga besar itu, dihormati karena ketegasannya dalam hal hal yang berhubungan dengan kejujuran, awalnya berniat membicarakannya baik baik, membawa bukti, berharap masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa perlu ribut, sesuai dengan prinsip yang selalu dia pegang bahwa keluarga harus diselesaikan dengan cara kekeluargaan pula, bukan dengan cara yang bisa mempermalukan satu sama lain di depan orang luar.

Sahat kecil, yang waktu itu diam diam mendengarkan pembicaraan orang tuanya di rumah, biasa duduk di balik pintu kamar yang sedikit terbuka sambil berpura pura sedang mengerjakan pekerjaan rumah, ingat betul bagaimana wajah ayahnya berubah murung berhari hari setelah pertemuan keluarga itu, sebuah pertemuan yang berlangsung di rumah panggung itu, dihadiri hampir semua anggota keluarga besar, dengan suasana yang jauh dari kehangatan biasanya.

Bukan karena ayahnya kalah berdebat, buktinya jelas dan tidak terbantahkan, tapi karena keluarga besar, demi menjaga "keharmonisan" dan menghindari konflik berkepanjangan yang bisa memecah belah hubungan antar saudara yang sudah terjalin puluhan tahun, justru meminta ayahnya untuk mengalah, mengorbankan haknya sendiri demi menjaga nama baik keluarga di mata tetangga dan kerabat jauh, sebuah tekanan yang datang bukan hanya dari paman itu sendiri, tapi juga dari kakek kakek dan nenek nenek tua lain di keluarga besar yang lebih mengutamakan keutuhan hubungan dibanding kebenaran administratif semacam surat tanah.

"Biarlah, Nak. Daripada berantem sama saudara sendiri, mending kita ngalah. Yang penting kita nggak pernah bohong," kata ayahnya suatu malam, duduk di teras rumah mereka yang sederhana, suaranya tenang meski Sahat kecil bisa merasakan ada sesuatu yang berat di balik ketenangan itu, saat Sahat kecil memberanikan diri bertanya kenapa paman yang jelas jelas salah malah tidak dihukum apa apa, pertanyaan polos seorang anak yang belum sepenuhnya memahami rumitnya dunia orang dewasa.

Kata kata itu terus terngiang di kepala Sahat kecil, bahkan sampai bertahun tahun kemudian, terngiang setiap kali dia menghadapi situasi serupa di kemudian hari, seolah menjadi semacam mantra yang diwariskan tanpa sengaja dari ayah ke anak. Ada rasa kagum pada ketegaran dan kejujuran ayahnya, kekaguman yang tulus dan mendalam, tapi ada juga rasa tidak adil yang menggerogoti diam diam, sesuatu yang tidak pernah benar benar dia sampaikan pada siapa pun, bahkan pada ayahnya sendiri, sebuah perasaan yang dia simpan sendirian bertahun tahun tanpa pernah benar benar dia bagikan.

Sejak saat itu, tanpa dia sadari sepenuhnya, Sahat kecil mulai menyerap satu pelajaran besar dalam hidupnya, bahwa kebenaran dan keadilan tidak selalu menang, dan kadang, demi menjaga hubungan yang lebih besar, orang baik harus rela mengalah dan diam, membiarkan yang salah tetap berjalan tanpa hukuman. Pelajaran itulah yang kelak, bertahun tahun kemudian, semakin dikuatkan oleh kejadian di himpunan mahasiswa waktu kuliah, membentuk prinsip hidupnya yang sekarang, diam, jaga diri sendiri tetap bersih, dan biarkan dunia berjalan dengan caranya sendiri, sebuah prinsip yang terbentuk dari dua luka besar yang saling menguatkan satu sama lain, seperti dua paku yang menancapkan papan yang sama semakin dalam.

Tapi ada satu hal kecil yang mungkin dilupakan Sahat dewasa, atau mungkin sengaja dia kubur dalam dalam bersama kenangan itu, tersembunyi begitu rapat sampai sampai butuh waktu lama baginya untuk mengingatnya kembali. Malam setelah pertemuan keluarga yang berat itu, saat semua orang sudah tidur, rumah sudah sunyi kecuali suara jangkrik dan angin malam yang berhembus pelan, Sahat kecil sempat duduk sendirian di teras rumah, menatap langit malam yang penuh bintang, jauh lebih terang dibanding langit kota yang dia lihat sekarang, dan menggumamkan sesuatu pelan, hampir tanpa suara, sesuatu yang keluar begitu saja dari kekesalan seorang anak SMP yang tidak mengerti kenapa dunia orang dewasa bisa sekacau itu, kenapa orang yang jelas jelas berbuat salah bisa tetap tenang tenang saja tanpa konsekuensi apa apa.

"Suatu hari nanti, orang orang kayak paman itu pasti kena batunya sendiri. Aku nggak tau caranya, tapi pasti."

Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan seorang anak, keyakinan yang begitu murni dan tanpa keraguan, seperti hanya anak anak yang bisa memiliki keyakinan sebesar itu tanpa perlu bukti atau logika, lalu dilupakan begitu saja seiring waktu berjalan, tenggelam di antara ribuan kenangan masa kecil lainnya, tertimbun oleh kesibukan sekolah, ujian, pertemanan, dan segala hal lain yang mengisi masa remajanya. Sahat dewasa, bertahun tahun kemudian, tidak akan pernah menyangka bahwa gumaman kecil yang sama, yang lahir dari kekesalan yang sama terhadap ketidakadilan, kini mulai muncul kembali dalam hidupnya, kali ini dengan cara yang jauh lebih nyata dan tidak bisa lagi dia abaikan begitu saja, seolah benih yang ditanam bertahun tahun lalu itu akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk tumbuh dan berbuah.

Paman itu sendiri, sampai sekarang, masih sering muncul di acara acara keluarga besar, tetap dengan senyum ramahnya yang khas, dan Sahat dewasa selalu menyapanya dengan sopan seperti biasa, seolah tidak pernah ada masalah apa apa di antara mereka, sebuah kepura puraan yang sudah dijalani seluruh keluarga selama bertahun tahun demi menjaga keharmonisan yang sama yang dulu diminta dari ayahnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!