NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Tenang dan Ujian Kesabaran

Sinar matahari pagi hari Kamis menyelinap masuk melewati celah tirai kamar Clyrine, membawa serta kehangatan yang kontras dengan sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya. Jam dinding di sudut kamar menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Mengingat hari ini adalah hari Kamis—hari di mana Damien akan datang ke rumah untuk pertama kalinya mengajar sebagai tutor privat pada pukul 3 sore nanti—ada semangat baru yang tak biasa membuncah di dada Clyrine.

Setelah mandi dan merapikan seragamnya dengan jauh lebih rapi dari biasanya—bahkan dasinya terpasang dengan simpul yang sempurna—Clyrine melangkah keluar kamar dengan langkah ringan menuju lantai bawah.

Begitu ia tiba di ruang makan utama, suasana pagi terasa jauh lebih sepi daripada biasanya. Di meja makan panjang berbalut marmer putih itu, hanya ada Charles Rexander yang sibuk membaca lembar koran bisnis, Runica yang sedang menuangkan teh hangat, dan Claire yang duduk anggun sambil mengoleskan mentega pada roti panggangnya.

Clyrine menarik kursi di sudut tempat duduknya seperti biasa. Sebelum ia sempat bertanya, Runica sudah terlebih dahulu melirik dan membuka suara.

"Pagi, Clyrine. Tumben rapi banget hari ini," puji Runica lembut, tersenyum hangat kepada putri bungsunya.

"Pagi, Mom," balas Clyrine ramah, menyunggingkan senyum tipis. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja makan yang terasa lengang. "Oh iya, mana Kak Al? Tumben banget kursinya kosong."

Runica meletakkan teko tehnya perlahan. "Kak Alaric sudah berangkat lebih pagi tadi, Cly. Katanya ada jadwal praktikum laboratorium pagi di kampusnya, jadi dia nggak sempat sarapan bareng kita."

Clyrine mengangguk-angguk paham. "Oh, begitu..."

"Udah, nggak usah ngurusin Alaric. Cepat sarapan, sebentar lagi kita berangkat," sahut Charles dari balik lembaran korannya tanpa mengalihkan pandangan.

Mendengar instruksi sang ayah, Clyrine langsung mengambil piring dan menyendokkan sedikit nasi goreng serta telur mata sapi buatan koki rumah.

Suasana sarapan berjalan cukup tenang selama beberapa menit pertama, diwarnai hanya oleh suara dentingan sendok dan porselen yang beradu pelan.

Namun, ketenangan itu tidak mungkin bertahan lama jika ada Claire di meja yang sama.

Claire, yang sejak semalam menyimpan bara amarah dan rasa tidak terima di dalam hatinya, melirik Clyrine dengan sudut matanya. Ia menyadari perubahan drastis pada diri saudara tirinya itu—Clyrine tampak lebih tenang, lebih percaya diri, dan sama sekali tidak terganggu oleh kehadirannya. Hal itu justru membuat ego Claire terpancing untuk segera merusak suasana hati Clyrine.

Dengan sengaja, Claire meletakkan pisau menteganya ke atas piring hingga menimbulkan suara nyaring, lalu menatap Runica dan Charles dengan raut wajah sok prihatin yang dibuat-buat.

"Mom, Dad..." panggil Claire dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menarik perhatian kedua orang tuanya. "Aku kemarin sempat dengar anak-anak di sekolah ngomongin sesuatu tentang Clyrine. Katanya... akhir-akhir ini dia makin dekat banget sama Kak Damien. Bahkan kemarin waktu di kantin, Kak Damien bela-belain datang ke sekolah cuma buat nyamperin dia."

Runica mengernyitkan kening samar, sementara Charles menghentikan bacaan korannya, melirik tajam ke arah Clyrine.

Claire melanjutkan aktingnya dengan senyum penuh tipu muslihat yang disembunyikan di balik cangkir tehnya. "Aku cuma khawatir aja, Dad, Mom. Takutnya Clyrine bikin salah paham sama Kak Damien. Kan nggak enak kalau nama baik keluarga kita jadi bahan gosip murahan di kalangan mahasiswa kampus."

Kata-kata itu dilontarkan Claire dengan sangat terstruktur—sebuah racun halus yang dibungkus rapi dalam balutan kepedulian palsu. Ia sangat berharap daddynya akan menegur Clyrine atau setidaknya merasa risih dengan kedekatan gadis itu dan Damien.

Di kursi seberang, Clyrine mengepalkan tangannya di bawah meja. Urat sabarnya hampir putus mendengarkan kelakuan licik Claire yang tidak pernah ada habisnya. Baru saja ia ingin membuka mulut dan melontarkan balasan menohok, Clyrine teringat kembali pada petuah emas Damien kemarin: “Cukup biarkan mereka ngerasa di atas angin, sampai akhirnya mereka jatuh sendiri.

Clyrine menarik napas dalam-dalam, membuang rasa kesalnya perlahan, lalu menatap Claire tepat di manik matanya dengan senyuman paling tenang yang ia miliki.

"Gosip murahan, ya?" balas Clyrine dengan nada suara santai, tanpa ada secercah pun kepanikan di wajahnya. "Lucu banget, Claire. Padahal yang sebenernya bikin gosip dan sibuk ngurusin hidup orang lain di sekolah itu kan kelompok lo sendiri. Kalau lo kurang kerjaan, mau gue carikan buku cerita bergambar biar nggak hobi ngurusin urusan pribadi orang?"

Wajah Claire seketika menegang. Senyum sok manisnya buyar dalam sekejap. Ia tidak menyangka Clyrine akan membalas dengan begitu tenang dan menohok, alih-alih mengamuk seperti biasanya.

"Clyrine, jaga ucapanmu," tegur Runica pelan, meski nada suaranya tidak setegas biasanya karena ia juga mulai lelah dengan drama antarsaudara ini.

Sebelum Claire sempat membalas ucapan Clyrine dengan isyarat drama air matanya, Charles Rexander melipat koridor di tangannya dengan gerakan tegas. Pria paruh baya itu menatap kedua putrinya bergantian.

"Sudah, cukup perdebatan pagi ini," suara bariton Charles menggelegar, menghentikan ketegangan di meja makan. Ia menatap Claire sekilas, lalu beralih pada Clyrine. "Claire, fokus saja pada persiapan ujianmu sendiri dan jangan terlalu memikirkan urusan orang lain. Dan Clyrine, bagus kalau kamu tetap tenang, tapi ingat batasanmu."

Claire menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu bercampur kesal yang luar biasa. Kali ini, usahanya untuk memojokkan Clyrine di depan orang tua mereka kembali gagal total.

Charles berdiri dari kursinya, merapikan jas kantornya sambil melirik jam tangan mahalnya. "Sudah jam tujuh lewat seperempat. Ayo berangkat. Hari ini Daddy yang antar kalian berdua ke sekolah."

"Baik, Dad," jawab Clyrine dan Claire hampir bersamaan.

Perjalanan menuju Raxenswood Academy pagi itu terasa lebih senyap dari biasanya. Di dalam mobil mewah Charles, tidak ada satupun yang membuka suara. Claire memilih membuang muka ke arah jendela luar, masih meratapi kegagalannya menjatuhkan Clyrine saat sarapan tadi. Sementara Clyrine duduk tenang di sisi seberangnya, menyandarkan kepala pada kaca jendela sambil memikirkan satu hal: Jam tiga sore nanti, Damien akan datang ke rumah.

Pikiran itu seketika membuat debaran kecil muncul di dadanya. Ada rasa antusias, gugup, sekaligus rasa penasaran bagaimana jalannya sesi bimbingan belajar privat pertama mereka di bawah atap rumah keluarga Rexander—terutama di bawah pengawasan langsung Charles dan Runica, serta pengamatan tajam dari Claire yang pasti sedang menyusun rencana licik.

Sesampainya di gerbang sekolah, mobil Charles berhenti sempurna. Claire langsung turun terlebih dahulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membanting pintu mobil dengan ekspresi kesal yang kentara sebelum berjalan cepat masuk ke area lobi.

Clyrine menyusul turun setelahnya. Sebelum ia menutup pintu mobil, Charles sempat menurunkan kaca jendela dan memanggilnya singkat.

"Clyrine," panggil Charles serius.

Clyrine menengok. "Iya, Dad?"

"Ingat, jam tiga nanti Damien akan datang ke rumah untuk les privatmu. Jangan sampai kamu telat pulang atau membuat masalah di sekolah yang bikin jadwal itu berantakan," pesan Charles tegas.

"Siap, Dad! Aku bakal langsung pulang tepat waktu," jawab Clyrine mantap dengan senyuman penuh keyakinan.

Charles mengangguk puas, lalu memberi aba-aba pada sopirnya untuk melajukan mobil meninggalkan gerbang sekolah menuju kantor pusat Rexander Group.

Clyrine menarik napas panjang, merapikan tali ranselnya, lalu melangkah memasuki halaman sekolah dengan langkah penuh semangat baru. Hari ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak harinya—karena sore nanti, ia punya janji penting dengan tutor pribadinya yang paling istimewa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!