Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sementara itu, di ruang interogasi bawah tanah istana, Kapten Roderick berdiri di depan seorang pria yang terikat kuat di kursi besi. Pria itu adalah pembunuh bayaran yang ditangkap di rumah kaca. Wajahnya babak belur, tapi ia masih tersenyum sinis.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Roderick dingin.
Pembunuh itu tertawa, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Kau pikir aku akan bicara? Majikanku akan membunuhku jika aku bicara. Dan dia punya cara-cara yang jauh lebih menyakitkan daripada siksaanmu."
Roderick menatapnya dingin. "Majikanmu sudah ditangkap pagi ini. Marquis Ardent sedang diinterogasi oleh Duke Adrian sendiri. Sindikat kalian sudah dikepung. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."
Mata pembunuh itu membelalak. "Marquis Ardent... ditangkap? Tapi... dia membayar kami dengan emas murni! Dia menjanjikan..."
"Dia menjanjikan banyak hal," potong Roderick. "Tapi Duke Adrian tidak main-main ketika menyangkut Nona Kayla. Sekarang, katakan siapa pemimpin sindikat kalian. Atau aku akan membiarkan Duke Adrian datang ke sini. Dan percayalah, kamu tidak ingin bertemu dengannya dalam keadaan marah."
Pembunuh itu menelan ludah, keringat dingin mengalir di dahinya. Ia tahu reputasi Duke Adrian. Pria itu dikenal sebagai "Jenderal Berdarah Dingin" di medan perang. Jika Adrian marah... tidak ada ampun.
"Nama depannya adalah Viper," bisik pembunuh itu akhirnya, suaranya bergetar karena takut. "Viper. Dia beroperasi dari pelabuhan selatan. Dia memiliki jaringan di seluruh kerajaan. Dan... dia punya daftar hitam. Daftar orang-orang yang harus 'dihilangkan'."
"Siapa saja di daftar itu?" tanya Roderick tajam.
Pembunuh itu ragu sejenak, lalu berkata: "Nona Kayla. Duke Adrian. Dan... Raja."
Roderick terkesiap. Raja? Ini lebih besar dari sekadar dendam pribadi Marquis Ardent. Ini adalah konspirasi untuk menggulingkan takhta.
"Bawa informasi ini ke Duke Adrian sekarang!" perintah Roderick pada salah satu pengawalnya. "Kita harus bertindak cepat."
***
Kembali ke kamar batu pualam, Kayna dan Adrian masih duduk dalam pelukan. Keheningan di antara mereka nyaman, penuh dengan pemahaman yang tidak perlu diucapkan.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras.
"Yang Mulia!" suara Kapten Roderick terdengar panik dari luar. "Ada berita darurat!"
Adrian melepaskan pelukannya dengan enggan, lalu berdiri. Wajahnya kembali berubah menjadi serius. "Masuk."
Roderick masuk, wajahnya pucat. "Yang Mulia, pembunuh itu berbicara. Sindikat Viper tidak hanya bekerja untuk Marquis Ardent. Mereka berencana membunuh Raja selama Upacara Penobatan Bulan Depan. Dan Nona Kayla ada di daftar target utama mereka."
Mata Adrian menyipit, api kemarahan menyala di dalamnya. "Viper..."
"Dan ada lagi, Yang Mulia," lanjut Roderick, suaranya bergetar. "Mereka sudah menyusup ke dalam istana. Beberapa pelayan dan pengawal ternyata adalah agen mereka. Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya."
Kayna yang mendengarkan dari dipan merasa darahnya membeku. Upacara Penobatan? Membunuh Raja? Dan aku target utama?
Ini bukan lagi sekadar drama romantis atau komedi bunuh diri. Ini adalah perang. Perang yang akan menentukan nasib kerajaan, dan nyawa semua orang yang ia cintai.
Adrian menoleh ke arah Kayna. Tatapannya penuh dengan tekad baja.
"Kayna," ucap Adrian tegas. "Mulai detik ini, kau tidak boleh meninggalkan sisiku. Kita akan menghadapi Viper bersama. Dan aku berjanji... aku akan melindungi kau, bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan seluruh dunia."
Kayna menatap Adrian. Ia melihat keteguhan di mata pria itu, melihat cinta yang tak tergoyahkan. Dan untuk pertama kalinya, Kayna tidak merasa takut pada masa depan.
Ia merasa siap.
"Baiklah, Adrian," ucap Kayna, berdiri dan menggenggam tangan Adrian erat-erat. "Mari kita hancurkan mereka. Tapi setelah itu... kau harus mengajariku membuat kue lain. Yang lebih sulit."
Adrian tersenyum, senyum yang penuh dengan janji dan cinta. "Deal."
..gagal terus🤣