Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Sepiring Kehangatan
Sore itu, aku menjerang dua panci air.
Sasa berdiri dekat kamar mandi sambil memeluk kakiku. Sejak melihat bak mandi plastik dikeluarkan, matanya tidak lepas dari air panas yang kucampur dengan air sumur.
“Tidak panas,” kataku sambil mencelupkan siku. “Coba pegang.”
Dia menyentuh permukaan air dengan satu jari, lalu cepat-cepat menariknya. Ketika aku memercikkan sedikit air ke kakinya, dia terkejut dan bersembunyi di belakang lututku.
Bayu tertawa. “Sasa takut mandi.”
“Bukan takut,” kataku. “Dia belum terbiasa.”
“Aku bisa bantu siram.”
“Boleh. Ambil gayung kecil, jangan yang besar.”
Bik Inah duduk di bangku belakang sambil mengupas singkong. Sejak gudang terbuka, dia lebih banyak diam. Namun wajahnya tetap mengerut melihatku menyiapkan handuk, sabun bayi, sisir serit, dan pakaian bersih dari lemari Sasa.
“Mandi biasa saja cukup,” komentarnya. “Tidak perlu repot seperti anak orang kaya.”
“Sabun dan pakaiannya memang sudah ada. Yang tidak ada hanya orang yang mau memakainya untuk Sasa.”
Pisau di tangan Bik Inah berhenti. Dia memilih tidak membalas.
Aku melepaskan gaun kuning Sasa. Di balik kain itu, tubuhnya kurus dan penuh bekas garukan kecil. Ada kotoran menghitam di lipatan leher dan belakang telinga. Ketika rambutnya kubelah, kutemukan telur kutu menempel dekat kulit kepala.
Rasa panas merambat ke belakang mataku.
Aku menahannya. Sasa tidak membutuhkan tangisku. Dia membutuhkan air hangat dan tangan yang tidak kasar.
“Kita bersihkan pelan-pelan, ya, Nak.”
Aku mendudukkannya di bak. Mula-mula tubuhnya kaku. Kedua tangan kecilnya mencengkeram lenganku. Aku membiarkannya memegangku sambil menuangkan air dari pundak ke punggung.
Bayu berjongkok di samping bak. “Sasa, lihat. Gayungnya seperti perahu.”
Dia mengapungkan gayung kecil. Sasa menatapnya, lalu mendorong benda itu dengan telapak tangan.
Air memercik ke wajah Bayu.
“Eh!”
Untuk pertama kalinya, suara tawa kecil keluar dari mulut Sasa.
Bukan kata. Hanya suara ringan, pendek, hampir tak terdengar. Namun Bayu langsung membulatkan mata.
“Kak Raka! Sasa ketawa!”
Raka yang berdiri di ambang pintu tidak menjawab. Tatapannya turun pada adiknya yang kembali memukul air. Sudut mulutnya bergerak sedikit sebelum dia cepat-cepat memasang wajah datar.
Aku mencuci rambut Sasa dua kali. Setelah busa hilang, aku membungkus tubuhnya dengan handuk dan memangkunya di teras. Kutu dan telurnya kusisir satu per satu di atas kain putih. Sasa merengek ketika sisir tersangkut, lalu diam lagi saat aku meniup kulit kepalanya.
“Sakit?” tanyaku.
Dia menempelkan pipi pada dadaku.
“Sebentar lagi selesai.”
Bayu mengipas kami dengan tutup wadah. “Kalau kutunya dibuang, Sasa jadi pintar bicara?”
“Bukan begitu. Sasa belum banyak bicara karena jarang diajak belajar. Kita bisa sering mengobrol dengannya, menyebut nama benda, dan mendengarkan kalau dia mencoba bersuara.”
“Aku bisa cerita banyak.”
“Itu saya tidak ragu.”
Bayu tertawa bangga.
Setelah rambut Sasa bersih, aku memakaikannya kaus putih dan celana lembut. Wajah di balik lapisan debu itu ternyata cerah, dengan pipi bulat kecil yang baru terlihat setelah dibasuh. Rambutnya masih tipis, tetapi wangi sabun.
Sasa mengangkat kedua tangan kepadaku lagi.
Aku menggendongnya, dan kali ini dia tertawa sebelum kepalanya menyentuh bahuku.
Menjelang malam, aku menyuapinya nasi lembek dengan telur dan wortel. Dia duduk di pangkuanku, menerima satu sendok demi satu sendok. Tidak ada bentakan untuk membuka mulut. Tidak ada tangan yang menekan kepalanya ketika dia terlalu lambat menelan.
Di tengah makan, air mata tiba-tiba jatuh dari matanya.
Aku menghentikan sendok. “Terlalu panas?”
Dia menggeleng kecil. Mulutnya kembali terbuka, meminta suapan berikutnya, sementara air mata lain mengalir ke pipi.
Dadaku seperti diremas.
Aku menyekanya dengan ibu jari. “Tidak perlu buru-buru. Besok masih ada. Lusa juga masih ada.”
Sasa tidak mungkin memahami semua kalimatku. Namun tubuhnya perlahan lemas dalam pelukanku, seolah nada suaraku sudah cukup.
Bayu duduk di lantai sambil bercerita tentang Jagoan yang pernah mengejar ayam sampai masuk sawah. Sesekali Sasa menoleh kepadanya. Setiap kali anak itu mengeluarkan suara kecil, Bayu menanggapinya seperti sedang melakukan percakapan lengkap.
Raka tetap berdiri di pintu.
Dia tidak mendekat, tetapi juga tidak pergi.
“Air hangatnya masih ada,” kataku tanpa menatapnya terlalu lama. “Kalau Kak Raka mau mandi, saya siapkan handuk. Tidak perlu sekarang kalau belum mau.”
“Aku bisa mandi sendiri.”
“Bagus. Berarti saya hanya perlu menaruh handuk.”
Dia memandang Sasa yang mulai mengantuk di dadaku. Ketika adiknya tersenyum dalam setengah tidur, bahu Raka menegang. Anak itu membuang muka, tetapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan matanya yang basah.
Aku pura-pura tidak melihat.
Sasa akhirnya tertidur dengan pipi bersih menempel di dadaku. Tubuhnya wangi dan hangat, seperti anak yang sama sekali berbeda dari balita kotor di balik pagar dua hari lalu.
Raka masih berada di pintu. Beberapa saat kemudian, dia berjalan ke kursi tempat handuk bersih kutaruh. Dia mengambilnya tanpa berkata apa-apa.
“Airnya mungkin mulai dingin,” kataku. “Tunggu, saya tambah yang panas.”
“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”
Kali ini, nada suaranya tidak setajam tadi.
Bayu langsung berdiri. “Aku juga mau mandi lagi.”
“Kamu sudah mandi pagi.”
“Tapi tadi kena cipratan Sasa.”
“Itu alasan paling buruk yang pernah saya dengar.”
Tawa Bayu memenuhi teras. Bahkan Raka tidak menyuruhnya diam.
Tiba-tiba Jagoan bangkit di halaman. Ekornya menghantam tanah, lalu gonggongannya berubah riang.
Suara gerendel pagar terdengar.
Pintu terbuka.
Lelaki itu pulang.