NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Orangtua

Di tempat lain, Resya terkejut saat melihat suaminya melempar ponsel begitu saja. Padahal, dia baru keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka.

"Mas, kenapa? Nggak jadi tidur?"

"Rayzan masuk rumah sakit. Nadira benar-benar keterlaluan."

"Ya ampun. Terus gimana ini, Mas?"

"Aku mau ke rumah sakit. Aku nggak tenang dengan keadaan Rayzan."

"Mas nggak bilang sama Umi dan Ayah?"

"Jangan!" larang Daulat. "Kalau mereka tahu Rayzan masuk rumah sakit, pasti mereka akan marah sama Mas."

"Ya sudah, deh. Aku siap-siap dulu, ya, Mas."

Sementara Resya sedang bersiap-siap mengganti pakaian, Daulat kembali menghubungi Sultan untuk meminta alamat rumah sakit tempat Rayzan dirawat.

[] [] []

Di sebuah kamar mewah, seorang wanita sedang bermain laptop. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini. Untuk sementara, dia tidak ingin memikirkan apa pun, termasuk urusan percintaan.

"Sultan apaan, sih? Berisik banget dari tadi nelepon terus."

"Dia pikir aku akan datang? Jangan harap!"

Nadira sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan suaminya saat ini. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Rayzan masuk rumah sakit karena perbuatannya sendiri.

Layar ponselnya kembali menyala. Kali ini, Daulat yang menghubunginya. Wanita itu tersenyum miring tanpa berniat menjawab panggilan tersebut.

"Rasakan, Daulat. Ini belum seberapa."

"Aku akan membuat adikmu sengsara."

"Dengan begitu, kamu akan merasa bersalah kepada keluargamu."

Nadira menutup layar laptopnya. Kemudian, dia memindahkan benda pipih itu ke tempat lain.

Setelahnya, Nadira naik ke atas ranjang dan segera berbaring. Tidak lupa, dia mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya.

Tak lama kemudian, Nadira pun tertidur dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa malam itu.

[] [] []

Daulat dan istrinya telah sampai di rumah sakit. Lelaki itu menarik tangan sang istri agar mereka segera masuk ke dalam.

"Aku nggak habis pikir sama kelakuan Nadira. Bisa-bisanya dia senekat itu sama Rayzan."

"Mas, tenang dulu. Jangan marah-marah. Ini rumah sakit, tahu," ucap Resya, mencoba menenangkan sang suami.

"Aku mau kasih pelajaran ke dia."

Keduanya melihat seorang remaja lelaki yang tengah berdiri di depan pintu ruangan. Dia adalah Sultan, adik kandung Nadira.

"Sultan."

"Bang Daulat."

"Di mana Nadira? Aku akan kasih pelajaran kepada dia karena sudah mencoba menantang aku."

"Mas, tenang. Ini rumah sakit. Jangan buat keributan."

"Kakak nggak mau ikut, Bang."

"Sialan! Sekarang bagaimana keadaan Rayzan?"

"Bang Rayzan masih tidur."

Pintu ruangan pun terbuka. Dua orang paruh baya menatap tajam ke arah Daulat dan Resya.

"Daulat! Baru sekarang kamu menunjukkan muka kamu?"

Eros hendak menyerang lelaki itu, tetapi tubuhnya langsung ditahan oleh sang istri.

"Mas, sudah. Kita lagi di rumah sakit. Lagian Rayzan masih tidur. Jangan bikin keributan."

"Om, Tante ... Saya minta maaf untuk semuanya. Tapi kalian nggak bisa seperti ini. Dia adik saya. Jangan hukum Rayzan atas sikap saya."

"Sekarang kamu sadar apa yang kamu lakukan?" tanya Eros. "Rayzan seperti ini karena ulah kamu. Sekarang Nadira dendam kepada Rayzan karena kamu."

"Aku nggak tahu apalagi yang akan dilakukan Nadira kepada suaminya yang nggak bersalah ini."

"Kalau Nadira melakukan kesalahan lagi, saya nggak bisa tinggal diam."

"Terus kamu mau apa? Kamu mau memukul anakku?"

"Om—"

Plak!

Eros mulai kehilangan kendali. Dia memberikan tamparan keras kepada Daulat.

"Itu balasan karena kamu hampir saja mempermalukan keluarga kami."

"Mas, sudah. Jangan dibahas lagi."

"Kamu!" Eros menunjuk Daulat tepat di depan wajahnya. "Jangan kamu pikir kami akan melupakan hari pernikahan itu. Hari di mana kamu hampir mempermalukan keluarga saya."

"Om ... Aku ke sini mau lihat Rayzan. Aku nggak mau membuat keributan dengan keluarga Om. Aku benar-benar minta maaf."

"Jangan diperpanjang lagi, Mas. Kita di sini untuk Rayzan," ujar Merry.

Keadaan mulai sedikit tenang. Eros mencoba meredam amarahnya. Walaupun begitu, rasanya dia masih belum puas hanya memberikan satu tamparan kepada Daulat.

"Keluarga pasien."

Suara seseorang yang baru saja keluar dari dalam ruangan membuat mereka semua menoleh.

"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Sultan.

"Saudara anda sudah siuman. Kondisinya sudah lebih baik."

"Alhamdulillah," lirih mereka hampir bersamaan.

"Boleh kami melihatnya?" tanya Resya.

"Tentu, Bu ... Silakan masuk. Kalau begitu, saya permisi dulu. Nanti kalau membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya."

"Baik, Dok."

Keempat orang itu memasuki ruangan. Terlihat tubuh Rayzan ditutupi selimut, hanya menyisakan kepalanya. Selimut tersebut digunakan untuk membantu menghangatkan tubuhnya yang masih terasa dingin.

"Daulat."

"Rayzan ... Kamu nggak apa-apa, kan? Selimutnya mau ditambah?"

"Kamu tahu dari mana aku di sini?"

Daulat mengembuskan napas perlahan.

"Kamu dengarkan aku. Kalau Nadira melakukan ini lagi, kamu harus bilang sama aku. Aku akan kasih dia pelajaran."

"Daulat ... Nadira itu istriku. Kamu nggak berhak ngomong seperti itu di depanku."

"Tapi dia sudah mencelakakan kamu. Lihat sekarang! Kamu terbaring di sini karena perempuan itu."

"Daulat!"

"Pa ... Biar ini menjadi urusan ku," ucap Rayzan sambil menoleh ke arah mertuanya.

"Sultan ... Apa pun yang terjadi ke depannya antara Abang dan Kakak kamu, kamu nggak boleh ikut campur, ya. Biar Abang menyelesaikan semuanya."

Remaja lelaki itu hanya terdiam.

"Abang tahu maksud kamu baik. Tapi Abang nggak mau nanti kamu dapat imbasnya dari Nadira."

"Tapi Kakak memang sudah keterlaluan, Bang."

"Nggak apa-apa. Masalah rumah tangga itu hal biasa."

"Aku nggak nyangka ... Ternyata pikiran Rayzan lebih dewasa dibandingkan kamu," ucap Eros sambil menatap Daulat. "Aku beruntung banget nggak punya menantu seperti itu. Pecundang!"

"Daulat ... Jangan kasih tahu Umi dan Ayah, ya. Jangan membuat pikiran mereka terbebani."

"Janji sama aku, kamu akan cerita tentang masalah kamu," ucap Daulat sambil menatap adik lelakinya.

"Tidak dengan rumah tangga aku," jawab Rayzan tegas.

Pagi telah tiba. Nadira terbangun dari tidurnya. Rumah terasa begitu sepi tanpa suara apa pun. Saat ini, wanita itu berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan sekeliling rumah.

"Mereka ngapain, sih, nggak pulang cuma karena lelaki itu?"

Nadira mengembuskan napas kasar.

"Menyusahkan banget. Abang sama adik sama saja!"

Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar untuk segera bersiap-siap.

Beberapa menit kemudian, Nadira telah selesai menyiapkan sarapan pagi. Bukan untuk Rayzan, melainkan untuk keluarga kecilnya.

Saat sedang makan sendirian, Nadira tidak menyadari bahwa keluarganya sudah tiba di rumah. Dia tidak melihat kedatangan mereka karena sedang membelakangi pintu.

"Nadira!"

Wanita itu pun menoleh. Pandangannya langsung bertemu dengan Rayzan. Dia segera berdiri dan menghentikan aktivitas makannya.

"Masih hidup kamu? Aku kira kamu sudah mati."

Merry langsung emosi mendengar perkataan anaknya. Dia mendekati Nadira dan tanpa ragu menampar wajah wanita itu.

"Sopan kamu ngomong begitu sama suami?"

"Ma-Mama tampar aku cuma karena lelaki ini?"

Rayzan mendekati istrinya. Kemudian, dia menangkup wajah Nadira dengan kedua tangannya.

"Sakit, hm? Kamu nggak apa-apa, kan?"

"Lepasin!"

Nadira langsung menepis tangan pria itu.

"Jangan pernah kamu sentuh aku!"

"Nadira!"

"Jangan, Ma," larang Rayzan ketika Merry sudah kembali mengangkat tangannya. "Aku nggak mau istriku ini terluka."

"Lihat! Apa kamu nggak bisa melihat kebaikan Rayzan?"

"Aku benci kamu! Kamu nggak perlu sok baik di depan aku!" Nadira pun berlalu pergi dari hadapan mereka semua.

Rayzan menatap satu per satu orang yang menyaksikan pertengkaran tersebut. Dia kemudian mengembuskan napas perlahan.

"Rayzan ... Kamu harus keras sama Nadira. Kalau nggak, dia akan menginjak-injak kamu."

"Nggak apa-apa kok, Pa. Aku yakin Nadira pasti akan berubah."

"Jangan dibiarin, Bang. Nanti Kakak malah melakukan hal yang lebih parah daripada kemarin."

"Sultan ... Kamu belum tahu apa-apa tentang situasi ini. Doain Abang, ya, supaya bisa meluluhkan hati Nadira."

Ketiganya memandangi Rayzan dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak menyangka bahwa lelaki itu bisa sesabar itu menghadapi kelakuan Nadira.

"Rayzan masuk ke kamar dulu."

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!