Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Wanita itu terkejut, sontak ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Angga membuka lebih lebar pintu kamar Raisa serta terus memutar kursi rodanya menghampiri wanita itu.
"Apa sekarang kau ingin menggoda semua lelaki di rumah ini? Sekalian saja kau bertelanjang bulat keluar kamar!"
Raisa menundukkan kepalanya karena malu, tangannya dengan cepat meraih kembali pakaian dia atas ranjang namun Angga menghentikan tangannya. Keduanya saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat hingga Angga mengalihkan pandangannya pada lebam di tubuh Raisa.
"Apa ini? Siapa yang melakukannya?"
Wanita itu melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, segera memakai kembali pakaiannya lalu mendorong kursi roda milik Angga keluar dari kamarnya.
"Kau tidak ingin menjawabnya?"
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Jangan berpura-pura Angga, kau bahkan salah satu pelakunya!" Jawab Raisa cepat.
Wajah Angga berubah datar dan dingin setelah mendengar jawaban istrinya.
"Aku ingin mengajakmu keluar, bersiap-siaplah. Aku tunggu di bawah!"
Mata Raisa mendadak segar, kali pertama setelah lima tahun usia pernikahannya dengan Angga, lelaki itu mengajaknya keluar rumah. Melihat punggung suaminya semakin menjauh Raisa melangkah masuk kedalam kamarnya, ia berdiri di depan meja rias yang hanya berisi alat make up seadanya saja. Wanita ini mulai memoles bedak dengan tipis pada kedua sisi wajahnya, juga tak lupa memberi gincu pada bibirnya. Dibukanya lemari pakaiannya yang hanya berisi beberapa potong pakaian model lama, sudah bertahun-tahun ia tak pernah membeli peralatan make up dan pakaian baru. Pada akhirnya ia memilih pakaian yang paling bagus yang ia punya, sebuah rok ruffle panjang berwarna biru yang ia padukan dengan baju rajut berwarna cream.
Ting
Sebuah pesan masuk di layar beranda ponselnya mengalihkan pandangannya dari cermin.
"Apa yang kau lakukan diatas sana sehingga kau begitu lama?"
Sebuah kalimat dari nomor kontak bertuliskan "Angga" itu.
"Heummm, bahkan lewat pesan saja Aku dapat merasakan kemarahannya" ucap wanita ini pelan.
Tak berselang lama kini Raisa terlihat menuruni anak tangga, di dalam mobil Hyundai berwarna hitam yang pintunya belum tertutup itu telah duduk Angga yang menunggu kedatangan Raisa sejak tadi. Adapun Laluna yang baru saja berpapasan dengan Raisa segera melirik tajam menantunya tersebut.
"Apa hanya segitu kemampuan berdandanmu?" Tanyanya ketus.
Raisa tak membalas, ia hanya menundukkan kepalanya lalu kembali melangkahkan kakinya keluar melewati pintu. Steven menatap Raisa, kali pertama ia melihat Raisa berdandan setelah beberapa tahun ini selalu berpenampilan lusuh dan kusam. Tanpa sadar ia tersenyum pada mantan kekasihnya tersebut, terlebih lagi ia melihat Angga menunggunya dengan sabar tanpa sebuah teriakan memalukan.
"Syukurlah, akhirnya kak Angga menerima Raisa juga!" Ucapnya pelan.
Kembali pada Raisa dan Angga, keduanya duduk bersama di kursi penumpang. Angga melirik wajah Raisa sesaat.
"Dia terlihat lebih segar" batinnya
"Ada apa mengajakku keluar? Perilakumu ini tidak seperti biasanya"
Angga hanya diam menatap jalanan yang mulai ramai itu, sepanjang perjalanan keduanya hanya diam hingga sampailah mobil tersebut ke sebuah mall besar di pusat kota. Sopir mobil-mobil tersebut dengan sigap mengeluarkan kursi roda milik Angga, mengantar keduanya kesebuah toko berlian di dalam mall.
"Apa mungkin?" Batin Raisa dengan mata membelalak begitu ia melihat barisan cincin berlian dihadapannya.
"Cincin mana yang kamu inginkan?" tanya Angga menatap wajah istrinya yang masih kebingungan.
"Aku...., aku tak menginginkan apapun, apalagi cincin!" Jawab Raisa.
"Jangan munafik, aku tahu kau iri pada Arni karena adikku membelikannya cincin berlian yang dulu kau idam-idamkan. Itu sebabnya kau mendorongnya bukan?" Ucap Angga, perkataannya barusan bahkan dapat didengar oleh pekerja toko.
"Aku tidak mendorongnya!" Balas Raisa marah bahkan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Dia yang mendorong dan menarik rambutku. Kau jangan menuduhku seperti itu, ingat, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"
Angga menutup mulutnya dengan kepalan tangannya sambil berdehem.
"Jangan sok mengajariku!" ucapnya kemudian.
"Lupakan, jika kau mengajakku kemari hanya untuk dipermalukan lebih baik belikan saja cincin berlian itu pada mantan pacarmu itu"
Raisa lalu berbalik, namun baru beberapa langkah Angga kembali berbicara.
"Pilih satu atau aku akan menghentikan biaya hidup ibumu yang sombong dan tidak tahu diri itu!"
Satu kalimat yang mengubah seluruh isi pikiran Raisa, jika sampai Angga menghentikan kiriman uang setiap bulannya pada ibu tirinya tersebut, bisa saja Raisa tak diijinkan untuk mengunjungi makam ayahnya lagi. Arni dan ibunya juga pasti akan melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehnya demi mendapatkan uang dengan memanfaatkannya.
Seperti saat sebelum ia bertemu dengan Steven, sekitar delapan tahun lalu saat Raisa baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas. Beberapa hari sebelum Raisa ingin berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya, Arni dan ibunya yang bernama Tina tersebut dengan sengaja menyekap Raisa dan menjualnya ke rumah bordir agar reputasi Raisa sebagai anak yang baik dan berprestasi hancur. Beruntung Raisa dapat melarikan diri dari sana dan bertemu dengan Steven yang pada akhirnya membantunya melanjutkan pendidikannya meski tak tuntas sebab ayahnya jatuh sakit dan terpaksa ia kembali untuk merawat ayahnya hingga akhir hayatnya.
"Kau tak ingin aku menghentikan biaya hidup ibu dan adik tirimu itu bukan?" Tanya Angga kembali.
Raisa menoleh lalu berbalik.
"Kemari dan pilih satu, sebelum aku berubah pikiran!" Serunya lelaki itu kembali.
Suasana di toko tersebut menjadi tegang, bahkan para pelanggan yang lain ikut merasakan ketegangan dihati Raisa yang tampak murung itu.
"Baiklah, aku akan pilih satu" jawab Raisa pelan lalu menatap barisan cincin di etalase toko, ia menunjuk dua buah cincin untuk ia coba, salah satu cincin itu bahkan persis seperti cincin yang dikenakan oleh Arni.
"Pilih yang lain, itu terlalu biasa dan murah untuk kartuku" ucap Angga mengurungkan niat istrinya memilih cincin yang sama dengan cincin yang dikenakan Arni.
"Kalau begitu aku pilih yang ini saja!" Ucap Raisa memberitahu penjaga toko untuk membungkus cincin pilihannya.
"Tolong pakaikan saja, saya akan melakukan pembayaran pada kasir!"
"Baik, Pak!" Jawab penjaga toko tersebut.
Tanpa menunggu waktu yang lama Angga sudah menyelesaikan pembayaran cincin istrinya tersebut, lelaki itu menatap jemari Raisa yang tampak sangat cocok dengan cincin yang ia belikan itu. Sementara Raisa tengah bergelut dengan isi pikirannya sambil menatap ke arah cincin berlian ditangannya.
"Cincin ini pasti sangat mahal, apa aku harus memberitahunya tentang apa yang aku pikirkan tadi malam?" Batinnya khawatir.
"Pak, kembalilah ke mobil. Aku dan Raisa akan makan ke restoran di lantai atas!" Titahnya menyuruh sopir mereka untuk pergi.
Wanita ini kembali dibuat kebingungan oleh Angga, banyak pertanyaan kini muncul dalam benaknya. Sembari mendorong kursi roda suaminya kearah lift, ia menatap punggung lebar suaminya lekat. Singkat cerita keduanya sampai ke restoran dan Angga memesan beberapa hidangan mewah diatas meja.
"Apa alasannya?" Raisa bertanya sembari memulai makan siangnya.
Angga yang duduk berhadapan dengan Raisa mulai melahap makanan yang ia pesan, dinaikkannya kedua alisnya menatap Raisa sembari menguyah makanan di mulutnya.
"Apa maksudmu dengan alasan?"
Mata Raisa memindai sekitar dengan awas karena takut kalau suaminya memiliki niat lain di balik kebaikannya saat ini. Beberapa saat hanya terdengar suara denting piring dan sendok diatas meja makan, sesekali Raisa menatap wajah suaminya yang begitu serius menikmati makan siangnya.
"Kenapa kamu diam? Jangan menyia-nyiakan makanannya, itu mahal dan untuk membayarnya aku harus merogoh kantongku"
Lelaki itu menegur istrinya yang masih terdiam.
"Angga, jujur saja. Apa maksud dari semua ini? Apa kau ingin menceraikanku dan cincin ini adalah kompensasinya? Atau kau merasa cemburu karena adikmu memperlakukan adikku lebih baik darimu?"
"Huffft"
Angga mendengus kesal sambil memegangi kepalanya tanpa melepaskan sendok dan pisau makan di kedua tangannya.
"Kau..... "
"Aku hanya tidak ingin kau memperlakukan ku dengan baik jika pada akhirnya kau membuangku dan memperlakukan ku lebih buruk lagi" ucap wanita itu memotong perkataan Angga.
"Kau memang memiliki bakat mengacaukan perasaan orang lain" balas Angga lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.
"Yaaaa"
Raisa mengangguk beberapa kali membuat suaminya mengerutkan keningnya.
"Kita memang orang lain"
"RAISAAA!"
Mendadak suasana didalam restoran menjadi hening, Raisa yang semula hendak memotong daging diatas piringnya terdiam, matanya berkaca-kaca kala suaminya dengan lantang membentaknya didepan umum. Ya, orang-orang yang mendengar suara teriakan Angga menatap keheranan pada keduanya.
"Pulang sekarang!" Titahnya pada Raisa.
Angga dengan susah payah menggerakkan kursi rodanya ke arah kasir, membayar seluruh tagihan makanannya dan Raisa lalu berjalan lebih dulu kearah lift, menekan tombol menuju basement dan segera menemui sopir mereka. Sementara itu Raisa berjalan dengan wajah murung menuju eskalator, setibanya ia didalam mobil Angga menyuruh sopir mengantarkan mereka ke tepi pantai.
Tak jauh dari pusat kota, hanya memakan waktu lima belas menit mereka telah sampai dipinggiran pantai yang diatasnya melintang jalan beraspal yang meliuk-liuk.
"Keluar!" Titahnya, lalu ia juga ikut turun dengan tongkat yang membantunya berjalan.
Raisa menelan ludah kasar, ia tahu dirinya hanya akan dalam bahaya saat ini, dari arah depan dan belakang ia berharap akan ada kendaraan yang berlalu namun nihil, hingga Angga berteriak kembali ia tak kunjung melihat satupun kendaraan melintas disana.
Raisa berjalan menghampiri Angga yang berdiri dengan bantuan tongkat sembari bersandar pada body mobil hitamnya itu.
"Kemari!" Ucapnya tegas menarik tangan Raisa lalu menarik paksa cincin berlian ditangan istrinya.
"Angga!"
Satu gerakan dari tangan kekar lelaki itu membuat cincin berlian itu terlempar ke udara dan pada akhirnya terjatuh ke pantai yang berombak itu.
"Sebelum kau menemukan kembali cincin itu, jangan kembali ke rumahku. Dan jika kau kembali tanpa cincin itu, AKU AKAN MENCERAIKANMU!"