Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dania
"Dania? Bu Dania!"
"Nggak sopan banget sama Dosen."
Jason berkacak pinggang, dagunya terangkat berniat menantang Jax yang lebih tinggi darinya.
"Lagian, balsemnya kok bisa di lu? Jujur aja, lu juga mau deketin Bu Dania kan? Kurang banyak itu cewek berjejer?" Jason menaikkan lagi suaranya, ia tak terima kalau Jax juga merebut orang yang diincarnya padahal sudah banyak gadis yang merebutkan Jax.
Tak menanggapi kemarahan Jason, Jax malah membaringkan tubuhnya lagi di sofa merah dekat tempat melukis.
"Ambil saja Dania kalau lu mau," ucapnya membelakangi Jason, berguling membenamkan diri pada bantal sofa yang sudah tidak berbentuk.
"Lu ngomong gitu, kayak Bu Dania sudah milik lu. Asal lu tahu aja, Bu Dania itu nggak pantes buat lu. Dia cantik, baik, dosen lagi. Sedangkan lu? Orang tua aja nggak punya!"
Keheningan seketika menyergap.
James yang semula mengulas kuasnya langsung menghentikan tangannya. Sedangkan Jason menyadari bahwa dirinya sudah keterlaluan. Dia tahu kalau topik orang tua itu sangat sensitif untuk Jax.
Dalam gelisahnya, Jason berniat mendekati Jax dan meminta maaf.
Jax terbangun, mata lirihnya menatap lurus ke Jason yang gemetar. Rasa bersalah merutuki jiwanya tapi bibir dan tubuhnya malah terkunci seolah dia menyadari bahwa sedalam apapun ia meminta maaf, pasti Jax tidak akan mudah memaafkannya.
"Sudah? Sudah puas bicaranya?"
Jason hanya diam tak menjawab. Lidahnya kelu, terpotong akan rasa bersalah yang menghujam.
"James, aku pulang dulu," ucap Jax melangkah pergi.
"Lu sudah keterlaluan, lu sadarkan?" James yang memang lebih pendiam diantara kedua sahabatnya, menoleh ke Jason.
"Itu karena dia serakah. Dia sudah punya banyak cewek, tapi masih menginginkan Bu Dania. Aku --" Jason kehabisan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.
"Iri?" James menyambar. "Itu yang lu maksud? Hah.... Sudahlah, jangan karena cewek, lu kehilangan Jax. Oke?" Lanjutnya.
Jason kembali menunduk menggantikan Jax duduk di sofa merah.
.
.
.
Dalam perjalan pulang, kepala Jax dipenuhi dengan ucapan Jason.
Bukan, Jax tidak tersinggung karena Jason menarik orang tuanya dalam perdebatan. Namun, perkataan Jason tentang dirinya yang tidak pantas untuk Dania terus terngiang.
Jalan menuju rumah yang amat jauh seolah memberikan waktu untuknya berpikir. Apa yang ia inginkan dalam hubungan ini? Apakah dengan bercerai maka masalah akan selesai? Sebenarnya apa masalahnya?
Dania adalah sosok istri yang baik. Setiap hari dia tidak pernah lupa mengurus suaminya yang pemalas. Dia juga tidak pernah membawa laki-laki lain meskipun Jax terang-terangan berselingkuh di depan matanya.
"Sebenarnya apa mauku?" Jax menggumamkan pertanyaan yang seharusnya hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri.
Langkah demi langkah, kepalanya semakin kosong, menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Kakinya yang semakin lelah karena jarak yang jauh menyadarkannya kalau dirinya memang bodoh.
"Hah!"
Jax menghentikan kakinya. Tak disangka, tepat di posisinya berdiri, ada sungai di samping kanan dan kiri. Kemudian Jax mengedarkan matanya, melihat sekeliling. Tatapan lirihnya menangkap air yang tenang, menandakan betapa dalamnya sungai yang membentang. Angin yang menghembus rambut hitamnya mengalunkan ingatan pada malam itu.
Malam yang panjang, menyertakan rasa sakit yang mendalam akan kehilangan.
Malam panjang yang mempertemukannya dengan Dania, istrinya.
"Hah... Dania melarangku melihat sungai," lirihnya lalu mundur menjauhi bahu jalan dan berlalu pergi menyusul Dania yang menantinya di rumah.
.
.
.
Begitu dirinya sampai di Rumah, Jax langsung menjelajahi setiap ruangan, mencari sang Istri. Namun sepertinya Dania sudah pergi ke rumah nenek.
"Hah.." Jax menghela napasnya. Melempar tubuhnya di sofa, sekedar mengistirahatkan kakinya yang kelelahan setelah berjalan sangat jauh.
Sejenak ia mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar, entah karena jalan sepuluh ribu langkah, atau karena ... Dania.
"Apakah aku harus menyusulnya?"
Namun memori menyakitkan menghentikan niatnya. Lebih baik ia mendekam sendirian di ruang tamu. Daripada harus mengunjungi sumber kesakitannya.
Drrrt.... Drrrt...
"Hah.... Siapa lagi?"
Drrrrt... Drrrrt...
"Mmm..."
Akhirnya ia mengangkat panggilan itu.
"Halo sayang.... Kamu sedang apa?"
"Hah? Siapa?" Tanya Jax.
"Ini aku, Kristy. Siapa lagi sih? Sayang lagi apa?"
"Kalau nggak ada yang penting, mending gak usah telpon," jawab Jax.
"Kamu lagi dimana? Boleh nggak aku kesana? Kita main yuk!"
Ajakan menggiurkan itu membuat Jax langsung bangkit dari sofa.
"Oke, kamu kesini aja. Rumah lagi sepi nih," ucapnya tak banyak pikir lagi. Tidak ada lagi nama Dania di kepalanya. Otaknya sudah tertutup dengan nikmatnya tubuh molek perempuan yang akan menemaninya siang ini.
"Aku kirim alamatnya, cepat kesini nggak pakek lama." Ucapnya mengakhiri telepon.
.
.
.
Sementara itu, Dania yang sudah pulang dari rumah nenek Jax memutuskan untuk membeli beberapa jajanan sore di dekat pertigaan rumahnya. Meski ia tidak berhasil membujuk Jax untuk ikut bersamanya, namun masih ada rasa khawatir di benaknya.
Dania tahu benar mengapa Jax menolak ajakannya, ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Namun jauh di lubuk hatinya, Dania tidak berhenti berharap agar Jax bisa lepas dari bayang masa lalunya dan hidup layaknya manusia pada umumnya. Bukan Jax yang suka bermain di pelukan para gadis hanya untuk memenuhi tangki cintanya.
"Semoga Jax menyukai jajanannya," senyumnya merekah membayangkan suaminya yang akan memakan jajanan dengan mata yang berbinar.
"Pasti gemas banget!!!" Dania tidak menyadari kalau dirinya menggoyang-goyangkan badannya pelan meskipun tidak ada musik yang terdengar di mobilnya.
Akan tetapi perasaan tidak enak perlahan menghantuinya. Semakin dekat langkahnya ke pintu rumah, semakin jelas kalau ketakutannya semakin menjadi nyata.
Di teras, ia melihat mobil merah parkir dengan santainya. Sedangkan di depan pintu ada sepatu heels tinggi yang jelas bukan miliknya.
"Haha, Jax tidak mungkin melakukannya di rumah kan?"
Kesedihannya merayap dari dada hingga menusuk rongga matanya, membuat tetesan air mata jatuh di pipinya.
"Tidak, mana mungkin," diusapnya air mata yang mengalir itu untuk menguatkan hatinya yang sudah tak berbentuk.
"Hehe, aw.... Jax jangan gini ah...."
Suara asing itu semakin mengacak-acak hatinya. Seperti dihunjam oleh tombak yang berkarat, Dania Merakan sesak yang luar biasa. Dunia terasa melambat ketika ia mendengar desahan kenikmatan dari balik kamar Jax. Penglihatannya perlahan buram karena bulir-bulir air mata yang tidak sanggup ia tahan.
Bisa saja Dania meneruskan langkahnya dan membuka lebar pintu itu yang menjadi tabir diantara dirinya dan Jax, tapi hatinya tak sanggup. Tangannya yang penuh dengan beberapa bungkus jajanan kini bergetar hebat membuat bungkusan itu meluncur jatuh begitu saja. Seperti hatinya yang telah jatuh pada jiwa yang salah.
dia butuh pertolongan tapi tingkahnya kayak gak butuh
tapi kurang jelas apa sih perasaan dania?? act of service bgt gitu 🥴
dag dig dug syeerr 🤣