Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Petir Realitas di Kamar 404
Brukk!
"Om... berat, Om... jangan jadi kasur dadakan... Sella mau penyet ini," gumam Sella lirih dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan keheningan malam.
Karena postur tubuh Adit yang berotot padat dan berat layaknya kulkas dua pintu, Sella yang seluruh energinya sudah ludes dikuras habis oleh ramuan jus jeruk tidak sanggup lagi untuk berontak. Dalam posisi tertindih beban berat sang CEO kaku akut, Sella akhirnya menyerah kalah pada rasa kantuknya yang luar biasa besar. Keduanya pun tertidur pulas dalam posisi yang sangat tidak beraturan, tepat di atas ranjang mewah yang kini sudah berantakan mirip medan perang.
****
Cahaya matahari pagi Kota Paris yang menyengat menembus celah-celah gorden sutra kamar hotel, membangunkan Sella lebih awal dari biasanya. Ia mengerjapkan matanya yang terasa berat berkali-kali, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih tercecer di galaksi lain akibat efek obat semalam.
Namun, baru saja ia berniat menggeser tubuhnya sedikit, rasa perih dan linu yang luar biasa di perut bagian bawahnya langsung menyengat saraf—efek dari aksi akrobatik melompat ke punggung Adit dan tendangan mautnya semalam. Sella menolehkan kepalanya ke arah samping, dan detik itu juga, jantungnya serasa berhenti berdetak di tempat.
Di sana, Om Robot Kaku yang ia temui di kafe siang kemarin sedang tertidur sangat pulas dalam posisi menyamping. Namun, bukan keberadaan pria itu yang membuat seluruh tubuh Sella membeku kaku seperti patung es. Sepasang mata bulat Sella mendadak menangkap sebuah bercak merah segar di atas seprai putih bersih, tepat berada di bawah posisi tidurnya.
Otak mahasiswi mode milik Sella yang dipenuhi doktrin novel romantis dewasa langsung mengalami korsleting total.
Astaga... apa yang sudah terjadi semalam? bisik Sella lirih dalam hati. Isakannya langsung pecah seketika itu juga.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat otaknya secara otomatis memutar skenario terburuk dunia fiksi: kesucian dan kehormatannya telah dirampas secara paksa oleh pria asing kaku ini di malam pertama ia menginjakkan kaki di Paris!
"Dasar cowok brengsek, mesum, titisan dajjal!" jerit Sella histeris di dalam hatinya.
BUGH!
Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, dan didorong oleh kekuatan panik tingkat tinggi, Sella melayangkan satu tinju mentahnya sekuat tenaga, tepat bersarang di pipi mulus Adit.
Adit tersentak hebat dari tidur nyenyaknya. Matanya melotot sempurna menahan rasa sakit nyut-nyutan yang luar biasa membakar di pipi kanannya.
"Arrggh... sshh! Apa-apaan sih lo?! Pagi-pagi buta udah nyerang orang!" erang Adit dengan suara serak khas orang bangun tidur, kesadarannya masih tertinggal lima puluh persen.
Namun, sedetik kemudian, sang CEO muda langsung terlonjak kaget setengah mati saat menyadari permukaan kulit tubuhnya bersentuhan langsung dengan udara dingin kamar AC. Ia tidak memakai baju, hanya menyisakan celana pendek hitam.
"Heh, lo mahasiswi sableng yang di kafe kan?! Kenapa lo bisa tidur di dalam kamar gue dengan penampilan kurang bahan begini?!" bentak Adit panik. Ia merayap mundur dengan cepat di atas kasur hingga punggungnya nyaris terjatuh dari tepi ranjang. Matanya memindai tubuh Sella yang tertutup rapat oleh selimut tebal.
Sella justru semakin menangis kencang dengan air mata yang bercucuran deras, menatap Adit dengan pandangan mata penuh rasa benci sekaligus hancur.
"Lo udah lecehin gue, Om! Lo harus tanggung jawab seumur hidup! Dan satu hal yang harus otak kaku lo tahu, ini tuh kamar tidur gue! Kamar nomor 404! Bukan kamar lo, Om-om gila mesum!"
Adit mematung seketika, kepalanya yang masih terasa sangat berat akibat sisa obat semalam mencoba mencerna keadaan sekitar. Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan. Detik itu juga, wajah tampan Adit memucat pasrah. Dekorasi kamar ini penuh dengan botol parfum stroberi, liptint, dan tas jinjing mahasiswi—bukan desain interior minimalis monokrom milik kamarnya yang berada di lantai atas.
"Hah? M-masa gue bisa salah kamar?" Adit menelan ludahnya dengan susah payah, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. "Tapi demi Tuhan, gue nggak mungkin ngapa-ngapain lo! Gue... gue sama sekali nggak ingat apa-apa semalam!"
Drap! Drap! Drap!
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang sangat tegas, berat, dan berirama militer terdengar jelas dari arah lorong luar, semakin lama semakin mendekat ke arah pintu kamar Sella yang posisinya tidak terkunci rapat.
"Sella? Sayang? Sudah bangun belum? Papa masuk ya, ini pintunya kok agak terbuka," suara bariton Kaizen yang berat menggelegar dari balik pintu.
Detik itu juga, aliran darah di tubuh Adit dan Sella serasa berhenti mengalir total. Atmosfer kamar mendadak berubah menjadi horor. Panik tingkat dewa yang belum pernah ada di dalam sejarah hidup mereka langsung melanda keduanya.
Adit, dengan sebuah gerakan akrobatik nekat yang didorong oleh insting bertahan hidup dari amukan massa, langsung menyambar kemeja koyaknya di lantai, lalu berlari kencang menuju ke arah pintu balkon luar.
"Hey! Jangan kabur lo, Om brengsek!" teriak Sella dengan suara tertahan dan berbisik, agar tidak memicu kecurigaan ayahnya di depan pintu.
Adit sudah tidak memedulikan omelan itu lagi. Jiwanya sudah berada di ambang kematian. Ia melompat keluar ke area balkon, merapatkan tubuh tegap bertelanjang dadanya ke dinding luar sambil menahan napas rapat-rapat, berdoa kepada seluruh alam semesta agar sosoknya tidak terlihat dari dalam kaca kamar.
Sementara itu di dalam kamar, Sella hanya bisa menangis pasrah, menarik selimut tebalnya tinggi-tinggi hingga menutupi batas dagu, tepat pada saat gagang pintu utama mulai berputar terbuka.
"Sella? Kenapa kamu belum siap-siap untuk jadwal kita pagi ini? Loh... kamu kenapa menangis sesenggukan begitu?" tanya Kaizen yang kini sudah berdiri tegak di ambang pintu, menatap putrinya dengan dahi berkerut penuh rasa curiga.
Suara bariton Kaizen yang berat seketika membekukan seluruh pergerakan molekul udara di dalam kamar tidur itu. Langkah kaki tegasnya yang mengenakan sepatu pantofel mengkilap terhenti tepat di tengah ruangan.
Sepasang mata elang tempur milik mantan komandan militer itu menyapu area lantai karpet, menangkap sebuah pemandangan mengerikan yang seketika menghancurkan seluruh logika kedisiplinan militernya: selembar kemeja pria dewasa yang terkoyak di sudut meja, jas mewah berharga ratusan juta yang teronggok tak berdaya di atas lantai, dan beberapa pakaian Sella yang berceceran di antara karpet akibat kepanikan melucuti pakaian semalam.
"Sella... apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam ruangan ini?! Jelaskan pada Papa sekarang juga!" tuntut Kaizen. Suaranya tidak lagi sekadar bertanya dengan nada biasa, melainkan sudah menggelegar penuh dengan otoritas barak yang sanggup meruntuhkan nyali mental pasukan musuh.
"Papa... hiks... maafin Sella, Pa... Sella nggak tahu... Sella takut..." Sella semakin tergugu dalam tangisnya, wajah cantiknya disembunyikan sepenuhnya di balik gulungan selimut yang ia remas sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih tanpa darah.
Kaizen melangkah mendekat ke arah ranjang, aura kemarahan dan intimidasi dari tubuhnya terasa sangat panas menyengat seisi ruangan.
"Kamu kenapa, Sella?! Siapa bajingan yang sudah berani menyentuh sehelai rambut putri kandung Papa?! Jawab, Sella!"
Dengan jari telunjuk yang gemetar hebat karena rasa takut dan sedih yang bercampur, Sella mengarahkan tangannya menunjuk ke arah gorden tipis balkon luar yang tampak melambai-lambai tertiup angin pagi Paris.
"Sella... Sella udah dilecehin sama Om-om mesum itu, Papa... dia... dia sekarang sembunyi di luar balkon!"
Di balik dinding dingin balkon luar, jantung Raditama Abraham serasa copot dan berhenti berdetak seketika. Keringat dingin mengucur deras membasahi punggung polosnya yang tidak tertutup sehelai benang pun.
Mati gue! Ini mah urusannya bukan cuma sekadar skandal korporat atau penurunan harga saham perusahaan lagi, tapi ini sudah masuk ke dalam menu hukuman mati tanpa sidang! batin Adit panik setengah mati. Ia melirik ke arah bawah balkon; ketinggian lantai eksekutif hotel bintang lima ini sangat mustahil untuk dilompati, kecuali jika ia memang memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup hari ini.
Kaizen tidak membuang waktu berharga sedetik pun. Dengan rahang yang mengeras rapat hingga urat rahangnya menonjol, dan kedua kepalan tangan kekarnya yang sudah siap menghantam apa saja yang ada di depannya, ia berderap cepat menuju ke pintu balkon. Setiap langkah kakinya terdengar bagaikan dentuman genderang perang yang mengerikan.
"Keluar kamu, Keparat bajingan! Jangan berani jadi pengecut bersembunyi di balik tembok kamar saya!"