Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahlah denganku
“Tunggu, apa seorang Fio sedang cemburu?” Gala meledekku dengan senyum dan tatapan penuh makna. “Jadi, benar kata anak – anak SMA waktu itu. Kalau kamu sangat menyukaiku?”
“Gala, jangan mengalihkan pembicaraan!” ucapku tegas.
Gala malah tertawa. “Tunggu … Tunggu. Aku sedang ingin membahas ini. Aku ingin tahu, seberapa besar kamu menyukaiku. Jadi, ini bukan karena tidak bisa menolak keinginan Om Arif? Kamu menerima perjodohan ini karena benar – benar menyukaiku, iya?”
“Ck, sudahlah. Aku …”
“Fio.” Gala memotong omonganku sembari menahan tubuhku yang hendak bergeser untuk menjauh. “Aku senang kamu menyukaiku. Sungguh. Karena aku juga menyukaimu.”
Aku membeku. Ya, dulu memang aku sangat menyukainya. Tapi, itu dulu. Lalu, Gala yang sebelumnya berada di kursi depan malah pindah ke belakang.
“Gal, ngapain pindah? Ayo jalan!”
“Tidak, aku ingin mnyeleasikan pembicaran kita.”
“Tidak ada yang perlu diselesaikan. Semua sudah selesai.”
“Itu artinya, kita bisa berciuman? Aku ingin sekali merasakan bibirmu.”
Aku melihat tatapan Gala pada bibirku. Tatapan yang … susah dideskripsikan. Tapi, yang jelas gaya mesvm-nya berbeda dengan Gio. Hingga sedetik kemudian, tanganku menahan.
“Gala, cepat kembali ke kursimu. Kita masih ada di jalan. Tidak enak kalau dilihat orang.”
“Fio, sekali saja. Aku ingin merasakan seberasa besar kamu menyukaiku melalui bibirmu.”
“Kenapa begitu?” tanyaku bingung.
“Karena memang begitu untuk membuktikannya.”
“Tidak.” Aku mendorong d4d4 gala kencang, hingga dia terhempas ke belakang.
Gala marah. Dia menarikku dan …
Tok
Tok
Tok
Tiba – tiba, seseorang mengetuk pintu mobil hingga bibir Gala tak sempat menyentuh bibirku.
“Si4l! Siapa orang yang berani menggangguku!” gerutunya kesal.
Dari situ, aku melihat amarah Gala yang tak tersalurkan hasr4tnya.
Gala menurunkan jendela dan terkejut. Melihat seseorang dari balik jendela itu, aku juga terkejut.
“Mister Gio?”
“Tuan Gala? Ternyata, ini mobil anda? Sorry, mobil saya tida bisa keluar karena terhalang mobil anda.”
Mataku terbelalak karena orang yang sedang membungkuk untuk melihat kami dari jendela yang terbuka itu adalah Gio. Tubuhnya yang tinggi terpaksa membuatnya harus sedikit membungkuk untuk melihatku dan Gala di dalam.
“Oh, ternyata ada Dokter Fio. Hai!”
Dia melambaikan tangan sembari tersenyum. Manis sekali. Aku membalas senyum itu. sedangkan, Gala hanya menolehku dan menjawab pertanyaan Gio.
“Oke, tunggu sebentar. Saya akan jalan.”
“Oke, terima kasih.”
Gala terpaksa keluar. Dengan wajah ditekuk dan menahan marah, Gala kembali duduk di depan. Dia juga terpaksa tak melanjutkan aksinya dan itu karena Gio. Lagi – lagi, pria itu menyelamatkan ku.
Saat mobil mulai jalan, aku tersenyum pada Gio. Dengan gayanya yang dingin dan berdiri sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku, Gio membalas senyumku saat melintas.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Gala diam. Aku pun tak memulai duluan. Sepertinya, Gala masih kesal dengan penolakanku yang berulang kali. Di tambah, gangguan dari Gio tadi.
Hari berganti. Pernikahanku dengan Gala sudah di depan mata. Hari ini, hari terakhirku bertugas sebelum cuti atu minggu untuk menikah dan Gala tahu itu. Aku sudah mengajukan cuti jauh – jauh hari. Bahkan, sebelum aku dan Gio bertemu lagi.
“Ada berapa pasien lagi, Sus?” tanyaku pada suster Rini, asisten bertugas hari ini.
“Ini yang terakhir, Sus.”
“Oke, panggilkan.”
Saat Suster Rini memanggil nama pasien, aku tidak terlalu memperhatikan. Hingga, pasien itu masuk.
“Sore, Dok.”
Deg
Suara itu lagi. Sudah tiga hari aku tidak mendengarnya. Sama seperti Gala yang menghilang memberi kaba sejak aku menolak ciumannya malam itu padahal detik – detik pernikahan kami sedikit lagi.
Aku menoleh. Benar saja, pasien terakhirku adalah Giorgio Abraham, si Mafia yang katanya hanya seorang diri di sini tanpa pasukan dan tanpa pengawalan.
“Kata dokter, tiga hari lagi saya ke sini. Sekarang, saya datang untuk mengganti perban.”
Aku menghela napas. Aku memang pernah mengatakan demikian saat mengobati lukanya waktu itu.
“Duduk!” pintaku dengan mengarahkan mataku pada ranjang pasien di sana.
Gio menurut dan duduk. Suster Rini yang sigap langsung menyiapkan perlengkapan.
“Ini kasa dan guntingnya, Dok.”
“Oke, terima kasih.”
Suster Rini pergi. Tanpa aku beri aba – aba, dia malah berlalu begitu saja dan menarik tirai sehingga hanya benar – benar ada aku dan Gio saja di sini.
“Obatnya diminum?”
“Ya.”
“Tidak kena air kan?”
“Sedikit. Untuk hal itu, aku sedikit tidak patuh.”
Aku menarik napas lagi. Dengan tanpa jarak, aku membuka perbannya dan menggganti dengan yang baru. Tak ada rintihan sama sekali, padahal aku yakin kalau luka ini cukup menyakitkan.
Aku pun menoleh dan menatap matanya. “Sakit?”
Gio malah tersenyum. “Tidak, jika bersamamu.”
“Gio, jangan mulai! Sebentar lagi, aku istri orang.”
“Kalau begitu, aku ambil sekarang.”
Aku membeku. Berbeda saat bersama Gala yang tak merasakan apa – apa ketika didekatnya. Bersama Gio, jantungku berdegup kencang.
Kemudian, dengan cepat Gio menarik pinggangku hingga kami benar – benar tak berjarak.
“Gio, lepas!”
“Tidak. Kamu tidak boleh menikah dengannya. Dia baj1nga4n.”
Aku tersenyum. “Lalu, aku harus menikah dengan siapa? Denganmu? Bukankah sama saja.”
“Aku sungguh – sungguh, Fio. Dia mempermainkanmu. Hanya ingin nama dan tubuhmu.”
“Kamu? Bukannya juga begitu?” tantangku padanya.
Mata kami bertemu. Sesaat, tak ada suara hanya kedua mata kami yang bicara hingga aku tersadar dan menahan bahunya.
“Aku belum selesai membersihkan lukamu. Biar aku selesaikan dulu.”
Gio melepaskan tangannya dari pinggangku. Dan, aku mendengarnya kembali bicara. Sebuah pernyataan agar pikiranku terbuka.
“Gala selingkuh. Vania itu bukan sepupunya. Dia teman tidurnya.”
Entah mengapa, aku tenang dan tak bereaksi saat Gio mengatakan itu semua. Karena aku belum melihat perselingkuhan itu di depan mataku.
Aku masih mengobati luka Gio. Tangan Gio masih merengkuh pinggangku. Bahkan, saat sedikit sakit karena obat yang aku tabur di luka itu, tangan kekarnya mencengkeram pinggangku cukup erat. Posisi kami begitu intim hingga aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang terjadi.
“Kalau Gala selingkuh, bagaimana denganku? Apa aku juga disebut selingkuh karena membiarkanmu memeluk pinggangku, mencium bibirku, dan … apa ini? Tanganmu mulai meraba daerah yang lain.”
Gio tertawa. Tangannya memang sudah beralih ke p4h4 ku. Lalu, aku tepis kasar.
“Sopan sedikit, aku doktermu bukan pel4curmu!” Aku marah. “Duduk yang benar!”
Seorang Gio, mafia yang ditakuti dinegaranya justru patuh padaku. Dia menjauhkan tubuhnya dariku dan duduk dengan benar.
Aku buka gorden dan meletakkan kembali alat – alat medis yang ku gunakan tadi. Entah, di mana Suster Rini saat ini.
“Selesai, Tuan Gio. Anda bisa keluar,” nadaku terdengar tegas.
Gio memakai kemejanya dan turun dari ranjang pasien. Sementara, Aku yang sedang mencuci tangan, merasakan sebuah hembusan. Gio bicara tepat di belakang telingaku.
“Menikahlah denganku. Aku akan katakan di mana ibumu.”