NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Tanda-Tanda

Udara pagi itu terasa sama seperti biasanya — sejuk, segar, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang mekar di sepanjang pagar kediaman. Langit di atas Kota Higashino jernih tanpa awan, dan sinar matahari mulai menembus celah dedaunan, menciptakan bintik-bintik cahaya yang bergerak pelan di permukaan tanah berlumut. Bagi siapa pun yang melintas, pagi ini tampak begitu damai, begitu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Namun bagi Kakashi, sesuatu terasa berbeda.

Ia berdiri di tempat yang sama — di beranda sayap timur, tempat ia biasa mengawasi gerbang utama dan jalan setapak yang menuju ke sungai. Matanya yang tertutup bayangan topi jerami tak menatap benda tertentu, melainkan menyapu seluruh sudut pandang dengan keteraturan yang tak terlihat mata biasa. Sepuluh tahun mengasah naluri, tidur dengan satu mata terbuka, mendengarkan detak jantung angin — semua itu membuatnya peka terhadap perubahan yang terlalu halus untuk disadari orang lain.

Ada yang ganjal.

Bukan suara, bukan pemandangan yang aneh. Melainkan rasa. Seperti sepotong benang yang putus di tengah tenunan kain yang indah. Sesuatu yang tak terlihat, namun terasa di udara.

Kakashi melangkah pelan. Kakinya tak mengeluarkan suara sedikit pun, seakan telapak kakinya menyatu dengan lantai kayu tua yang telah ia kenal sepuluh tahun ini. Ia berkeliling mengelilingi bangunan utama, memeriksa setiap jendela, setiap celah pagar, setiap tempat persembunyian yang ia ketahui. Semuanya tampak biasa. Kunci masih terpasang, rantai tak terputus, jejak di tanah masih utuh — hanya jejak penghuni rumah dan pelayan yang beraktivitas pagi.

"Kakashi-san?"

Suara lembut dari arah kebun menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melihat Aoi berjalan mendekat, membawa keranjang berisi bunga segar, wajahnya bersinar di bawah sinar matahari pagi.

"Selamat pagi, Nona Aoi," sapa Kakashi, menunduk sedikit, namun kewaspadaannya tak surut sedikit pun.

"Kau berjalan ke sana kemari sejak tadi," ucapnya sambil menatap sekeliling dengan bingung. "Ada sesuatu yang hilang?"

"Tidak ada, Nona," jawabnya tenang. "Hanya memastikan semuanya baik-baik saja."

Aoi tersenyum, namun matanya menyiratkan kekhawatiran tipis. "Kau selalu begitu. Seolah ada bahaya di balik setiap pohon. Padahal di sini aman, kan? Ayah dicintai semua orang."

"Benar, Nona. Namun waspada tidak ada salahnya."

Gadis itu mengangguk pelan, lalu melambaikan tangan pelan. "Baiklah, asal jangan terlalu lelah. Nanti sarapan siap. Ayah sudah menunggu."

Kakashi mengangguk, namun tak segera beranjak. Ia memperhatikan punggung Aoi yang menjauh, lalu kembali menatap ke arah semak belukar di perbatasan kebun. Sesuatu di sana — sebatang semak yang patah, bukan karena angin, melainkan karena seseorang menyentuhnya dengan hati-hati namun terburu-buru. Jejaknya samar, nyaris tak terlihat, namun ia melihatnya.

Ia mendekat, berjongkok, menyentuh batang yang patah itu. Patahannya baru, beberapa jam yang lalu, tak lebih. Ia menelusuri jejak itu ke belakang, menjauhi rumah, menuju arah hutan kecil di belakang bukit. Langkahnya ringan, mengikuti lekuk tanah yang tertekan halus — jejak kaki yang sangat kecil, sangat ringan, seakan orang itu melayang.

Namun jejak itu berakhir mendadak. Di bawah pohon ek yang rindang, tak ada lagi tanda. Seperti orang itu lenyap ditelan bumi.

Kakashi berdiri tegak, menatap sekeliling. Hening. Terlalu hening. Burung-burung yang biasanya berkicau pagi ini terdiam lebih lama dari biasanya. Ia menyadari satu hal: ia ditarik ke sini. Jejak itu sengaja dibuat. Siapa pun yang melakukannya, mereka tahu cara bergerak tanpa meninggalkan jejak — kecuali satu jejak yang mereka sengaja tinggalkan agar ia menemukannya.

Jebakan.

Pikiran itu menegaskan dirinya seketika. Ia tidak berlari, namun melangkah cepat, kembali ke kediaman, matanya memindai setiap arah. Jika ia ditarik ke sini, berarti saat ia pergi, mereka akan masuk.

Saat ia kembali, suasana di kediaman tampak tenang seperti biasa. Tuan Kenzaburo sedang duduk di ruang makan, berbicara pelan dengan Daiki mengenai pengiriman barang hari ini. Aoi sedang menata piring di meja. Pelayan bergerak tenang. Tak ada yang menyadari apa-apa.

Namun Kakashi tahu.

Ia melangkah masuk ke ruang makan, suasananya seketika berubah sedikit lebih dingin karena kehadirannya.

"Kakashi," sapa Kenzaburo sambil menoleh, tersenyum ramah. "Mari duduk. Sarapan sudah siap."

"Maaf, Tuan," ucap Kakashi dengan nada rendah namun tegas. "Saya meminta izin untuk memeriksa kembali keliling kediaman. Ada sesuatu yang mengganjal."

Kenzaburo mengernyit pelan. "Ada yang tidak beres?"

"Belum tentu, Tuan. Namun lebih baik memastikan."

Daiki meletakkan cangkir tehnya, menatap Kakashi dengan perhatian. "Apakah ada orang yang masuk?"

"Belum ada tanda masuk, Tuan Daiki. Tapi ada tanda penyusupan. Jejak yang sengaja ditinggalkan."

Aoi menatap mereka dengan wajah pucat. "Maksudmu... ada orang di sekitar sini?"

"Belum bisa dipastikan, Nona. Tetaplah di dekat Ayah, jangan pergi ke tempat sepi sendirian." Kakashi menatap Kenzaburo lekat-lekat. "Tuan, mohon jangan keluar rumah sebelum saya kembali memeriksa seluruh area."

Kenzaburo mengangguk perlahan, senyumnya memudar. "Baik, Kakashi. Kami akan menunggu di sini. Kau yang kami percaya."

Kakashi membungkuk hormat, lalu bergerak keluar. Ia tidak memanggil bantuan penjaga luar — jika benar ada musuh, mereka menyusup dengan keterampilan tinggi, dan berisik hanya akan menguntungkan pihak yang bersembunyi. Ia bergerak sendiri, diam, seakan bayangan yang terlepas dari dinding.

Ia memeriksa sayap barat dulu — tempat gudang dan kamar tamu. Semuanya terkunci, tak ada gangguan. Namun saat ia berbalik menuju lorong belakang, telinganya menangkap suara yang sangat halus — gesekan kain dengan kayu, di atas atap.

Kakashi mendongak pelan. Di antara celah atap dan dinding, bayangan kecil bergerak cepat, hilang ke arah kebun belakang.

Ia mengejarnya, namun kali ini tidak terburu-buru. Ia tahu mereka menginginkannya. Ia tahu mereka menginginkannya pergi dari sisi tuannya. Jadi kali ini, ia tidak sepenuhnya pergi.

Ia berpura-pura berlari menjauh, menuju arah hutan, lalu berbelok tajam, menyelinap di balik deretan pohon sakura tua, dan kembali ke kediaman dari arah lain — diam, tak terlihat, menunggu.

Dan tak lama kemudian, mereka muncul.

Dari balik semak belukar yang tebal, sepuluh sosok meluncur keluar. Mereka mengenakan pakaian gelap yang menyatu dengan bayangan, wajah tertutup kain, hanya sepasang mata yang tajam terlihat. Setiap gerakan mereka sinkron, tanpa suara, melompat melewati pagar seolah tak ada rintangan. Mereka bukan pencuri biasa. Mereka adalah ninja — terlatih, terampil, berbahaya.

Mereka bergerak menuju pintu belakang, tempat Kenzaburo dan keluarganya sedang berada. Kakashi menghitung mereka — sepuluh orang. Sepuluh prajurit bayangan yang dikirim dengan satu tujuan: mengambil nyawa tuannya.

Ia tidak memberi kesempatan mereka untuk melangkah lebih jauh.

Saat sosok pertama hendak membuka pintu belakang dengan pisau tipis, suara napas halus terdengar tepat di belakangnya. Sebelum ia sempat berbalik, siku Kakashi menghantam lehernya tepat di titik yang membuatnya pingsan seketika tanpa suara. Tubuh itu tertangkap pelan dan diletakkan di tanah.

Ninja kedua menyadari ada yang tidak beres, namun sebelum ia sempat memberi isyarat, Kakashi sudah berada di sampingnya. Satu gerakan tangan — tegas, cepat, tepat — membuatnya terhenyak, kesadaran lenyap sebelum ia sempat mengeluarkan suara.

Namun ketiga lainnya menyadari keberadaan mereka yang hilang.

Salah satu dari mereka memberi isyarat tangan cepat — ada musuh. Semuanya berhenti, berputar serentak, menghadap ke arah tempat Kakashi berdiri.

"Kau yang menghalangi?" bisik salah satu dari mereka, suaranya rendah dan serak. "Minggir, ronin. Ini bukan urusanmu."

Kakashi berdiri tegak, tangannya tak memegang senjata terlihat, namun seluruh tubuhnya sudah siap bergerak. "Ini kediaman Tuan Kenzaburo. Tidak ada yang boleh melangkah masuk tanpa izin."

"Kau sendirian?" ninja lain menyeringai di balik penutup wajah. "Sepuluh lawan satu. Bodoh."

"Kembalilah ke siapa yang mengutus kalian," ucap Kakashi tenang, namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan dalam suaranya. "Saya tidak akan bertanya dua kali."

Mereka tidak menjawab, melainkan menyerang serentak. Tiga orang meluncur maju, pisau pendek berkilauan di tangan mereka, menyerang dari tiga arah berbeda. Kakashi menghindar tanpa tergesa-gesa — menunduk, berputar, melangkah mundur tepat saat ujung pisau melintas di depan wajahnya. Ia membalas dengan tendangan yang mengenai perut salah satu penyerang, membuatnya terhempas pingsan ke tanah. Dua lainnya terus menyerang, namun setiap serangan mereka melesat dari tubuh Kakashi seakan ia tahu persis ke mana pisau itu akan turun.

Dua orang lagi bergabung, melempar benda tajam kecil. Kakashi menangkisnya dengan lengan, lalu melompat ke samping, menarik salah satu penyerang sebagai tameng hidup saat serangan berikutnya datang. Dalam hitungan detik, tiga orang sudah jatuh tak sadarkan diri. Namun tujuh lainnya masih berdiri, dan mereka mulai menyadari bahwa pria yang mereka hadapi bukan sekadar pengawal biasa.

"Keterampilan ini..." gumam pemimpin mereka, suaranya bergetar. "Siapa kau sebenarnya?"

"Seseorang yang tidak akan membiarkan kalian melangkah satu langkah lagi," jawab Kakashi dingin.

Pertarungan semakin sengit. Mereka menyerang dengan gaya yang mematikan — gerakan yang dirancang untuk membunuh dengan cepat dan senyap. Namun Kakashi bergerak seperti air: tidak pernah menolak secara langsung, melainkan mengalir di sekitar serangan, membelokkan, mematahkan, melumpuhkan. Ia tidak membunuh mereka — setidaknya belum. Ia hanya melumpuhkan persendian, memukul titik saraf, membuat mereka jatuh tanpa kemampuan untuk bangkit kembali.

Namun jumlah mereka terlalu banyak. Sesosok ninja menyelinap dari belakang, pisau tajam terhunus ke arah punggung Kakashi. Ia berputar tepat waktu, namun ujung pisau itu tetap menyayat lengan kirinya — perih, panas, darah menetes perlahan ke tanah.

Kakashi tak mengerang. Ia membalas dengan pukulan telak ke arah pelipis penyerang itu, membuatnya roboh seketika. Tersisa empat orang. Napas mereka memburu, mata mereka menatap Kakashi dengan takut. Ia berdiri di sana, luka di lengannya berdarah, namun sikapnya tak berubah — tegak, tenang, tak tergoyahkan.

"Mundur," perintah pemimpin mereka, ragu namun tegas. "Kita tidak bisa mengalahkannya sekarang."

Mereka menarik diri, membawa rekan-rekan mereka yang masih sadar, meninggalkan tiga orang yang tak sadarkan diri di tanah. Sebelum menghilang ke balik semak, pemimpin itu menoleh sejenak. "Ini belum selesai, pengawal. Tuanmu sudah ditandai. Tak ada tempat yang aman baginya."

Kakashi hendak mengejar, namun berhenti seketika. Ia tahu — sekali lagi — mereka mencoba menariknya pergi. Ia tidak akan membiarkan pintu terbuka sedikit pun.

Ia berbalik cepat, kembali ke pintu belakang, dan tepat saat itu pintu terbuka dari dalam. Kenzaburo berdiri di sana, diikuti Daiki dan Aoi yang wajahnya pucat ketakutan melihat darah di lengan Kakashi.

"Kakashi!" seru Kenzaburo, melangkah keluar tanpa ragu. "Kau terluka!"

"Tidak apa-apa, Tuan," jawabnya, menahan rasa perih. "Mereka pergi. Untuk saat ini."

Daiki melangkah maju, menatap tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah, lalu ke arah hutan tempat mereka menghilang. "Siapa mereka?"

"Belum tahu, Tuan Daiki. Namun mereka dikirim khusus untuk masuk ke sini secara diam-diam. Mereka tahu jalannya." Kakashi menunduk sedikit, rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya. "Mereka menyadarkan saya terlebih dahulu dengan jejak palsu. Saya hampir tertipu."

Kenzaburo meletakkan tangan di bahu Kakashi, menatapnya lekat-lekat. "Tetapi kau tidak pergi. Kau kembali. Dan kami selamat berkatmu."

"Namun mereka berhasil masuk ke area dalam, Tuan. Itu kesalahan saya."

"Kau sendirian menahan sepuluh orang," ucap Daiki pelan, tak percaya. "Siapa pun yang mengutus mereka pasti tidak menyangka ada pelindung sekuatmu di sini."

Aoi mendekat, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar saat meraih kain bersih dari saku jubahnya. "Duduklah, Kakashi-san. Biar aku balut lukamu."

Kakashi hendak menolak, namun tatapan gadis itu tak membiarkannya. Ia duduk di beranda, dan Aoi dengan hati-hati membersihkan luka di lengannya, napasnya tertahan setiap kali menyentuh kulitnya.

"Siapa yang membenci Ayah sampai begini?" tanyanya pelan, suaranya bergetar.

Kakashi diam sejenak, lalu menjawab jujur. "Persaingan perdagangan itu keras, Nona. Banyak yang merasa dirugikan oleh kebijakan Tuan Kenzaburo. Namun mengirim pembunuh... itu menunjukkan kebencian yang sangat dalam."

Kenzaburo berdiri tegak, menatap ke arah gerbang yang kini dijaga ketat oleh pengawal yang baru saja dipanggil. "Aku tidak bermusuhan dengan siapa pun secara pribadi. Namun kekuasanku memang tidak disukai beberapa pihak." Ia menoleh ke Kakashi, tatapannya serius. "Mereka akan kembali, bukan?"

"Ya, Tuan. Mereka tahu kami waspada sekarang. Mungkin mereka akan mengubah cara. Menjadi lebih licik, lebih berbahaya." Kakashi menatap tuannya dengan janji yang tak terucap. "Saya tidak akan membiarkan mereka menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Anda sekalian. Bahkan jika harus mengorbankan nyawa saya."

Kenzaburo tersenyum tipis, namun matanya berat. "Aku tahu kau akan melindungi kami, Kakashi. Tapi aku takut justru padamu. Kau menanggung beban sendirian terlalu berat."

"Ini tugas saya, Tuan."

"Bukan tugas semata. Kau adalah keluarga." Kenzaburo menepuk bahunya pelan. "Mulai hari ini, pengawal tambahan akan ditempatkan di sini. Daiki akan mengurus pengamanan dari luar. Dan kau... Kakashi, kau harus beristirahat. Kau tidak bisa menjaga kami jika tubuhmu lelah."

Kakashi mengangguk, namun di dalam hatinya ia tahu satu hal: pengawal tambahan tak akan cukup. Musuh yang dikirim untuk menyusup ke tempat yang dijaga ketat sekalipun adalah musuh yang tak kenal lelah, tak kenal ampun, dan tak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.

Sore itu berlalu dengan suasana yang berbeda. Tawa yang biasanya terdengar ceria kini lebih pelan. Setiap langkah terdengar lebih jelas, setiap bayangan ditatap dengan curiga. Daiki berkeliling memeriksa pos penjagaan, memastikan setiap orang siaga. Aoi tak pergi jauh dari rumah, sesekali melirik ke arah Kakashi yang berdiri di beranda, lengan yang dibalut kain putih tak menyembunyikan kenyataan bahaya yang semakin dekat.

Saat malam tiba, lampu-lampu dinyalakan lebih awal, dan pintu-pintu dikunci ganda. Kakashi tidak tidur. Ia duduk di tempat yang dapat melihat seluruh halaman depan, membiarkan rasa sakit di lengannya mengingatkannya pada kewaspadaan. Ia memikirkan kata-kata pemimpin ninja itu — "Ini belum selesai."

Mereka tidak menyerang dengan kekuatan penuh hari ini. Mereka menguji. Menguji pertahanan, menguji kekuatannya, menguji seberapa jauh ia akan pergi demi melindungi tuannya. Dan mereka pergi dengan jawaban yang jelas: ia akan bertahan sampai titik darah penghabisan.

Namun justru itulah yang membuatnya cemas. Jika mereka tahu sekuat apa ia, mereka akan mencari celah lain. Titik lemah lain.

Ia menatap ke arah kamar tempat Kenzaburo beristirahat. Di sampingnya, kamar Aoi dan Daiki. Tiga nyawa yang harus dijaga. Tiga cahaya yang harus dilindungi dari kegelapan yang perlahan merayap mendekat.

Malam semakin larut. Angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya, menggoyangkan dahan pohon yang berderit pelan. Tak ada suara orang, tak ada langkah kaki. Namun Kakashi tidak tertipu. Keheningan ini bukan kedamaian. Ini adalah jeda sebelum badai benar-benar datang.

Ia menyentuh gagang pedang pendek yang terselip di pinggangnya — senjata yang jarang ia gunakan, namun selalu ia bawa. Sepuluh tahun ia menjaga tanpa perlu mengeluarkannya. Ia berharap tak perlu menggunakannya sekarang. Namun harapan saja tak cukup untuk melindungi mereka.

Di kejauhan, di balik perbukitan yang gelap, sekelompok sosok berdiri di tebing tinggi, menatap ke arah cahaya yang masih menyala di kediaman Kenzaburo.

"Dia lebih kuat dari perkiraan," ucap salah satu dari mereka, suaranya dingin. "Rencana awal tidak akan berhasil."

"Kita tidak bisa mundur," jawab suara lain — lebih berat, lebih mengancam. "Tuan kita sudah memberi perintah. Kenzaburo harus mati. Dan pengawal itu... dia adalah penghalang yang harus disingkirkan terlebih dahulu."

"Bagaimana caranya? Dia tidak terpisah dari tuannya sedetik pun."

"Kalau dia tak mau pergi, kita buat dia pergi." Suara itu tertawa pelan, tawa yang tak menyenangkan. "Kita tahu kelemahannya. Dia melindungi mereka karena menganggap mereka keluarga. Maka kita gunakan itu. Buat dia lengah, dan saat itu tiba... serang."

Mereka menghilang satu per satu ke dalam kegelapan, meninggalkan rencana yang semakin tajam, semakin mematikan.

Di kediaman itu, Kakashi tiba-tiba merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu rencana apa yang sedang disusun, namun nalurinya berteriak — bahaya bukan lagi di depan pintu. Bahaya sudah berada di antara mereka, merayap diam-diam, mencari celah yang sekecil apa pun untuk masuk.

Ia berdiri tegak, menatap kegelapan di luar pagar.

Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh mereka, janjinya dalam hati. Tidak peduli berapa banyak yang datang, tidak peduli apa yang harus saya korbankan.

Namun di kedalaman batinnya, ada sesuatu yang bergetar — firasat yang ia tolak untuk diakui, namun tak bisa ia hilangkan. Bahwa janji itu mungkin terlalu berat untuk ditepati sendirian. Bahwa di masa depan yang tak jauh, ada momen kelalaian yang tak akan ia maafkan pada dirinya sendiri.

Malam itu berlalu tanpa serangan kedua. Namun keheningan yang ada bukanlah kedamaian. Itu adalah tarikan napas panjang sebelum teriakan dimulai. Dan Kakashi tahu — ia tidak akan tidur nyenyak lagi, mungkin untuk waktu yang sangat lama.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!