Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran
Jam dinding di atas papan tulis berdetak, mengiringi langkah wali kelas baru kami yang masuk dengan senyuman hangat. Hari pertama di kelas 8-B diisi dengan pembentukan pengurus kelas dan pembagian jadwal pelajaran. Sepanjang perkenalan, Dian beberapa kali mencoba berbisik-bisik dengan teman sebangkunya sambil melirik ke arahku. Aku tahu, tabiatnya tidak berubah. Namun, setiap kali angin sindiran itu berembus, aku memilih tenggelam dalam catatan buku baruku.
Aku memfokuskan pikiran pada target nilai dan impian yang ingin kuraih. Aku tidak lagi memberi ruang bagi kalimat beracun untuk masuk ke hatiku.
Saat bel istirahat berbunyi, Dian mencoba memancing perhatian dengan menyindir penampilan dan kesibukanku di depan pintu kelas. Alih-alih terpancing emosi, aku membalasnya dengan senyuman sopan dan melangkah tenang keluar.
Aku melihat Dwi yang terdiam di bangku, melihat Dwi seperti melihat diriku sendiri di saat kelas 7. aku mengajaknya untuk ke kantin bersama. "yuk ke kantin" ucapku pelan
Dwi mengangguk perlahan, aku dan dwi menghabiskan waktu istirahat bersama. Kemudian Dwi menyemangati ku karena berhasil mengabaikan sindiran Dian, sementara kami memakan bekal bersama. Alih-alih memikirkan gangguan Dian, aku memilih untuk fokus mendiskusikan target nilai dan merencanakan jadwal belajar bersama Dwi. Kehadiran Dwi yang tulus membuatku merasa cukup kuat menghadapi hari pertama di kelas 8-B.
Di kantin, aku dan Dwi menikmati waktu istirahat sambil berbagi makanan dan mendiskusikan target nilai serta rencana belajar bersama. Ketika kembali ke kelas dan berpapasan lagi dengan Dian, aku memilih untuk menyapanya dengan ramah alih-alih terpancing emosi, membuat Dian terbungkam dan kehilangan kata-kata sindirannya. Hari pertama di kelas 8-B ini membuktikan bahwa kita memiliki kendali penuh atas cara merespons perkataan orang lain, dan memiliki Dwi sebagai teman membuat langkahku semakin mantap.
Bel masuk berbunyi, memutus obrolan hangat kami dan memaksa semua murid kembali ke kelas. Saat aku dan Dwi berjalan melewati meja Dian, ia sempat mendengus dan memalingkan muka, seolah kesal karena pancingannya tadi sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku hanya tersenyum tipis, merasa menang bukan karena membalas, tetapi karena berhasil menjaga kedamaian hatiku.
Arah bangkunya sendiri di pojok belakang. Di sinilah ujian kesabaranku yang sebenarnya dimulai. Aku tidak duduk sebangku dengan Dwi, melainkan dengan Della.
Della adalah seorang gadis yang sangat pendiam dan dingin. Sepanjang semester ini, aku selalu merasa tidak cocok dengannya. Setiap kali aku mencoba mencairkan suasana dengan menyapa atau menanyakan tugas, ia hanya merespons dengan anggukan singkat atau gumaman satu kata tanpa pernah menoleh sedikit pun dari buku bacaannya. di meja kami selalu terasa canggung dan kaku.
Saat aku menarik kursi dan duduk di sampingnya, Della tetap bergeming. Ia sibuk merapikan kotak pensilnya dengan gerakan yang sangat mekanis, seolah keberadaan ku di sisinya hanyalah embusan angin lalu. Rasa sebal sempat menyelinap di hatiku, setelah menghadapi tatapan sinis Dian di depan pintu tadi, kini aku harus terjebak dalam keheningan yang menyesakkan bersama Della selama beberapa jam ke depan.
Della hanya menoleh sekilas, menatapku dengan pandangan datar yang sulit diartikan. lalu kembali menghadap ke depan seiring langkah guru yang mulai memasuki kelas.
Aku menghela napas panjang dalam hati. Menjaga kedamaian hati ternyata tidak hanya saat menghadapi orang yang memusuhi kita seperti Dian, tetapi juga saat harus berbagi ruang dengan orang yang sama sekali tidak satu frekuensi dengan kita.
Saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring, aku mengemas barang-barangku dengan tenang. Aku melangkah keluar kelas dengan perasaan menang-menang atas diriku sendiri yang berhasil menjaga kedamaian hati.
Setelah berpisah dengan Dwi di depan gerbang sekolah, aku melanjutkan perjalanan pulang sendirian dengan perasaan lega dan damai. Hari pertama di kelas 8-B mengajarkan bahwa kedamaian hati adalah tanggung jawab diri sendiri, baik saat menghadapi sindiran Dian maupun keheningan kaku Della. Perjalanan pulang berasa menenangkan dan menguatkan keyakinan untuk menghadapi hari esok.
Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih santai. Terik matahari siang memanasi atap seng rumah kami sudah terdengar gertak dari kejauhan saat aku membuka pintu. Suasana rumah tampak sepi, namun begitu menenangkan. Gerobak tua Bapak sudah ada di posisinya, pertanda beliau sudah pulang berjualan. Namun pergi berkerja lagi untuk menjemput rezeki di luar sana.
Begitu pula dengan Kakak, anak kelas 2 SMA sepertinya pasti memiliki jam pulang yang lebih sore, apalagi hari pertama biasanya diisi dengan rapat OSIS atau pengenalan kegiatan ekstrakurikuler. Aku melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung mencium aroma wangi masakan dari arah dapur. Ibu rupanya sedang sibuk memotong sayuran untuk makan malam kami nanti.
"Ibu, aku sudah pulang," sapaku
Ibu menoleh, wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus itu langsung melengkung membentuk senyuman tulus yang selalu meruntuhkan segala lelahku.
"Eh sudah pulang. Bagaimana hari pertamamu di kelas 8, Ris? Teman-temannya baik?"
Aku sempat terdiam sejenak, membayangkan wajah Dian dan Fitriani yang sempat kutemui di sekolah. Namun, aku memilih untuk tersenyum lebar demi menenangkan hati wanita hebat di depanku ini.
"lancar, Bu. Riska dapat kelas 8-B, duduk di dekat jendela jadi tidak gerah. Tadi langsung pembagian jadwal pelajaran juga."
Baguslah kalau begitu. Ya sudah, kamu ganti baju dulu, setelah itu kita makan siang sama-sama. Ibu tadi bikin oseng tahu sama sambal tomat. kata Ibu sambil mengusap lembut bahuku.
Aku mengangguk mantap dan segera berjalan ke kamar. Sembari melepas dasi biru tua dan melipat seragam putih-biruku, Di rumah ini, bersama Ibu yang penuh kasih, aku selalu menemukan pelabuhan terbaik setelah seharian menghadapi dunia luar. Aku tahu tantangan di kelas 8 akan panjang, tetapi dengan doa Ibu dan keteguhan yang diajarkan Bapak, aku yakin tidak ada yang bisa menjatuhkan ku lagi.
Aku melangkah keluar dari kamar dengan pakaian rumah yang santai, aroma oseng tahu dan sambal tomat langsung menyambut indra penciumanku, membuatku ingin cepat-cepat makan Ibu sudah menata dua piring nasi hangat di atas meja kayu sederhana kami.
"Ayo duduk, Ris. Keburu dingin nasinya," panggil Ibu sambil menyodorkan sendok.
Aku mengambil posisi di sebelah Ibu. Suapan pertama oseng tahu buatan Ibu selalu terasa luar biasa rasa manis, gurih, dan sedikit sengatan pedas dari sambal tomatnya berpadu sempurna. Rasa canggung setelah menghadapi keheningan Della dan aura negatif dari Dian di sekolah tadi menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan.
"Bagaimana, enak? tanya Ibu memperhatikan caraku makan.
"Enak sekali, Bu. Masakan Ibu selalu jadi yang terbaik," jawabku tulus, membuat senyum Ibu kembali mengembang.
Di sela-sela kunyahan kami, Ibu kembali membuka obrolan dengan lembut.
"bagaimana di sekolah apa ada yang sekelas lagi?" tanya ibu
Aku mengunyah pelan, lalu meletakkan sendok sejenak. Aku memutuskan untuk berbagi, tetapi dengan sudut pandang yang positif.
"Sebenarnya... Riska sekelas lagi dengan Dian, Tadi dia sempat mencoba menyindirku di depan kelas," ceritaku jujur.
Gerakan tangan Ibu yang hendak mengambil lauk terhenti. Tatapan matanya berubah teduh penuh kekhawatiran. "Lalu, apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak membalas, cuma tersenyum dan pergi ke kantin sama teman baru namanya Dwi. Malah pas papasan lagi, aku sapa dia duluan sampai dia bingung mau ngomong apa," kataku sambil terkekeh pelan. "Hanya saja... aku duduk sebangku dengan Della. Dia anak yang sangat pendiam dan dingin. Tadi sepanjang jam pelajaran, suasana meja kami kaku sekali."
Ibu mendengarkan dengan saksama.
"Ris, Bapak selalu bilang kan, kita tidak bisa mengatur isi kepala dan mulut orang lain. Yang bisa kita atur adalah hati kita sendiri"
tutur Ibu dengan suara yang menyejukkan.
Nasihat Ibu meresap ke dalam hatiku, meruntuhkan sisa-sisa rasa sebal yang sempat mengendap tadi siang.
Aku mengangguk mantap, merasakan energi positif kembali penuh di dalam diriku.
Kami melanjutkan makan siang dengan obrolan yang lebih ringan.
pokoknya harus Sampek ending