NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA: Arah Angin (Bagian 1)

“Izang, bangun! Ada Ara nih!” kudengar lamat-lamat suara mbak Senja memanggilku. Kukerlingkan mataku menatap jam dinding. Jam 8.

“Ara nggak di sini, Mbak,” jawabku pelan setengah ngelindur. Kurapatkan lagi selimutku. Ini tidak mungkin jam 8, ini pasti masih jam 3 pagi. Kulitku tahu dan paham bahwa aku tidak akan pernah terbiasa dengan hawa Malang di pagi buta. Apalagi sekarang bulan Agustus, bulan terdingin dalam sejarah perhawaan Malang. Keluar dari selimut? Brrr...jangan bercanda.

“Izang! Ada Ara!” teriak mbak Senja lagi. Lebih keras dari yang pertama. Aku bergeming, merutuk dalam hati.

Kenapa mbak Senja berisik banget di hari Minggu sih? Ngapain juga bawa-bawa Ara?

Sayup-sayup aku mendengar percakapan wanita di lantai bawah. Mungkin ibu dan mbak Senja bertengkar soal menu masakan. Masa bodohlah. Aku tidak akan bangun dengan hawa kutub seperti ini.

“Chan?” ada tangan hangat mengelus pipiku. Aku menggulung tubuhku makin rapat. Tiba-tiba saja selimutku ditarik kencang-kencang. Dingin berapa belas derajat itu langsung menyerbuku tanpa ampun. Membuatku terduduk dengan emosi di ubun-ubun kepalaku.

“Anj...!”

“Kamu lupa kalau hari ini kencan sama aku?” belum sempat serapahku selesai, aku melihat Ara menatapku dengan tanduk di kepalanya. Ini bukan mimpi, memang hanya aku yang bisa melihat tanduk di kepala Ara. Nyawaku, yang awalnya masih melayang layang gembira di pulau antah berantah, langsung terjun bebas ke dalam tubuhku. Aku shock. Aku bahkan tak berani mengedipkan mataku.

“Kamu sendiri yang bikin janji berangkat jam 8, malah enak-enak masih tidur,” kulihat hidung Ara memerah. Di luar pasti dingin sekali.

“Chan!!!”

“Iya, iya, iya, aku mandi,” buru-buru aku turun dari tempat tidurku hingga nyaris terjungkal.

“Udahlah nggak usah! Udah bete juga akunya, males mau keluar,” Ara beranjak pergi begitu saja dari kamarku. Kukerjapkan mataku berkali-kali, mengirim sinyal SOS ke otakku sebagai tanda darurat.

“Chan, sorry!” kususul Ara yang sudah ada di dapur bersama kakakku. Kudapati mbak Senja melihatku sekilas sebelum dengan sekuat tenaga menahan tawanya. Sial.

“Udah sana mandi dulu! Biar Ara masak sama Ibu,” ibu menepuk punggungku pelan. Kuperhatikan Ara yang tentu saja tidak mau menatapku. Saat itu aku baru tahu betapa mengerikannya pacarku ketika moodnya rusak. Jangan sampai ini terulang lagi.

Ini pertama kalinya aku mandi pagi di hari Minggu. Biasanya aku tidak akan menyentuh air hingga lewat tengah hari. Atau jika air tetap saja seperti es, aku pasti akan memasak air hangat. Sudah jangan tertawa. Terkadang jadi banci itu perlu tahu!

“Cie, tumben banget nih ada yang ganteng hari Minggu! Biasanya jam segini mah ya masih bau iler, Ra!” mbak Senja langsung merecokiku begitu aku keluar dari kamar. To be honest, kadang aku sedih punya kakak perempuan. Apalagi di saat seperti ini. Di mana tadi aku berbuat kesalahan pada Ara dan kakakku tahu bagaimana mengeksekusi kesalahan itu. Sepertinya aku harus bersiap untuk kehilangan muka hari ini. Rahasia-rahasia burukku pasti terbongkar seluruhnya. Lengkaplah sudah.

“Gantengnya nunggu ada Ara ya?” ibuku menyahut dari ruang makan. Aku menarik napas panjang-panjang.

Beginilah risiko hidup sebagai lelaki satu-satunya dalam keluarga. Welcome to the jungle, boy!

“Kok wangi banget kamu, Dik? Bukannya kamu bakal di rumah aja seharian?” celetuk mbak Senja sesaat setelah melewatiku.

“Kata siapa?” sahutku.

“Aku,” Ara menjawab tanpa menolehku. Dia sibuk wara-wiri dapur dan ruang makan, membantu ibuku menyiapkan meja makan untuk sarapan.

“Lho kok...?” aku melongo.

“Kan tadi aku bilang kalau udah nggak mood jalan,” Ara meletakkan sup ayam yang masih panas di meja.

“Ya kukira cuma guyon,” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kuputuskan saja untuk duduk. Berusaha terlihat tenang meskipun sebenarnya aku sangat cemas dengan sikap Ara.

“Yuk, makan dulu yuk!” ibuku menyeret kursi dan duduk di ujung meja. Mbak Senja menyusul kemudian. Aku buru-buru menarik kursi di sampingku, memberi sinyal agar Ara duduk di situ. Untung saja dia tidak menolak.

Aku masih berkutat dengan piringku ketika kusadari bahwa suasana di ruang makan ini terlalu senyap untuk tiga perempuan dan satu lelaki yang duduk semeja. Kuamati mereka satu per satu. Ibu dan mbak Senjalah yang terlihat aneh. Beberapa kali mereka berdua saling bertukar pandangan. Aku yakin ini bukan tentang Ara. Pasti ada hal lain yang mereka sembunyikan.

“Ada yang mau diomongin sama aku, Bu?” kudapati ibu tersentak mendengar pertanyaanku. Feelingku benar.

“Sebenarnya iya, tapi ada nak Ara. Ibu takut membuat Ara tidak nyaman nanti.”

“Oh maaf, Tante. Saya bisa langsung pulang setelah sarapan. Toh, saya tidak jadi pergi dengan mas Izang,” Ara buru-buru menimpali.

“Oh, ndak nak Ara, bukan begitu...”

“Cerita aja, Bu! Ara kan sama aku. Dia juga bukan orang asing yang baru Ibu kenal kemarin sore,” aku memotong perkataan ibu yang belum selesai. Lagi-lagi ibu bertukar pandangan dengan mbak Senja. Hening. Sejurus kemudian mbak Senjalah yang buka suara.

“Mm...Dik, kalau misalnya ibu akan menikah lagi bagaimana?” aku hampir menjatuhkan sendokku mendengar pertanyaan itu. Kucari arah pandang kakak perempuanku. Dia serius.

“Haruskah?” kusandarkan punggungku tegak-tegak. Aku siap berdebat.

“Dik, kamu kan tahu ayah sudah menikah lagi.”

“Lantas kalau ayah menikah lagi, ibu juga harus menikah lagi, begitu? Apa Mbak yakin ibu tidak akan bercerai lagi untuk yang kedua kalinya?” kusadari benar nada bicaraku menjadi sinis. Mbak Senja menatapku terkejut. Mungkin tidak menyangka adiknya akan berbicara sejahat itu. Ibu menarik napas dalam-dalam.

“Ibu hanya ingin punya keluarga yang lengkap lagi, Nak,” tutur ibu pelan sambil menatapku. Ada beribu kekhawatiran di mata teduh itu. Aku baru akan melontarkan argumen kerasku yang lain saat kurasakan Ara menggenggam erat tanganku yang dingin. Dia selalu tahu bagaimana cara menenangkanku.

“Sudah lama?” tanyaku lagi.

“Sudah tiga bulan dan Ibu sudah bertemu dengan keluarganya. Mbak Senja juga sudah pernah bertemu dengan beliau,” jelas ibu. Tentu saja. Akan lebih mudah mempertemukan calon suami ibu dengan mbak Senja daripada denganku. Ibu tahu betul bagaimana reaksiku saat mengetahui ayah sudah menikah lagi. Ibu pasti tidak ingin aku memberi reaksi serupa dengan keputusannya sekarang, bahkan bisa saja lebih buruk karena aku tinggal bersama ibu.

Aku menghela napas. Suka tidak suka, aku tahu ibuku memang membutuhkan pendamping dalam membesarkan kami. Sekuat apa pun beliau, ibu tetap saja perempuan.

“Kalau memang menurut Ibu beliau bisa membuat Ibu bahagia, Izang tentu setuju. Izang tidak akan melarang.”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!