Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepanikan
Bapak meletakkan topi di atas rak, lalu melangkah mendekat. Meskipun tubuhnya tampak letih, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan.
Beliau duduk di lantai semen yang beralaskan tikar kecil, meluruskan kakinya dan meminum teh yang di buat ibu.
Aku di ruang tengah mengerjakan tugas dengan dibantunya kakak. Ibu tersenyum melihat bapak yang tampak rileks. Beliau bangkit dari kursinya lalu melangkah maju ke dapur yang hanya dibatasi triplek. Tak lama kemudian, terdengar denting sendok yang beradu dengan piring, berbaur dengan aroma harum sambal terasi dan tumis kangkung yang langsung menyeruak ke raungan tengah.
Ibu kembali sambil membawa sepiring nasi putih hangat, lengkap dengan lauk tempe goreng, sambal, dan tumis kangkung yang sudah ibu masak sebelum bapak pulang.
ibu Meletakkannya dengan lembut di atas tikar, tepat di hadapan bapak.
"Makan dulu, mumpung nasinya masih hangat," kata ibu dengan suara yang selalu meneduhkan
Bapak mengangguk, senyumnya melebar. rasa lelah yang menggelayuti menghilang setelah melihat perhatian ibu.
Bapak kemudian mencuci tangannya, lalu memakannya. Suara denting sendok bapak yang beradu dengan piring, bisikan kakak yang mengajariku rumus matematika. Dan gemerisik daun pisang di luar rumah karena angin sore, beradu menjadi sebuah harmoni yang menenangkan.
Ibu duduk di samping bapak, dengan memotong bawang merah sambil mendengarkan cerita singkat tentang pekerjaannya hari ini. Di ruang tengah yang bersahaja ini, kami tidak membutuhkan kemewahan untuk merasa utuh. Cukup dengan kehadiran satu sama lain, seperti nasi, dan kebersamaan yang tulus, rumah ini selalu menjadi tempat pulang terbaik bagi kami.
Malam pun datang, melingkupi rumah kami yang sederhana dengan kesunyian desa. Bapak dan ibu sudah tertidur lelap sejak pukul delapan, karena ibu sudah selesai masak kari ayam untuk bubur dan lain sebagainya lebih awal, Untuk berjualan seperti biasa di pagi hari.
Suasana di kamar begitu tenang, hanya ditemani suara jangkrik di luar rumah serta embusan angin malam yang menerpa dinding triplek. Di dalam kamar, aku duduk di tepi kasur sambil menyusun buku-buku pelajaran ke dalam tas sesuai jadwal esok hari. Kakak berbaring bersandar pada bantal di sudut kasur yang lain, wajahnya berpendar terkena cahaya dari ponsel yang sedang ia mainkan.
"Besok hari Jumat, berati ada IPS"
gumamku pelan sambil memasukkan buku catatan ke dalam tas.
Kakak mengalihkan pandangannya sebentar dari ponsel, lalu menoleh ke arahku
"PR mu sudah di kerjakan semua? Jangan lupa"
"Sudah, kak tadi sore kakak kan bantu juga soal rumus matematika," jawabku sambil menutup resleting tas.
Kakak hanya mengangguk kecil, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. Jari-jari tangannya bergerak lincah, tampaknya sedang membalas pesan dari teman atau sekedar melihat-lihat media sosial.
Aku memperhatikan tumpukan buku di meja kecil. Mengatur jadwal pelajaran ini selalu membuatku membayangkan hari esok di sekolah. Di sisi lain, aroma Kari ayam yang dimasak ibu tadi sore masih samar-samar tercium sampai kamar, mengingatkan ku bahwa beberapa jam lagi bapak dan ibu harus kembali terbangun untuk mencari nafkah.
"Aku akan bangun pagi besok" gumamku.
Aku mematikan lampu kamar utama dan kakak menyalakan alarm di ponselnya untuk besok pagi bangun.
Kami tertidur dengan kain sarung tebal untuk menghalau dinginnya angin desa, bersikap menyambut esok hari yang sibuk.
Keesokan harinya, hari Jumat yang sejuk, menyapa dengan hembusan angin pagi yang segar. Seperti biasa roda kehidupan keluarga kami berputar sejenak matahari belum sepenuhnya terbangun.
Bapak sudah bergegas pergi Berdagang dengan semangat yang tak pernah surut, sementara ibu ke pasar untuk membeli bumbu dapur, berburu kesegaran cabai dan rempah untuk aroma masakan rumah. Di sudut lain kakak bergegas mengenakan seragam Pramuka, sambil menyisir rambut di depan cermin yang kecil dekat pintu dapur, Sementara Aku sudah merapikan seragam aku berjalan menuju dapur untuk sarapan di meja makan aku bersarapan bubur ayam yang sudah ibu siapkan.
Selesai bersarapan kakak melangkah percaya diri berangkat ke sekolah. Aku berjalan santai melewati gang-gang kecil tiba terdengar suara teman SD ku dulu yang sering menceritakan saudara-saudaranya.
"Riska, bareng yuk" ucap teman dengan nada semangat.
Aku mengangguk, kami mulai berjalan kaki bersama di perjalanan itu. Tak lama temanku langsung menanyakan kelas, dan hari olahraga.
"Ris kamu di kelas apa?, olahraga kamu hari apa?" tanya temanku
"Aku di kelas 7c, aku olahraga di hari Rabu. Kamu kelas apa" jawab ku
"Aku di kelas 7e" jawabnya
Temanku terus melanjutkan obrolan dengan antusias sambil menyebutkan nama-nama teman seangkatannya di kelas lain, sementara aku berjalan di sampingnya dengan mendengarkan obrolan, sambil sesekali mengangguk.
Aku tersenyum dan tetap mendengarkan cerita panjang lebarnya. Rasanya senang melihat temanku begitu ceria dan punya banyak cerita seru tentang orang lain. Aku sendiri tidak begitu kenal dengan mereka semua karena temanku dan aku berbeda kelas, atau mungkin aku yang tidak terlalu luas dalam pergaulan.
Tiba di gerbang sekolah, tak terasa obrolan itu mengantar langkah kaki kami hingga tiba di gerbang SMP. Suasana pagi mulai ramai setelah dengan siswa-siswa yang berdatangan, suara kendaraan berlalu-lalang, dan bel sekolah sebentar lagi berbunyi.
"Yaudah sampai jumpa lagi" ucap temanku sambil berlari menuju kelasnya.
Aku mengangguk lalu melangkah menuju kelas. Melangkah masuk di dalam kelas beberapa ada yang mengerjakan PR yang belum selesai dikerjakan. Nayla sebangku ia melambai tangan, aku berjalan menuju arah bangku untuk duduk.
"Ris kamu udah PR matematika?, aku belum"
Tanya Nayla
"Aku sudah, mau liat?"
ucapku langsung. karena tau basa-basi Nayla pasti minta liat jawaban PR.
"Mau, emang boleh?" ucapnya dengan nada bingung.
"Boleh" jawabku sambil membuka tas, mencari buku matematika. Aku mengambil buku matematika dan meletakkannya di samping meja sebangku.
Nayla langsung meraih buku matematika itu dengan mata yang berbinar. "makasih ya kamu emang penyelamatku," bisik nya cepat-cepat sambil membuka halaman buku.
Tangannya bergerak lincah menyalin rumus dan angka ke buku tulisnya. Sesekali ia melirik ke arah pintu kelas takut kalo pak tono masuk. Guru matematika yang terkenal killer, mendadak masuk ke kelas sebelum Nayla menulis.
Suasana kelas masih cukup ramai, beberapa murid lain juga tampak sibuk menyalin tugas teman. Waktu menunjukkan pukul 06.45 masih ada 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
"Pagi semuanya" suara pak tono menggelegar, memotong keriuhan kelas dalam sekejap.
Suasana yang tadinya mirip pasar langsung berubah senyap. Nayla membeku tangannya yang memegang pulpen mendadak kaku tepat di atas lambang kuadrat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Dengan gerakan sehalus mungkin, ia menutup buku tugas temannya, lalu mendudukinya agar tidak terlihat dari depan kelas.
Pak tono berjalan tegap menuju meja Guru, meletakkan tas kulit hitamnya dengan pelan. Tatapan tajam menyapu seisi ruangan lewat bingkai kacamata tebalnya.
"Kenapa sudah ramai? Dan itu di belakang, sedang menyalin apa?" tanya pak tono sambil menunjuk dua murid di pojok kanan yang melihat kepanikan, berusaha menyembunyikan buku tugas.
pokoknya harus Sampek ending