"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kecil di Tengah Luka
“Azzam, kamu belum tidur?”
Azzam menggeleng pelan.
“Azzam nungguin Mommy. Tadi Mommy bilang mau ke kamar Azzam.”
Bastian terdiam. Tatapan putranya membuat dadanya terasa sesak. Bocah tujuh tahun itu begitu menyayangi Diandra. Bahkan sejak beberapa waktu terakhir, Azzam selalu berdiri paling depan ketika melihat Diandra terluka atau diperlakukan tidak baik.
Kalau saja Bastian mengatakan bahwa Diandra sedang menangis, Azzam mungkin tidak akan tinggal diam.
Padahal, Diandra bukan ibu kandungnya.
Namun entah kenapa, kasih sayang Azzam kepada perempuan itu begitu tulus.
“Kenapa Daddy ada di sini?”
Azzam menatap ayahnya dengan curiga.
“Mommy mana?”
“Mommy di kamar. Lagi tidur.”
“Aku mau ke kamar Mommy.”
Bastian segera menahan bahu putranya.
“Jangan. Mommy sedang lelah. Biarkan dia istirahat.”
Azzam menyipitkan mata.
“Mommy lelah karena Daddy?”
Bastian mengernyit.
“Memangnya apa yang Daddy lakukan sampai Mommy lelah?”
Azzam tidak menjawab. Dia justru menatap ayahnya dengan tatapan yang membuat Bastian tidak nyaman.
“Daddy bikin Mommy sedih.”
Ucapan sederhana itu terasa seperti tamparan.
Namun Bastian terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Selama ini dia merasa sudah menjalankan kewajibannya sebagai suami. Dia memberikan rumah, memenuhi kebutuhan Diandra, memastikan semua keperluannya tercukupi, bahkan tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.
Hanya saja, Diandra selalu menolak dirinya.
Bastian merasa tidak pernah benar-benar bersalah.
Setidaknya, itulah yang selama ini dia yakini.
“Azzam, jangan sok tahu urusan Daddy dan Mommy. Kamu masih kecil. Masalah orang dewasa bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan.”
“Tapi Daddy yang bikin Mommy sedih.”
“Sudah cukup.”
Nada suara Bastian meninggi.
“Daripada memikirkan masalah Daddy dan Mommy, lebih baik kamu belajar. Suatu hari nanti kamu akan menjadi penerus perusahaan punya Daddy.”
Azzam menggeleng.
“Azzam nggak mau jadi penerus perusahaan kalau harus bikin Mommy sedih.”
Bastian terdiam.
Anak itu benar-benar berani melawannya.
“Azzam nggak akan ikut campur kalau Daddy nggak menyakiti Mommy.”
Bastian mengembuskan napas panjang.
“Dari tadi kamu terus menuduh Daddy menyakiti Mommy. Kapan Daddy menyakiti Mommy? Apa Daddy pernah memukulnya? Pernah membentaknya sampai ketakutan?”
Azzam menatap ayahnya lekat-lekat.
“Daddy memang nggak pernah mukul Mommy.”
Bastian sedikit mengangkat dagu, merasa pembelaannya berhasil.
Namun kalimat berikutnya justru membuat wajahnya berubah.
“Tapi Daddy tetap menyakiti hati Mommy.”
Bastian terdiam.
“Daddy selalu dekat-dekat sama Mama Serly.”
Nama itu membuat rahang Bastian mengeras.
Azzam melanjutkan dengan polos, tetapi setiap katanya terasa menusuk.
“Kalau Daddy sayang sama Mommy, kenapa Daddy masih bikin Mama Serly merasa seperti orang yang paling penting?”
Bastian tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, dia kehabisan alasan di hadapan anaknya sendiri.
“Bastian, Mama Serly itu ibu kandung kamu. Kamu benar-benar nggak suka kalau Daddy dekat dengan ibu kandungmu?”
Azzam menggeleng tanpa ragu.
“Nggak suka.”
Bastian menghela napas. “Kenapa?”
“Karena Mama Serly bukan istri Daddy lagi.”
Jawaban itu membuat Bastian terdiam.
Azzam melanjutkan dengan polos, “Kata Grandpa, kalau sudah punya istri, suami harus melindungi dan mengutamakan istrinya. Tapi Daddy selalu mengutamakan Mama Serly.”
Bastian menatap putranya.
“Setiap Mama Serly panggil, Daddy langsung datang. Bahkan kalau Daddy sedang bersama Mommy.”
Bastian tidak menyela.
“Setiap Daddy pergi sama Mama Serly, Mommy pasti sedih. Memang Mommy nggak pernah bilang, tapi Azzam bisa lihat.”
Dada Bastian terasa sesak.
“Daddy mungkin nggak sadar, tapi Mommy sering pura-pura baik-baik saja. Azzam nggak suka lihat Mommy sedih.”
Kalimat sederhana itu menghantam pertahanannya satu per satu.
Selama ini Bastian selalu merasa dirinya tidak pernah menyakiti Diandra. Dia tidak pernah memukul, tidak pernah mengusir, dan selalu memenuhi kebutuhan istrinya.
Namun ternyata, luka tidak selalu meninggalkan bekas yang terlihat.
Sikapnya kepada Serly mungkin tidak pernah dia anggap salah. Tetapi bagi Diandra, perhatian yang terus diberikan kepada perempuan dari masa lalunya adalah penghinaan yang perlahan mengikis hatinya.
“Daddy mau cerai sama Mommy, terus menikah lagi sama Mama Serly?”
Bastian mengerjapkan mata.
“Apa?”
“Daddy mau cerai sama Mommy, lalu menikah lagi sama Mama Serly?”
“Nggak.” Jawaban Bastian terdengar tegas. “Daddy nggak akan menceraikan Mommy.”
“Tapi Mommy pernah bilang sama Azzam kalau Mommy mau pergi.”
Bastian membeku.
“Awalnya Azzam sedih karena Mommy mau ninggalin kita. Tapi setelah Azzam pikir-pikir...” Azzam menundukkan wajahnya sebentar. “Mungkin lebih baik Mommy pergi.”
“Kenapa?”
“Daripada Mommy tetap tinggal di rumah ini, terus setiap hari lihat Daddy dekat sama Mama Serly dan akhirnya sedih.”
Bastian tidak mampu membalas.
“Kalau Daddy dan Mommy benar-benar cerai, Azzam mau ikut Mommy.”
“Sudah Daddy bilang, kami nggak akan bercerai.”
“Tapi kalau sampai cerai?”
“Azzam...” Bastian mengusap wajahnya. “Kenapa kamu harus ikut Mommy? Diandra bukan ibu kandung kamu.”
Azzam langsung menatapnya.
“Memangnya kenapa?”
“Dia bukan ibu yang melahirkan kamu.”
“Azzam tahu.”
“Lalu?”
“Yang penting Mommy Diandra menyayangi Azzam.”
Bastian terdiam.
“Bahkan lebih dari yang Azzam rasakan dari ibu kandung Azzam sendiri.”
Perkataan itu membuat Bastian kehilangan kata-kata.
Dia memijat pangkal hidungnya. Anak tujuh tahun itu benar-benar tidak kehabisan amunisi untuk menyerangnya.
“Jadi...” Azzam tersenyum jahil. “Kapan Daddy sama Mommy cerai?”
“AZZAM!”
Tawa Azzam langsung pecah.
Dia berlari menuju kamarnya sebelum Bastian sempat menangkapnya.
“Dasar anak nakal!”
Bastian hanya bisa menggeleng sambil menghela napas panjang.
Namun setelah suasana kembali sunyi, senyumnya perlahan menghilang.
Ucapan Azzam terus terngiang di kepalanya.
Mommy sedih.
Untuk pertama kalinya malam itu, Bastian mulai bertanya kepada dirinya sendiri: jangan-jangan selama ini dia memang terlalu sibuk membenarkan dirinya sendiri sampai tidak pernah benar-benar melihat luka yang dia tinggalkan pada Diandra?
Bastian mengembuskan napas kasar.
Niatnya untuk menikmati minuman malam itu pun lenyap.
Dia justru berbalik menuju kamar.
Ada sesuatu yang harus diselesaikan dengan istrinya.
Dan kali ini, Bastian tidak ingin hanya memikirkan apa yang dia inginkan. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan Diandra.
Namun saat Bastian sampai di kamar, dia mendapati Diandra sudah tertidur.
Bastian berhenti sejenak di sisi ranjang. Wajah istrinya terlihat jauh lebih tenang ketika sedang tidur.
Dia duduk di tepi kasur, kemudian merapikan pakaian tidur Diandra yang sedikit tersingkap dan menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya dengan baik.
“Kenapa kamu terus melawan, Diandra?” gumamnya pelan. “Kamu cukup bertahan dan ikuti aku. Bukankah semuanya akan lebih mudah?”
Tangannya terulur, menyentuh pipi Diandra dengan lembut.
Dulu, sebelum mengenal Diandra dan setelah perceraiannya dengan Serly, Bastian beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan lain. Namun tidak pernah ada yang bertahan lama. Hubungan-hubungan itu selalu berakhir dalam waktu singkat, lalu Bastian kembali menjalani hari-harinya dalam kesepian.
Sampai Diandra hadir sebagai sekretarisnya.
Perempuan itu selalu tahu apa yang Bastian butuhkan. Saat pekerjaannya menumpuk, Diandra membantunya mengatur segala sesuatu. Ketika Bastian sedang terpuruk memikirkan masa lalunya, Serly, dan anak-anaknya, Diandra selalu menjadi orang yang bersedia mendengarkan.
Dulu Diandra begitu ceria.
Senyumnya mudah muncul. Celetukannya sering kali berhasil membuat Bastian tertawa di tengah kesibukan.
Namun sekarang, perempuan yang sama seolah sudah berubah menjadi orang asing.
Senyumnya yang dahulu hangat seperti matahari kini terasa sedingin musim dingin.
“Bertahanlah sedikit lagi, Diandra,” bisik Bastian. “Setelah Serly benar-benar pulih, semuanya akan menjadi lebih mudah. Kita akan tetap bersama.”
Bastian meraih tangan istrinya dan mengecup punggung tangannya cukup lama sebelum akhirnya berbaring di sisi Diandra.
Pagi harinya, Diandra membuka mata dan langsung terkejut.
Bastian tidur di sebelahnya dengan satu lengan masih melingkari tubuhnya.
Diandra menatap pria itu sebentar tanpa ekspresi. Tidak ingin memperpanjang masalah, dia perlahan melepaskan diri dari pelukan Bastian.
Dia kemudian turun dari ranjang dan menuju dapur.
Seperti biasa, Diandra menyiapkan sarapan bersama dua orang pembantu di rumah.
Baru beberapa saat kemudian, suara kendaraan terdengar dari halaman.
Diandra bahkan tidak perlu melihat keluar untuk mengetahui siapa yang datang.
Beberapa detik kemudian, Serly muncul di ambang pintu dapur.
Tanpa basa-basi, perempuan itu langsung menghampiri Diandra dan menyentak bahunya.
“Berani sekali kamu menggoda Bastian!”
Kedua pembantu yang berada di sana saling berpandangan. Mereka sebenarnya merasa tidak tega, tetapi memilih meninggalkan dapur agar pertengkaran itu tidak semakin panjang.
Diandra tidak membutuhkan siapa pun untuk membelanya.
Dia bisa menghadapi Serly sendiri.
“Apa yang kamu lakukan kepada Bastian tadi malam?” Serly mendesak sambil menunjuk wajah Diandra. “Hah?”
Diandra justru tersenyum tipis.
“Ini adegan mantan kekasih melabrak istri sah karena cemburu?”
Wajah Serly memerah.
“Jaga ucapanmu, Diandra! Sudah berapa kali aku bilang, aku bukan pelakor!”
“Kalau begitu, siapa?”
“Kamu yang merebut Bastian dariku!” bentak Serly. “Hubungan kami belum benar-benar selesai ketika kamu masuk ke dalam hidupnya.”
Diandra menatapnya tenang.
“Sayangnya, sekarang aku istrinya.”
Serly mengepalkan tangan.
“Memang Bastian suamimu. Tapi jangan pernah lupa, dia tetap milikku.”
Diandra tertawa kecil.
“Oh, begitu?”
Dia sengaja mendekat sedikit.
“Kalau begitu, kenapa kamu terlihat begitu panik hanya karena aku menghabiskan waktu bersama suamiku sendiri?”
Serly menatapnya tajam.
“Kamu pikir aku percaya?”
“Aku juga nggak memintamu percaya.”
Diandra tersenyum penuh arti.
“Yang jelas, tadi malam Bastian tidur di sampingku. Jadi kalau kamu ingin marah, sebaiknya marahlah kepada suamiku sendiri.”
Serly semakin murka.
“Kamu pikir aku takut?”
“Tidak.”
Diandra kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
“Kamu hanya takut kehilangan seseorang yang sebenarnya sudah tidak menjadi milikmu.”
Serly terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum sinis.
“Aku berani bertaruh Bastian masih mencintaiku.”
“Kalau memang begitu,” balas Diandra tanpa menoleh, “kenapa dia masih mempertahankan pernikahan kami?”
Serly terdiam.
“Karena hidupmu menyedihkan?” lanjutnya kemudian dengan nada merendahkan. “Kamu pikir Bastian menikahimu karena cinta?”
Diandra menghentikan tangannya.
“Bukan karena cinta,” lanjut Serly. “Dia hanya kasihan padamu.”
Tatapan Diandra perlahan berubah.
“Dia menikahi perempuan yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa. Baginya, mungkin itu hanya bentuk belas kasihan.”
Serly tersenyum puas melihat wajah Diandra.
Namun Diandra tidak menangis.
Dia justru berbalik dan menatap Serly dengan tenang.
“Kalau aku hanya belas kasihan,” ucapnya pelan, “kenapa kamu yang datang ke rumah ini untuk memastikan aku masih menjadi istrinya?”
Senyum Serly seketika menghilang.
Diandra melanjutkan menyiapkan sarapan, seolah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Untuk pertama kalinya, Serly menyadari satu hal yang tidak dia sukai.
Perempuan yang dulu selalu mengalah itu ternyata sudah tidak sama lagi.
Serly tertawa kecil. Tatapannya penuh ejekan ketika melihat Diandra yang masih berusaha mempertahankan ketenangannya.
“Diandra, kamu benar-benar naif.”
Dia menggeleng pelan.
“Bangun dari khayalanmu. Jangan berharap hidup akan berubah seperti dongeng. Nggak ada kisah Cinderella di dunia nyata.”
Diandra diam.
“Aku kasih kamu satu nasihat,” lanjut Serly. “Pergilah dari kehidupan Bastian sebelum semuanya semakin buruk. Daripada kamu terus menderita sampai perlahan hancur.”
Serly sengaja berhenti sejenak, kemudian tersenyum kejam.
“Atau kalau kamu memang sudah nggak sanggup, kenapa nggak sekalian menyusul orang tuamu? Toh, keberadaan mereka saja nggak jelas. Siapa tahu mereka bahkan sudah—”
Plak!
Tamparan Diandra membuat kepala Serly terlempar ke samping.
Ruangan seketika sunyi.
Serly memegang pipinya dengan mata membelalak. Harga dirinya terluka. Tanpa berpikir panjang, dia mengangkat tangan hendak membalas.
Namun Diandra lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Diandra memutar tangan Serly ke belakang hingga perempuan itu meringis.
“Lepaskan!”
Serly mulai berteriak.
“Bastian! Tolong! Bastian!”
Diandra tidak bergeming.
“Berani sekali kamu menyentuhku!”
Serly terus berteriak, tetapi Diandra tetap menahan tangannya. Setelah semua penghinaan yang dilontarkan kepadanya, Diandra tidak lagi peduli apakah Serly akan semakin membencinya.
“Apa sekarang kamu kehabisan kata-kata?” bisik Diandra dingin.
Serly menggertakkan gigi.
Diandra mendekat sedikit.
“Kamu boleh menghina aku sesuka hatimu. Tapi jangan pernah membawa orang tuaku ke dalam masalah ini.”
Serly menelan ludah.
“Kalau kamu berani mengulang perkataan tadi, aku pastikan kamu akan menyesal.”
Serly kembali berteriak sekuat tenaga.
“BASTIAN! AZZAM! AZZURA!”
Teriakannya akhirnya membuat langkah kaki terdengar dari luar.
Bastian muncul dengan wajah tegang.
Matanya langsung tertuju kepada Serly yang sedang berada dalam cengkeraman Diandra.
“DIANDRA! LEPASKAN!”
Diandra belum sempat menjawab ketika Bastian menghampiri mereka. Dia menarik Serly menjauh dari Diandra, kemudian berdiri melindungi perempuan itu.
Saat mendorong Diandra menjauh, tubuh Diandra kehilangan keseimbangan dan pinggangnya membentur sisi meja.
Rasa sakit menjalar seketika.
Namun Diandra hanya menggigit bibir.
Dia tidak akan menunjukkan kelemahannya di hadapan Bastian.
“Bastian...” Serly langsung terisak sambil memegang lengannya. “Sakit... dia tadi menyakitiku.”
Bastian menatap Serly dengan khawatir.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Pusing...” Serly menyandarkan tubuhnya kepadanya.
Tak lama kemudian, Azzura berlari menghampiri.
“Mama!”
Gadis kecil itu langsung memeluk Serly.
“Mama nggak apa-apa?”
Serly menggeleng sambil menangis.
“Dia menyakiti Mama, Azzura. Tangan Mama sakit. Kepala Mama juga pusing.”
Azzura menoleh kepada Diandra dengan mata berkaca-kaca.
“Mommy!”
Suara tangisnya pecah.
“Kenapa Mommy jahat sama Mama? Apa salah Mama sama Mommy?”
Diandra terdiam.
Sebelum dia sempat menjawab, Azzam langsung berdiri di hadapannya.
“Jangan bentak Mommy!”
Azzam menatap adiknya dengan tegas.
“Mommy pasti punya alasan.”
Azzura menggeleng sambil menangis.
“Kenapa Azzam selalu membela Mommy? Mommy itu ibu tiri!”
“Terus kenapa?”
“Semua ibu tiri itu jahat!”
Azzam menggeleng keras.
“Mommy nggak jahat.”
Dia kemudian menoleh kepada Diandra yang masih menahan sakit di sisi meja.
“Kalau Mommy sampai melakukan itu, pasti ada sesuatu yang terjadi.”
Bastian terdiam mendengar perkataan putranya.
Untuk sesaat, tatapannya beralih kepada Diandra.
Perempuan itu masih diam.
Tidak menangis.
Tidak membela diri.
Hanya berdiri dengan wajah pucat sambil menyembunyikan rasa sakit yang mulai semakin terasa.
Dan entah kenapa, melihat keadaan Diandra justru membuat dada Bastian terasa tidak nyaman.
“Kalian masuk ke kamar. Ini urusan orang dewasa,” ujar Bastian tegas.
“Nggak mau!” Azzura memeluk Serly semakin erat. “Azzura nggak mau ninggalin Mama sama perempuan jahat itu!”
Jarinya menunjuk ke arah Diandra.
“Mommy bukan orang jahat!” Azzam langsung membalas.
“Sudah!” Bastian memijat pelipisnya. Kepalanya terasa semakin berdenyut.
Perselisihan antara Diandra dan Serly belum selesai, tetapi sekarang kedua anaknya justru ikut terbagi menjadi dua pihak.
“Bibi!”
Seorang pembantu segera datang.
“Iya, Tuan?”
“Bawa Azzam dan Azzura ke kamar mereka.”
“Azzura nggak mau!”
Azzura semakin erat memeluk Serly.
“Azzura mau sama Mama. Azzura mau lindungi Mama.”
Serly mengusap kepala putrinya.
“Ya ampun, anak Mama. Mama beruntung punya anak seperti kamu. Kamu memang anak yang sangat menyayangi Mama.”
Bastian mengembuskan napas panjang.
Pagi ini baru dimulai, tetapi kepalanya sudah terasa penuh.
Tatapannya beralih kepada Diandra.
Perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya tidak bisa berbohong.
Ada luka di sana.
Ada kemarahan.
Dan ada kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertengkaran pagi ini.
“Diandra, kamu—”
Namun Diandra tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat.
Dia berbalik dan berjalan menuju tangga.
“Mommy!”
Azzam hendak mengejar, tetapi Diandra tidak berhenti.
Azzam akhirnya hanya berdiri di tempat dengan mata berkaca-kaca.
Dia tahu Mommy sedang terluka.
Mungkin kali ini Mommy ingin sendirian.
Azzam pun perlahan kembali ke kamarnya.
Bastian sempat hendak menyusul Diandra.
Namun suara Serly menghentikan langkahnya.
“Bastian... kepalaku pusing.”
Bastian menoleh.
Dia akhirnya kembali menghampiri Serly dan membantunya duduk di sofa.
Azzura masih berada di samping ibunya.
Bastian mengambil kompres lalu menempelkannya pada pergelangan tangan Serly yang mulai membiru.
Tatapannya tertuju pada bekas luka itu.
Dia tidak habis pikir bagaimana Diandra bisa sampai bertindak sejauh ini.
Perempuan yang dulu selalu lembut dan penuh kesabaran itu seolah telah berubah menjadi seseorang yang bahkan sulit dia kenali.
“Sayang,” Serly mengusap rambut Azzura, “kamu lebih baik mandi dan memakai seragam. Sebentar lagi sekolah.”
“Tapi Azzura mau nemenin Mama.”
“Mama nggak apa-apa. Ada Papa.”
Bastian mengangguk.
“Dengar kata Mama. Sekarang masuk kamar. Kalau kesulitan memakai seragam, minta bantuan Bibi.”
“Azzura bisa sendiri, Dad. Azzura sudah besar.”
Bastian tersenyum tipis lalu mengacak rambut putrinya.
“Ya sudah. Sana.”
Azzura akhirnya beranjak pergi.
Setelah putrinya menghilang di balik pintu, Bastian kembali memperhatikan Serly.
Dia mengganti kompres yang mulai menghangat.
“Masih sakit?”
Serly mengangguk.
“Sakit sekali.”
“Kenapa Diandra sampai menampar kamu?”
Serly menundukkan wajahnya.
“Aku juga nggak tahu.”
Dia menarik napas, lalu berkata dengan suara lirih.
“Aku datang ke sini sebenarnya ingin meminta maaf soal semalam. Aku takut kedatanganku mengganggu waktu kalian berdua.”
Bastian diam.
“Tapi begitu bertemu Diandra, dia langsung menuduhku sebagai perempuan yang merebut suaminya. Aku bahkan belum sempat menjelaskan.”
Serly menunjukkan pergelangan tangannya.
“Dia menamparku, menjambakku, lalu memelintir tanganku.”
Bastian menghela napas panjang.
Dia tidak tahu harus percaya siapa.
Namun melihat luka di tubuh Serly, kemarahannya kepada Diandra kembali muncul.
“Mulai sekarang, jangan terlalu dekat dengan Diandra.”
Serly langsung mengangkat wajah.
“Maksudmu ... aku nggak boleh datang ke rumah ini lagi?”
“Bukan begitu.”
Bastian menatapnya.
“Kamu tetap boleh datang.”
Serly terdiam.
“Ini juga rumahmu, dalam arti kamu tetap bagian dari keluarga karena Azzam dan Azzura. Kamu boleh datang kapan pun kamu mau.”
Tatapan Serly perlahan melembut.
Sementara di lantai atas, Diandra berdiri sendirian di balik pintu kamarnya.
Dia mendengar semuanya.
Dan setiap kalimat Bastian terasa seperti kembali menegaskan satu hal yang selama ini berusaha dia bantah.
Dalam pernikahan ini, dirinya memang tidak pernah menjadi pilihan pertama.
“Kamu datang ke sini memang mau bertemu anak-anak, kan?”
Serly tertawa kecil.
“Iya. Aku datang memang untuk menemui anak-anak. Memangnya aku ke sini mau menggodamu terus?”
Dia terkekeh, membuat Bastian ikut tersenyum.
Obrolan ringan itu berlangsung beberapa saat sampai langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Diandra muncul dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya.
Dia mengenakan pakaian kerja yang rapi dan elegan—gaya yang dulu sering dia gunakan ketika masih menjadi sekretaris Bastian.
Bastian langsung memperhatikannya.
“Kamu mau ke mana?”
Diandra tidak menjawab.
Dia hanya berjalan melewati Bastian menuju pintu.
“Diandra.”
Perempuan itu tetap melangkah.
Bastian akhirnya meraih tangannya dan menghentikannya.
“Kalau suamimu sedang bicara, dengarkan.”
Diandra menoleh dengan wajah datar.
“Aku ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Interview.”
Bastian mengernyit.
“Interview?”
“Aku mau mencari pekerjaan.”
Raut wajah Bastian berubah.
“Untuk apa kamu bekerja?”
Diandra menatapnya sejenak.
“Memangnya kalau bekerja, untuk apa?”
Bastian terdiam.
“Untuk mendapatkan penghasilan. Aku ingin punya penghasilan sendiri.”
“Buat apa?”
“Untuk hidupku.”
“Bukankah aku sudah memenuhi semua kebutuhanmu?”
“Iya. Untuk sekarang.”
Diandra menarik tangannya dari genggaman Bastian.
“Tapi kalau suatu hari kita benar-benar berpisah, aku harus hidup dengan apa?”
Wajah Bastian seketika mengeras.
“Berhenti membicarakan perceraian.”
Nada suaranya meninggi.
Diandra bahkan mundur selangkah karena terkejut.
“Sudah berapa kali aku bilang?” suara Bastian semakin tegas. “Aku tidak akan menceraikanmu.”
Diandra terdiam.
Selama berbulan-bulan, kalimat itu terus dia dengar.
Bastian tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi, tetapi juga tidak pernah memberikan alasan yang membuat Diandra ingin tetap bertahan.
Pernikahan itu perlahan mengikis dirinya.
Jika dia terus tinggal di rumah ini tanpa memiliki kehidupan sendiri, dia takut suatu hari bukan hanya hatinya yang hancur, tetapi dirinya sendiri.
“Bastian, tenang.”
Serly segera mendekat dan menyentuh lengan pria itu.
Kemudian dia menatap Diandra.
“Menurutku, apa yang Bastian katakan benar. Kamu nggak perlu bekerja.”
Diandra menatapnya tanpa ekspresi.
“Kenapa?”
“Karena kamu sudah punya suami yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu.”
Serly tersenyum tipis.
“Lebih baik kamu fokus menjadi ibu rumah tangga. Azzam dan Azzura masih membutuhkanmu.”
Diandra menahan tawa getir.
“Anak-anak memang membutuhkan seorang ibu.”
Tatapannya beralih kepada Bastian.
“Tapi apakah suamiku juga membutuhkan seorang istri?”
Bastian terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun kali ini, tidak ada jawaban yang langsung keluar dari mulutnya.
“Diam kamu, perempuan tidak tahu diri!”
“DIANDRA!”
Bentakan Bastian membuat suasana seketika membeku.
Namun Diandra hanya menghela napas. Dia sudah terlalu lelah untuk kembali berdebat.
“Terserah, Mas. Kamu izinkan atau tidak, aku tetap akan bekerja.”
Dia menatap Bastian dengan sorot mata penuh luka.
“Dan jangan lagi bicara soal seorang istri yang harus menghormati suaminya. Sejak awal, kamu sendiri nggak pernah benar-benar menghargai aku sebagai istrimu.”
Tanpa menunggu jawaban, Diandra berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Silakan!”
Suara Bastian terdengar dari belakang.
“Tapi aku pastikan tidak akan ada perusahaan yang mau menerima kamu!”
Langkah Diandra sempat terhenti.
Hanya sesaat.
Setelah itu dia kembali berjalan tanpa menoleh.
Kalimat Bastian terasa menyakitkan, tetapi justru membuat tekadnya semakin kuat.
Dia harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Diandra mempercepat langkah menuju gerbang.
Dia sudah memesan ojek secara daring. Bastian memang pernah memberinya sebuah mobil, tetapi Diandra sengaja tidak menggunakannya.
Dia ingin belajar hidup tanpa bergantung pada fasilitas suaminya.
Begitu pengemudi datang, Diandra menerima helm yang diberikan kepadanya.
“Ini, Mbak. Helmnya.”
“Terima kasih, Pak.”
Diandra mengenakannya, lalu naik ke jok belakang.
Motor pun melaju meninggalkan rumah.
Namun begitu kendaraan itu menjauh, air mata Diandra mulai mengalir.
Dia segera menyekanya.
Jangan menangis.
Dia tidak ingin menangis.
Dia tidak ingin terlihat lemah hanya karena perkataan seorang pria.
Tetapi semakin dia berusaha menahan air mata, semakin deras pula rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Selama perjalanan, Diandra hanya diam.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya tiba di perusahaan tempat Diandra akan menjalani wawancara pertamanya.
“Sudah sampai, Mbak.”
Diandra turun dari motor.
“Terima kasih, Pak.”
Dia hendak berjalan menuju gedung perusahaan ketika pengemudi itu memanggilnya.
“Mbak, tunggu sebentar.”
Diandra menoleh.
Pria paruh baya itu membuka sebuah tas kecil dan mengambil sebatang cokelat.
“Ini buat Mbak.”
Diandra terlihat bingung.
“Untuk saya?”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
“Anak saya kalau lagi sedih biasanya suka makan cokelat. Katanya bisa bikin hati sedikit lebih tenang.”
Dia menyerahkan cokelat itu.
“Mungkin ini juga bisa membuat Mbak sedikit lebih semangat hari ini.”
Dada Diandra tiba-tiba terasa sesak.
Perhatian sederhana dari orang asing itu justru membuat pertahanannya hampir runtuh.
“Terima kasih, Pak.”
Diandra menerima cokelat tersebut dengan kedua tangannya.
“Ini sangat berarti buat saya.”
“Sama-sama.”
Pria itu tersenyum tulus.
“Semangat ya, Mbak. Jangan menyerah. Percayalah, Tuhan nggak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya.”
Mata Diandra kembali berkaca-kaca.
Dia mengangguk.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak.”
Pria itu kemudian mengenakan helmnya dan kembali menjalankan motornya.
Diandra berdiri sendirian di depan gedung perusahaan.
Tatapannya tertuju pada cokelat di tangannya.
Sebuah pemberian kecil.
Namun entah mengapa, rasanya begitu berarti.
“Kalau aku punya Ayah...” gumam Diandra lirih.
Senyum tipis muncul di wajahnya yang masih basah oleh air mata.
“Apakah Ayah juga akan memberiku cokelat saat aku sedih?”
Dia tertawa kecil di tengah mata yang berkaca-kaca.
“Atau mungkin Ayah akan melakukan sesuatu yang konyol supaya aku tertawa?”
Diandra menunduk.
Seumur hidupnya, hanya ada satu keinginan sederhana yang tidak pernah bisa dia wujudkan.
Bertemu orang tuanya.
Sekali saja.
Hanya sekali.
Dia ingin tahu seperti apa rasanya memiliki seseorang yang memeluknya ketika dunia terasa terlalu berat.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra membiarkan dirinya berharap.
Andai Ayah dan Ibu masih ada... mungkin hidupku tidak akan terasa sesepi ini.